<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369</id><updated>2011-12-03T06:54:41.189-08:00</updated><title type='text'>Rengganis Anak Desa Merapi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-8888588143233846301</id><published>2011-04-15T07:17:00.000-07:00</published><updated>2011-04-15T07:25:24.520-07:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN SEBUAH KARAKTER &amp; WATAK BANGSA MELALUI PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: arial;" class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;(Oleh: Rengganis, S.Pd.SH.M.Pd.)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di  era sekarang, banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang  tidak punya sopan santun, suka tawuran, bagus nilainya untuk "pelajaran"  pornografi, senang narkotika, dan hobi begadang dan kebut-kebutan  bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua,  baik guru maupun sesama. Hal ini merupakan jenis kenakalan pelajar yang  paling umum, sedangkan kenakalan lainnya antara lain senang berbohong,  membolos sekolah, minum minuman keras, mencuri, aborsi, berjudi, dan  sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Banyak kalangan yang mengatakan bahwa "watak"  dengan dengan “sifat” adalah sangat tipis perbedaannya. "watak" bisa  terjadi karena faktor bawaan yang sulit untuk diubah, tapi kalau “sifat”  bisa diubah melalui sebuah proses. Mengubah sifat-sifat seseorang tidak  semudah itu. Semua harus dilakukan melalui sebuah proses. Proses itulah  dapat dilakukan secara bertahap dan tidak bisa sekaligus langsung  berubah. Dan itulah yang dinamakan karakter.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Jadi  membangun sebuah karakter itu tidaklah mudah. Mengapa hal ini bisa  terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau  laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal,  bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke  seluruh sendi kehidupan manusia.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Lahirnya pendidikan karakter  merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi  ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang  dipelopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Karakter  merupakan titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa  landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa  kesadaran diri akan menghancurkan. Karakter itu akan membentuk motivasi,  dan pada saat yang sama dibentuk dengan metode dan proses yang  bermartabat.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Karakter bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan  secara implisit mengungkapkan hal-hal tersembunyi. Oleh karenanya,  orang mendefinisikan karakter sebagai "siapa anda dalam kegelapan".  Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan  berdasarkan nilai-nilai etika, meliputi aspek kognitif, emosional, dan  perilaku dari kehidupan moral.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Kini Bagainmana?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Membangun  karakter dari pintu pendidikan harus dilakukan secara  komprehensif-integral, tidak hanya melalui pendidikan formal, namun juga  melalui pendidikan informal dan non formal. Selama ini, ada  kecenderungan pendidikan formal, informal dan non formal, berjalan  terpisah satu dengan yang lainnya. Akibatnya, pendidikan karakter seolah  menjadi tanggung jawab secara parsial.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Banyak hal yang  memiriskan ketika mengamati sistem pendidikan kita. Di depan mata,  nilai-nilai kejujuran telah diinjak-injak. Mencontek, menjiplak karya  orang lain, melakukan sabotase, adalah hal yang sering terjadi dan  dianggap biasa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan kita selama ini, sepertinya lebih  banyak menghasilkan generasi yang pandai mengeluh, membebek, dan  mengambil jalan pintas. Untuk menanamkan nilai kejujuran misalnya,  sekolah ramai-ramai membuat kantin kejujuran. Anak diajak untuk jujur  dalam membeli dan membayar barang yang dibeli tanpa ada yang  mengontrolnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Namun sayang, gagasan yang tampaknya  relevan dalam mengembangkan nilai kejujuran ini mengabaikan prinsip  dasar pedagogi pendidikan berupa kedisiplinan sosial yang mampu  mengarahkan dan membentuk pribadi anak didik.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di rumah misalnya,  PR yang harusnya dikerjakan anak justru dikerjakan oleh orang tua atau  kakaknya, bukan mendampingi dan menuntun anak menyelesaikan PR tersebut.  Di sekolah, banyak anak yang ikut ujian nasional dibantu oleh gurunya  atau pihak lainnya karena mengejar target kelulusan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Demikian  juga perilaku masyarakat banyak yang memberi contoh kurang mendidik  seperti perilaku kurang sopan, mencuri, dan yang lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sistem  pendidikan di Indonesia dinilai gagal membentuk karakter siswa menjadi  orang baik yang ditandai dengan banyaknya kasus korupsi, manipulasi,  kebohongan, berbagai konflik dan terjadinya kekerasan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;"Ini bukti  bahwa institusi pendidikan kita belum dapat mewujudkan tujuan pendidikan  yakni untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia  yang beriman, berakhlak mulia, dan menjadi warga negara yang bertanggung  jawab," kata pendiri Indonesia Heritage Foundation, Dr Ratna Megawangi,  di Medan, Selasa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Menurut dia, salah satu penyebab utama  kegagalan tersebut karena sistem pendidikan di Indonesia belum mempunyai  kurikulum pendidikan karakter, tetapi yang ada hanya mata pelajaran  tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang didalam pelajaran  agama, kewarganegaraan dan Pancasila.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Apalagi proses pembelajaran  yang dilakukan dengan pendekatan penghafalan.Para siswa hanya diharapkan  dapat menguasai materi yang keberhasilannya diukur dengan kemampuan  anak menjawab soal ujian terutama dengan pilihan berganda.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;"Karena  orientasinya hanya semata-mata memperoleh nilai bagus, maka bagaimana  mata pelajaran dapat berdampak pada perubahan perilaku siswa tidak  pernah diperhatikan. Sehingga apa yang terjadi adalah kesenjangan antara  pengetahuan moral dan perilaku," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ia mengatakan, salah  satu solusi untuk membuat pendidikan moral menjadi efektif adalah dengan  melakukan pendidikan karakter, karena pendidikan moral bisanya hanya  menyentuh aspek pengetahuan, belum sampai pada aspek prilaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sedangkan  pendidikan karakter membentuk perilaku siswa menjadi lebih bermoral,  karena seseorang dapat disebut sebagai orang yang berkarakter apabila  tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;"Sedangkan pendidikan  moral misalnya dalam pendidikan pancasila, tidak menandai watak perilaku  sebagai keberhasilan proses pembelajaran, tetapi cukup sampai pada  sejauh mana anak didik mengetahui yaitu dengan pendekatan hapalan dan  sedikit analisis," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan di Indonesia hanya  melahirkan ahli "mafia" atau matematika, fisika, dan kimia, sehingga  lulusan pendidikan di Indonesia tidak memiliki karakter."Faktanya,  pengangguran terdidik di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta, sedangkan  pengangguran tak terdidik hanya 700 orang," kata konsultan  kewirausahaan, Imam Supriyono di Surabaya, Senin.Menurut pemimpin "SNF  Consulting" itu, fakta yang ada membuktikan pendidikan di Indonesia  tidak melahirkan karakter, tapi melahirkan "mafia" yang sangat  formalistik."Padahal, bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk yang  mencapai 225 juta dengan penduduk miskin cukup besar itu, membutuhkan  pendidikan karakter," ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Penulis sejumlah buku pendidikan  dan kewirausahaan itu mengatakan, karakter yang diharapkan lahir dari  dunia pendidikan adalah karakter yang jujur, tidak minta-minta, dan  mampu menemukan jati diri."Kalau pendidikan hanya mengukur seseorang  dari aspek nilai matematika, fisika, dan kimia maka pendidikan di  Indonesia tidak akan melahirkan karakter," ujarnya menegaskan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Salah  satu yang membuat bangsa kita diklaim sedang kehilangan karakter adalah  terjadinya kerusuhan yang melanda Kota Tanjung Priok. Terjadi tontonan  yang menonjol kekerasan antara masyarakat di sekitar Koja Tanjung Priok  dengan ratusan aparat Satpol PP. Memang selama ini bentrok antara warga  negara dengan aparat pemerintah, apakah satpol PP, TNI, Polri sudah  seringkali terjadi. Salah satu faktor penyebab adalah persoalan ekonomi.  Masyarakat mengklaim sangat sulit untuk mencari makan. Maka berjualan  di tempat umum pun menjadi pilihan. Dapat kita bayangkan apa yang  terjadi, yang terjadi adalah kemacetan dan ketidakaturan. Hanya saja  jika kita mau jujur, apakah masyarakat mau berjualan di tempat itu kalau  memang ada tempat yang lebih baik?&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bagaimana pemerintah  menjadi fasilitator pelayanan publik tidak dimiliki oleh negara.  Pemerintah serius bisa menggusur tanpa bisa menunjukkan alternatif  berjualan bagi masyarakat misalnya. Belum lagi status klaim tanah yang  berakibat pada penggusuran. Ancaman penggusuran menjadi sesuatu yang  sangat menakutkan bagi semua negara. Kemudian masyarakat seringkali  menempuh cara kekerasan sehingga tidak punya karakter sebagai warga  negara yang baik mengedepankan dialog. Bagaimana mengatasinya ini? Perlu  grand design tentang pendidikan karakter bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bangsa  Indonesia adalah bangsa yang besar karena didukung oleh sejumlah fakta  positif yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis, kekayaan alam dan  keanekaragaman hayati, kemajemukan sosial budaya, dan jumlah penduduk  yang besar. Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki peluang yang  sangat besar untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat,  dan bermartabat.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Namun demikian, untuk mewujudkan itu semua, kita  masih menghadapi berbagai masalah nasional yang kompleks, yang tidak  kunjung selesai. Misalnya aspek politik, di mana masalahnya mencakup  kerancuan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, kelembagaan negara  yang tidak efektif, sistem kepartaian yang tidak mendukung, dan  berkembangnya pragmatism politik. Lalu aspek ekonomi, masalahnya  meliputi paradigma ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi  dualistis, kebijakan fiskal yang belum mandiri, sistem keuangan dan  perbankan yang tidak memihak, dan kebijakan perdagangan dan industri  yang liberal. Dan aspek sosial budaya, masalah yang terjadi saat ini  adalah memudarnya rasa dan ikatan kebangsaan, disorientasi nilai  keagamaan, memudarnya kohesi dan integrasi sosial dan melemahnya  mentalitas positif.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dari sejumlah fakta positif atas modal  besar yang dimiliki bangsa Indonesia, jumlah penduduk yang besar  menjadi modal yang paling penting karena kemajuan dan kemunduran suatu  bangsa sangat bergantung pada faktor manusianya (SDM). Masalah-masalah  politik, ekonomi dan sosial budaya dapat diselesaikan dengan SDM. Namun  untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan menghadapi berbagai  persaingan peradaban yang tinggi untuk menjadi Indonesia yang lebih maju  diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang kuat. Salah  satu aspek yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan karakter SDM yang  kuat adalah melalui pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan merupakan upaya  yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu  agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri,  bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak mulia baik  dilihat dari aspek jasmani maupun rohani. Manusia yang berakhlak mulia,  yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau  dibangun.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bangsa Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau  pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu  merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan  pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata. Ini sejalan  dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sindiknas yang mengatakan  bahwa tujuan pendidikan adalah “… agar manusia yang beriman dan bertakwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,  kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggung jawab.”&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Melihat kondisi sekarang dan akan  datang, ketersediaan SDM yang berkarakter merupakan kebutuhan yang amat  vital. Ini dilakukan untuk mempersiapkan tantangan global dan daya saing  bangsa. Memang tidak mudah untuk menghasilkan SDM yang tertuang dalam  UU tersebut. Persoalannya adalah hingga saat ini SDM Indonesia masih  belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Misalnya  kasus-kasus aktual, masih banyak ditemukan siswa yang menyontek dikala  sedang menghadapi ujian, bersikap malas, tawuran antar sesama siswa,  melakukan pergaulan bebas, terlibat narkoba, dan lain-lain. Di sisi  lain, ditemukan guru, pendidik yang senantiasa memberikan contoh-contoh  baik ke siswanya, juga tidak kalah mentalnya. Misalnya guru tidak jarang  melakukan kecurangan-kecurangan dalam sertifikasi dan dalam ujian  nasional (UN).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kondisi ini terus terang sangat memilukan  dan mengkhawatirkan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka sejak tahun  1945. Memang masalah ini tidak dapat digeneralisir, namun setidaknya  ini fakta yang tidak boleh diabaikan karena kita tidak menginginkan anak  bangsa kita kelak kemnadi manusia yang tidak bermoral sebagaimana saat  ini sering kita melihat tayangan TV yang mempertontonkan berita-berita  seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, korupsi, dan penculikan,  yang dilakukan tidak hanya oleh orang-orang dewasa, tapi juga oleh  anak-anak usia belasan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Mencermati hal ini, saya mencoba  memberikan beberapa gagasan untuk penguatan mutu karakter SDM sehingga  mampu membentuk pribadi yang kuat dan tangguh. Pembahasan ini akan  mengacu pada peran pendidikan, terutama pendidik sebagai kunci  keberhasilan implementasi pendidikan karakter di sekolah dan lingkungan  baik keluarga maupun masyarakat. Kenapa Pendidikan?&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan  merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak  selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan  tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama  untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU  Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model  lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah  jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas  pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara  pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal  yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan  pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan,  kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim,  serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal  dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar  secara mandiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di  atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan  pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan  yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan  pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan  tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah  pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak  bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah  ia melakukan perkelahian antarpelajar, memiliki ‘ketertarikan’ bergaul  dengan WTS atau melakukan perampokan. Sikap-sikap seperti ini merupakan  bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto  dan Hisyam, 2000:194).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Oleh karena itu, ke depan dalam  rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu  menyinergiskan ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat  dilakukan salah satunya adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama  mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase negatif, ada rasa  kegelisahan, ada pertentangan sial, ada kepekaan emosiaonal, kurang  percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu  yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappire dalam Suyanto dan  Hisyam, 2000:186-87). Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang  dimiliki anak remaja pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat  menyadari dan melakukan upaya perbaikan perlakuan sikap terhadap anak  dalam proses pendidikan formal, non formal dan informal.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Ciri karakter SDM&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;SDM  merupakan aset paling penting untuk membangun bangsa yang lebih baik  dan maju. Namun untuk mencapai itu, SDM yang kita miliki harus  berkarakter. SDM yang berkarakter kuat dicirikan oleh kapasitas mental  yang berbeda dengan orang lain seperti keterpercayaan, ketulusan,  kejujuran, keberanian, ketegasan, kekuatan dalam memegang prinsip, dan  sifat-sifat unik lainnya yang melekat dalam dirinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Secara lebih  rinci, saya kutip beberapa konsep tentang manusia Indonesia yang  berkarakter dan senantiasa melekat dalam kepribadian bangsa. Ciri-ciri  karakter SDM yang kuat meliputi (1) religious, yaitu sikap hidup dan  kepribadian yang taat beribadah, jujur, terpercaya, dermawan, saling  tolong menolong, dan toleran; (2) moderat, yaitu memiliki sikap hidup  yang tidak radikal dan tercermin dalam kepribadian yang tengahan antara  individu dan sosial, berorientasi materi dan rohani serta mampu hidup  dan kerjasama dalam kemajemukan; (3) cerdas, yaitu memiliki sikap hidup  dan kepribadian yang rasional, cinta ilmu, terbuka, dan berpikiran maju;  dan (4) mandiri, yaitu memiliki sikap hidup dan kepribadian merdeka,  disiplin tinggi, hemat, menghargai waktu, ulet, wirausaha, kerja keras  dan memiliki cinta kebangsaan yang tinggi tanpa kehilangan orientasi  nilai-nilai kemanusiaan universal dan hubungan antarperadaban  bangsa-bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Untuk itu sudah saatnya dilakukan perubahan  mendasar dalam dunia pendidikan. Bagaimana membuat bangunan pendidikan  yang didalamnya ditanamkan karakter bangsa dan masyarakat yang  membangun. Artinya budaya kekerasan jangan lagi menonjol dan kalau bisa  dibabat habis. Dialog yang mengedepankan etika dan saling menghargai  sudah saatnya ditanamkan melalui pendidikan. Jika tidak budaya  barbarisme yang lebih besar dari masalah tanjung priok bisa terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan  karakter dapat mengubah bangsa terjajah menjadi bangsa maju. Terbukti,  Korea sebagai negara terjajah selama 30 tahun oleh Jepang, mampu bangkit  menjadi negara pesaing Jepang dengan memberikan pendidikan karakter  kepada bangsanya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Penulis memaparkan, pendidikan karakter  diajarkan sejak usia SD kelas 1 dan 2 dengan materi meliputi proper life  (hidup secara baik), wise life (hidup secara bijak), dan pleasant life  (hidup secara menyenangkan).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sedangkan pendidikan karakter  sejak kelas 3 sampai kelas 10 diberikan dalam bentuk moral education  (pendidikan moral), kelas 11 mendapat materi civil ethics (etika  kewarganegaraan), dan kelas 12 mendapatkan materi ethics and thoughts  (etika dan filsafat).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Selain Korea, kata Penulis, Amerika sebagai  kiblat dunia di segala bidang, justru sangat memerhatikan pendidikan  karakter. Karena pendidikan karakter akan membawa anak didik ke  pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, yang  akhirnya pengalaman nilai secara nyata dari gnosis ke praktis.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;“Untuk  mencapai tataran praktis, ada peristiwa batin yang hebat dengan  munculnya tekat untuk mengamalkan yang disebut conatio. Sedangkan  langkahnya sampai ke arah situ disebut konatif yang oleh Phenix disebut  sebagai voluntary personal commitment value,” terangnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Berdasarkan  pendekatan antropologis, kata Penulis, pendidikan semacam itu di  Indonesia identik dengan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai  kearifan lokal (indegenous value).  ”Pendidikan semacam ini sangat  penting diberikan kembali kepada anak didik. Terutama ketika era  globalisasi tidak lagi membedakan satu bangsa dengan bangsa yang  lainnya.”&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kalau kita simak dan kita analisis, bahwa  kondisi Indonesia sekarang ini benar-benar sudah kehilangan karakter.  Nah, Oleh karena itu, mari kita secara bersama-sama bagaimana upaya  untuk membangun kembali sebuah karakter bangsa untuk menjadi bangsa yang  lebih maju, bermartabat, bermoral menuju ke arah pendidikan.  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana mengatasinya?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Secara  institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan  karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah  dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem  pendidikan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai  budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga  tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Keluaran  (output) pendidikan harus direorientasi pada keseimbangan tiga unsur  pendidikan berupa karakter diri, pengetahuan, soft skill. Jadi bukan  hanya berhasil mewujudkan anak didik yang cerdas otak, tetapi juga  cerdas hati, dan cerdas raga.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Lickona (2007) menyatakan: terdapat  11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1)  kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya  sebagai fondasi, (2) definisikan "karakter" secara komprehensif yang  mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang  komprehensif, disengaja, dan proaktif, (4) ciptakan komunitas sekolah  yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan  moral.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Berikutnya, (6) buat kurikulum akademik yang  bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik,  mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil. (7) Usahakan  mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai  komunitas pembelajaran dan moral, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam  kepemimpinan moral, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat  sebagai mitra, dan (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah  sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan  karakter yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Agar dapat berjalan efektif,  pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain, yakni; (1)  Desain berbasis kelas, yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik  dan siswa sebagai pembelajar, (2) Desain berbasis kultur sekolah, yang  berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak  didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu  terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa, dan (3) Desain berbasis  komunitas&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak  berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti  keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab  moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks  kehidupan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dengan desain demikian, pendidikan  karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga  pendidikan. Sejak anak lahir atau bahkan masih dalam kandungan, ketika  berada di lingkungan sekolah, kembali ke rumah, dan bergaul dalam  lingkungan sosial masyarakatnya, akan selalu menjadi tempat bagi  anak-anak untuk belajar, mencontoh, dan mengaktualisasikan  nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Menurut  Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat  berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai  kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan  'karakter' secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan  perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan  proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah  yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan  moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang  menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu  siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8)  libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang  berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk  mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa,  (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka  panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan  anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11)  evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik  karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dalam  pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti  seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat  terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja  pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan  kegigihan--sebagai basis karakter yang baik. Sekolah harus berkomitmen  untuk mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai  dimaksud, mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati  dalam kehidupan sekolah sehari-hari, mencontohkan nilai-nilai itu,  mengkaji dan mendiskusikannya, menggunakannya sebagai dasar dalam  hubungan antarmanusia, dan mengapresiasi manifestasi nilai-nilai  tersebut di sekolah dan masyarakat. Yang terpenting, semua komponen  sekolah bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang  konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Karakter yang  baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan  nilai-nilai etika inti. Karenanya, pendekatan holistik dalam pendidikan  karakter berupaya untuk mengembangkan keseluruhan aspek kognitif,  emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai-nilai  inti dengan mempelajari dan mendiskusikannya, mengamati perilaku model,  dan mempraktekkan pemecahan masalah yang melibatkan nilai-nilai. Siswa  belajar peduli terhadap nilai-nilai inti dengan mengembangkan  keterampilan empati, membentuk hubungan yang penuh perhatian, membantu  menciptakan komunitas bermoral, mendengar cerita ilustratif dan  inspiratif, dan merefleksikan pengalaman hidup.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt; Sekolah  yang telah berkomitmen untuk mengembangkan karakter melihat diri mereka  sendiri melalui lensa moral, untuk menilai apakah segala sesuatu yang  berlangsung di sekolah mempengaruhi perkembangan karakter siswa.  Pendekatan yang komprehensif menggunakan semua aspek persekolahan  sebagai peluang untuk pengembangan karakter. Ini mencakup apa yang  sering disebut dengan istilah kurikulum tersembunyi, &lt;em&gt;hidden curriculum&lt;/em&gt;  (upacara dan prosedur sekolah; keteladanan guru; hubungan siswa dengan  guru, staf sekolah lainnya, dan sesama mereka sendiri; proses  pengajaran; keanekaragaman siswa; penilaian pembelajaran; pengelolaan  lingkungan sekolah; kebijakan disiplin); kurikulum akademik, &lt;em&gt;academic curriculum&lt;/em&gt; (mata pelajaran inti, termasuk kurikulum kesehatan jasmani), dan program-program ekstrakurikuler, &lt;em&gt;extracurricular programs&lt;/em&gt; (tim olahraga, klub, proyek pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelah jam sekolah).&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di samping itu, sekolah dan keluarga perlu meningkatkan efektivitas kemitraan dengan merekrut bantuan dari komunitas yang lebih&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;luas  (bisnis, organisasi pemuda, lembaga keagamaan, pemerintah, dan media)  dalam mempromosikan pembangunan karakter. Kemitraan sekolah-orang tua  ini dalam banyak hal sering kali tidak dapat berjalan dengan baik karena  terlalu banyak menekankan pada penggalangan dukungan finansial, bukan  pada dukungan program. Berbagai pertemuan yang dilakukan tidak jarang  terjebak kepada sekadar tawar-menawar sumbangan, bukan bagaimana  sebaiknya pendidikan karakter dilakukan bersama antara keluarga dan  sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pendidikan karakter yang efektif harus  menyertakan usaha untuk menilai kemajuan. Terdapat tiga hal penting yang  perlu mendapat perhatian: (1) karakter sekolah: sampai sejauh mana  sekolah menjadi komunitas yang lebih peduli dan saling menghargai? (2)  Pertumbuhan staf sekolah sebagai pendidik karakter: sampai sejauh mana  staf sekolah mengembangkan pemahaman tentang apa yang dapat mereka  lakukan untuk mendorong pengembangan karakter? (3) Karakter siswa:  sejauh mana siswa memanifestasikan pemahaman, komitmen, dan tindakan  atas nilai-nilai etis inti? Hal seperti itu dapat dilakukan di awal  pelaksanaan pendidikan karakter untuk mendapatkan baseline dan diulang  lagi di kemudian hari untuk menilai kemajuan.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;                                                           "Semoga bermanfaat bagi para pembaca"&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-8888588143233846301?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/8888588143233846301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=8888588143233846301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8888588143233846301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8888588143233846301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2011/04/membangun-sebuah-karakter-watak-bangsa.html' title='MEMBANGUN SEBUAH KARAKTER &amp; WATAK BANGSA MELALUI PENDIDIKAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-4759434101014519877</id><published>2008-03-20T22:57:00.000-07:00</published><updated>2008-03-20T23:28:26.945-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH : PERENCANAAN PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERENCANAAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;DAN PELATIHAN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;A. Latar Belakang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Pada haketnya Perencanaan merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suatu rangkaian proses kegiatan menyiapkan keputusan mengenai apa yang diharapkan terjadi sperti (peristiwa, keadaan, suasana), dan sebagainya. Perencanaan bukanlah masalah kira-kira, manipulasi atau teoritis tanpa fakta atau data yang kongkrit. Dan persiapan perencanaan harus dinilai. Bangsa lain yang terkenal perencanaannya adalah bangsa Amerika Serikat. Perencanaan sangat menentukan keberhasilan dari suatu program sehingga bangsa Amerika dan bangsa Jepang akan berlama-lama dalam membahas perencanaan daripada aplikasinya. &lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama boleh dikatakan telah berhasil meletakkan landasan yang kuat bagi pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Adapun tujuan Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II), adalah mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir batin dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur dalm Negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD-1945. Rumusan yang luas tersebut dapat kita sebut tujuan normatif atau visi normative dari pembangunan nasional. Dalam rangka pencapaian tujuan normative PJP II tersebut di rumuskan pula sebagai sasaran umum ialah terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang maju dan mandiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Hasil yang dicapai selama Pembangunan Jangka Panjang I (PJP I), merupakan pula perwujudan dari suatu rencana pendidikan dan pelatihan selama PJP I sesuai dengan kondisi bangsa dan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; pada waktu itu. Masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semakin berkembang, semakin cerdas, dan semakin luas pula horison pilihannya, sebagai hasil sumber daya manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Menghadapi Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II) banyak hal yang perlu di perhitungkan untuk lebih mengarahkan tujuan Pembangunan Jangka Panjang Kedua, demikian pula sasaran umum yang akan dicapainya harus lebih rinci agar perkembangannya tidak melebar atau melenceng tanpa arah yang jelas. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam kerangka ini perlu dirumuskan suatu tujuan dan sasaran yang strategisnyang saya sebut sebagai visi strategis dan rencana strategis pembangunan pendidikan dan pelatihan menapak abad 21. Dalam alur pikiran inilah penulis menyajikan suatu konsep atau pemikiran mengenai &lt;i style=""&gt;perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Sebagai unsur di dalam pertama di dalam program pengembangan SDM Indonesia mencapai tujuan Pembangunan Jangka Panjang II, pendidikan dan pelatihan haruslah berpijak pada dua prinsip pokok, yaitu sifatnya yang &lt;i style=""&gt;komprehensif&lt;/i&gt;, dan &lt;i style=""&gt;dinamik&lt;/i&gt;. Sifat yang komprehensif disebabkan karena seluruh program pembangunan nasional yang pada hakekatnya dilaksanakan oleh manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mampu untuk melaksanakannya. Manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tersebut adalah manusia hasil binaan pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan tuntutan pasar atau tuntutan pembangunan nasional. Untuk menjadi bangsa yang mandiri, pada dasarnya tidak ada satupun sector kehidupan bangsa atau sektor pembangunan nasional yang tidak dijamah oleh Sumber Daya Manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Apabila Sumber Daya Manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak dipersiapkan, maka sector-sektor tersebut akan diisi oleh tenaga-tenaga asing sesuai dengan dinamisme kehidupan dunia dewasa ini yaitu dunia terbuka. Dunia yang terbuka memungkinkan persaingan antar manusia dan antar bangsa. Hanya bangsa dan manusia yang terampil, bermutu, akan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa yang lain dalam era globalisasi. Perencanaan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif berarti bahwa bahwa perencanaan tersebut haruslah sejalan dan seiring dengan strategi pembangunan serta prioritas nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Sesuai dengan arah dan sasaran Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II), maka perencanaan pendidikan dan pelatihan nasional haruslah dinamis sesuai dengan dinamika yang hidup di dalam masyarakat Indonesia yang sdemakin tinggi mutu kehidupannya dan tingkat pemikiran rakyatnya. Dinamika masyarakat yang semakin meningkat menuntut partisipasi masyarakat luas, untuk memberdayakan masyarakat yang dikenal sebagai rass root planning, mengikutsertakan dinamika masyarakat berarti pula proses perencanaan harus rentan pada perubahan yang hidup di dalam kehidupan yang nyata dan bukan merupakan rekayasa dari atas atau pemerintah pusat. Meskipun tidak seluruhnya rekayasa pemerintah bersifat negative, tetapi dinamika menuntut suatu adonan yang serasi antara tuntutan pemerintah pusat dengan keikutsertaan masyarakat banyak. Kebutuhan pasar, kebutuhan rakyat banyak mencerminkan meningkatkan kehidupan demokrasi juga merupakan hasil suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan masyarakat masa depan adalah perencanaan yang didorong oleh mekanisme pasar. Yang berarti tujuan pembangunan nasional akan lebih dekat dan mendapat support dari masyarakat secara utuh. Dan selanjutnya dunia masa depan, dunia abad 21 sebagai abad informasi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK), telah dan akan mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia yang sedang menapak kea rah kearah masyarakat industri. Transformasi masyarakat masa depan menuntut suatu fisi pendidikan dan pelatihan yang jelas, yang mengakomodasikan dinamika transformasi social-ekonomi masyarakat yang akan terjadi. Era teknologi komunikasi akan lebih mendekatkan manusia satu dengan yang lain, sehingga dinamika tersebut harus ditampung untuk lebih mensukseskan tercapainya tujuan pembangunan nasional. Visi strategis tersebut harus dapat mengarahkan proses perencanaan pendidikan dan pelatihan nasional, sehingga dengan demikian program-program pembangunan nasional yang diprioritaskan pada bidang ekonomi dalam PJP II, akan di support oleh adanya Sumber Daya Manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang cerdas dan terampil sesuai dengan kebutuhan masyarakat global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Transformasi sosial-ekonomi masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; masa depan dalam era globalaisasi abad 21 menuntut suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan berdasarkan paradikma-paradigma baru bukan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, tetapi juga untuk mewujudkan &lt;i style=""&gt;Shared values&lt;/i&gt; masyarakat dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;B. Definisi Perencanaan Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Dari berbagai pendapat atau definisi yang dikemukakan oleh para pakar manajemen, antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Menurut, Prof. Dr. Yusuf Enoch&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Perencanaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan, adalah suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepadanpencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Beeby, C.E.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat ke masa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;depan ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;c.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Menurut Guruge (1972)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perencanaan Pendidikan adalah proses mempersiapkan kegiatan di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;d. &lt;i style=""&gt;Menurut&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Albert Waterson (Don Adam 1975)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan Pendidikan adala investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keuntungan sosial.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="5" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menurut Coombs (1982)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="6" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menurut Y. Dror&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(1975)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan Pendidikan adalah suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara optimal untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Jadi, definisi perencanaan pendidikan apabila disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut, adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Secara konsepsional, bahwa perencanaan pendidikan itu sangat ditentukan oleh cara, sifat, dan proses pengambilan keputusan, sehingga nampaknya dalam hal ini terdapat banyak komponen yang ikut memproses di dalamnya. Adapun komponen-komponen yang ikut serta dalam proses ini adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tujuan pembangunan nasional bangsa yang akan mengambil keputusan dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam bidang pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Masalah strategi adalah termasuk penanganan kebijakan (policy) secara operasional yang akan mewarnai proses pelaksanaan dari perencanaan pendidikan. Maka ketepatan pelaksanaan dari perencanaan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Dalam penentuan kebijakan sampai kepada palaksanaan perencanaan pendidikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang menentukan keputusan, dan faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan. Terutama dalam hal pemegang kekuasaan sebagai sumber lahirnya keputusan, perlu memperoleh perhatian, misalnya mengenai system kenegaraan yang merupakan bentuk dan system manajemennya, bagaimana dan siapa atau kepada siapa dibebankan tugas-tugas yang terkandung dalam kebijakan itu. Juga masalah bobot u ntuk jaminan dapat terlaksananya perencanaan pendidikan. Hal ini dapat diketahui melalui &lt;i style=""&gt;output&lt;/i&gt; atau hasil system dari pelaksanaan perencanaan pendidikan itu sendiri, yaitu dokumen rencana pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dari beberapa rumusan tentang perencanaan pendidikan tadi dapat dimaklumi bahwa masalah yang menonjol adalah suatu proses untuk menyiapkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suatu konsep keputusan yang akan dilaksanakan di masa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;depan. Dengan demikian, perencanaan pendidikan dalam pelaksanaan tidak dapat diukur dan dinilai secara cepat, tapi memerlukan waktu yang cukup lama, khususnya dalam kegiatan atau bidang pendidikan yang bersifat kualitatif, apalagi dari sudut kepentingan nasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;C. Tujuan, Fungsi dan Proses Perencanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;1. Tujuan Perencanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pada dasarnya tujuan perencanaan adalah sebagai pedoman untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sebagai suatu alat ukur di dalam membandingkan antara hasil yang dicapai dengan harapan. Dilihat dari pengambilan keputusan tujuan perencanaan adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Penyajian rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/satuan kerja yang bertanggung jawab untuk melakukan kebijaksanaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;2. Fungsi Perencanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan &lt;i style=""&gt;quality assurance&lt;/i&gt;, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya, dan sebagai upaya untuk memenuhi &lt;i style=""&gt;accountability&lt;/i&gt; kelembagaan. Jadi yang terpenting di dalam menyusun suatu rencana, adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta tujuan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;3. Proses Perencanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;       Perencanaan merupakan siklus tertentu dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan melalui siklus tersebut suatu perencanaan bias dievaluasi sejak awal persiapan sampai pelaksanaan dan penyelesaian perencanaan. Dan secara umum, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan yang baik, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan yang efektif dimulai dengan tujuan secara lengkap dan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Adanya rumusan kebijaksanaan, yaitu memperhatikan dan menyesuaikan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dengan factor-faktor lingkungan apabila tujuan itu tercapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Analisis dan penetapan cara dan sarana untuk mencapai tujuan dalam kerangka kebijaksanaan yang telah dirumuskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Penunjukan  orang - orang yang akan menerima tanggung jawab pelaksanaan (pimpinan) termasuk juga orang yang akan mengadakan pengawasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Penentuan system pengendalian yang memungkinkan pengukuran dan pembandingan apa yang harus dicapai, dengan apa ya ng telah tercapai, berdasarkan criteria yang telah ditetapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dengan demikian, beerdasarkan unsure-unsur dan langkah-langkah dalam perencanaan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses perencanaan merupakan suatu proses yang diakui dan perlu dijalani secara sistematik dan berurutan karena keteraturan itu merupakan proses rasional sebagai salah satu property perencanaan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;A. Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan yang Efektif dan &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Efisien &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Perencanaan pada hakekatnya merupakan suatu proses yang mengarahkan sebagai usaha untuk mencapai suatu tujuan. Perencanaan pembangunan nasional merupakan suatu proses yang mengarahkan keseluruhan usaha yang melibatkan kemampuan serta pemanfaatan sumber-sumber daya dan dana untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Pendidikan dan pelatihan sebagai proses sumber daya manusia yang akan melaksanakan dan menikmati hasil pembangunan nasional haruslah sejalan dengan proses untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan nasional harus diarahkan kepada pencapaian tujuan dan visi normatif pembangunan nasional sebagaimana kekuatan internal serta kecenderungan-kecenderungan global yang mempengaruhi arah pembangunan nasional dalam PJP II, maka kita dapat merumuskan visi strategis mengenai pembangunan nasional kita. Dalam rangka untuk mewujudkan visi strategis pembangunan nasional, maka perencanaan pendidikan dan pelatihan yang sejalan dengan itu perlu dirumuskan. Perencanaan pendidikan dan pelatihan tersebut tidak lain yaitu suatu proses perencanaan yang efektif dan efisien yang mengandung 3 unsur pokok, yaitu : a) system, b) materi pembelajaran dan pelatihan, c) proses pembelajaran dan pelatihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dengan   proses perencanaan pendidikan dan pelatihan nasional yang demikian bukanlah semata-mata pencapaian target kuantitatif tetapi juga bahkan terlebih berkenan dengan pembenahan system agar supaya lebih efektif dan efisien, meningkatkan mutu proses pembelajaran dan pelatihan, serta materi yang disampaikan di dalam proses. Tersebut bukan hanya mempunyai kualitas yang tinggi tetapi juga relevan dengan tuntutan pembangunan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;B. Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan yang Efektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Rencana yang efektif adalah rencana yang yang menunjang pencapaian tujuan PJP II, khususnya tujuan strategis PJP II yang telah dijadwalkan pada periode Repelita. Seperti yang dirumuskan, tujuan strategis dari pembangunan PJP II yaitu : menyiapkan masyarakat industri maju. Suatu masyarakat industri maju memiliki ciri-ciri yang khusus yaitu masyarakat yang mengenal disiplin. Tanpa disiplin tidak mungkin industri maju yang menggunakan unsur-unsur posisi tinggi berjalan tanpa disiplin. Disiplin dalam pekerjaan, di dalam produksi dan di dalam kehidupan. Tidak ada suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;negara industri maju tanpa kedisiplinan warganya. Oleh karena itu, perencanaan pendidikan dan pelatihan haruslah diarahkan kepada tumbuhnya suatu masyarakat yang berdisiplin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Rencana yang telah disepakati haruslah dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan, menyampingkan tujuan-tujuan tambahan dan memfokuskan kepada rencana yang telah ditentukan. Bukan berarti bahwa rencana yang telah disepakati tidak dapat ditawar-tawar lagi. Penyesuaian suatu rencana hanya dapat terjadi apabila kondisi meminta untuk perbaikan-perbaikan selama pelaksanaan. Keterbatasan dana, ketidakmampuan pelaksana, kurang koordinasi di lapangan dapat menyebabkan penyesuaian pelaksanaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan diarahkan pada pengembangan dan penguasaan IPTEK serta penerapannya. Berikutnya keterampilan yang diprogramkan adalah keterampilan yang dibutuhkan di dalam pasar kerja oleh dunia industri atau oleh kesempatan-kesenmpatan yang muncul karena kemajuan ilmu dan teknologi kemudian perencanaan yang disajikan merupakan suatu rencana yang melahirkan inisiatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Demikianlah proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif harus dapat menumbuhkan suatu system pendidikan dan perencanaan yang mengakomodasikan lahirnya kemampuan-kemampuan yang diperlukan oleh suatu masyarakat industri. Sistemnya haruslah efektif, artinya tidak ada duplikasi serta program tanpa arah. Seluruh sistem diberdayakan agar secara cepat dan tepat menunjang pencapaian tujuan PJP II. Hal ini berarti perencanaan Ppendidikan dan pelatihan haruslah komprehensif, sebab sumber daya manusia yang aka n dibutuhkan oleh semua sector pembangunan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Selama PJP II tujuan ini belum sepenuhnya dapat dilaksanakan sehingga terjadi berbagai pemborosan dan bermuara kepada angka pengangguran yang semakin besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengangguran menandakan bukan hanya oleh factor-faktor ekonomi, melainkan juga sebagai variable ketidakefektifan proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dalam membangun suatu system yang efektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif juga berkenaan dengan proses pembelajaran. Era informasi dengan &lt;i style=""&gt;cyber learning&lt;/i&gt; akan mengubah seluruh proses belajar baik di dalam system pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Oleh karena itu, &lt;i style=""&gt;cyber learning&lt;/i&gt; harus direncanakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam rencana pendidikan dan pelatihan masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;C. Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan yang Efisien&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Efisien artinya penggunaan sumber-sumber secara tepat guna dalam rangka pencapaian suatu tujuan. Dalam hubungan ini, proses perencanaan yang efisien adalah proses perencanaan yang mempunyai karakteristik, antara lain : efisiensi berimplikasi tanpa duplikasi berarti intensifikasi. Tetapi apabila duplikasi tanpa kerjasama, maka hal itu dapat dikatakan pemborosan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dengan demikian proses perencanaan pendidikan dan pelatihan akan dangkal sifatnya atau akan melenceng dari tujuan nasional karena tidak memperhitungkan kepentingan sector-sektor lainnya. Oleh sebab itu, kerjasama intern, instansi antar lembaga, antar departemen di dalam proses perencanaan pendidikan dan pelatihan merupakan syarat mutlak. Proses kerjasama ini sudah dapat diperlancar dengan adanya teknologi komunikasi yang canggih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka dari itu, dapat dirumuskan secara lebih efisien serta lebih tepat dan cepat program-program nasional yang mempunyai dimensi antar sektoral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;D. Keseimbangan antara Pendidikan dan Program Pelatihan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kita telah merencanakan program pendidikan terpisah dari program pelatihan. Namun di dalam era informasi di mana pendidikan merupakan pendidikan seumur hidup, maka porsi umur yang diperuntukkan bagi program pendidikan sekolah ialah singkat dibandingkan dengan porsi umur yang diberikan kepada program pelatihan yang berjalan seumur hidup. Apabila karakteristik pekerjaan masa depan yang dinamis akan memberikan relevansi yang tinggi terhadap program pelatihan. Oleh karena itu, di dalam proses pendidikan dan pelatihan masa depan yang efisien harus lebih memperhatikan kepada pengembangan program pelatihan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;E. Tenaga-tenaga Perencana yang professional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan masa depan yang efektif dan efisien tentunya meminta tenaga-tenaga yang professional tersebut, yaitu para perencana harus merupakan suatu tim multi-disipliner. Dan mereka bukan hanya ahli-ahli dalam bidang pendidikan dan pelatihan melainkan juga dari disiplin-disiplin dari luar pendidikan, seperti teknik, ekonomi, antropologi, filsafat, dan bidang-bidang lainnya yang relevan. Tentunya yang ideal adalah adalah ahli-ahli pendidikan yang menguasai disiplin-disiplin lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Dalam transformasi IKIP menjadi Universitas, maka tenaga-tenaga perencana yang professional akan lebih terbuka. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; akademisi dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan akan dapat didik sebagai tenaga-tenaga perencana pendidikan dan pelatihan yang lebih mantap dan professional. Tim perencana yang multi-disipliner, yang menghayati masalah-masalah pendidikan, akan dapat menghayati dan membangun suatu system pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan tujuan strategis dan misi strategis pembangunan serta dapat mengembangkan materi yang akan disampaikan di dalam proses pembelajaran dan pelatihan, serta menguasai tehnik proses pembelajaran itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien secara mutlak harus ditopang oleh peneliti (riset). Riset yang dibutuhkan adalah dalam dua bidang, yaitu bidang kebijakan dan dalam bidang intern pendidikan. Pelaksanaan riset kebijakan pendidikan dapat dilaksanakan oleh badan pemerintah tetapi juga oleh lembaga-lembaga swasta yang independent agar supaya dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan dari berbagai arah serta tidak berpihak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Demikian juga pelaksanaan riset mengenai masalah-masalah pendidikan an sich perlu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di lingkungan universitas dan lembaga-lembaga riset masyarakat mengenai mengenai pendidikan. Dewasa ini dirasakan suatu kelemahan di dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan nasional karena ketiadaan data riset mengenai masalah-masalah pendidikan san pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sendiri yang sedang berkembang me nuju masyarakat industri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dari berbagai konsep pendidikan dan pelatihan berasal dari pinjaman atau limpahan pemikiran-pemikiran barat mengenai perkembangan yang sebenarnya dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; sampai dewasa di dalam lingkungan kebudayaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;F. Kurikulum Nasional yang Ramping&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Perencanaan yang efisien dalam sector pendidikan dan pelatihan juga diarahkan kepada terwujudnya suatu kurikulum yang ramping. Kita mengetahui bahwa dewasa ini, kurikulum sudah sangat berat dengan pengetahuan yang kurang relevan dengan kehidupan nyata. Era reformasi bukan berarti menghafal dan penguasai semua informasi dan data yang ada, tetapi bagaimana mengelola informasi yang ada agar supaya bermanfaat bagi kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Dengan demikian perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efisien menuntut lebih banyak pemanfaatan pendidikan umum sebagaimana diproyeksikan oleh Negara-negara Uni Eropa dewasa ini. Oleh karena itu, apabila dewasa ini kita mengenal Kurikulum Nasional dan Kurikulum Lokal di mana seolah-olah yang penting adalah Kurikulum, maka dalam menjalani abad 21 justru yang penting adalah Kurikulum Lokal yang merupakan kurikulum Kurikulum Inti. Sedangkan Kurikulum Nasional merupakan lapisan plasma dari kurikulum itu sendiri. Tentunya Kurikulum Lokal yang merupakan inti memerlukan persiapan yang berat dan matang di daerah-daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Dari berbagai uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;1. Perencanaan pendidikan dan pelatihan dalam PJP II merupakan proses untuk mengembangkan sumber daya manusia &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam rangka mewujudkan visi strategis untuk menanpung dinamika masyarakat dan kekuatan serta tantangan global dalam era informasi abad 21.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;2. Perencanaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pendidikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pelatihan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;efektif &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendorong mewujudkan masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang maju yang memungkinkan pengembangan kemampuan otak, penguasaan dan pengembangan serta penerapan IPTEK, menguasai yang relevan mengembangkan jiwa wiraswasta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan dalam PJP merupakan proses untuk mengembangkan sumber daya manusia &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam rangka mewujudkan visi strategis menghadapi pasar bebas serta kemajuan IPTEK dalam rangka mewujudkan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan Pendidikan yang efektif dan efisien meminta suatu keseimbangan antara program pendidikan dan program pelatihan. Program-program pelatihan akan semakin ditonjolkan relevansinya. Sedangkan program pendidikan yang bersifat umum dengan dibebani berbagai keterampilan dasar yang diperlukan dalam kehidupan nyata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan masyarakat masa depan adalah perencanaan yang didorong oleh mekanisme pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien secara mutlak harus ditopang oleh peneliti (riset). Riset yang dibutuhkan adalah dalam dua bidang, yaitu bidang kebijakan dan dalam bidang intern pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efisien menghindari duplikasi yang tidak perlu. Oleh karena itu diperlukan networking antar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Lembaga, antar departemen, mengoptimalkan peran serta masyarakat, khususnya masyarakat industri, serta kurikulum yang ramping. Kurikululum local dijadikan sebagai kurikulum inti, Dan Kurikulum Nasional dijadikan sebagai Kurikulum Plasma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Suryadi, Ace. &lt;i style=""&gt;Pendidikan, Investasi SDM, dan Pengembangan: Isu.Teori dan Aplikasi. &lt;/i&gt;Pusat Informatika Balitbang Dikbud. Jakarta.1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, H.A.R., &lt;i style=""&gt;Peta Permasalahan Pendidikan Dewa Ini, Perlunya Visi dan Rencana Strategi Pendidikan dan pelatihan Nasional berorientasi Masa Depan&lt;/i&gt;, Seminar Ilmiah ISKA, November 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, H.A.R., &lt;i style=""&gt;Pengembangan Sumber Daya manusia dalam Era Globalisasi&lt;/i&gt;, Grasindo, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Haddad, Wadi D., &lt;i style=""&gt;The Dynamich of Education Policymaking&lt;/i&gt;. The World Bank, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Washington&lt;/st1:City&gt;,  &lt;st1:state st="on"&gt;D.C.&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, H.A.R., &lt;i style=""&gt;Pengembangan SDM Indonesia Unggul Menghadapi masyarakat Kompetitif Era Globalisasi&lt;/i&gt;, Pidato Ilmiah pada Acara Wisuda Tinggi Manajemen Bandung, 26 Agustus 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, &lt;i style=""&gt;H.A.R., Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi&lt;/i&gt;, Grasindo, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, H.A.R., &lt;i style=""&gt;In Search of New Paradigms in Educational Management and Leadership based on Indigenous Culture: The Indonesian Case&lt;/i&gt;, Keynote speech, First Asean/ASEAN Symposium on Educational Manajemen and Leadership, Genting Highlands, Kuala Lumpur, 27-29 Agust, 1997.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;Tilaar, H.A.R., &lt;i style=""&gt;Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional: Dalam Perspektif Abad 21&lt;/i&gt;. &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; Tera, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; 1998.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;                                                                                              Bontang, 21 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;                                                                                     Penyusun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                                                                                           Renggani, S.Pd.SH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-4759434101014519877?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/4759434101014519877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=4759434101014519877' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/4759434101014519877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/4759434101014519877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2008/03/makalah-perencanaan-pendidikan.html' title='MAKALAH : PERENCANAAN PENDIDIKAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-2030363333652739143</id><published>2007-12-02T06:28:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T06:31:16.929-08:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT MENUJU OTONOMI DAERAH KALTIM</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Latar Belakang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Pendidikan Berbasis Masyarakat merupakan pilot project yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan belajar anak melalui suara, pilihan dan tindakan kolektif masyarakat. Proyek percontohan ini akan dilaksanakan melalui mekanisme Program Pengembangan Kecamatan (PPK), yang merupakan program pemerintah yang ditujukan untuk mengurangi dampak kemiskinan pada masyarakat pedesaan dan untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan setempat. PPK difokuskan pada kecamatan yang dinilai termiskin di Indonesia, dan membiayai proyek pembangunan pada tingkat desa melalui sebuah sistem pilihan terbuka, yang memungkinkan berbagai kelompok masyarakat untuk mengusulkan kegiatan pendidikan. Sejauh ini, PPK belum memiliki sistem yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan maupun perspektif masyarakat terhadap gagasan inovatif berkaitan dengan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kelompok sasaran utama dari proyek percontohan Pendidikan Berbasis Masyarakat ini adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan bagi para anak murid. Selain peningkatan fasilitas infrastruktur fisik, proyek percontohan ini akan melibatkan masyarakat agar dapat mempertimbangkan berbagai kegiatan non-fisik, seperti peningkatan kapasitas mengajar, proses dan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan perawatan kesehatan dan gizi bagi para anak. Diharapkan juga  bahwa hubungan antara sekolah dan masyarakat akan semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Bagaimanapun juga, ada beberapa hal yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat namun dengan dampak yang sangat terbatas kecuali dengan keterlibatan dinas pendidikan kabupaten. Misalnya, dinas pendidikan kabupaten dapat mendukung masyarakat dengan informasi dari luar, seperti Undang-Undang Pendidikan No. 20/2003 dan UU tentang Perlindungan Anak No. 23/2002. Yang terakhir misalnya akan melindungi anak dari kekerasan di sekolah maupun di rumah. Berkurangnya kekerasan akan sekaligus meningkatkan kapasitas anak-anak untuk belajar .   Pendidikan guru adalah contoh yang lain. Sangat mahal apabila masing-masing sekolah harus melaksanakan pelatihan guru. Namun jauh lebih praktis dan ekonomis apabila kelompok-kelompok masyarakat yang memilih untuk meningkatkan kapasitas gurunya, melakukannya secara bersama di tingkat kabupaten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Otonomi Daerah merupakan kewenangan Daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingaan masyarakat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat (&lt;i style=""&gt;Thoha&lt;/i&gt;, 1998).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan otonomi daerah, maka wewenang pusat dilimpahkan kepada daerah untuk menangani urusannya masing-masing. Di Indonesia otonomi daerah tidak dilaksanakan secara frontal untuk segala urusan, tetapi sebagian urusan daerah tidak lagi diintervensi oleh pemerintah pusat. Melihat kondisi ini, maka diharapkan dapat mendorong kemajuan daerah berdasarkan potensi dan sumber daya yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Penataan otonomi daerah yang seluas-luasnya akan mempengaruhi penataan institusi dan berdampak pada manajemen berbagai sumber daya yang ada di daerah. Apabila otonomi daerah dikonsentrasikan di wilayah kota atau kabupaten, maka propinsi tidak lagi sebagai pemerintah otonom, tetapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersifat koordinatif. Wewenang penyelenggaraan segala urusan berada pada tingkat kota atau kabupaten. Hal ini akan membawa dampak pada penataan sistem pendidikan, termasuk organisasi penyelenggara, kurikulum, penataan SDM, pendanaan, sistem manajemen, sarana prasarana, dan pengembangan pendidikan daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Tujuan Pendidikan Bermasis Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM) bertujuan untuk membantu pemerintah dalam memobilisasi sumber daya lokal dan meningkatkan peranan masyarakat, meningkatkan rasa kepemilikan dan dukungan masyarakat terhadap sekolah, dan mendukung peranan masyarakat untuk mengembangkan inovasi kelembagaan, serta membantu mengatasi putus sekolah terutama dari SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;C. &lt;/span&gt;Permasalahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Besarnya penduduk Indonesia yang menempuh pendidikan luar sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Rendahnya Anggaran dari Pemerintah&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemerintah belum melihat Pendidikan secara utuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Prioritas pemerintah pada pendidikan sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Konsep PBM adalah: dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat (&lt;i style=""&gt;Sihombing&lt;/i&gt;, U., 2001). Dari konsep di atas dapat dinyatakan bahwa PBM adalah pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di masyarakat dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatan belajar serta bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Konsep dan praktek PBM tersebut adalah untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri dan memiliki daya saing dengan melakukan program belajar yang sesuai kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Dengan demikian tenaga pendidikan (pihak-pihak terkait) harus melakukan akuntabilitas (pertanggungjawaban) kepada masyarakat. Menurut Sagala, S., 2004 akuntabilitas dapat mengembangkan persatuan bangsa serta menjawab kebutuhan akan pendidikan bagi masyarakat. Pengembangan akuntabilitas terhadap masyarakat akan menumbuhkan inovasi dan otonomi dan menjadikan pendidikan berbasis pada masyarakat (community based education). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Untuk mewujudkan output pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat dibutuhkan pendidikan yang bermutu. Apabila kita lihat mutu pendidikan di negara kita saat ini masih menghadapi beberapa problematika. Beberapa problem mengenai mutu pendidikan kita seperti yang diungkapkan DR. Arief Rahman dalam Mukhlishah, 2002 adalah: a) pembiasaaan atau penyimpangan arah pendidikan dari tujuan pokoknya , b) malproses dan penyempitan simplikatif lingkup proses pendidikan menjadi sebatas &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;pengajaran, c) pergeseran fokus pengukuran hasil pembelajaran yang lebih diarahkan pada aspek-aspek intelektual atau derajat kecerdasan nalar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sedangkan menurut &lt;i style=""&gt;Surya, M&lt;/i&gt;., 2002 salah satu problematika pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan anggaran dan sarana pendidikan, sehingga kinerja pendidikan tidak berjalan dengan optimal. Persoalan tersebut menjadi lebih komplek jika kita kaitkan dengan penumpukan lulusan karena tidak terserap oleh masyarakat atau dunia kerja karena rendahnya kompetensi mereka. Mutu dan hasil pendidikan tidak memenuhui harapan dan kebutuhan masyarakat atau mempunyai daya saing yang rendah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Indikator yang menunjukkkan rendahnya mutu hasil pendidikan kita adalah kepekaan sosial alumni sistem pendidikan terhadap persoalan masyarakat yang seharusnya menjadi konsen utama mereka, seperti: a) alumni kedokteran tidak menunjukkan kepekaan sosial terhadap maraknya wabah demam berdarah, sehingga lonjakan wabah tersebut di beberapa daerah harus dibarengi dengan ironi kekurangan tenaga medik dan paramedik, kemudian terjadilah kisah tragis Indah di Indramayu;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;b) Kesulitan untuk mencari guru mengaji di sebagian besar masjid-masjid kota pontianak dan Kab./Kota lainnya di Propinsi kalimantan Barat merupakan hal yang sulit kita pahami, mengingat STAIN Pontianak hingga saat ini telah meluluskan banyak alumni; c) sangat ironis terjadi bagi masyarakat Kalimantan Barat jika harus kekurangan tenaga dan ahli pertanian sehingga banyak areal pertanian terbengkalai atau salah urus, mengingat Untan dan IPB meluluskan ratusan sarjana pertanian setiap tahunnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kisah-kisah ironis tersebut menggambarkan secara jelas bahwa kompetensi moral dan kompetensi sosial SDM keluaran sistem pendidikan kita sangat tidak compatible dengan tuntutan dunia kerja di dalam masyarakatnya. Sistem pendidikan tidak menjadikan masyarakat sebagai dasar prosesualnya dan tidak berakar pada sosial budaya yang ada. Pendidikan berjalan di luar alam sosial budaya masyarakatnya, sehingga segala yang ditanamkan (dilatensikan) melalui proses pendidikan merupakan hal-hal yang tidak bersentuhan dengan persoalan kehidupan nyata yang dihadapi masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Implikasinya adalah terputus mata rantai budaya sosial antara satu generasi dengan generasi berikutnya. Generasi yang lebih muda menjadi tidak mampu mewarisi dan mengembangkan bangunan budaya sosial yang dikonstruksi oleh generasi pendahulunya, bahkan tidak mampu mengapresiasi dan seringkali berperilaku yang cenderung berakibat mengenyahkannya. Generasi seperti ini cenderung hanya mampu melihat kekurangan-kekurangan pendahulunya, tanpa menawarkan jalan keluar dan penyelesaiannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kisah yang sangat biasa bagi orang pribumi yang kaya raya dari hasil usaha dan bisnisnya, anak mereka menghancurkan perusahaan dan menghabiskan kekayaan untuk berfoya-foya. Hal seperti ini tidak terjadi pada tradisi etnis tionghoa, dimana yang kaya akan menjadi lebih kaya karena putra-putrinya dipersiapkan untuk menjadi pewaris yang mampu mengembangkan bisnis yang dirintis oleh kedua orang tuanya. Misalnya dengan membiasakan anaknya magang di setiap outlet orang tua dan memperoleh perlakuan seperti layaknya pegawai, dengan demikian mereka mempunyai akselerasi belajar yang jauh lebih tinggi karena segala pelajaran yang diperoleh di sekolah memperoleh penguatan melalui aktivitas praktis yang dijalaninya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sementara itu kita juga tengah menghadapi era globalisasi yang ditandai dengan disepakatinya kawasan perdagangan bebas. &lt;/span&gt;Sejak 1 Januari 2003 secara Internasional dimulai AFTA (Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area). &lt;span style="" lang="SV"&gt;Akibatnya terjadi perubahan pada berbagai bidang kehidupan, baik politik, sosial, budaya, pertahanan keamanan, demografi, Sumber Daya Alam, dan geografi yang akan berpengaruh pada skala global, regional dan nasional. Secara global dapat dilihat dengan adanya terorisme, runtuhnya tembok Berlin, narkoba. Secara regional dapat dilihat dengan maraknya narkoba, terorisme, TKI, sipida ligitan. Secara Nasional dapat kita lihat dengan banyaknya pengangguran, kemiskinan, narkoba, pariwisata, dan demokrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dengan demikian pendidikan harus secara akif berperan mengatasi dampak negatif dari era globalisasi dan mempersiapkan Sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang mampu bersaing dengan SDM dari negara lain. Terobosan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mencanangkan Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi / KBK). Dengan kurikulum ini materi pelajaran ditentukan oleh sekolah berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pusat hanya menetapkan materi pokok (esensial). Target guru tidak untuk menyampaikan semua materi pelajaran tetapi memberikan pengalaman belajar untuk mencapai kompetensi dan berfokus pada aspek kognitif, psikomotor dan afektif (Sudjatmiko dan Nurlaili, L., 2004). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Oleh karena itu dengan melaksanakan KBK secara optimal diharapkan output pendidikan dapat sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sebagai akuntabilitas pendidikan kepada masyarakat sesuai dengan konsep PBM. Sejalan dengan dicanangkannya KBK, pemerintah juga melakukan pembaharuan manajemen sekolah dengan mengeluarkan kebijakan agar sekolah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah model manajemen yang memberikan keleluasaan / kewenangan kepada sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri dengan meningkatkan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah dengan tetap memperhatikan standar pendidikan nasional (&lt;i style=""&gt;Irawan&lt;/i&gt;, A., 2004). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;MBS merupakan salah satu pendidikan berbasis masyarakat yang dilaksanakan dalam pendidikan formal. Pendidikan kita selama ini memandang sekolah sebagai tempat untuk menyerahkan anak didik sepenuhnya. Sekolah dianggap sebagai tempat segala ilmu pengetahuan dan diajarkan kepada anak didik. Cara pandang ini sangat keliru mengingat sistem pendidikan juga harus dikembangkan di keluarga. Sekolah hanyalah sebagai instrumen untuk memperluas cakupan dan memperdalam intensitas penanaman cita-cita sosial budaya yang tidak mungkin lagi dikembangkan melalui mekanisme keluarga (&lt;i style=""&gt;Mukhlishah&lt;/i&gt;, 2002).&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Memulai kembali menata pendidikan dengan mempertahankan fungsi keluarga dan masyarakat sebagau basis pendidikan di sekolah bukan lagi ide untuk masa depan tetapi menjadi tuntutan yang sangat mendesak. Upaya ini akan menjadi cara untuk mengembalikan sistem pendidikan kita kepada hakekat pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan yang hakiki adalah suatu langkah prosedural yang bertujuan untuk melatenkan kemampuan sosial budaya berupa program-program kolektif alam pikir, alam rasa, dan tradisi tindak manusia ke dalam pribadi dan kelompok manusia muda agar mereka siap menghadapi segala kemungkinan yang timbul di masa datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Karena itu diperlukan partisipasi semua elemen (&lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt;) terutama orang tua dan masyarakat. Untuk mengoptimalkan peran masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan perlu dikembangkan model pendidikan berbasis masyarakat, di mana proses pendidikan tidak terlepas dari masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai basis keseluruhan kegiatan pendidikan. Semua potensi yang ada di masyarakat apabila dapat diberdayakan secara sistemik, sinergik dan simbiotik, melalui proses yang konsepsional, dapat dijadikan sebagai upaya yang strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Menurut &lt;i style=""&gt;Darwin rahardjo&lt;/i&gt; dalam &lt;i style=""&gt;Surya, M&lt;/i&gt;., 2002 masyarakat modern mempunyai tiga sektor yang saling berinteraksi yaitu sektor pemerintah, dunia usaha dan sektor sukarela (LSM). Ketiga sektor masyarakat tersebut harus mempunyai posisi tawar menawar dan kemandirian sehingga menghasilkan kerjasama yang sinergik dan simbiotik dalam mencapai tujuan bersama. Hal tersebut dapat dijadikan kerangka berfikir dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam satu gugus sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. &lt;span style=""&gt;Kendala Mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Kendala dalam mengimplementasikan Pendidikan Berbasis Masyarakat menurut Sagala, S., 2004 adalah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1) Sistem perencanaan, pengangguran dan pertanggungjawaban keuangan yang dianut pemerintah masih dari atas ke bawah (top down). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2) Kurangnya kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan atau kekuatan energi masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sikap Birokrat yang belum mampu membiasakan diri bertindak sebagai pelayan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4) Karakteristik kebutuhan belajar masyarakat yang sangat beragam, sedangkan sistem perencanaan yang dianut masih turun dari atas dan bersifat standar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5) Sikap masyarakat dan juga pola pikir masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masih tertuju pada hal-halyang bersifat kebutuhan badani / kebendaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;6) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Budaya menunggu pada sebagian besar masyarakat kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;7) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tokoh panutan, yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang seyogyanya berperan sebagai panutan sering berperilaku seperti birokrat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;8) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lembaga sosial masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan masih kurang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;9) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keterbatasan anggaran, sarana prasarana belajar, dan tenaga kependidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;10) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Egoisme sektoral, yaitu masih ada keraguan di antara prosedur yang berbeda tentang kedudukan masyarakat dalam institusi pendidikan berkaitan dengan pendidikan berbasis masyarakat yang masih menonjolkan karakteristiknya masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sistem yang masih top down yang kurang memberikan ruang dan peluang perencanaan dari bawah, sehingga terjadi penyeragaman program serta penyeragaman sistem dan mekanisme pelaksanaan program mengakibatkan pertanggungjawaban keuangan tidak mengacu kepada hasil melainkan hanya kepada kelengkapan administrasi. Hal ini benar-benar mematikan kreativitas di lapangan dan membuka peluang untuk memanipulasi.&lt;br /&gt;Kurangnya kepercayaan pemerintah kepada masyarakat untuk mengambil peran dalam melaksanakan program pembangunan yang dibutuhkan masyarakat mengakibatkan terjadinya pemaksaan kehendak dan pengarbitan hasil program. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Tugas melayani masyarakat yang belum dilaksanakan dan kecenderungan berperilaku sebagai penentu yang selalu ingin dihormati dan berkuasa karena mereka merasa memiliki dana menyebabkan timbulnya sikap apatis pada masyarakat dan menurunkan keinginan masyarakat untuk berpartisipasi. Kebutuhan masyarakat yang beragam dan merasa belum terlayani dengan baik menyebabkan gairah belajar masyarakat berkurang dan menimbulkan keengganan untuk mengikuti program belajar. Pola pikir masyarakat yang masih mementingkan kebutuhan kebendaan atau badani dan kurang memperhatikan pendidikan menyebabkan banyak anak yang tidak berkesempatan mengikuti program pendidikan dan mereka lebih disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Masyarakat masih memiliki budaya statis , merasa puas dengan apa yang ada, bersifat menunggu, menerima, dan kurang proaktif untuk mengambil prakarsa serta melakukan tindakan yang bermanfaat untuk masa depan menyebabkan sulitnya memperkenalkan teknologi baru kepada mereka. Tokoh panutan yang berperilaku seperti birokrat mengakibatkan masyarakat pendidikan enggan untuk mengoptimalkan peran masyarakat, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kurangnya LSM mengakibatkan kelambatan dalam usaha menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat.&lt;br /&gt;Adanya keterbatasan anggaran, sarana prasarana dan tenaga kependidikan serta prosedur yang berbelit-belit dapat mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap program pendidikan berbasis masyarakat berkurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Bertolak dari permasalahan-permasalahan ini, institusi sekolah bersama masyarakat perlu menyusun suatu model kebijakan sampai batas mana masyarakat dapat berpartisipasi dalam manajemen pendidikan dan bagaimana masyarakat itu dapat berpartisipasi memenuhi kebutuhan sekolah. Salah satu solusinya, aspirasi masyarakat dan keikutsertaan masyarakat disalurkan melalui suatu forum yang disebut dewan sekolah atau komite sekolah yang fungsi tugasnya dituangkan dalam peraturan pemerintah maupun peraturan daerah. Komite sekolah merupakan pengembangan fungsi dari BP3 yang tidak hanya berfungsi untuk memberikan dukungan pembiayaan tetapi juga berfungsi mengoreksi dan memberikan masukan atau ide bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Komite sekolah sebagai forum keikut sertaan masyarakat ditingkat sekolah sedangkan dewan pendidikan ditingkat Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sekolah dan masyarakat saling membutuhkan sehingga kekuatan dan keterbatasan masing-masing dapat saling melengkapi menjadi sebuah kekuatan. Hal-hal yang dapat didukung orang tua dalam mencapai tujuan pendidikan menurut Sergiovanni dalam Sagala, S., 2004 adalah pengembangan kecintaan untuk belajar, pemikiran kritis dengan kecakapan memecahkan masalah, apresiasi atau penghargaan estetika, kreativitas, dan kompetensi perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Secara umum orang tua menginginkan pendidikan yang lengkap untuk anak-anak mereka. Mereka menginginkan generasi mudanya dapat bertahan hidup dan berkembang menjadi warga negara yang berbudaya dan berpendidikan serta memiliki kemampuan untuk berperan secara penuh dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fiske, 1993 bahwa orang tua adalah pelanggan utama sekolah yang mempunyai tujuan pokok agar anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang bermutu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Selain itu untuk mengatasi kendala penerapan berbasis masyarakat perlu dilakukan perbahan sikap yang melihat pendidikan secara utuh, perubahan pola perencanaan dan penggunaan anggaran dari pusat dengan pola DIP ke pola hibah (block grant), perubahan sikap birokrat dalam berperilaku untuk memberdayakan masyarakat, pemberian kepercayaan kepada masyarakat untuk mengelola sendiri pendidikan yang mereka perlukan dan pemerintah cukup membuat standar mutu, LSM serta organisasi kemasyarakatan serta swasta yang mau bergerak dibidang pendidikan perlu lebih diberdayakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;C.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;span class="judul"&gt;&lt;b style=""&gt;Peran Pemerintah Dalam Pendidikan Berbasis Masyarakat -(PBM III)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a. Bagaimana peran pemerintah dalam menggalakkan Pendidikan Berbasis Masyarakat?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa peran yang diharapkan dapat dimainkan oleh aparat pemerintah dalam menata dan memantapkan pelaksanaan pendidikan berbasis masyarakat menurut &lt;i style=""&gt;Sihombing&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;U&lt;/i&gt;. 2001 adalah: peran sebagai pelayan masyarakat, peran sebagai fasilitator, peran sebagai pendamping, peran sebagai mitra dan peran sebagai penyandang dana.&lt;br /&gt;Sebagai Pelayan Masyarakat, dalam mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat seharusnya pemerintah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Melayani masyarakat, merupakan pilar utama dalam memberdayakan dan membantu masyarakat dalam menemukan kekuatan dirinya untuk bisa berkembang secara optimal. Pemerintah dengan semua aparat dan jajarannya perlu menampilkan diri sebagai pelayan yang cepat tanggap, sepat memberikan perhatian, tidak berbelit-belit, dan bukan minta dilayani. Masyarakat harus diposisikan sebagai fokus pelayanan utama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebagai Fasilitator, pemerintah seharusnya merupakan fasilitator yang ramah, menyatu dengan masyarakat, bersahabat, menghargai masyarakat, mampu menangkap aspirasi masyarakat, mampu membuka jalan, mampu membantu menemukan peluang, mampu memberikan dukungan, mampu meringankan beban pekerjaan masyarakat, mampu menghidupkan komunikasi dan partisipasi masyarakat tanpa masyarakat merasa terbebani.&lt;br /&gt;Sebagai Pendamping, pemerintah harus melepaskan perannya dari penentu segalanya dalam pengembangan program belajar menjadi pendamping masyarakat yang setiap saat harus melayani dan memfasilitasi berbagai kebutuhan dan aktivitas masyarakat. Kemampuan petugas sebagai teman, sahabat, mitra setia dalam membahas, mendiskusikan, membantu merencanakan dan menyelenggarakan kegiatan yang dibutuhkan masyarakat perlu terus dikembangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sebagai pendamping, mereka dilatih untuk dapat memberikan konstribusi pada masyarakat dalam memerankan diri sebagai pendamping. Acuan kerja yang dipegangnya adalah tutwuri handayani (mengikuti dari belakang, tetapi memberikan peringatan bila akan terjadi penyimpangan). Pada saat yang tepat mereka mampu menampilkan ing madya mangun karsa ( bila berada di antara mereka, petugas memberikan semangat), dan sebagai pendamping, petugas harus dapat dijadikan panutan masyarakat ( Ing ngarsa sung tulodo).&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Sebagai Mitra, apabila kita berangkat sari konsep pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek, maka masyarakat harus dianggap sebagai mitra. Hubungan dalam pengambilan keputusan bersifat horizontal, sejajar, setara dalam satu jalur yang sama. Tidak ada sifat ingin menang sendiri, ingin tampil sendiri, ingin tenar/populer sendiri, atau ingin diakui sendiri. Sebagai mitra, pemerintah harus dapat saling memberi, saling mengisi, saling mendukung dan tidak berseberangan dengan masyarakat, tidak terlalu banyak campur tangan yang akan menyusahkan, membuat masyarakat pasif dan akhirnya mematikan kreativitas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Sebagai Penyandang Dana, pemerintah harus memahami bahwa masyarakat yang dilayani pada umumnya adalah masyarakat yang kurang mampu, baik dalam ilmu maupun ekonomi. Belajar untuk belajar bukan menjadi tujuan, tetapi belajar untuk hidup dalam arti bermatapencaharian yang layak. Untuk itu diperlukan modal sebagai modal dasar untuk menerapkan apa yang diyakininya dapat dijadikan sebagai sumber kehidupan dari apa yang sudah dipelajarinya. Pemerintah berperan sebagai penyedia dana yang dapat mendukung keseluruhan kegiatan pendidikan yang diperlukan oleh masyarakat yang disalurkan berdasarkan usulan dari lembaga pengelola PKBM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;b. Bagaimana peran Komite sekolah dalam pendidikan berbasis masyarakat ?&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Partisipasi masyarakat sebagai kekuatan kontrol dalam pelaksanaan berbagai program pemerintah menjadi sangat penting. Di bidang pendidikan partisipasi ini lebih strategis lagi. Karena partisipasi tersebut bisa menjadi semacam kekuatan kontrol bagi pelaksanaan dan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah. Apalagi saat ini Depdiknas mulai menerapkan konsep manajemen berbasis sekolah. Karena itu gagasan tentang perlunya sebuah Komite Sekolah yang berperan sebagai semacam lembaga yang menjadi mitra sekolah yang menyalurkan partisipasi masyarakat (semacam lembaga legislatif) menjadi kebutuhan yang sangat nyata dan tak terhindarkan. Dengan adanya komite sekolah, kepala sekolah, para penyelenggara serta pelaksana pendidikan di sekolah secara substansial akan bertanggung jawab kepada komite tersebut. Kalau selama ini garis pertanggungjawaban kepala sekolah dan penyelenggara pendidikan di sekolah bertanggungjawab kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Dirjen Dikdasmen, maka dengan konsep manajemen berbasis sekolah pertanggung jawaban itu kepada Komite Sekolah. Pemerintah dalam hal ini hanya memberikan legalitas saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Selama ini Komite Sekolah memang telah dibentuk oleh Pemerintah, tetapi perannya terbatas hanya untuk mengawasi dana Jaring Pengaman Sosial (JPS). Komite Sekolah yang baru ini tentu tidak terbatas hanya untuk mengawasi dana JPS saja, melainkan juga berperan bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah, berfungsi untuk terus menjaga transparansi dan akuntabilitas sekolah, serta menyalurkan partisipasi masyarakat pada sekolah.&lt;br /&gt;Tentu saja Komite Sekolah ini mesti diawali dengan melakukan upaya optimalisasi organisasi orang tua siswa di sekolah. Upaya ini sangat penting lagi di saat keadaan budaya dan gaya hidup generasi kita sudah mulai tidak jelas sekarang ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan adanya upaya ini jalinan antara satu sisi, orang tua, dan di sisi lain sekolah, bisa bersama-sama mengantisipasi dan mengarahkan serta bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak di usia sekolah. Dengan demikian, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama mulai dari keluarga, masyarakat dan pemerintah.&lt;br /&gt;Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0293/U/1993 juga perlu disesuaikan dengan nuansa dan paradigma perkembangan pendidikan nasional. Karena itu, Komite Sekolah yang baru ini adalah gabungan peran dari Komite Sekolah JPS, Organisasi Orang Tua Siswa dan BP3. komite Sekolah yang baru ini bertujuan membantu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah dalam upaya ikut memelihara, menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan pendidikan nasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tentu saja Komite Sekolah mesti melakukan berbagai upaya dalam mendayagunakan kemampuan yang ada pada orang tua, masyarakat dan lingkungan sekitarnya, termasuk LSM-LSM yang memiliki concern di bidang pendidikan. Agar independensi komite ini tetap terjaga, maka tampaknya keanggotaan tidak lagi memasukkan aparat sekolah dan pemerintahan. Kalau Komite Sekolah JPS keanggotaan ya terdiri dari 50% anggota masyarakat dan 50% lagi birokrat, maka keanggotaan Komite Sekolah yang baru ini adalah orang tua siswa, tokoh masyarakat, pakar dan pengamat pendidikan, LSM-LSM, dan mungkin juga perwakilan-perwakilan dari organisasi masyarakat dan pemuda yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Tentu saja Kepala Sekolah harus membantu terbentuknya komite ini. Selanjutnya pembentukan komite dilaporkan kepada instansi/satuan kerja setempat yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pendidikan. Namun demikian komite ini bersifat independen yang berkedudukan sebagai mitra sekolah dan berfungsi sebagai lembaga kontrol bagi sekolah. Komite Sekolah juga dapat memberikan masukan penilaian untuk pengembangan pelaksanaan pendidikan dan pelaksanaan manajemen sekolah. Komite sekolah nisa juga memberikan masukan bagi pembahasan atas usulan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Jika Komite Sekolah ini bisa dijalankan, berarti proses dan pelaksanaan pendidikan di sekolah akan berjalan sesuai prinsip demokrasi. Ini berarti lingkungan sekolah menjadi laboratorium dan contoh mikro dari realisasi masyarakat madani. Sebab, dengan demikian masyarakat sekolah berarti menjalankan fungsi legislatif-eksekutif, partisipasi, transparansi dan akuntabilitas. Jelas sekali bahwa memfungsikan MBS dan Komite Sekolah merupakan upaya demokratisasi pendidikan yang menjadikan pendidikan berakar pada masyarakat yang tentunya mempunyai sustainability yang handal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;-----------------------------------&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;A. Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;PBM sudah ada dan tumbuh di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dalam berbagai bentuk.&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran pemerintah harus bergeser sebagai pelayan, pendamping, pendorong, dan penggugah dalam mengembangkan PBM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PBM harus bertumpu pada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;PBM harus didukung oleh kemitrasejajaran&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penganekaragaman program pembelajaran perlu dikembangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pola pengganggaran yang salah dapat mematikan kreativitas masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PKBM ditumbuhkan, dikelola, dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perubahan sikap yang melihat pendidikan secara utuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perubahan pola perencanaan dan anggaran pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perubahan sikap birokrat.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemberian kepercayaan pada masyarakat.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemberdayaan organisasi yang bergerak dalam bidang kependidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemberdayaan masyarakat.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 200%;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten" style="line-height: 200%;"&gt;Becker, S. G. 1993. &lt;i style=""&gt;Human Capital A Theoritical and Empirical Analysis With Special Reference to Education&lt;/i&gt;. The &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:PlaceType&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Chicago&lt;/st1:PlaceName&gt;&lt;/st1:place&gt; Press, Chicago.&lt;br /&gt;Irawan, A., dkk. 2004. &lt;i style=""&gt;Mendagangkan Sekolah. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Studi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di DKI Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Indonesia Corruption Watch, Jakarta.&lt;br /&gt;Jalal, F. Dan Supriadi, D. 2001. &lt;i style=""&gt;Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah&lt;/i&gt;. Bappenas – &lt;i style=""&gt;Depdiknas&lt;/i&gt; – Adicita Karya Nusantara.&lt;br /&gt;Mukhlishah. 2002. &lt;i style=""&gt;Mendesak, Pendidikan Berbasis Komunitas&lt;/i&gt;. Pikiran Rakyat Cyber Media.&lt;br /&gt;Sagala, S. 2004. &lt;i style=""&gt;Manajemen Berbasis sekolah dan Masyarakat&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Strategi Memenangkan Persaingan Mutu&lt;/i&gt;. PT Rakasta Samasta, Jakarta.&lt;br /&gt;Sidi, I. D. 2001. &lt;i style=""&gt;Menuju Masyarakat Belajar. Menggagas paradigma Baru Pendidikan&lt;/i&gt;. Radar Jaya Offset, Jakarta.&lt;br /&gt;Sudjatmiko dan Nurlaili, L. 2004. &lt;i style=""&gt;KBK dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa&lt;/i&gt;. Dirtendik, Reformasi pendidikan. &lt;i style=""&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;, 2 Mei 2002.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="konten"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-2030363333652739143?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/2030363333652739143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=2030363333652739143' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/2030363333652739143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/2030363333652739143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/12/pendidikan-berbasis-masyarakat-menuju.html' title='PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT MENUJU OTONOMI DAERAH KALTIM'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-7156505606152099769</id><published>2007-12-02T06:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T06:20:51.802-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/R1K-lJ_WexI/AAAAAAAAADg/cr-RuVVpcjY/s1600-R/Prof.Dr.Suharsemi+A.7.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/R1K-lJ_WexI/AAAAAAAAADg/GPfKHtfEb_k/s200/Prof.Dr.Suharsemi+A.7.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139379670329228050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;KEPEMIMPINAN DAN PERILAKU &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DALAM SEBUAH ORGANISASI PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam organisasi terdapat dua teori kepemimpinan, yaitu teori kepemimpinan klasik dan teori kepemimpinan modern. Sebelum teori kepemimpinan modern muncul, terlebih dahulu telah muncul penemu-penemu klasik kepemimpinan. Sepanjang sejarah telah dimaklumi adanya pemimpin yang gagal dan berhasil. Di samping itu, kepemimpinan banyak memengaruhi sistem kerja dan perilaku banyak orang, sebagian ada yang sudah dapat diketahui dan sebagian lagi masih misterius. Oleh karena itu kepemimpinan sangat menarik perhatian para ahli untuk dibahas dan diteliti. Di Amerika Serikat terdapat banyak penelitian tentang kepemimpinan mulai dari yang klasik sampai yang modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dalam suatu organisasi harus memiliki seorang pemimpin tertinggi di lingkungan organisasinya yang dinamakan &lt;i&gt;leader&lt;/i&gt;. Kalau di lingkungan sekolah dinamakan kepala sekolah. Sukses atau gagalnya suatu sekolah antara lain ditentukan oleh kehandalan kepala sekolahnya. Untuk menjadi seorang kepala sekolah atau pemimpin yang handal, maka secara umum haruslah bertindak sebagai EMASLEM-CO.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagai ilustrasi, &lt;i&gt;leader &lt;/i&gt;dibaratkan sebagai sopir bus yang menentukan arah kemana bus itu hendak dibawa. Agar perjalanan bus itu selamat tujuannya, maka seorang sopir bus (&lt;i&gt;leader&lt;/i&gt;) harus memiliki pandangan jauh ke depan (VISI). Di dalam bus, biasanya sopir dibantu oleh seorang kernet. Kernet itulah yang disebut &lt;i&gt;manajer&lt;/i&gt;. Jika sopir berurusan ke atas atau kepemilik bus, maka kernet berurusan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bawah. Penumpang-penumpang bus diibaratkan onggota organisasinya, sedangkan busnya diibaratkan sebagai wadah organisasinyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap pemimpin di dalam menjalankan peranannya sebagai pemimpin pendidikan, yaitu berperan sebagai &lt;i&gt;educator, manajer, administrator, supervisor, leader, entrepreneur, motivator climator, dan organizer&lt;/i&gt; atau dengan intilah singkatan (EMASLEM-CO) . Menurut &lt;i&gt;Handoko&lt;/i&gt; (2003), kepemimpinan berguna untuk menjalankan perannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia sebagai pemimpin minimal mampu memimpin dirinya sendiri. Setiap organisasi harus ada pemimpinnya, yang secara ideal harus dipatuhi dan disegani oleh bawahannya. Organisasi tanpa pemimpin akan kacau balau. Oleh karena itu harus ada pemimpin yang memerintah bawahannya dan mengarahkan baweahannya untuk mencapai tujuan baik individu, kelompok, maupun organisasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kepemimpinan jika dihubungkan dengan kekuasaan hubungannya sangat erat sekali. Sebab kepemimpinan tanpa adanya kekuasaan, pemimpin tidak bisa memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kekuatan yuridis atau kekuatan lain untuk mempengaruhi orang lain agar bertindak seperti yang mereka harapkan. Menurut &lt;i&gt;Gibson, et al&lt;/i&gt; (2003:17), kepemimpinan merupakan salah satu topik yang sangat penting dalam mempelajari dan mempraktikkan manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (&lt;i&gt;planning, organizing,, leading, dan controlling &lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada zaman demokrasi reformasi, banyak para pemimpin yang semestinya berperilaku lakon wayang seperti majikan semar, ternyata meniru perilaku majikan togog, yaitu mereka tidak senang terhadap usul, saran, dan kritik konstruktif, serta kontrol sosial baik dari rakyat termasuk dari bawahan langsung, golongan bawah, golongan menengah, golongan atas, bahkan kalangan akademis atau intelektual. Pemimpin yang mempunyai perilaku seperti ini, menilai pendapat atau suara-suara dari berbagai media massa tidak lebih sebagai pernyataan dengki yang didalangi pihak tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dilihat dari kacamata psikologis, bahwa orang yang gemar bermain kuasa pada umumnya dahulu di masa kecilnya terlalu dimanja atau terlalu tertekan. Maka setelah dewasa, ketika orang tersebut menjadi pemimpin tidak mampu membuang traumanya. Suasana manja dan tertekan dan sistem resistansinya kemudian menyusup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bawah sadarnya menjadi program pengontrol bagi sikapnya sehari-hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di kala mereka dewasa. Bentuknya antara lain kompensasi semu, merasa paling bagus, paling hebat, tidak mau disaingi, temperamennya cepat marah, dan sifat-sifat negatif lainnya. Untuk menjaga kehebatannya, jika ada serangan terhadap dirinya, maka serangan itu harus dihancurkan. Dan jika tidak mampu, jangan ditanggapi bahkan pura-pura tidak tahu, supaya kehebatannya tidak tertandingi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Pokok permasalahan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;1. Mengkaji bagaimana sekolah yang gagal, berhasil, gagal lalu berhasil, atau berhasil lalu gagal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;2. Mengkaji dari segi kepemimpinannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Cara bagaimana individu dan kelompok bekerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;4. Cara bagaimana organisasi berkembang serta berubah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Definisi kepemimpinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a. Menurut &lt;i&gt;Yukl&lt;/i&gt; (1987)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3. Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;4.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;5.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;b. Menurut &lt;i&gt;Stogdill&lt;/i&gt; (1974) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;definisi pemimpin adalah fokus dari proses kelompok, penerimaan kepribadian seseorang, seni memengaruhi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perilaku, alat untuk memengaruhi perilaku, suatu tindakan perilaku, bentuk dari ajakan (&lt;i&gt;persuasi&lt;/i&gt;), bentuk dari relasi yang kuat, alat untuk mencapai tujuan, akibat dari interaksi, peranan yang deferensial, dan pembuat struktur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;c. Menurut &lt;i&gt;SK BAKN No.27/KEP/1972&lt;/i&gt;, kepemimpinan adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara optimal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;d. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menurut &lt;i&gt;Terry &amp;amp; Rue&lt;/i&gt; (1985), kepemimpian ialah hubungan yang ada dalam diri seorang pemimpin, memengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas yang diinginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;e. Menurut Sanusi (1989), kepemimpinan ialah penyatupaduan dari kemampuan, cita-cita, dan semangat kebangsaan dalam mengatur, mengendalikan, dan mengelola rumah tangga maupun organisasi atau rumah tangga negara. Dan juga beliau menambahkan pula, kepemimpinan dalam arti substantif merujuk pada suatu kenyataan di mana seseorang atau sistem mempunyai kekuatan dan keberanian dalam menyatakan kemampuan mental organisasional, fisik, yang lebih besar dari rata-rata umumnya, yang antara lain didukung oleh beberapa unsur penting sebagai &lt;i&gt;ways and means&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang dimaksud &lt;i&gt;ways and means&lt;/i&gt; adalah a) kemampuan menciptakan, menjelaskan, dan menawarkan gagasan-gagasan dalam tema-tema yang menarik, kreatif, terbuka untuk diuji, lebih unggul dalam persaingan atau tawar-menawar dewngan pihak lain., b) kemampuan argumentasi dan mempertahankan dirinya secara etis-rasional sehingga pihak lain dapat termotivasi untuk merundingkan dan mempertimbangkan hingga akhirnya menerima pilihan dengan menggunakan gagasan tadi, c) kemampuan memengaruhi pihak lain dengan menggunakan &lt;i&gt;ways and means&lt;/i&gt; yang paling sesuai sehingga pihak bekerja sama dan dalam satu kesatuan organisatoris menaati arahan dan koordinasinya, d) kemampuan mengendalikan bentuk-bentuk kerja sama yang makin stabil dan prosesnya makin produktif, melalui pemilihan personil yang monolit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Misi yang dimiliki pemimpin secara tidak langsung dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi, nilai-nilai yang dianutnya, situasi-situasi, etika dan budaya berpengaruh langsung terhadap cara pemimpin mengarahkan, menentukan tujuan sasaran, dan keterbatasan untuk bertindak. Tetapi secara tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan dan harapan. Akhirnya hasil atau dampak secara langsung dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan dan harapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dilihat dari macamnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa pemimpin ada yang bersifat formal dan ada juga bersifat non formal. Pemimpin yang formal diangkat oleh atasannya dengan SK resmi. Sedangkan pemimpin non formal diangkat oleh anggota lainnya tanpa SK. Seseorang dapat diangkat menjadi pemimpin karena memiliki suatu kelebihan dibandingkan dengan anggota lainnya. Esensi kepemimpin seorang pemimpin adalah mereka harus mampu tidak hanya saja sekedar memberi contoh melainkan yang lebih penting lagi ialah menjadi contoh teladan bagi bawahannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebagian besar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Dengan demikian definisi kepemimpinan bahwa berbeda menurut sudut pandang masing-masing. Namun demikian ada kesamaan dasn mendefinisikan kepemimpinan yakni mengandung makna mempengaruhi orang lain untuk berbuat seperti yang pemimpin kehendaki. Jadi yang dimaksud kepemimpinan adalah ilmu dan seni memengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tugas seorang pemimpin pendidikan adalah melaksanakan manajemen pendidikan, baik sebagai fungsi maupun sebagai tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;C. Fungsi Kepemimpinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang      pemimpin harus mampu &lt;i&gt;menciptakan rasa cinta, rasa hormat dan      kepercayaan&lt;/i&gt; terhadap organisasi, kelompok dan pemimpin serta tugas dan      pekerjaannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan timbulnya rasa      cinta dan hormat inilah maka mereka akan percaya dan patuh serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan tetap loyal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang      pemimpin sendiri harus &lt;i&gt;memberi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;teladan&lt;/i&gt; dalam pikiran,      kata-kata dan tingkah lakunya sehari-hari serta menunjukkan kepada para      anak buahnya bahwa ia sendiri tidak pernah mengingkari atau menyeleweng      dari loyalitas itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      akan memperoleh keuntungan apabila ia &lt;i&gt;membuat&lt;/i&gt; &lt;i&gt;rencana&lt;/i&gt; itu      dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      harus memiliki pemikiran dan penglihatan yang mampu meneropong apa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang akan terjadi dan kemampuan untuk      melihat atau &lt;i&gt;memandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke depan&lt;/i&gt;      segala kemungkinan yang akan terjadi adalah hal yang benar-benar penting      apabila seorang pemimpin hendak membawa para pengikutnya ke arah yang      dituju. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      selain membuat rencana juga &lt;i&gt;mengawasi&lt;/i&gt; apakah rencana tersebut benar      terlaksana sebagaimana mestinya sampai tercapainya tujuan yang telah      ditentukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      harus pula cepat tanggap dalam memberi jawaban atas pertanyaan dari anak      buah mengapa rencana itu harus dilakukan demikian. Seorang pemimpin adalah      pengambilan keputusan. Mengambil keputusan yang tepat tidak selamanya      mudah untuk seorang pemimpin, dibutuhkan kemampuan dan kecakapan tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;Seorang pemimpin adalah memberi anugerah.&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:#000000;"&gt;Memantapkan sebuah visi untuk organisasi tersebut dan      mengkomunikasikannya dengan cara yang mantap bagi para anggotanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:#000000;"&gt;Memimpin orang lain dalam bidang kependidikan yang artinya      mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama secara sukarela untuk      mencapai tujuan sesuai dengan harapan pelanggan dan mutu yang diinginkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;color:black;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:#000000;"&gt;Mengkomunikasikannya dan menanamkan nilai-nilai kepada para guru dan      pegawai dalam organisasi pendidikan perlu dilakukan agar mereka mengetahui      arah dan budaya organisasi yang menjadi pedoman perilaku anggota dalam      bekerja.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi kesimpulannya fungsi kepemimpinan adalah menangani mutu pembelajaran dan mendukung para staf yang berusaha mencapainya. Untuk itu, para guru perlu diberdayakan agar mereka dapat memberikan kreatifitas dan inisiatif untuk meraih mutu. Pemimpin pendidikan yang benar harus memiliki visi, sebab dengan memiliki visi maka pemimpin dapat menentukan arah bagi tujuan yang akan dicapai. Hal ini sangat krusial untuk menggerakkan bisnis yang dikelola oleh lembaga pendidikan. Peranan pemimpin pendidikan sangat strategis dengan komitmenya dalam mengembangkan budaya mutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Perilaku (Gaya) Kepemimpinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Di dalam memimpin sebuah organisasi terdapat dua teori kepemimpinan, yaitu teori kepemimpinan klasik dan teori kepemimpinan modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1. Teori Kepemimpinan Klasik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;a&lt;i&gt;. Gaya Kepemimpinan Model Taylor.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seorang ahli tehnik mesin sekaligus sebagai bapak Manajemen yaitu &lt;i&gt;Taylor &lt;/i&gt;(1911. Beliau menemukan gaya kepemimpinan dalam memimpin sebuah perusahaan sebagai berikut: a) fokus pemimpin adalah pada kebutuhan organisasi; b) fungsi pemimpin menurut teori manajemen keilmuan (&lt;i&gt;teori klasik&lt;/i&gt;) adalah menetapkan dan menerapkan kriteria prestasi untuk mencapai tujuan; c) manusia untuk manajemen, bukan manajemen untuk manusia; d) cara terbaik untuk meningkatkan hasil kerja adalah dengan meningkatkan teknik dan metode kerja, akibatnya manusia dianggap dijadikan sebuah mesin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;b. Gaya Kepemimpinan Model Mayo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mayo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(1920) terkenal dengan gerakan hubungan manusiawi merupakan reaksi dan revisi dari gaya kepemimpinan &lt;i&gt;Taylor &lt;/i&gt;yang memperlakunan manusia seperti mesin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Akibatnya banyak pegawai yang sakit, bercerai, lupa makan dan lupa keluarga, berantakan/kacau balau karena dalam hidupnya hanya untuk bekerja. &lt;i&gt;Mayo&lt;/i&gt; berpendapat bahwa dalam memimpin di samping mencari tehnik juga harus memperhatikan perasaan dan hubungan pribadi dalam hubungan manusia yang baik, pusat-pusat kekuasaan adalah hubungan pribadi dalam unit-unit kerja, dan fungsi pemimpin adalah memudahkan pencapaian tujuan anggota secara kooperatif dan mengembangkan kepribadiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;c.Studi Ohio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Penelitian Ohio menemukan empat gaya kepemimpinan,yaitu : 1)Struktur Rendah Perhatian Tinggi.Pemimpin mendorong hubungan kerjasama harmonis dan kepuasan dengan kebutuhan sosial anggota kelompok. 2)Struktut Tinggi Perhatian Rendah.Pemimpin memusatkan perhatian hanya kepada tugas perhatian pada pekerja tidak penting.3)Struktur rendah perhatian rendah.Pemimpin menarik diri dan menempati peranan pasif.Pemimpin membiarkan keadaan sejadinya.4)Struktur Tinggi Perhatian Tinggi Pemimpin mendorong mencapai keseimbangan pelaksanaan tugas dan pemeliharaan hubungan kelompok yang bersahabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;d. Studi Michigan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada dua konsep gaya kepemimpinan, yaitu berorientasi pada bawahan dan berorientasi pada produksi. Pemimpin berorientasi pada bawahan, menekankan pentingnya hubungan dengan pekerja yang menganggap setiap pekerja penting, diperhatikan minatnya, diterima keberadaanya dan dipenuhi kebutuhannya. Sedangkan pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan pentingnya dan aspek tehnik-tehnik kerja. Pekerja diperlakukan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi. Kedua orientasi ini parallel dengan gaya kepemimpinan demokratis dan otoriter dalam konsep perilaku kontinum dari Tannenbaum-Schmidt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Teori Kepemimpinan Modern&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teori kepemimpinan modern terdiri dari beberapa pendekatan, yaitu :a) sifat-sifat, b)perilaku, c)situasional-kontingensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a.Teori pendekatan sifat-sifat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendekatan ini berdasarkan pada sifat manusia yang dilakukan dengan cara : membandingkan sifat yang timbul sebagai pemimpin yang efektif dengan pemimpin yang tidak efektif. Berdasarkan penelitian tentang pemimpin efektif dan tidak efektif mengemukakan bahwa pemimpin yang efektif adalah tidak berdasarkan pada sifat manusia tertentu. Tapi terletak pada seberapa jauh sifat seorang pemimpin dapat mengatasi keadaan yang dihadapinya.Sifat-sifat yang dimiliki pemimpin yang efektif antara lain : ketakwaan, kejujuran, kecerdasan, keikhklasan, kesederhanaan, keluasan pandangan, komitmen, keahlian, keterbukaan, keluasan hubungan sosial, kedewasaan, dan keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut &lt;i&gt;Wexley&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Yukl&lt;/i&gt; (Moh.As’ad,1996), menyatakan bahwa terdapat beberapa persyaratan untuk menjadi pemimpin yang efektif, yaitu kemampuan yang lebih tinggi dari rata-rata bawahannya, antara lain : (memiliki kecerdasan yang cukup, memiliki kemampuan berbicara, memiliki kepercayaan diri, memiliki inisiatif, memiliki motivasi berprestasi, dan memiliki ambisi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Newstrom&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; dan &lt;i&gt;Davis&lt;/i&gt; (1997), berpendapat bahwa sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif adalah:(Karisma, luwes dan adaptif, memiliki kemampuan berpikir, kejujuran dan integritas, keinginan personel, percaya diri, memiliki pengetahuan, perasaan positif, hasrat untuk memimpin, kreativitas dan orisinilitas).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendekatan sifat-sifat menyatakan bahwa pemimpin dilahirkan bukan diciptakan, artinya bahwa seseorang telah membawa bakat kepemimpinan sejak dilahirkan bukan dididik atau dilatih. Pemimpin yang dilahirkan tanpa diklat sudah dapat menjadi pemimpin yang efektif. Pelatihan pemimpin hanya bermanfaat bagi mereka yang memang telah memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang dibawa sejak lahir, tidak perlu dilatih kepemimpinan karena akan sia-sia saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut &lt;i&gt;Sanusi&lt;/i&gt;(1989), sifat-sifat kepemimpinan, antara lain : (kesehatan dan kesegaran fisik, kreativitas dalam menangkap tuntutan zaman, kemampuan intelektual, efektivitas informasi dan komunikasi sosial, kemantapan emosional, keteguhan pendirian, integritas pribadi, kedudukan ekonomi dan financial, kedudukan hokum, prestasi masa lampau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam keadaan normal yang yang tidak sehat tidak berpeluang untuk menjadi pemimpin, orang yang mampu melahirkan kreativitas yang tinggi dalam menerjemahkan tuntutan filosofis dan idiologis menuurut kebutuhan zamannya berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang memiliki kemampuan intelektual dalam menilai dan menganalisis situasi kemudian menyiapkan jalan keluar yang strategis dan logis menurut pertimbangan nalar berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang menguasai informasi yang luas dan mampu mengkomunikasikannya secara efektif berpeluang menjadi pemimpin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan mampu mengatasinya dengan kemantapan emosional berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang mampu memiliki integritas moral pribadi yang tinggi dalam kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, dan keberanian berpeluang menjadi pemimpin.Orang yang memiliki kedudukan ekonomi-finansial yang lebih tinggi berpeluang menjadi pemimpin. Orang yang secara hokum berhak mengatur, memerintah, membuat keputusan berpeluang menjadi pemimpin. Sedangkan orang yang memiliki prestasi di masa lampau berpeluang menjadi pemimpin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu organisasi yang memiliki seorang pemimpin tertinggi di lingkungan organisasinya yang disebut &lt;i&gt;leader&lt;/i&gt;. Sedangkan untuk di lingkungan sekolah disebut kepala sekolah. Sukses dan gagalnya suatu sekolah antara lain suatu sekolah antara lain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangatlah ditentukan oleh kehandalan kepala sekolahnya. Untuk menjadi seorang kepala sekolah yang handal, maka secara umum haruslah bertindak sebagai EMASLEM-CO. Dengan demikian, bisa didapatkan seorang kepala sekolah yang kuat. Kemimpinan yang kuat dalam arti harfiah adalah kepemimpinan kepala sekolah yang tangguh, ulet, dan tahan banting. Sedangkan dalam arti singkatan KUAT yaitu kepemimpinan yang kredibel atau dapat dipercaya karena kejujuran dan komitmennya terhadap diri sendiri dan lembaga sekolah, usaha keras untuk mewujudkan visi dan misinya. Akseptabel dan akuntabel (diterima bawahannya dan dapat dipertanggungjawabkan kepemimpinanannya), terampil secara konseptual (menguasai IPTEK), sosial (mampu bergaul dan memiliki jaringan kerja yang luas atau &lt;i&gt;networking&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;teknikal&lt;/i&gt; (agar lebih berwibawa dan tidak mudah dikelabuhi bawahannya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan yang kuat berarti kepemimpinan yang mampu menyejahterakan bawahannya, bukan memperdayakannya, pandai merasakan bawahannya, bukan merasa pandai atau selalu mengguruhi bawahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut (&lt;i&gt;Gutrie &amp;amp; Reed&lt;/i&gt;, 1994), kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang memiliki &lt;i&gt;vision&lt;/i&gt; (visi)dalam arti sebenarnya adalah mimpi masa depan yang menantang untuk diwujudkan. &lt;i&gt;Vision&lt;/i&gt; dalam arti bahwa setiap pemimpin harus memiliki visi, memberi ilham, orientasi jangka panjang, memahami dan berorganisasi dengan cangggih, serta memelihara keseimbangan dan keharmonisan antara tujuan sekolah dengan tujuan individu warga sekolah serta memelihara bawahanya agar betah bekerja sama dengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aa Gym&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (1994),beliau yang sering ceramah di RCTI mengatakan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu memberdayakan stafnya, baik dalam arti sesungguhnya maupun dalam arti singkatan. Sedangkan kepemimpinan yang memiliki staf adalah kepemimpinan yang jujur dan dapat dipercaya (&lt;i&gt;sidiq&lt;/i&gt;), mengajak pada kebaikan menjauhi kejahatan (&lt;i&gt;tabligh&lt;/i&gt;), titipan Allah dan harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun diakherat (&lt;i&gt;amanah&lt;/i&gt;), memiliki kecerdasan intelegtual, social, emosional, dan spiritual (&lt;i&gt;fatonah&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alberct&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (1983), kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang menjadi star (&lt;i&gt;bintang&lt;/i&gt;) pada kelompoknya, baik dalam arti kiasan maupun singkatan. Menjadi bintang dalam arti kiasan adalah kepemimpinan yang mampu mengarahkannya bawahannya dengan jelas kemana sekolah hendak di bawa (dituju). Sedangkan star dalam arti singkatan adalah tujuan yang jelas dan ingin dicapai (&lt;i&gt;share goal&lt;/i&gt;), tim kerja yang solid (&lt;i&gt;teamwork&lt;/i&gt;), otonomi berpikir dan otonomi dalam mengambil keputusan (&lt;i&gt;autonomy&lt;/i&gt;), memberi hadiah bagi yang berprestasi dan memberi sanksi bagi yang tidak berprestasi (&lt;i&gt;reward&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Verma&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (1996), kepemimpinan yang kuat artinya sebagai LEAD, baik dalam arti sebenarnya, akronim, maupun dalam arti singkatan. LEAD dalam arti sebenarnya adalah mampu mengarahkan. LEAD dalam arti akronim ialah jadilah pendengar yang baik bagi tim maupun pelanggan (&lt;i&gt;listen to your team and client&lt;/i&gt;), LEAD dalam arti singkatan adalah membangkitkan motivasi (&lt;i&gt;leader, encourage mitivate&lt;/i&gt;). Jadi kepemimpinan yang kuat adalah baik ada atasan maupun tidak ada atasan, semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa sifat kepemimpinan adalah ciri khas yang menunjukkan kepada sejumlah atribut individual, dengan indicator mutama yang berupa aspek-aspek kepribadian, kebutuhan dan motivasi, serta nilai-nilai positif yang akan membantu seseorang pemimpin menuju keberhasilan dalam menjalankan kepemimpinan dan organisasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Kouzes dan Posner, sifat-sifat pemimpin yang ditemukan, mayoritas responden memilih empat sifat teratas, yaitu; kejujuran, mempunyai pandangan jauh kedepan, inspirasi, dan cakap. Yang paling penting bahwa pemimpin harus mempunyai waktu untuk belajar dan bekerja sebelum membuat perubahan dan keputusan yang berpengaruh pada setiap orang dalam organisasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin yang baik dalam jasa profesional mempunyai sedikit tanggung jawab klien secara langsung, tetapi harus memiliki kecakapan. Kecakapan yang perlu bagi pemimpin adalah sebagai kecakapan nilai tambah. Kecakapan fungsional diperlukan, tetapi belum cukup, tetap harus ada nilai tambah. Punya catatan prestasi meraih kemenangan adalah satu cara untuk disebut cakap. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keunggulan dalam keahlian memimpin itu merupakan dimensi lain dari kecakapan. Kemampuan untuk menentang, memberi inspirasi,, memungkinkan untuk menjadi teladan, serta dorongan kita harus ditunjukkan apabila pemimpin ingin dipandang mampu oleh bawahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kouzes&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; dan &lt;i&gt;Posner&lt;/i&gt; menyatakan, bahwa sikap jujur, memandang ke depan, inspirasi, dan kecakapan lebih dari dua dekade terakhir, secara konsisten dipilih sebagai sebagai empat syarat kepemimpinan tersebut adalah untuk menghasilkan pemimpin yang memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi. Mereka secara signifikan menjadi lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bangga untuk mengatakan pada orang lain bahwa mereka bagian dari organisasi, merasakan sentuhan kuat dari semangat tim, melihat nilai-nilai pribadi yang mereka miliki sama konsistenya dengan organisasi itu, merasa berhubungan dan berkomitmen terhadap organisasi, memiliki perasaan terhadap organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sebaliknya ketika para pengikut merasa pemimpin mereka memiliki kredibilitas yang rendah. Secara signifikan mereka akan lebih merasa menghasilkan hanya jika mereka diperhatikan secara saksama, dimotivasi terutama dengan uang, mengatakan hal-hal baik tentang organisasi di depan umum dan mencela secara pribadi, mempertimbangkan untuk melihat pekerjaan lain jika organisasi memiliki masalah, merasa tidak di dorong dan tidak diperhatikan. Dilihat dari perbedaan-perbedaan ini, maka dapat memberikah suatu gambaran suasana dalam organisasi. Oleh karena itu, pemimpin diharapkan secara serius meningkatkan kredibilitas, loyalitas, komitmen, energi, dan produktivitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pendekatan yang digunakan oleh Kouzes dan &lt;i&gt;Posner&lt;/i&gt;, adalah pendekatan sifat-sifat pemimpin Kelemahan pendekatan tersebut sampai saat ini belum ada satupun penelitian yang menggunakan pendekatan tersebut dapat berhasil secara memuaskan. Karena sering terjadi sifat-sifat kepemimpinan yang ditemukan tumpang tindih bahkan kontradiktif. Sebagai contoh sifat-sifat pemimpin menurut Kouzes dan Posner antara lain keluasan pandangan tumpang tindih dengan berpikiran luas. Berikutnya, dapat diandalkan tumpang tindih dengan sifat-sifat kepemimpinan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebaliknya, sifat memberi dukungan kontradiktif dengan ambisius. Mau bekerja sama kontradiktif dengan mandiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di Indonesia, sifat-sifat kepemimpinan yang dikemukakan oleh &lt;i&gt;Kouzes&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Posner&lt;/i&gt;, bukanlah sesuatu yang baru karena sejak dahulu kala pada zaman kuno, kita telah mengenal sifat pemimpin Hasta Brata ( 8 sifat pemimpin), yaitu : a) matahari padanan kejujuran, b) samudra, c)air padanan keluasan pandangan/keluasan pikiran, d) bintang padanan memberikan inspirasi, e) bumi padanan dapat diandalkan, f) bulan padanan punya ambisi, g) api padanan bertekat bulat, dan h)angin padanan mau bekerja sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sifat-sifat pemimpin lainnya dapat diwariskan nenek moyang kita adalah sebagai pemimpin harus bersifat petani (&lt;i&gt;belaka&lt;/i&gt;) sebagai padanan kejujuran dari sifat-sifat kepemimpinan Kaozes dan Posner. Pemimpin harus bersifat Pandito sebagai padanan keluasan pandangan dan keluasan berpikir. Pemimpin harus bersifat ambeg parama arta sebagai padanan kompetensi. Pemimpin harus bersifat ratu sebagai padanan keadilan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau dikaitkan dengan kepemimpinan Pancasila yang di kembangkan oleh Ki Hajar Dewan Toro, maka &lt;i&gt;Ing ngarso Sung Tolodo&lt;/i&gt; dapat di sepadakan dan dapat di andalkan dari kepemimpinan &lt;i&gt;Kouzes&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Posner&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Ing Madyo Mangun Karso&lt;/i&gt; dapat di sepadankan dengan dan mau berkeja sama. &lt;i&gt;Tut Wuri Handayani&lt;/i&gt; dapat di sepadankan dengan mau memberikan dorongan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sifat-sifat pemimpin itu ternyata tidak seluruhnya di lahirkan, tetapi ada yang dapat di bentuk melalui pendidikan dan pelatihan meskipun pendekatan sifat tersebut memiliki kelemahan, tetapi telah berjasa bagi perkembangan teori kepemimpinan berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;b Pendekatan perilaku (gaya-gaya) kepemimpinan)&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendekatan ini, menjelaskan perilaku kepemimpinan yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menggunakan gaya yang dapat mewujudkan sasarannya. Contohnya dengan mendelegasikan tugas, mengadakan komunikasi yang efektif, memotivasi bawahannya, melaksanakan control, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Plato&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (427-347) yang dalam bukunya berjudul &lt;i&gt;Republic&lt;/i&gt;, membagi tiga gaya kepemimpinan, yaitu 1) &lt;i&gt;filosofer&lt;/i&gt; (pemikir), 2)&lt;i&gt;militer&lt;/i&gt; (otoriter), dan 3) &lt;i&gt;intrepreneur&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;Bass&lt;/i&gt;, 1981). Beberapa kepemimpinan yang banyak mempengaruhi perilaku pengikutnya. Gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang oleh seseorang pada saat orang itu mempengaruhi perilaku orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa perwujudan perilaku pemimpin dengan orientasi bawahan yaitu : a) penekanan pada hubungan atasan dan bawahan, b) perhatian pribadi pimpinan pada pemuasan kebutuhan para bawahannya, c) menerima perbedaan-perbedaan kepribadian, kemampuan, dan perilaku yang terdapat dalam diri dari para bawahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peneliti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan, yaitu : 1) berorientasi pada tugas dan berorientasi pada bawahan atau karyawan. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas adalah lebih memperhatikan pada penyelesaian tugas dengan pengawasan yang sangat ketat, dan yang lebih penting lagi adalah lebih merasakan perasaan bawahannya. Pemimpin yang menggunakan gaya hubungan baik dengan bawahannya, lebih memotivasi karyawannya, daripada mengawasi dengan ketat. Dan yang lebih penting lagi adalah lebih merasakan perasaan bawahannya. Pemimpin yang menggunakan gaya hubungan baik dengan bawahan bersemboyan “&lt;i&gt;Jangan menjadi pemimpin yang merasa pintar, tetapi jadilah pemimpin yang pintar merasakannya&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelemahan jika seorang pemimpin berorientasi pada tugas adalah kurang disenangi bawahannya karena bawahannya dipaksa bekerja keras agar tugas-tugas dapat selesai dengan cepat dan baik. Sedangkan kelebihannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ialah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Sebaliknya, kelemahan jika pemimpin berorientasi pada bawahan adalah pekerjaan banyak yang tidak selesai pada waktunya. Kelebihannya adalah pemimpin disenangi oleh sebagian besar bawahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk menjadi pemimpin yang efektif digunakan keseimbangan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan. Gaya ini disebut gaya kepemimpinan transaksional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Likert, Managerial Grid Blake &amp;amp; Mouton yang kemudian dikembangkan Geradi, Reddin, transformasional, dan primal menguraikan gaya kepemimpinan, sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 44.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Empat Sistem Kepemimpinan dalam Manajemen Likert&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;Yaitu otoriter yang memeras (&lt;i&gt;Exploitative Authoritative&lt;/i&gt;), Otoriter yang baik (&lt;i&gt;Benevolent Authoratitive&lt;/i&gt;), konsultatif (&lt;i&gt;Consultative&lt;/i&gt;), Partisipatif. (&lt;i&gt;Participative&lt;/i&gt;). Menurut Likert, pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya &lt;i&gt;participative management&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya ini menjelaskan bahwa keberhasilan pemimpin adalah berorientasi pada bawahan dan komunikasi. Di samping itu, semua pihak dalam organisasi menerapkan pola hubungan yang mendukung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam penelitiannya &lt;i&gt;Likert&lt;/i&gt;, menyimpulkan bahwa penerapan sistem &lt;i&gt;otoriter yang memeras&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;otoriter yang baik&lt;/i&gt;, akan menghasilkan produktivitas kerja yang rendah.. Sedangkan penerapan sistem &lt;i&gt;konsultatif&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;partisipatif&lt;/i&gt; akan menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 44.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Managerial Grid Leadership Blake &amp;amp; Mouton&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Michigan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; dan &lt;i&gt;Likert&lt;/i&gt;, dalam studi Ohio menyebutkan dua konsep gaya kepemimpinan, yaitu berorientasi pada tugas dan berorientasi pada hubungan manusiawi. Konsep tersebut berikutnya dikembangkan oleh &lt;i&gt;Blake&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Mouton&lt;/i&gt; yang dinamakan &lt;i&gt;managerial grid leadership&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 44.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tiga Dimensi Gaya Kepemimpinan Reddin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam managerial grid, Blake &amp;amp; Mouton, berhasil mengidentifikasikan gaya-gayua kepemimpinan yang secara tidak langsung berkaitan dengan efektivitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Reddin (1969) mengembangkan tiga dimensi berdasarkan efektivitasnya dan juga memandang gaya kepemimpinan didasarkan pada dua hal, yaitu hubungan pemimpin dengan tugas dan hubungan pemimpin dengan bawahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Reddin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; menggambarkan efektivitas kepemimpinan terdiri atas tiga kotak. Oleh karena itu, pendekatannya disebut model tiga dimensi. Kotak yang tengah merupakan gaya dasar pemimpin. Dari kotak yang di tengah ditarik ke atas dan ke bawah yang melukiskan sebagai gaya yang efektif dan tidak efektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya yang efektif berada di kotak atas terdiri atas empat gaya kepemimpinan, yaitu &lt;i&gt;ekskutif, pecinta pengembangan, otokratis yang baik, dan birokrat&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya eksek&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;utif, merupakan gaya yang banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Pemimpin yang memakai gaya ini dinamakan motivator yang baik, mau dan mampu menetapkan standar kerja yang tinggi, mau mengenal perbedaan individu, mau menggunakan kerja tim dalam manajemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya pencinta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;i&gt;pengembangan&lt;/i&gt;, yaitu gaya yang memberikan perhatian maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Pemimpin yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan implicit terhadap orang-orang yang bekerja dalam organisasinya dan sangat memperhatikan pengembangan individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya Otokratis&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; yang baik hati, merupakan gaya yang memberikan perhatian maksimal pada hubungan kerja. Pimpinan yang menggunakan gaya tersebut mengetahui secara tepat yang diinginkannya. Dan cara mencapainya tanpa menyebabkan keengganan pihak bawahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya Birokrat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, yaitu gaya yang memberikan perhatian minimal pada tugas dan hubungan kerja. Pimpinan yang menggunakan gaya tersebut, sangat tertarik pada aturan-aturan dan mengontrol pelaksanaannya secara teliti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya yang tidak efektif berada pada kotak bawah yang terdiri atas empat gaya, yaitu &lt;i&gt;pencinta kompromi, missionary, otokrat, dan lari dari tugas&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya pencinta kompromi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; : Gaya ini memberikan perhatian yang besar pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja berdasarkan kompromi. Pemimpin yang menggunakan gaya tersebut merupakan pembuat keputusan yang jelek karena banyak tekanan bawahan yang mempengaruhinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya missionary&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, yaitu gaya yang memberikan perhatian maksimal pada hubungan kerja, dan minimal pada terhadap tugas. Pemimpin yang menggunakan gaya ini hanya menilai keharmonisan sebagai tujuan dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gaya Otokrat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, yaitu gaya yang memberikan perhatian maksimal terhadap tugas dan minimal pada hubungan kerja. Pimpinan yang menggunakan gaya ini tidak percaya pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada pekerjaan yang cepat selesai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lari dari tugas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; : Gaya tersebut sama sekali tidak memberikan perhatian pada tugas dan hubungan kerja. Pimpinan yang menggunakan gaya tersebut, tidak peduli pada tugas dan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 44.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;Perilaku Kepemimpinan lippitt &amp;amp; White&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 44.25pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Yang dalam bukunya berjudul”Leader Behavior and Member Reaction in Three Social Climate”, meneliti berbagai hubungan antara perilaku pemimpin yang berbeda, yaitu perilaku outoriter, demokratis, dan laissez-faire&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;c. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan Situasional-Kontingensi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pendekatan ini merevisi pendidikan perilaku yang ternyata tidak mampu menjelaskan kepemimpinan yang ideal. Pendekatan ini, menggambarkan bahwa gaya yang digunakan tergantung pada pemimpinnya sendiri, dukungan, pengikutnya, dan situasi yang kondusif. Untuk menganalisis motivasi pokok bawahannya, pemimpin dapat menempatkan pada situasi yang sesuai. Kualitas hubungan pemimpin dengan anggota kelompok adalah yang paling berpengaruh pada efektivitas kepemimpinannya sehingga kepemimpinannya tidak begitu perlu mendasarkan pada kekuasaan formalnya. Sebaliknya, jika ia tidak disegani atau tidak dipercaya maka ia harus didukung oleh peraturan yang memberi ketenangan untuk menyelesaikan tugasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pendekatan ini terkenal dengan 1) model kongensi Fiedler, 2) model rangkaian kesatuan kepemimpinan dari Tannenbaum &amp;amp; Schmidt, 3) model kontinum kepemimpinan Vroom dan Yetton, 4) model kongensi lima factor Farris, 5) model kepemimpinan dinamika kelompok Dorwin Cartwight &amp;amp; Alvin Zanmder, 6) model kepemimpinan &lt;i&gt;path goal Evans&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;House&lt;/i&gt;, 7) model kepemimpinan &lt;i&gt;vertical dyad linkage Graen&lt;/i&gt;, 8) model kepemimpinan Bass, 9) model kepemimpinan situasional Hersey &amp;amp; Blanchard, dan 10) kepemimpinan &lt;i&gt;Kouzes &amp;amp; Posner&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1&lt;i&gt;) Model kongensi Fiedler&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fiedler berpendapat bahwa pemimpin akaan berhasil menjalankan kepemimpinannya, jika menerapkan gaya kepemimpinanyang berbeda di suatu situasi yang berbeda. Artinya gaya kepemimpinan yang digunakan tergantung pada situasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada tiga sifat situasi yang dapat mempengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu hubungan pimpinan dengan bawahan yang menguntungkan situasi, derajat susunan tugas yang menguntungkan situasi, dan kekuasaan formal yang menguntungkan situasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hubungan pimpinan dengan bawahan yang menguntungkan situasi ditandai dengan hubungan yang harmonis atara atasan dengan bawahan, pemimpin diterima oleh bawahannya. Derajat susunan tugas yang menguntungkan situasi ditandai dengan pembagian tugas yang didasarkan pada profesionalisme, pemimpin yang mampu memimpin, dan kekuasaan formal yang menguntungkan situasi, ditandai oleh kekuasaan yang legal. Dan semua tugas bawahan serta kepemimpinannya dapat dipertanggungjawabkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hubungan antara pemimpin dengan bawahan dibedakan menjadi hubungan baik buruk, derajat (&lt;i&gt;struktur&lt;/i&gt;) tugas dibedakan tersusun-tidak tersusun, tidak, dan kekuasaan formal dibedakan atas kuat dan lemah. Jika ketiga sifat ini dihubungkan maka terbentuk empat macam kombinasi situasi menguntungkan dan empat macam situasi yang tidak menguntungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2) Model Rangkaian Kesatuan Kepemimpinan Tannenbaum &amp;amp; Schmidt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tannenbaum &amp;amp; Schmidt&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;, berpendapat bahwa ada tiga factor yang dipertimbangkan pemimpin dalam memilih gaya kepemimpinannya, yaitu kekuatan dirinya sendiri sebagai pemimpin, kekuatan bawahannya, dan kekuatan situasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Model &lt;i&gt;kontinum&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Tannenbaum &amp;amp; Schmidt, &lt;/i&gt;merupakan garis yang diawali dengan titik yang menunjukkan perilaku terpusat pada pimpinan yang diakhiri dengan titik yang menunjukkan perilaku yang terpusat pada bawahan dengan berbagai variasi di antara kedua titik tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;3) Model kontinum kepemimpinan Vroom dan Yetton&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Vroom dan Yetton, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;menyajikan lima gaya pengambilan keputusan, yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Gaya 1&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;. Tetapkan keputusan sendiri dengan menggunakan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;informasi yang ada saat itu. Partisipasi bawahan tidak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Gaya 2&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;. Dapatkan informasim dari bawahan dan selesaikan masalah oleh kita sendiri. Tidak perlu memberitahukan pada bawahan apa yang menjadi masalah ketika meminta informasi kepada mereka, peran yang diharapkan dari bawahan hanya merupakan sumber informasi dan bukan mengemban alternative penyelesaian. Partisipasi bawahan rendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Gaya 3&lt;/i&gt;. Ikutsertakan bawahan yang bersangkutan dengan masalah, minta ide dan sarannya secara sendiri-sendiri. Lalu ambil keputusan, baik sendiri atau tidak disertai pengaruh dan saran-saran bawahan. Partisipasi bawahan sedang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Gaya 4&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ikut sertakan bawahan sebagai satu kelompok, dapatkan ide dan saran dari mereka. Kemudian ambil keputusan sendiri yang disertai pengaruh dan saran bawahan. Partisipasi bawahan tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -54pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Gaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ikut sertakan bawahan sebagai suatu kelompok dalam memecahkan masalah. Bersama mereka kembangkan dan evaluasi alternative. Usahakan mencapai consensus. Anda sebagai pemimpin berperan sebagai ketua. Dan tidak dibenarkan mempengaruhi kelompok dengan apa yang hendak mereka putuskan dan mereka bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap keputusan kelompok. Partisipasi bawahan sangat tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;4)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Model kontigensi lima faktor Farris&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Perilaku kepemimpinan tergantung pada empat faktor, yaitu a) wewenang anggota, b) pentingnya penerimaan dan pemberian keputusan pada pimpinan, c) pentingnya penerimaan keputusan pada anggota kelompok, dan d) tekanan waktu. Keempat faktor inilah yang mempengaruhi hubungan antara perilaku pemimpin dan pembaharuan kelompok sebagai ukuran kinerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Farris Sutarto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;, (2001) mengemukakan empat dimensi perilaku yang merupakan petunjuk banyaknya pengaruh yang digunakan pemimpin dan bawahan dalam menghadapai masalah, yaitu kerja sama,penguasaan, pelimpahan, dan pelepasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Berdasarkan empat faktor dan empat dimensi di atas, maka ada lima kemungkinan perilaku kepemimpinan situasional yang muncul, adalah sebagai berikut : a) Jika pengawas dan bawahan mempunyai wewenang menggunakan pengaruh terhadap masalah maka kerja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sama, penguasaan dan pelimpahan merupakan perilaku kepemimpinan yang tepat, b) Jika pengawas mempunyai wewenang, bawahan tidak memiliki wewenang maka perilaku kepemimpinan berupa penguasaan yang paling tepat, c) Jika bawahan memiliki wewenang, atasan tidak maka&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;pelimpahan merupakan perilaku kepemimpinan yang tepat, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;d) Jika penerimaan pimpinan dan bawahan penting maka kerja sama merupakan perilaku kepemimpinan yang tepat, e) Jika tekanan waktu tinggi maka penguasaan atau pelimpahan merupakan perilaku kepemimpinan yang tepat.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;5) Model kepemimpinan dinamika kelompok Dorwin Cartwight &amp;amp;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Alvin Zander &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dorwin Cartwight &amp;amp; Alvin Zander&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;, menggunakan pendekatan tujuan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan hubungan baik dengan bawahannya. Dalam pendekatan tujuan pemimpin lebih cenderung memperhatikan penyelesaian tugas pekerjaan bawahannya daripada hubungan baik dengan bawahannya. Sedangkan dalam pendekatan hubungan baik dengan bawahannya, perhatian pemimpin terpusat pada hubungan antarpribadi yang menyenangkan, memutuskan perselisihan, memberikan semangat, dan saling meningkatkan kebersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;6) Model kepemimpinan path goal Evans dan House&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Model ini mengadaptasi kepemimpinan situasional. Model ini didasarkan pada motivasi individu atas pengharapannya atau tujuannya mendapatkan imbalan. Peranan pemimpin adalah menjelaskan pada bawahannya cara mendapatkan imbalan (tujuan mencapai individu). Efektifitas kepemimpinan tergantung pada kemampuan pimpinan memuaskan pada bawahannya, dan kemampuan memimpin memberi petunjuk kepada bawahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;7) Model kepemimpinan vertical dyad linkage Graen &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Gannon&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (1982), menitikberatkan pada dyad yaitu hubungan antara pemimpinan dengan tiap-tiap bawahan secara bebas. Setiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan setiap bawahannya. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan dan kelemahan yang ada pada bawahannya. Yakin bagaimana mengubah kelemahan menjadi kekuatan, ancaman menjadi peluang. Keadaan bawahan dapat diketahui dengan baik oleh atasan jika ada hubungan yang baik dan mendalam dengan bawahannya secara individual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;8) Model kepemimpinan Bass&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bass&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, menggunakan pendekatan kepemimpinan system yang terdiri atas input, proses, dan output. Input meliputi organisasi (batasan,kejelasan, kehangatan, entropi, dan lingkungan luar), Kelompok kerja (perselisihan, saling ketergantungan, dan tanggung jawab pada kelompok), tugas (umpan balik, rutin, memilih kesempatan, kekomplekan, dan ciri-ciri manajerial), kepribadian bawahan (kerja sama, kekuasaan, otoriter, dan egoisme), hubungan (pembagian kekuasaan, penyebaran informasi, struktur ketat atau longgar, dan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku pemimpin adalah direktif, manipulatif, partisipatif, dan delegatif. Output meliputi kinerja bawahan dan kepuasan semua pihak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;9) Model kepemimpinan situasional Hersey &amp;amp; Blanchard&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan situasional&lt;i&gt; &lt;/i&gt;menurut&lt;i&gt; Hersey &amp;amp; Blanchard &lt;/i&gt;(2000), didasarkan saling pengaruh antara perilaku kepemimpinan yang ia terapkan, sejumlah pendukungan emosional yang ia berikan, dan tingkat kematangan bawahannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;10) Kepemimpinan Transforming Anderson&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku kepemimpinan transforming menurut Anderson (1998) adalah visi, perencanaan, komunikasi, dan tindakan kreatif yang memiliki efek positif pada sekelompok orang dalam sebuah susunan nilai dan keyakinan yang jelas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan jelas dan dapat di ukur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendekatan transforming ini akan berpengaruh secara simultan terhadap perkembangan personal dan produktivitas usaha dari semua pihak yang terkait. Seorang pemimpin trasforming juga mentransformasikan diri dan sifat alamiah kepemimpinannya dalam suatu proses belajar memimpin yang berkesinambungan sehingga dapat memimpin dengan lebih baik. Oleh karena itu, segala hal dipengaruhi oleh transformasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Transformasi membentuk pemimpin sebagai agen aktif perubahan yang positif, yang antara lain mampu mengubah lingkungan, organisasi, kelompok, dan pribadi-pribadi. Semua proses tersebut akan matangkan karakter kepemimpinannya dalam organisasi dan mengembangkan pemahaman seorang pemimpin. Pemimpin transformasi bukanlah bukanlah seorang super, namun efek positif kepemimpinan yang mudah diterima dan menyenangkan dapat mempengaruhi keseluruhan aspek organisasi, termasuk orang-orang yang berada didalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyak para pemimpin yang tidak bisa memenuhi salah satu di antara lima keterampilan yang dibutuhkan dalam perilaku kepemimpinan transforming, yaitu : a) manajemen diri (keterampilan personal), b) komunikasi interpersonal, c) pembimbingan dan manajemen masalah, d) tim dan pengembangan organisasi, dan e) luwes dalam gaya, peran, dan keterampilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa dari 20 orang manajer atau konsultan hanya satu yang dapat memenuhi lima keterampilan tersebut akan mengakibatkan penurunan efektif tindakan seseorang, sebagai seorang pemimpin keluarga, konsultan atau sebagai manajer. Di samping itu, dari 50 orang manajer atau konsultan yang diobservasi hanya satu yang menerapkan lima dari keterampilan di atas. Transformasi kepemimpinan dinyatakan sukses apabila pemimpin dapat mengajarkan kelima keterampilan tersebut kepada orang lain. Keterampilan-keterampilan tersebut yang membentuk dasar membangun sebuah organisasi kepemimpinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kita dapat melihat kepemimpinan sebagai suatu proses yang meliputi rangkaian atau yang dapat ditumpuk atau dibalik alurnya sebagai dengan situasi dan kondisi. Apa bila proses tersebut dapat dipahami, maka dapat membantu para pemimpim untuk membina orang-orang dan membawa visi transformasi manusia dan organisasi menjadi kenyataan. &lt;i&gt;Status Quo&lt;/i&gt; akan akan timbul dan inovatif serta perkembangan akan terhambat apabila tidak mengomunikasikan visi serta jelas dan meyakinkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kita akan dapat meningkatkan nilai perilaku kepemimpinan dengan cara mempelajari dan menerapkan langkah-langkah perilaku kepemimpinan transforming. Langkah-langkah tersebut antara lain : memperkirakan, perencanaan, pengelompokan, memotivasi tindakan, mengevaluasi, dan mendaur ulang proses melalui evaluasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan memahami dan menggunakan keterampilan model perilaku kepemimpinan transforming serta melaksanakan langkah-langkah tadi sebagai dasar, maka kita dapat memperhatikan prinsip-prinsip yang menjadi inti dari perilaku kepemimpinan transforming, adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Transformasi kepemimpinan memiliki komponen moral yang sangat penting dalam segala aspek kepemimpinan. Biasanya hanya sedikit orang yang mau percaya kepada pemimpin yang pernah berdusta, menyalahgunakan wewenang, ataupun menyakiti orang lain sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Transformasi kepemimpinan selalu memahami dan melibatkan orang lain sehingga tercapai rasa saling memiliki dan saling menghormati serta mempercayai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Trannsformasi kepemimpinan memiliki pengaruh dan perkembangan jangka panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Transformasi kepemimpinan selalu terbuka akan potensi pemahaman yang lain yang lebih mendalam atau lebih tinggi terhadap kenyataan di masa depan dibandingkan dengan kenyataan yang ada saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Transformasi kepemimpinan bermula dari dalam keyakinan dan struktur nilai seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap orang boleh memilih untuk mencoba dan membuat perubahan yang positip setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penggunaan kekuasaan secara positif dan bertanggung jawab serta pengaruh sangat penting dalam menciptakan kepemimpinan yang efektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Segala hal bermula dari inisiatip setiap individu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;i.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selalu ada kesempatan bagi kepemimpinan di segala lingkungan interaksi, situasi, dan setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;j.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap orang dalam situasi apapun mempunyai pengaruh baik, ataupun buruk, terhadap orang dan situasi yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;k.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan belajar mengamati pengaruh ini akan membuat kita waspada terhadap kenyataan akan adanya kesempatan dan kejadian positip&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan negatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 45.75pt; text-align: justify; text-indent: -27.75pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;l.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan merupakan pemahaman dan pemenuhan kebutuhan utama dari orang yang sedang kita pimpin atau orang yang sedang kita layani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran kepemimpinan transforming adalah sebagai komunikator, konselor, dan konsultan. Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku kepemimpinan transformasi adalah rangkaian kegiatan berupa sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Juga dapat diartikan bahwa perilaku kepemimpinan transformasi adalah perilaku kepemimpinan yang mengubah. Poerubahan yang dimaksud dapat berupa perubahan perilaku pada diri seseorang maupun perubahan perilaku dalam organisasi. Mengapa perubahan tersebut diperlukan ? karena setiasp saat di dalam kehidupan ini selalu mengalami perkembangan atau kemajuan, seperti : teknologi, informasi, pendidikan, pertanian, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku kepemimpinan transforming, muncul disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya : pemimpinya sendiri, pengikut dan situasi sekolahnya (&lt;i&gt;Hersey &amp;amp; Blanchard&lt;/i&gt;, 1993). Sedangkan &lt;i&gt;Yukl&lt;/i&gt; (1998), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan transforming adalah : kriteria sukses, sifat-sifat pemimpin, kekuasaan pemimpin, iklim organisasi sekolah, dan komitmen pengikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyaknya manajer yang tidak memenuhi salah satu di atara lima keterampilan yang dibutuhkan dalam perilaku kepemimpinan transforming ialah : a) keterampilan personal/manajemen diri, b) komunikasi interpersonal, c)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembimbingan dan manajemen masalah, d) tim dan pengembangan organisasi, e) dan luwes dalam gaya, peran dan keterampilan ( &lt;i&gt;Anderson&lt;/i&gt;, 1998).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 20 orang manajer atau konsultan hanya satu yang memenuhi lima keterampilan di atas. Tidak terpenuhinya salah satu dari lima keterampilan tersebut akan mengakibatkan penurunan efektivitas tindakan seseorang, baik sebagai pemimpin keluarga, konsultan, atau sebagai manajer. Selain itu dari 50 orang manajer atau konsultan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang di amati hanya sedikit, yaitu satu yang menerapkan lima dari keterampilan di atas. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Transformasi kepemimpinan dinyatakan sukses apabila pemimpin dapat mengajarkan kelima keterampilan ini kepada orang lain. Keterampilan-keterampilan inilah yang membentuk dasar untuk membangun sebuah organisasi kepemimpinan (&lt;i&gt;Anderson&lt;/i&gt;, 1998).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perilaku kepemimpinan transformasional dan perilaku transforming menurut Perilaku kepemimpinan transformasional dan perilaku transforming menurut &lt;i&gt;Yukl&lt;/i&gt; (1998) adalah sama dalam banyak hal. Namun dalam hal tertentu terdapat perbedaan. &lt;i&gt;Burn&lt;/i&gt; membatasi perilaku kepemimpinan transforming kepada para pemimpin yang selalu mendapat pencerahan yang menunjuk pada nilai-nilai moral positif dan kebutuhan tingkat tinggi dari para pengikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepemimpinan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;transformasional menurut Bass adalah pemimpin yang menunjuk pada lebih rendah seperti rasa aman, nafkah hidup, dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi. &lt;i&gt;Hamilton&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;Anderson&lt;/i&gt; (1998) menyatakan bahwa kepemimpinan tanpa perilaku transforming bagaikan seorang pemimpin yang tercekik lehernya sedang menarik pedati beroda empat dengan syarat beban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Menurut &lt;i&gt;Hoy&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Miskel&lt;/i&gt; (2005), membedakan kepemimpinan Laizzes-Faire, transaksional adalah kepemimpinan yang senang memberi ganjaran, dan menerapkan &lt;i&gt;management by exception&lt;/i&gt; secara aktif maupun pasif. Kepemimpinan transformasional adalah : mempengaruhi idealisme-atribut, mempengaruhi idialisme-perilaku, motivasi inspirasi, simulasi intelegtual, dan mempertimbangkan secara individual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;11) Kepemimpinan Primal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Sistem pendidikan yang hanya menekankan pada kecerdasan intelektual selama ini ternyata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah gagal seperti yang dinyatakan oleh &lt;i&gt;Nogi &amp;amp; Tangkilisan&lt;/i&gt; (2003) bahwa ada empat kegagalan sistem pendidikan kita, yaitu gagal melahirkan kualitas sumber daya manusia yang kuat, mendidik anak-anak Indonesia untuk hidup secara damai dan sejuk, memberikan pemerataan layanan pendidikan yang bermutu, dan melahirkan anak bangsa yang jujur dan bermoral.&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;A. &lt;/span&gt;Kepemimpinan Pendidikan (&lt;i&gt;Educational Leadership&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" &gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Salah satu kunci yang sangat menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya secara dominan ditentukan oleh keandalan manajemen sekolah sangat dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan kepala sekolahnya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Hal ini tidak berarti peranan kepala sekolah hanya sekedar sebagai pemimpin karena masih banyak peranan yang lainnya. Untuk lingkungan pendidikan dasar menengah, peranan kepala sekolah meliputi : &lt;i&gt;Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, dan Motivator&lt;/i&gt;. Namun kenyataan yang ada dilapangan berbeda. Salah satu contohnya ialah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Sekolah yang tidak berhasil (Gagal)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejauh yang kita amati dilapangan banyak sekolah-sekolah yang tidak bisa berhasil salah satunya sekolah swasta yang ada di Bontang seperti sekolah SMP Monamas, sekolah SMK Maritim (sekolah pelayaran). Sekolah yang tidak berhasil tentu saja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Fakktor-faktor tersebut diantaranya : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (Kepala Sekolah), tidak mempunyai visi yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak memiliki kemampuan manajerial. (tidak bisa mengelola sekolah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (kepala sekolah) tidak memiliki skill.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (kepala sekolah) tidak mempunyai Actiaon planning (rencana ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (kepala sekolah yang tidak jujur) hanya kepentingan diri yang dipikirkan      tidak fokus pada pekerjaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (kepala sekolah) tidak memiliki program kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak profesional dan tidak cakap serta tidak punya kreativitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak memiliki integritas dan tidak memiliki rasa percaya diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak terpusat pada tugasnya dan perhatian pada bawahan tidak ada &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak mampu menangani konflik, bersifat atau berperilaku otoriter dan      diktator.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir serta tidak memiliki wawasan      yang luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak memiliki kemampuan berpikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      tidak mampu menciptakan iklim kerja bawahan yang kondusif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      atau kepala sekolah tidak mampu merekrut murid, sehingga murid di SMP      monamas atau di SMK maritim yang didapat sedikit sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      atau kepala sekolah tidak mampu merekrut guru yang betul-betul memiliki      potensi (SDM).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin      (kepala sekolah) tidak mampu menyejahterakan bawahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah tidak      punya dana yang meamadahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah      tidak memiliki fasilitas (sarana dan prasarana) yang memadahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh karena itu, dengan adanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa faktor tersebut di atas, maka sekolah tersebut hasilnya hancur (tidak berhasil).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Sekolah yang berhasil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Agar sekolah itu dapat berhasil, maka perlu adanya penanganan dan pergantian seorang pemimpin yang betul-betul menguasai dan mampu dalam segala hal. Sebagai salah satu contoh sekolah swata yang berhasil misalnya sekolah yang dikelola perusahaan seperti sekolah Yayasan Vidatera Bontang. Sejauh yang kita amati sekolah tersebut sangat bagus baik dari segi mutu pimpinannya yang mampu dan menguasai manajerial, SDM para pendidiknya, sarananya atau fasilitas yang memadahi, Memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, sekolah Yayasan Vidatera akhirnya mampu menciptakan hasil lulusan yang terbaik dan memuaskan. Karena pemimpinnya mampu menguasai manajemen pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah akan maju dan berhasil bila dipimpin oleh kepala sekolah yang visioner atau memiliki visi yang jelas, memiliki keterampilan dan kemampuan manajerial, profesional, mampu kerja sama dengan pihak masyarakat, memiliki kecakapan dan kreataifitas, memiliki kualitas yang unggul, memiliki kredibelitas yang tinggi, memiliki sifat (percaya diri,memiliki karisma, luwes dan adaptif, perasaan positif, , kejujuran dan integritas, kemampuan berpikir, pengetahuan, kreativitas, keinginan personil, hasrat untuk memimpin), mampu menyejahterakan bawahannya, terampil secara konseptual, mampu bergaul, menguasai IPTEK, memiliki jaringan kerja yang luas, teknikal atau berwibawa dan tidak mudah dikelabuhi bawahannya, dan mampu menciptakan iklim kerja yang kondusif, serta integritas kepribadian dalam melakukan perbaikan mutu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sejauh kita amati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang sekolah Yayasan Vidatera sangat bagus. Pengamatan saya hanya melihat dari sisi : (Lokasi, Fasilitas dan sarana lengkap, Pimpinan (kepala sekolahnya), gedung, mutu isi pendidikannya yang diterapkan ke siswa, tehnik/cara mendidiknya si pendidik. Tetapi masih ada sedikit kekurangannya terutama sekolahnya belum bisa menunjukkan kerjasamanya dengan pihak masyarakat. Tetapi kita yakin dan percaya bahwa sekolah tersebut yang kurang melibatkan atau kurang kerjasama dengan masyarakat hasilnya tetap bagus karena dari sisi pendanaan perusahaan mampu mendanai. Dan berbeda jauh dengan sekolah swasta lain yang tidak milik perusahaan, mereka dengan dana terbatas sehingga kegagalan sekolah akan terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Sekolah Gagal dan Berhasil serta Berhasil Tapi Gagal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada dasarnya, berhasil tidaknya (gagal tidaknya) sekolah tersebut semua itu tergantung pada pemimpin atau kepala sekolahnya. Karena pemimpin itu merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kunci pokok dalam keberhasilan sekolah. Kalau pemimpin atau kepala sekolah itu tidak mampu menguasai secara manajerial khususnya dalam organisasi pendidikan, maka sekolah tersebut tidak berhasil. Tetapi Kalau pimpinan atau kepala sekolah itu mampu menguasai secara manajerial otomatis sekolah tersebut akan berhasil disamping itu juga didukung oleh segi pendanaan yang memadai, pemimpin dan tenaga yang memilki skill, dan Sumber Daya Manusianya yang cukup berkualitas.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konflik organisasi pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Konflik Organisasi dan Pemimpin &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Masalah-masalah (konflik-konflik) yang timbul dalam organisasi seperti, konflik antara lembaga dengan individu. Misalnya lembaga sekolah membuat aturan-aturan, sedangkan individu inginya bebas. Contoh lain, sekolah mengiginkan perubahan dengan menerapkan program manajemen berbasis sekolah, tetapi individu menginginkan &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;. Lembaga sekolah mengatur cara-cara hidup berorganisasi, tetapi individu-individu merasa peraturan itu hanya membatasi kebebasannya sehingga kurang dipenuhi. Jadi pada dasarnya, bahwa manusia itu paradoks. Mau hidup bersama atau kolektif, tetapi mementingkan diri sendiri dan tidak maui diatur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik peranan dengan kepribadian, misalnya:Pemimpin sekolah harus tegas dan adil, sedangkan kepribadiannya ragu dan mengutamakan keluarga dan teman-teman dekatnya. Guru dalam memainkan perananya harus berwibawa, disegani kawan dan lawan, tetapi kesejahteraannya sangat minim sehingga ada guru yang menjadi tukang ojek, memberi les dengan datang ke rumah-rumah siswanya sehingga sulit memberikan penilaian hasil belajar di sekolah secara obyektif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik harapan dengan disposisi kebutuhan, misalnya: a) harapan lembaga sekolah mendirikan koperasi sekolah untuk menyimpan uang agar mendapatkan keuntungan. Sedangkan harapan individu untuk meminjamkan uang, tetapi biasanya sulit kembali sehingga koperasi menjadi gulung tikar, b) harapan lembaga menghemat dana sekolah, tetapi disposisi kebutuhan guru dan staf tata usaha ingin mendapatkan tunjangan kesejahteraan yang lebih baik, c) harapan lembaga staf yang tidak dibutuhkan diberhentikan atau dipensiun. Namun guru dan staf tata usaha masih ingin bekerja karena tenaganya masih kuat dan mencari ingin mencari pekerjaan ditempat lain kesulitan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik lembaga dengan kultur, contohnya: lembaga sekolah ingin masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rajin membaca. Sedfangkan budaya masyarakat belum berbudaya baca, tetapi masih berbudaya dengar dan bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik peranan dengan tradisi, misalnya pemimpin sekolah meskipun masih muda harus dihormati. Sedangkan tradisi harus menghormati orang yang lebih tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik harapan dengan nilai, misalnya harapan sekolah manajemen berbasis sekolah ingin dilaksanakan, sedangkan nilai-nilai ketergantungan atau meminta bantuan kepada pemerintah masih tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di lapangan seringkali terjadi konflik individu dengan kultur, misalnya kepala sekolah ingin membebaskan uang sekolah bagi siswa yang tidak mampu, sedangkan orang tua yang kaya dan mampu turut membuat pernyataan bahwa dirinya juga miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik kepribadian dengan tradisi, contohnya kepribadian yang menghargai waktu, sedangkan undangan banyak yang harus dihadiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Konflik disposisi kebutuhan dengan nilai, misalnya kebutuhan ingin masuk sekolah SMK agar cepat bekerja diperusahaan-perusahaan sebagai pekerja kasar. Sedangkan masyarakat menilai lebih baik masuk SMU dan menjadi Sarjana dan bekerja yang halus dibelakang meja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan kepala sekolah menurut teori mutakhir (&lt;i&gt;Anonim&lt;/i&gt;, 2002) haruslah memiliki 25 kompetensi, yaitu : penyusunan program sekolah, monitoring dan evaluasi, manajemen kelembagaan, kompetensi manajerial, manajemen sarana dan prasarana, pengembangan diri manajemen sekolah dengan masyarakat, wawasan kependidikan, memahami sekolah sebagai sistem, manajemen tenaga kependidikan, supervisi pendidikan, manajemen kesiswaan, memberdayakan sumber daya, manajemen waktu, manajemen bimbingan konseling, laporan akuntabilitas kinerja sekolah, jiwa kepemimpinan, koordinasi, memahami budaya sekolah, menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah, sistem informasi manajemen, proses pengambilan keputusan, akreditasi sekolah, manajemen keuangan, serta memiliki dan melaksanakan kreativitas inovasi dan jiwa kewirausahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam kontek kepemimpinan pendidikan, yang dimaksud pemimpin adalah semua orang yang bertanggung jawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan pendidikan. Para pemimpin pendidikan harus memiliki komitmen terhadap perbaikan mutu dan fungsi utamanya. Oleh karena itu, fungsi dan kepemimpinan pendidikan haruslah tertuju pada mutu belajar serta semua staf lain yang mendukungnya. &lt;/span&gt;Keberadaan anggota atau staf adalah juga penting dalam organisasi. &lt;i&gt;Kouzes dan Posner&lt;/i&gt; (1993:94), menjelaskan “&lt;i&gt;there is no leadership witbout someone following&lt;/i&gt;. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Hal ini berarti bahwa “kepemimpinan organisasi tidak akan berjalan tanpa peran pengikut atau staf”. Seorang kepemimpinan tak terkecuali kepemimpinan manajerial dalam organisasi, untuk mencapai suatu tujuan tidak bekerja sendirian. Para pemimpin membagi tugas kepada anggotanya, menjelaskan tujuan dan program, mempengaruhi dan mendorong dengan memberikan gaji atau insentif, serta menampilkan keteladanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagaimanapun juga fungsi kepemimpinan pendidikan merupakan satu dimensi yang paling esensial untuk melaksanakan manajemen dalam pendidikan. Setiap respon organisasi dalam perubahan yang terjadi dan melahirkan perubahan kultur mutu, sangat ditentukan oleh kepemiminan yang dijalankan oleh para pemimpin lembaga pendidikan. Oleh karena itu, pemimpin dalam lembaga pendidikan dapat dijadikan sebagai motor penggerak yang mempengaruhi anggota, yaitu para guru dan pegawai agar dapat bekerja secara sukarela menampilkan kinerja tinggi untuk mencapai standar mutu yang diharapkan orang tua, masyarakat, lapangan kerja, industri, dan pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam manajemen mutu pendidikan di sekolah-sekolah mutlak ditentukan oleh kepemimpinan dalam organisasi. Hal ini berarti bahwa kepemimpinan Kepala Sekolah harus berikap kreatif dan proaktif terhadap tuntutan perubahan efektif dan berorientasi pada perbaikan mutu berkelanjutan. Di sini diperlukan perubahan struktur sekolah atau penyuisunan kembali organisasi sekolah sesuai dengan tuntutan tugas-tugas untuk perbaikan mutu sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sekolah yang berhasil, sebagian besar dipimpin oleh seorang &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pemimpin yang efektif karena pemimpin tersebut dapat menyesuaikan diri pada situasi yang bervariasi. Kepemimpinan yang partisipatif dan terpusat pada kelompok secara positif biasanya adalah gaya yang diinginkan oleh anggotanya. Kepemimpinan akan menentukan kemajuan sekolah dalam menjalankan manajemen mutu pendidikan melalui berbagai jenis program perbaikan mutu. Selain memperbaiki mutu pembelajaran juga pengubahan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah, serta peningkatan mutu kepemimpinan, maka di dalamnya juga ada perbaikan struktur untuk menjamin efektifitas perilaku organisasi melalui pembagian tugas dan tanggung jawab personal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika sekolah akan maju dan berhasil maka perekrutan kepala sekolah harus &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;melalui penataran manajemen dan kepemimpinan. Di samping itu, tentu melalui sistem seleksi yang layak bagi seorang guru untuk menduduki jabatan Kepala Sekolah, sehingga ada proses pengembangan karir dan mendorong kematangan staf dalam menjalankan kepemimpinan pendidikan di sekolahnya. Setiap sekolah perlu menyesuaikan organisasinya dalam melaksanakan tugas perbaikan mutu, guru, dan karyawan yang dimiliki, serta dukungan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengembangan struktur organisasi sebagai dimensi organisasi dalam manajemen menjadi penting untuk menjawab berjalannya kepemimpinan di setiap sekolah. Otonomi pendidikan yang dikembangkan sebagai konsekuensi otonomi daerah memberi peluang untuk mencairkan kebekuan kepemimpinan Kepala Sekolah selama ini. Semuanya ditentukan oleh pusat dan bersifat seragam dalam segala-galanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kinerja seorang Kepala Sekolah sering diukur dari kualitas dan kinerja bawahannya, yaitu guru dan karyawan lainnya. Karena kinerja para anggota organisasi sekolah lahir dari keterampilan dan gaya kepemimpinan Kepala Sekolah. Kepemimpinan demokratis-partisipatif dapat mendorong pemberdayaan dan keterslibatan guru dalam mengambil keputusan untuk memajukan sekolah. Untuk itu, sifat-sifat atau gaya kepemimpinan merupakan syarat penting dalam menciptakan kepemimpinan pendidikan yang dapat memperjuangkan mutu pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satu kunci yang sangat menentukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya adalah kepala sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mencapai tujuannya secara dominan ditentukan oleh keandalan manajemen sekolah yang bersangkutan. Sedangkan keandalan manajemen sekolah sangat dipengaruhi oleh kapasitas kepemimpinan kepala sekolahnya. Hal ini tidak berarti peranan kepala sekolah hanya sekedar sebagai pemimpin. (&lt;i&gt;leader&lt;/i&gt;) karena masih banyak peranan lainnya. Untuk lingkungan pendidikan dasar menengah, peranan kepala sekolah dikenal dengan singkatan EMASLIM, yaitu &lt;i&gt;Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, dan motivator&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan kenyataan yang ada di sekolah-sekolah yang berhasil, memang benar adanya bahwa kepala sekolah tersebut memiliki 25 kompetensi, yaitu : 1) penyusunan program sekolah, 2) monitoring dan evaluasi, 3) manajemen kelembagaan, 4) kompetensi manajerial, 5) manajemen sarana prasarana, 6) pengembangan diri, 7) manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat, 8) wawasan kependidikan, 9) memahami sekolah sebagai system, 10) manajemen tenaga kependidikan, 11) supervisi pendidikan, 12) manajemen kesiswaan, 13) memberdayakan sumber daya, 14) manajemen waktu, 15 manajemen BK, 16) laporan akuntabilitas kinerja sekolah, 17) jiwa kepemimpinan,18) koordinasi, 19) memahami budaya sekolah, 20) menyusun dan melaksanakan regulasi sekolah, 21) sistem informasi manajemen, 22) proses pengambilan keputusan, 23) akreditasi sekolah, 24) manajemen keuangan, serta 25) memiliki dan melaksanakan kreativitas inovasi dan jiwa kewirausahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran Pemimpin Lembaga Pendidikan yang baik selalu&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;mempengaruhi semua personel yang mendukung pelaksanaan aktivitas belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Peran kepemimpinan dalam lembaga pendidikan dilaksanakan oleh kepala sekolah, rector, direktur, dan pimpinan pesantren.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk mengimplementasi manajemen mutu pendidikan pada sekolah-sekolah, banyak komponen yang dimiliki oleh seorang kepala sekolah, diantaranya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah kepemimpinan pendidikan dan latihan , iklim organisasi, fokus pelanggan, metode ilmiah dan alat-alatnya, data yang bermanfaat, serta tim penyelesaian masalah. Semua komponen ini hanya bisa berfungsi dengan baik jika pemimpin atau kepala sekolah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengimplementasikan TQM pada setiap sekolah. Apabila tidak, maka komponen lain menjadi tidak berarti, bahkan tidak terwujud.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam upaya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;meraih mutu sekolah berhasil (unggul), kepala sekolah memiliki perspektif sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mengkomunikasikan nilai-nilai lembaga terhadap staf, pelajar-pelajar, dan masyarakat luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memahami, berkomunikasi, dan mendiskusikan proses yang berkembang dalam lembaga dengan tidak hanya duduk dibelakang meja kerjanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada semua anggota lembaganya, baik pelajar maupun pelanggan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memiliki otonomi, suka mencoba hal-hal baru, dan memberikan dukungan bagi sikap inisiatif dan inovatif untuk memperbaiki kegagalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara sesame guru, pelajar, karyawan dan staf pimpinan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menumbuhkan      rasa kebersamaan, keinginan, semangat dan potensi dari setiap staf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peranan kepemimpinan pada setiap level organisasi sangat menentukan pencapaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perbaikan mutu, komitmen terhadap mutu harus merupakan sikap utama dari pemimpin lembaga pendidikan tertentu. Hal ini merupakan alasan bahwa manajemen mutu pendidikan menjadi penting sebagai proses dari atas ke bawah.. Seringkali alasan utama kegagalannya adalah kurangnya manajer senior yang mendukung dan memiliki komitmen. Perbaikan mutu sangat penting untuk menjalankan koordinasi mutu. Untuk keberhasilan manajemen mutu dalam pendidikan, maka harus ada manajer yang mau menyediakan waktu lebih banyak untuk memimpin, membuat rencana, mengembangkan ide-ide baru, dan bekerja sama dengan pelanggan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang pemimpin yang berbeda dengan pemimpin lainya dapat diketahui dari visinya. Karena bagi seorang pemimpin, visi ini sangat menentukan masa depan organisasi. Visi memang belum menjadi kenyataan, tapi visi bukanlah mimpi. Visi menyatakan kedalaman dan keluasan pengertian yang dapat mendeteksi bentuk dan kecenderungan sebagai sesuatu yang membentangkan dan membimbing pemimpin memasuki hari ini dan masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hakekat sebuah visi tentang masa depan lebih dari sekadar sebuah rencana atau tujuan. Visi merupakan gambaran masa depan yang seharusnya dan akan terlihat disukai, sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rencana dan tujuan merupakan wahana untuk membuat gambaran sebuah realitas. Sebagai sesuatu yang ideal dan pencitraan masa depan, maka visi harus bersifat jelas, ringkas, menantang berorientasi ke depan dan disukai. Visi dirumuskan bersama antara pimpinan dan staf pendidikan untuk dikomunikasikan agar melahirkan komitmen terhadap visi. Bagi setiap sekolah, visi menjadi bagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pedoman yang menentukan jalan untuk ditempuh bersama kepala sekolah, guru-guru, karyawan dan para pelajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Visi sekolah dirumuskan pimpinan bersama staf dan masyarakat. Misalnya kalau ada sekolah yang belum merumuskan visinya, berarti langkah meraih mutu terbaik dan layanan prima masih diragukan. Visi sekolah meliputi : a) lulusan TK memasuki SD yang bermutu, b) menyiapkan lulusan SD yang memenangkan persaingan memasuki SMP yang terbaik, c) menyiapkan lulusan yang berpengetahuan, terampil dan berakhlak untuk berprestasi tinggi di SMU yang bermutu, d) menyiapkan lulusan yang siap memenangkan persaingan di Perguruan Tinggi, dan e) menyiapkan sarjana yang menguasai IPTEK dan IMTAQ untuk kemandirian hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Visi sekolah ditransformasikan kepada semua guru, karyawan, dewan sekolah, dan masyarakat. Untuk itu, untuk mentransformasikan visi merupakan salah satu tanggung jawab pimpinan lembaga pendidikan, terutama manajer senior, yang harus memberikan arahan dan visi serta inspirasi bagi bawahan untuk melakukan tindaskan yang bermuara kepada mutu lulusan yang diharapkan. Dalam manajemen mutu pendidikan, semua manajer organisasi harus menjadi pemimpin dan teladan dalam proses mutu. Mereka perlu mengkomunikasikan misi dan sumbernya kepada seluruh unsure SDM dalam organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Lembaga pendidikan yang mengusahakan perbaikan mutu dipimpin oleh rector, dekan, direktur, dan kepala sekolah yang memiliki visi tentang lembaganya. Pemimpin yang menyampaikan visi, menampilkan peran keteladanan , menggunakan otoritas, mengembangkan rasa percaya diri personal, dan mendelegasikan tanggung jawab akan munculkan komitmen terhadap sasaran organisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah lembaga pendidikan hanya akan mengalami perubahan dalam menciptakan mutu lulusan dengan kepemimpinan pendidikan yang berhasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peranan utama pemimpin pendidikan dalam mengembangkan kultur (budaya) mutu, yaitu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;memiliki      visi yang jelas mengenai mutu pendidikan bagi organisasinya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;memiliki      komitmen yang jelas terhadap perbaikan mutu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;mengkomunikasikan peran mutu,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menjamin      bahwa kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan pekerjaan      organisasi,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menjamin      tersedianya saluran yang cukup untuk menampung suara-suara pelanggan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;memimpimpin pengembangan staf,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;bersikap      hati-hati untuk tidak menyalahkan orang lain ketika masalah muncul tanpa      melihat bukti,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;mengarahkan inovasi dalam organisasi,&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;menjamin      bahwa kejelasan struktur organisasi menegaskan tanggung jawab dan      memberikan pendelegasian yang cocok dan maksimal,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;memiliki      sikap teguh untuk mengeluarkan penyimpangan dari budaya organisasi,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;membangun kelompok kerja aktif, dan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;membangun mekanisme yang sesuai untuk memantau dan      mengevaluasi keberhasilan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 200%;"&gt;Untuk mewujudkan perbaikan mutu dalam pendidikan berkelanjutan, maka yang diperlukan adalah pimpinan yang tidak hanya berhasil, tetapi juga efektif. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Pimpinan yang efektif dalam organisasi pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah mereka yang memberikan pengaruhnya dan orang lain bergerak kea rah tujuan secara sukarela dan senang tanpa merasa terpaksa. Pengaruh ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkelanjutan untuk mewujudkan mutu pendidikan, sehingga kinerja sekolah dapat dirasakan para pelanggan pendidikan dari lulusan yang bermutu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pengembangan organisasi dan produktivitasnya dicapai dari buah kepemimpinan yang efektif. Hal itu akan menghasilkan mutu secara berkelanjutan dalam lembaga pendidikan. Ada beberapa kompetensi kepala sekolah yang didaftar secara kualifikasi untuk mencapai keberhasilan malalui penerapan manajemen mutu dalam pendidikan, yang mencakup : visi, keterampilan perencanaan, berpikir kritis, keterampilan kepemimpinan, keteguhan hati, keterampilan mempengaruhi, keterampilan hubungan personal, percaya diri, pengembangan, empati,dan toleransi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keterampilan kepala sekolah sebagaimana diungkapkan di atas merupakan cakupan yang luas untuk dipenuhi. Maka dari itu, diperlukan pendidikan, latihan dan pengalaman untuk memantapkan keterampilan memimpin dari setiap kepala sekolah. Di samping pengetahuan dan pengalaman, maka latihan-latihan kepemimpinan dan manajemen sekolah sangat diperlukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keberhasilan kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya adalah dengan mengukur kemampuannya untuk menciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif. Kegiatannya adalah dengan mempengaruhi, mengajak, dan mendorong guru, siswa, dan staf sekolah untuk menjalankan tugas masing-masing dengan komitmen yang tinggi. Terciptanya iklim belajar-mengajar secara tertib, lancer, dan efektif, tidak terlepas dari kegiatan manajemen mutu yang dilakukan kepala sekolah dalam kapasitasnya sebagai administrator dan pimpinan di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inovasi apapun dalam pendidikan, dalam implementasinya terletak pada kebijakan dan efetivitas kepemimpinan kepala sekolah. Perubahan dalam manajemen mutu pendidikan dengan tujuan agar sekolah semakin efektif dan produktif. Hal ini bisa dicapai jika semua sumber daya personal memiliki pemahaman dan mampu menerapkan semua filosofi, prinsip dan tehnik manajemen mutu dalam pendidikan. Peningkatan mutu secara berkelanjutan di setiap sekolah akan memenuhi kepuasan pelanggan pendidikan, baik untuk peserta didik, orang tua, masyarakat, pemerintah, maupun pihak-pihak yang berkepentingan/pemakai lainnya (&lt;i&gt;stakeholders&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan pengalaman dari orang lain , &lt;i&gt;Sutrisno&lt;/i&gt; (2000:45), menuliskan pengalamannya sebagai kepala sekolah seperti berikut: Selama 22 tahun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beliau menjadi pemimpin SD Muhamadiyah Sapen, akhirnya sekolah tersebut telah mencapai prestasi baik akademik maupun non akademik. Berdasarkan prestasi tersebut, masyarakat menaruh kepercayaan terhadap sekolah. Prestasi yang diperoleh akibat adanya upaya peningkatan mutu sekolah melalui guru sebagai pendidik, guru sebagai pemimpin (kepala sekolah), dan guru sebagai pengawas. Sebagai pemimpin guru harus bertanggung jawab atas situasi dan kondisi kelasnya. Oleh karena itu, segala yang terjadi pada siswanya dikelas harus diketahui dan menjadi tanggung jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sutrisno&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (2000:46) menyatakan bahwa baik buruknya sebuah sekolah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan profesional kepala sekolah sebagai pengelolanya. Oleh karena itu seorang kepala sekolah paling tidak harus menguasai bekal kemampuan untuk a) menyusun program kegiatan sekolah, b) menetapkan prosedur mekanisme kerja; melaksanakan monitoring, evaluasi, supervisi, dan membuat laporan kegiatan sekolah, c) meningkatkan dan memantapkan disiplin guru dan siswa. Idealnya setiap kepala sekolah sebagai pemimpin diangkat dari guru yang berprestasi tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apabila guru terbaik diangkat sebagai kepala sekolah maka siswa akan kehilangan guru faforitnya sehingga dapat menurunkan mutu proses belajar mengajar di kelas. Meskipun demikian, guru tersebut seharusnya berkembang kariernya karena tugas akademik di kelas. Dapat terhenti total dan fokus untuk menangani maslah-masalah administratif di sekolahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melihat kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemimpin cenderung tidak tidak pernah salah (tidak pernah keliru). Jika ada isu kecurangan atau kejahatan, pemimpin dengan mudahnya menjawab. ”&lt;i&gt;Buktikan ! dan usut saya sesuai hukum yang berlaku”&lt;/i&gt;. Di sisi lain seperti kita ketahui, bahwa hukum sendiri sampai saat ini masih sulit dan belum bisa ditegakkan. Bawahan selaku rakyat sendiri dianggap bodoh, selalu diremehkan bahkan dibelakangan, dan tidak punya hak untuk ikut bicara. Padahal salah satu tujuan pendidikan adalah ingin mewujudkan generasi yang demokratis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin pendidikan yang menyeleweng, bawahan tetap punya hak untuk mengontrol baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemimpin wajib memperhatikan kontrol tersebut. Apabila ada pemimpin pendidikan yang tidak mau mendengar pendapat dan suara-suara dari bawahannya, maka mereka dapat digolongkan bukan demokrat melainkan otoriter atau diktator. Seperti yang pernah kita alami di dunia kerja bahwa pemimpin kadang mempunyai perilaku dan sifat seperti itu. Bahkan ada perilaku pemimpin yang bersifat seperti binatang katak. Perilaku mereka kalau meloncat ke atas mereka akan menjilat, tetapi kalau meloncat ke bawah mereka akan menginjak bahkan menyingkirkan bawahannya. Jika mereka berbicara atas nama lembaga, maka lembaganya sudah termasuk otoriter. Sekarang ini bawahan dianggap bodoh lagi seperti zaman orde baru. Hanya caranya yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada zaman orde baru semua kritik ditanggapi dengan represif, bentak, dan hardik. Kalau perlu diculik. Sekarang usul dari bawahan ditampung dan dipikirkan. Tetapi hanya sebatas dipikirkan saja. Tidak ada reaksi dan perubahan apa-apa. Setelah ditampung kenyataannya tidak ada perubahan dan hanya di buang dikeranjang sampah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk menciptakan sekolah yang fungsional dan efektif dalam mencapai harapan pelanggan, maka perlu diciptakan hal-hal yang baru dalam organisasi pendidikan, baik dalam hal pilihan metode pengajaran, pembiayaan yang efektif, penggunmaan alat-alat teknologi pengajaran yang baru, materi pengajaran yang bermutu tinggi dan kemampuan menciptakan dan menawarkan lulusan. Para pemimpin lembaga pendidikan yang ingin mengarahkannya ke dalam era baru memerlukan pengertian akan dinamika perubahan dan mengelola perubahan itu sendiri. Untuk mewujudkan perubahan organisasi dalam manajemen mutu pendidikan, bahwa pendidikan sangat tergantung pada efektivitas kepemimpinan yang berorientasi pada pencapaian mutu lulusan dan pelayanan pelanggan yang terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam berinteraksi di dalam&lt;i&gt; &lt;/i&gt;organisasi, manusia sebagai individu menampilkan berbagai perilaku, baik perilaku itu sebagai sifat-sifat pribadi yang dibawa lahir (&lt;i&gt;paham nativisme&lt;/i&gt;) atau pengalaman dari pengaruh lingkungan (&lt;i&gt;paham empirisme&lt;/i&gt;) maupun kombinasi keduanya (&lt;i&gt;pahan konvergen&lt;/i&gt;). Interdisiplin yang mempengaruhi perilaku organisasi adalah psikologi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi, ekonomi, kesehatan, keteknikan, ilmu politik, budaya, agama, serta administrasi dan teori sistem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dalam berinteraksi ada perilaku positif yang yang mendukung organisasi. Sebaliknya ada pula yang berperilaku negative yang menghambat organisasi. Perilaku individu tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya sehingga membentuk perilaku kelompok. Perilaku individu bersama-sama perilaku kelompok membentuk perilaku organisasi. Misalnya dalam organisasi terdapat individu-individu yang penuh inisiatif, inovatif, kreatif, rajin, disiplin, dan berani mengambil resiko untuk mencapai tujuan individu dan organisasi secara efektif dan efisien. Sebaliknya ada pula individu-individu yang secara pasif, apatis, menunggu instruksi, masa bodoh, malas, tidak disiplin, takut mengambil resiko. Bahkan ada pula individu-individu yang Agresif menyerang dan menentang hasil diskusi kelompok, atau mengemukakan hal-hal yang tidak relevan dengan masalah, dan merasa pintar sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dilihat dari contoh tersebut di atas, maka dapat disimpulkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa perilaku individu dalam organisasi terbagi atas perilaku yang berorientasi pada : a) &lt;i&gt;tugas&lt;/i&gt;, yang bercirikan pada(pengambilan inisiatif, pencari informasi, pengumpul pendapat, pemberi informasi dan pendapat, pencari pendapat, pengolah pendapat, pengkoordinasi, dan penyimpul); b) &lt;i&gt;pembinaan kelompok&lt;/i&gt;, yang meliputi (pendorong, penjaga pintu, pembuat norma kerja, pengikut, dan pengekspresi perasaan kelompok); c) &lt;i&gt;diri &lt;/i&gt;sendiri, antara lain (penentang, penghalang, pendominasi, penyaing, pencari simpati, penyokong tertentu, pengganggu, pencari nama, dan acuh tak acuh).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orientasi perilaku individu dalam kelompok seperti yang telah disebut tadi bukanlah hal yang bersifat mutlak untuk seseorang karena sifat individu adalah luwes yang dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi emosionalnya pada suatu waktu dan tempat tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku manusia ditinjau dari diagnosis &lt;i&gt;Trust, Openness, Realization, and Interdependence&lt;/i&gt; (TORI) meliputi: a) kepercayaan, b) keterbukaan, c) realisasi diri, dan d) saling ketergantungan. Perilaku manusia dapat diinterpretasi dengan alat &lt;i&gt;Personal Style Inventory Interpretation&lt;/i&gt; (PSII) yang terdiri atas (tertutup, intuisi, pemikiran, ketajaman pengamatan, terbuka, perasaan, menggunakan perasaan, dan penilaian). Jadi setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing sesuai dengan tipe perilaku yang dimilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah sebagai sistem sosial terbuka merupakan sistem sosial terbuka yang dipengaruhi dan memengaruhi lingkungannya. Organisasi sebagai suatu sistem sosial mempunyai dua dimensi, yaitu &lt;i&gt;dimensi nomotetis&lt;/i&gt; (sosiologis) dan &lt;i&gt;idiografis&lt;/i&gt; (psikologis). Dimensi nomotetis sosiologis yaitu mengarah kepada lembaganya yang ditandai oleh peranan-peranan dan harapan lembaga. Sedangkan dimensi psikologis mengarah kepada individu-individu dengan kepribadian dan disposisi kebutuhannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Perilaku sosial yang terdapat dalam sistem sosial dapat dipikirkan sebagai suatu fungsi dari unsur-unsur pokok lembaga, peranan, dan harapan yang disebut &lt;i&gt;nometetis atau institusional&lt;/i&gt; (organisasional). Dan unsur-unsur pokok individu, kepribadian dan disposisi kebutuhan yang disebut &lt;i&gt;dimensi idiografis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam organisasi sebagai sistem sosial terjadi masalah atau konflik karena terdiri atas individu-individu. Setiap individu mempunyai kepribadian masing-masing. Tidak ada dua individu yang sama persis kepribadiannya. Kepribadian itu terbentuk dari sejak lahir dan dipengaruhi oleh lingkungan. Dan kepribadian itulah menimbulkan disposisi kebutuhan. Disposisi kebutuhan yang relatif sama bagi setiap pribadi, misalnya mengiginkan kesejahteraan yang memuaskan atau gaji yang lebih tinggi. Harapan atau tujuan organisasi dan disposisi kebutuhan atau tujuan anggota organisasi akan membentuk perilaku orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;EDTC-MIS (1984), menjelaskan perilaku manusia dalam bentuk sifat-sifat binatang, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anjing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat menyerang siapapun dan berusaha memaksakan kehendaknya sendiri tanpa melihat orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kuda&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat selalu setuju dan cara mengatasinya memanfaatkan pada waktu diskusi dengan memberikan kesempatan untuk kontribusi pendapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Monyet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat tahu segalanya memilih satu atau kelompok pendukung untuk melindungan dan mendukungnya.Cara mengatasinya, dengan cara memberi kesempatan kelompok untuk membahas teorinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Katak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;,bersifat banyak bicara, dan ingin mendapat kedudukan yang tinggi dengan cara meloncat meskipun menginjak temannya sendiri. Ke atas menjilat dan ke bawah menginjak. Dan cara mengatasinya, adalah dengan cara interupsi dengan bijaksana dan batasi waktu bicaranya, batasi geraknya, buktikan ucapan-ucapannya berdasarkan data di lapangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kijang betina&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat pemalu. Cara mengatasinya, yaitu dengan memberi pertanyaan yang sederhana, tingkatkan rasa percaya diri dengan memberikan penghargaan apabila mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kuda Nil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat pasif (tidak ada reaksi) dan menarik diri. Cara mengatasinya, adalah dengan memberi pertanyaan sederhana dan libatkan untuk memberi contoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Landak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat tidak kooperatif dan percaya pada setiap orang (menentang tiap orang yang menonjolkan kekuasaan). Cara mengatasinya, yaitu memberi pengakuan atas pengetahuan dan pengalamannya, serta manfaatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Serigala&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat penanya konyol dan suka menindas orang lain. Cara mengatasinya, tidak langsung dijawab dan teruskan pertanyaan kelompok lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 40.3pt; text-align: justify; text-indent: -22.3pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;i.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jerapah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, bersifat orang kuat. Cara mengatasinya, adalah dengan memberi kritik dan manfaatkan teknik misalnya ”&lt;i&gt;ya tetapi&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian, kelemahan dari contoh-contoh tersebut di atas adalah merendahkan martabat manusia, yaitu menyamakan sifat manusia dengan binatang. Padahal manusia adalah makhluk ciptaannya yang paling sempurna, yang kadang-kadang berperilaku malaikat, tetapi ada pula manusia yang berperilaku lebih rendah dari binatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Kesimpulan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka hal ini dapat disimpulkan bahwa :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan kepala sekolah tentu menjalankan manajemen sesuai dengan iklim organisasinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah akan maju dan berhasil bila dipimpin oleh kepala sekolah yang visioner atau memiliki visi yang jelas, memiliki keterampilan dan kemampuan manajerial, profesional, kecakapan, memiliki kualitas yang unggul, memiliki kredibelitas yang tinggi, memiliki sifat (percaya diri,memiliki karisma, luwes dan adaptif, perasaan positif, luwes dan adaptif, kejujuran dan integritas, kemampuan berpikir, pengetahuan, kreativitas, keinginan personil, hasrat untuk memimpin), mampu menyejahterakan bawahannya, terampil secara konseptual, mampu bergaul, menguasai IPTEK, memiliki jaringan kerja yang luas, teknikal atau berwibawa dan tidak mudah dikelabuhi bawahannya, dan mampu menciptakan iklim kerja yang kondusif, serta integritas kepribadian dalam melakukan perbaikan mutu.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah akan sukses atau berhasil, apabila memiliki visi, skill, dana, sumber daya, dan rencana (&lt;i&gt;Action Planning&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekolah yang tidak berhasil, jika pemimpinnya tidak memiliki kemampuan manajerial, tidak profesional, tidak cakap, tidak memiliki integritas , tidak mampu menangani konflik, bersifat atau berperilaku otoriter dan diktator dan sekolah tidak punya visi yang jelas, tidak punya dana, tidak punya rencana, tidak punya fasilitas, dan tidak punya program kerja, hasilnya sekolah tersebut hancur (tidak berhasil).&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi intinya berhasil tidaknya sekolah tersebut semua itu tergantung pada pemimpin atau kepala sekolahnya (sebagai kunci keberhasilan sekolah). Kalau pemimpin atau kepala sekolah itu tidak mampu menguasai secara manajerial khususnya dalam organisasi pendidikan, maka sekolah tersebut tidak berhasil. Tetapi Kalau pimpinan atau kepala sekolah itu mampu menguasai secara manajerial otomatis sekolah tersebut akan berhasil.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan karena tanpa kekuasaan, pemimpin tidak memiliki kekuatan yuridis atau kekuatan lain dalam mempengaruhi orang lain supaya bertindak seperti yang mereka harapkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melalui praktek manajemen para pemimpin dapat mengarahkan suatu perencanaan (&lt;i&gt;planning&lt;/i&gt;), pengorganisasian (&lt;i&gt;organizing&lt;/i&gt;), pelaksanaan (&lt;i&gt;leading&lt;/i&gt;), dan pengendalian (&lt;i&gt;controlling&lt;/i&gt;) dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan sebenarnya dapat berlangsung di mana saja, karena kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang lain untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Contoh kepemimpinan dalam organisasi pendidikan misalnya di pesantren ada kepemimpinan Kyai, di rumah tangga ada kepemimpinan orang tua, di perusahaan ada kepemimpinan direktur, dan di sekolah ada kepemimpinan kepala sekolah. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Organisasi adalah Sekumpulan manusia yang mempunyai kepentingan bersama dalam mencapai tujuan, diikat oleh aturan yang dibuat sendiri atau dari luar. Adapun tugas dalam organisasi adalah memahami tujuan, merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, mengevaluasi proses dan hasil kegiatan, serta berpikir peningkatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada tujuh pengertian organisasi dalam pendidikan, yaitu Organisasi Sebagai Proses Kerja Sama, Organisasi Sebagai Sistem Sosial, Organisasi sebagai Struktur, Organisasi Sebagai Kultur, Organisasi Sebagai Suatu Wadah, Organisasi Sebagai Iklim, Organisasi Belajar.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teori Kepemimpinan ada dua, yaitu teori kepemimpinan Klasik teori kepemimpinan modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peranan kepala sekolah meliputi : &lt;i&gt;Educator, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, dan Motivator&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;15.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam kepemimpinan pendidikan, yang dimaksud pemimpin adalah semua orang yang bertanggung jawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;16.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peranan kepemimpinan pada setiap level organisasi akan menentukan pencapaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perbaikan mutu, komitmen terhadap mutu harus merupakan sikap utama dari pemimpin lembaga pendidikan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;17.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Manajemen mutu pendidikan menjadi penting sebagai proses dari atas ke bawah. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;18.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dapat diperkirakan bahwa 80% dari insentif mutu masih gagal untuk tahun pertama sampai tahun kedua. Seringkali alasan utama kegagalannya adalah kurangnya manajer senior yang mendukung dan memiliki komitmen.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;19.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk keberhasilan manajemen mutu dalam pendidikan, maka harus ada manajer yang mau menyediakan waktu lebih banyak untuk memimpin, membuat rencana, mengembangkan ide-ide baru, dan bekerja sama dengan pelanggan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;20.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang pemimpin yang berbeda dengan pemimpin lainya dapat diketahui dari visinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;21.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi seorang pemimpin, visi ini sangat menentukan masa depan organisasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;22.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fungsi kepemimpinan adalah menangani mutu pembelajaran dan mendukung para staf yang berusaha mencapainya. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;23.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Visi sekolah perlu ditransformasikan kepada semua guru, karyawan, dewan sekolah, dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;24.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk mentransformasikan visi merupakan salah satu tanggung jawab pimpinan lembaga pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;25.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam manajemen mutu pendidikan, semua manajer organisasi harus menjadi pemimpin dan teladan dalam proses mutu. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;26.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemimpin pendidikan yang benar harus memiliki visi, sebab dengan memiliki visi maka pemimpin dapat menentukan arah bagi tujuan yang akan dicapai.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;27.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Empat gaya kepemimpinan yang dikemukakan dan dijadikan rujukan oleh para praktisi dan peneliti yaitu; &lt;i&gt;Otokrastis, Demokratis, The Laisser faire (gaya bebas), dan Situasional&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;28.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepemimpinan di Pesantren lebih menekankan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kapada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proses&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bimbingan, pengarahan dan kasih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sayang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;29.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang pemimpin dalam berperilaku dipengaruhi paling tidak oleh empat faktor yaitu :a) faktor keluarga, b) latar belakang pendidikan, c) pengalaman, dan d) lingkungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekitar.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;30.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku dan sifat yang melekat pada seorang pemimpin tidak bisa dipisahkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;31.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dinamika Kepemimpinan Kyai di Pesantren, adalah gerak perjuangan yang mendorong terjadinya perubahan sikap perilaku yang dilakukan secara sengaja, terencana oleh kyai yang kemudian memberikan warna dan perubahan pada pesantren.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 53.25pt; text-align: justify; text-indent: -26.25pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;32.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut &lt;i&gt;Husaini Usman&lt;/i&gt; (1997:93), kepemimpinan sekolah secara khusus di pendidikan kejuruan haruslah memiliki keahlian teknik baik dalam arti sebenarnya maupun singkatan. Artio teknik secara singkatan adalah terampil, etos kerja, keberanian, negoisiasi, intuisi bisnis, dan kewiraswastaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Kesan dan Saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banyak terjadi para pemimpin (kepala sekolah) yang tidak bisa memimpin karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Mereka bisa dikatakan pemimpin yang baik apabila mereka bisa mampu menguasai segala hal. Tapi karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka itu kuasa dan dekat dengan penguasa itulah yang mereka bisa terangkat menjadi seorang pemimpin. Maaf saja banyak para pemimpin yang mempunyai sifat yang kurang baik diumpamakan seperti binatang katak. Katak atau pemimpin jika meloncat ke atas ia akan menjilat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;, dan jika meloncat ke bawah ia akan menginjak. Itulah yang semenjak kita amati pemimpin sekarang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Sebaiknya perlu adanya penelitian tentang kepemimpinan dan perlu di sosialisasikan kriteria kepemimpinan ke pihak semua lapisan organisasi. Serta mencari pemimpin yang betul-betul memiliki vigur kepemimpinan atau kharisma dan mampu serta memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Visi, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Skill, Insentif, Sumber Daya, dan Action Planning). Tidak hanya sekedar memandang unsur senang tidak senang dan dekat dengan penguasa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 200%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:14;" lang="SV" &gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Abdul Karim Masaong. 2004. &lt;i&gt;Keterkaitan antara Semangat Kerja Guru dengan Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Juli. Tahun Ke-10, No.049:hal.343.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cushway, B.&amp;amp;Lodge,D.1993. &lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perilaku dan Desain Organization&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (diterjemahkan oleh Sularno,T). Jakarta: Alex Media Komputindo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Prof.Dr.Husaini Usman, M.Pd.,M.T. 2006. &lt;i&gt;Manajemen (Teori Praktik, dan Riset Pendidikan)&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;Jakarta. PT Bumi Aksara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Shrode. W.A. &amp;amp; Voich, D.1974 &lt;i&gt;Organization and management Basic System Concepts&lt;/i&gt;. Kuala Lumpur Erwin Books.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sapto J. Porwowidagda. 2001 &lt;i&gt;Leadership and Manajement Challenges for New Paradigm of Indonesia Higher Education&lt;/i&gt;. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Jurnal Ilmu Pendidikan. Agustus, Jilid 9, Nomor 3: hal.220.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;____ .2003. &lt;i&gt;Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah&lt;/i&gt;. Buku I. Jakarta: Depdiknas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anderson, Terry D.1998. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Transforming Leadership&lt;/i&gt;. New York Washington, D.C:St. Lucie Press.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Argyris, C.1993. &lt;i&gt;The Individual and the Organization&lt;/i&gt;: Some Problem of Mutual Adjustment. New York: Irvington.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Chung,K.H.&amp;amp;Megginson,L.1981.&lt;i&gt;Organizational Behavior Developing Managerial Skill&lt;/i&gt;. New York: Harper&amp;amp;Row.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Goleman,D.,Boyatzis,R.,&amp;amp;Mc Kee.2003.&lt;i&gt;A.The New Laders Transforming the Art of Leadership into The Science of Result&lt;/i&gt;. London:Little Brown.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Guilon, R.M.A.. 1973. &lt;i&gt;A Note on Organization Climate. Organizational Behavior and Human Performance&lt;/i&gt;. 9(2);hal.120.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hamilton,M.1998. &lt;i&gt;How Building A Leadership Organization Prepares The Way For Learning, Transforming Leadership Eqquiping Yourself Coaching Others to Build the Leadership Organization&lt;/i&gt;. Boca Raton:St.Lucie Press.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://ladhersip/"&gt;http://Ladhersip&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-7156505606152099769?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/7156505606152099769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=7156505606152099769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/7156505606152099769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/7156505606152099769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/12/bab-i-kepemimpinan-dan-perilaku-dalam.html' title=''/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/R1K-lJ_WexI/AAAAAAAAADg/GPfKHtfEb_k/s72-c/Prof.Dr.Suharsemi+A.7.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-5377030727840703191</id><published>2007-10-02T21:07:00.001-07:00</published><updated>2007-10-02T21:11:22.244-07:00</updated><title type='text'>ARTICLE : EDUCATION WITH VISION OF IS GLOBAL (Compiler: Renggani, Spd. SH)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Education have related/relevant sliver with globalization. In going to globalization era, Indonesia have to [do/conduct] reform in course of education, that is with pressure create more flexible and comprehensive education system, so that [all] grad can function effectively in life of democratic global society. Therefore, education have to be designed in such a manner [so that/ to be] enabling [all] protege can develop potency had naturally and creative in full (of) atmosphere [of] kebebasasn, responsibility and togetherness. Besides, education have to earn to yield grad which can comprehend, its society with all factor able to support to reach success and or barrier causing failure in societal life. One of [the] alternative able to be [done/conducted] [by] that is developing education which with vision of is global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Premis to start to education with vision of global [is] knowledge and information about part of other world have to develop awareness of us that we will be able to comprehend betterly [of] situation ourselves if we earn to comprehend [relation/link] to other society, and global issues as told by a so called psikolog [of] Csikszentmihalyi which in its book entitle Evolving Self the : Apsychology For Third Milllenium the, 1993. [He/She] express that growth of healthy and well-balanced person need " word interdependent and complex increasingly an of complexities the of understanding an&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;A. Perfektif Reform &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Education with vision of global represent a[n education process designed for the mempersdiapkan of protege ably intellectual base and responsibility utilize to enter life having the character of kompetitif and with degree [is] draping each other very is high interracial. Education have to mengkhaitkan process education that goes on [in] school with values which always change [in] global society. Thereby, school have to have value orientation, where the society have to [is] always studied in its bearing with world society. Implication of education with vision of global according to perfektif of reform [do] not only having the character of perombakan of curriculum, but also system merombak, education process and structure. Education with policy of base as policy of social [shall] no longger be compatible to education with vision of is global. Education with vision of global have to represent combination [among/between] policy relying on market mechanism. Hence from that, education structure and system have to have the character of openly, as within reason activity owning economic function. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Policy of education residing in [among/between] policy of market mechanism and social, owning meaning that education [do] not solely [in] arranging and arranged by using peripheral of order as going into effect this time, completely uniform, detailed and instruktif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;But education also [in] arranging within reason a[n Mall, existence of freedom of tradesman to determine goods what will be sold, how will be sold and at the price of how much/many goods will be sold.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Government needn't arrange everything detail. Besides, education with vision of global have the character of organic systematic, with marking of fleksibel-adaptif and democratic creative. Have the character of its meaning sistemik-organik that school represent a group of process having the character of interaktif which cannot be seen [by] white sebagai-hitam, but each;every interaction have to be seen as one part of the overall of existing interaction. Fleksibel-Adaptif, its meaning&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;B. Perpective Kurikuler &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Education with vision of global can study pursuant to [at] two in perpective that is is in perpective [of] reform and is in perpective [of] kurikuler. Pursuant to persperktif of kurikuler, education with vision of global represent a[n education process with aim to to draw up educated energy [of] and middle-weight of professional by improving ability of individual in comprehending its society in its bearing with life of world society, with the following marking 1) studying culture, social, other nation economics and politics with emphasis comprehend the existence of interdependence 2) studying barbagai branch science to be utilized as according to requirement of local environment, and 3) developing possibilities various skill and ability to work along to utilize to realize life of better world society. Therefore, education with vision of global will emphasize at solution of items covering 1) existence of interdependence among world society, b) the existence of change to continue to take place from time to time., c) the existence of difference of culture among groups or society in society. Hence from that, need the existence of effort to [is] to comprehending each other other culture, d) the existence of fact that life of that world have various limitation for example in the form of availibility of reguirements which seldom, and, e) to be able to fulfill requirement which seldom be the is not impossible can generate conflicts. Pursuant to is in perpective [of] this kurikuler, development of education with vision of global have implication toward perombakan of education curriculum. Subject and eye of kuliah developed [shall] no longger have the character of monolitik but more having the character of integratif. In eye meaning of kuliah more emphasized at [is] study having the character of multidisipliner, and interdisipliner of transdisipliner&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-5377030727840703191?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/5377030727840703191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=5377030727840703191' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/5377030727840703191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/5377030727840703191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/10/article-education-with-vision-of-is_02.html' title='ARTICLE : EDUCATION WITH VISION OF IS GLOBAL (Compiler: Renggani, Spd. SH)'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-6277777652468681965</id><published>2007-10-02T20:17:00.003-07:00</published><updated>2007-10-02T20:36:19.950-07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL : PENDIDIKAN BERWAWASAN GLOBAL  (Penyusun:Renggani, S.Pd.SH)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, yaitu dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasasn, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan harus dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami, masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Premis untuk memulai pendidikan berwawasan global adalah informasi dan pengetahuan tentang bagian dunia yang lain harus mengembangkan kesadaran kita bahwa kita akan dapat memahami lebih baik keadaan diri kita sendiri apabila kita dapat memahami hubungan terhadap masyarakat lain, dan isu-isu global sebagaimana dikemukakan oleh seorang psikolog bernama &lt;i style=""&gt;Csikszentmihalyi&lt;/i&gt; yang dalam bukunya berjudul &lt;i style=""&gt;the Evolving Self : Apsychology for the Third Milllenium&lt;/i&gt;, 1993. Beliau menyatakan bahwa perkembangan pribadi yang seimbang dan sehat memerlukan “&lt;i style=""&gt;an understanding of the complexities of an increasingly complex and interdependent word&lt;/i&gt;”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;A. Perfektif Reformasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersdiapkan anak didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat kompetitif dan dengan derajat saling menggantungkan antar bangsa yang sangat tinggi. Pendidikan harus mengkhaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan demikian, sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perfektif reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, tetapi juga merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus merupakan kombinasi antara kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, sistem dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kebijakan pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak semata-mata di tata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Tetapi pendidikan juga di atur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatu dengan rinci.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Selain itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistematik organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif demokratis. Bersifat sistemik-organik artinya bahwa sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak bisa dilihat sebagai-hitam putih, tetapi setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Fleksibel-adaptif, artinya bahwa pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses &lt;i style=""&gt;learning &lt;/i&gt;daripada &lt;i style=""&gt;teaching&lt;/i&gt;. Anak didik dirangsang untuk memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan &lt;i style=""&gt;continues learning&lt;/i&gt;. Tetapi, anak didik tidak akan dipaksa untuk dipelajari. Sedangkan materi yang dipelajari bersifat &lt;i style=""&gt;integrated&lt;/i&gt;, materi satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam &lt;i style=""&gt;open-sistem environment&lt;/i&gt;. Pada pendidikan tersebut karakteristik individu mendapat tempat yang layak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kreatif demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suatu yang baru dan orisinil. Secara paedagogis, kreativitas dan demokrasi merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan memiliki makna.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser kearah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global berarti menuntut kebijakan pendidikan tidak semata-mata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;B. Perspektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kurikuler&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada dua perspektif yaitu perspektif reformasi dan perspektif kurikuler. Berdasarkan persperktif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan professional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan, 2) mempelajari barbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat, dan , 3) mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Oleh karena itu, pendidikan berwawasan global akan menekankan pada pembahasan materi yang meliputi: 1) adanya saling ketergantungan di antara masyarakat dunia, b) adanya perubahan yang akan terus berlangsung dari waktu ke waktu., c) adanya perbedaan kultur di antara masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk saling memahami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;budaya yang lain, d) adanya kenyataan bahwa kehidupan dunia itu memiliki berbagai keterbatasan antara lain dalam wujud ketersediaan barang-barang kebutuhan yang jarang, dan, e) untuk dapat memenuhi kebutuhan yang jarang tersebut tidak mustahil dapat menimbulkan konflik-konflik.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Berdasarkan perspektif kurikuler ini, pengembangan pendidikan berwawasan global memiliki implikasi kearah perombakan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak yang bersifat integratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-6277777652468681965?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/6277777652468681965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=6277777652468681965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/6277777652468681965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/6277777652468681965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/10/artikel-pendidikan-berwawasan-global.html' title='ARTIKEL : PENDIDIKAN BERWAWASAN GLOBAL  (Penyusun:Renggani, S.Pd.SH)'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-8876828627851513946</id><published>2007-07-22T02:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T03:21:49.053-07:00</updated><title type='text'>PERKENALAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RqMvl65GcNI/AAAAAAAAADI/5wP-3W5rzis/s1600-h/Photo-0378.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089964332369211602" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RqMvl65GcNI/AAAAAAAAADI/5wP-3W5rzis/s200/Photo-0378.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RqMvOa5GcMI/AAAAAAAAADA/8AxJihI3wDA/s1600-h/Photo-0375.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089963928642285762" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RqMvOa5GcMI/AAAAAAAAADA/8AxJihI3wDA/s200/Photo-0375.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Selamat datang di blog yang baru ini.Saya akan memperkenalkan diri. Nama saya &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Renggani, S.Pd.SH.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Saya lahir di Magelang, tanggal 4 Mei 1968. Sekarang ini saya kerja sambil kuliah S2 Manajemen Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Mulawarman Samarinda KaltimSaya Alamat saya di Jln. KH. Achmad Dahlan 48 Rt.03 Kel.Bontang Baru, Kec. Bontang Utara, kota Bontang. HP 081347988275. E-mail : &lt;a href="mailto:rengganis_spd_sh@yahoo.com"&gt;rengganis_spd_sh@yahoo.com&lt;/a&gt; Blog : &lt;a href="http://renggani.blogspot.com/"&gt;http://renggani.blogspot.com/&lt;/a&gt; . Pekerjaan saya adalah Dosen, Guru, Wartawan, Ka Biro Krista Media Kaltim dan Pengurus DPP KWRI Pusat Jakarta. Instansi saya adalah SMU Yayasan Pupuk Kaltim, Universitas Trunajaya Bontang, dan Sekretariat Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) DPC Bontang dan Kantor KWRI DPP Gedung Dewan Pers Pusat Jakarta Pusat. &lt;strong&gt;Harapan saya&lt;/strong&gt; dengan adanya Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan yang dibimbing oleh bapak Prof.Dr. Yusufhadi miarso, M.Pd. dan bapak Ir.M. Adriyanto, MSM. sangat bermanfaat sekali, sehingga dapat membuka suatu wawasan,pikiran, dan ide-ide baru tentang teknologi komputer.Dengan bimbingan beliau ini, saya bisa mengakses beberapa sumber informasi melalui internet sehingga kuliah ini saya betul-betul terbantu untuk mencari segala informasi tentunya dalam membuat tugas-tugas. Dan saya mengucapkan terimakasih kepada beliau yang telah membimbing saya selama mengikuti kuliah Teknologi Pendidikan.Banyak sekali hal-hal yang kita dapatkan. Yang tadinya saya tidak bisa membuat blogger akhirnya saya bisa, dan sebagainya.Dengan waktu yang sangat singkat saya mengikuti perkuliahan Teknologi ini,paling tidak sayha sudah memperoleh ilmunya. Dan sangat kita manfaatkan.Saya merasa sangat kurang waktu yang kita ikuti dalam perkuliahan Teknologi, sehingga ilmu yang kita dapatkan belum bisa mendalami semua.Tetapi saya sudah mensyukuri paling tidak sudah mengenal ilmunya tentang teknologi dan saya bisa menerapkan atau mempratekkan langsung. Mudah-mudahan Perkuliahan teknologi pendidikan ini untuk selanjutnya dapat berkembang terus dan dapat membuka cakrawala baru serta dapat menerapkan suatu pengalaman dalam bidang Teknologi informasi dan komunikasi khususnya dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekian terimakasih perkenaklan dan harapan saya dalam mengikuti kuliah teknologi komunikasi dan informasi dalam pendidikan. Salam saya kepada bapak Adrianto. Saya salut kepada bapak Adrianto dalam memberikan mata kuliah teknologi informasi dan komunikasi. Orangnya masih muda, ganteng/keren, pintar dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Saya sangat tertarik dengan gaya mengajar bapak yang betul-betul membuat semangat mahasiswa dalam mengikuti kuliah. Sayangnya Waktu yang diberikan dalam kuliah ini sangat singkat sekali. Bagi saya merasa kurang dengan waktu yang diberikan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bontang, 22 Juli 2007&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Penyusun&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-8876828627851513946?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/8876828627851513946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=8876828627851513946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8876828627851513946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8876828627851513946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/perkenalan.html' title='PERKENALAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RqMvl65GcNI/AAAAAAAAADI/5wP-3W5rzis/s72-c/Photo-0378.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-8303103568417322371</id><published>2007-07-21T11:01:00.001-07:00</published><updated>2007-07-21T11:07:11.348-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GURU SD MELALUI SIARAN RADIO PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Penyusun : Renggani, Spd. SH.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB I : PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;A. LATAR BELAKANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membentuk manusia seutuhnya merupakan cita-cita pembangunan bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; seperti yang tersirat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam mengemban cita-cita tersebut tugas bidang pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, membina dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan kesadaran terhadap lingkungan serta kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta. Cita-cita tersebut termaktup dalam tujuan pendidikan nasioanal, yaitu:“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan” (Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tetang Sistem Pendidikan Nasional dalam Depdikbud : 1992)&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam melaksanakan tujuan tersebut ditemui berbagai masalah dan hambatan seperti masalah geografis. Tanah air kita yang terdiri dari beribu pulau besar dan kecil serta memiliki wilayah yang sangat luas. Kondisi geografis yang demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak karena penyebaran guru-guru terutama guru-guru sekolah dasar sehingga mutu pendidikanpun kurang merata. Di kota-kota besar guru berlebih sedangkan di desa-desa terutama di daerah terpencil dan pedalaman sangat kekurangan guru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;B. TUJUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tujuan terpenting dalam Diklat SRP adalah meningkatkan kemampuan guru SD dalam cara mengajar dan penguasaan materi pengajaran, terutama bagi mereka yang tinggal di desa dan tempat terpencil dan juga memberi kesempatan untuk mencapai standar mengajar. Tujuan tersebut dirumuskan dalam Surat keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 239/C/Kep/I/1992 tanggal 18 Juli 1992 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatiahan Guru SD melalui siaran radio pendidikan, yaitu&lt;br /&gt;a. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan profesional guru sekolah dasar.&lt;br /&gt;b. Memperluas kesempatan meningkatkan mutu profesional guru sekolah dasar yang belum mengikuti program penyetaraan D-II Guru SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;C. SASARAN &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sasaran program ini adalah guru-guru SD, MI, SLB di 21 propinsi yang belum berkualifikasi setara D-II terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil yaitu propinsi Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Irian Jaya, dan Timor Timur. &lt;/span&gt;Selanjutnya program ini direncanakan bisa menjangkau guru SD di seluruh tanah air dengan penekanann pada profesionalisme guru sesuai tuntutan perkembangan zaman.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Dalam pelaksanaan program ini banyak masalah yang timbul disebabkan oleh latar belakang para peserta yang berbeda-beda. Sebagian besar penduduk tinggal di pulau Jawa (pulau yang terpadat penduduknya), demikian juga guru banyak terdapat di pulau ini, trasportasi dan komunikasi lebih mudah dibanding pulau-pulau lain di luar pulau Jawa. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB II : PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;A. STRATEGI PENYAMPAIAN BAHAN BELAJAR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk menarik perhatian para guru agar ikut berpartisipasi dalam program tersebut, Pustekkom membuat brosur dan radio spot. Brosur dengan dilampiri formulir pendaftaran dikirim ke sekolah melalaui kantor Depdikbud setempat. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; guru yang akan ikut menjadi peserta harus menjadi kelompok belajar di sekolah masing-masing dengan mengisi formulir yang dikirim ke kantor depdikbud Kecamatan, setelah mendaftar akan diberi nomor registrasi sebagai keabsahan menjadi anggota kelompok belajar. Dengan demikian guru-guru berhak mengikuti ujian pada setiap akhir paket atau enam bulan sekali. Kegiatan kelompok belajar adalah membaca buku bahan penyerta dan mendengarkan siaran radio yang diiringi dengan diskusi selama lebih kurang 30 menit. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Mendengarkan secara berkelompok sangat dianjurkan agar setelah siaran dapat mengadakan diskusi tentang materi pelajaran yang disiarkan. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah-sekolah pada pagi hari sewaktu jam istirahat karena waktu siaran radio pendidikan setiap daerah diusahakan pada waktu jam istirahat sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah. &lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b style=""&gt;1. Pengembangan Bahan Belajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan program dimulai dengan menyusun GBIPM (Garis-garis Besar Isi Program Media) sebagai penjabaran dari kurikulum yang berlaku menjadi kurikulum media yang disusun oleh tim seperti yang disebutkan di atas. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Berdasarkan GBIPM tersebut disusunlah bahan penyerta siaran (modul) dan naskah siaran oleh penulis yang sudah dilatih. Naskah yang sudah di review akan diproduksi oleh Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Dikbud) dengan pelaksana produksi Balai Produksi Media Radio (BPMR) di Semarang dan Yogyakarta. (kedua lembaga tersebut merupakan unit produksi Pustekkom) Hasil produksi dalam bentuk kaset rekaman kemudian digandakan dan selanjutnya dikirimkan ke Sanggar Tekkom di ibukota propinsi untuk disiarkan melalui Radio Repoblik Indonesia (RRI) daerah, Radio Pemerintah Daerah (RPD), dan Radio Siaran Swasta Nasional (RSSN) di 21 propinsi. Sedangkan bahan penyerta (BP) siaran (media cetak) yang berisi tujuan program, petunjuk pembelajaran, ringkasan isi, istilah-istilah yang sulit, latihan dan tugas serta kunci jawaban. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Ujian atau Penilaian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap akhir paket para peserta mengikuti ujian atau penilaian yang dilaksanakan secara nasional dan dikoordinir oleh kantor Wilayah Departemen Pendidikan setempat. Pengawasan terhadap pelaksanaan penilaian ini dilakukan oleh aparat kantor wilayah setempat, sedang pengawasan kinerja dan mutu dilakukan oleh Pustekkom dan Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. Untuk menjaga validasi soal-soal ujian, Pustekkom bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengujian menyusun soal bersama ahli materi, dan soal-soal tersebut diujicobakan lebih dahulu sebelum disebarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;B. KAITANNYA DENGAN SISTEM PEMBELAJARAN SECARA KONVENSIONAL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Program wajib belajar 9 tahun tidak hanya menekankan pada perluasan kesempatan belajar, tetapi juga meningkatkan mutu pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar khususnya di SD adalah peningkatan profesional guru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat ini materi program Diklat SRP dikembangkan berdasarkani kurikulum D-II Pendidikan Guru SD Universitas Terbuka. Oleh karena itu materi siaran Diklat SRP telah sesuai dengan kebutuhan guru SD dalam melaksanakan tugas mengajarnya di sekolah. Program ini juga merupakan upaya peningkatan kualitas pembelajaran di SD dalam rangka mensukseskan wajib belajar 9 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahan belajar siaran radio bersifat terbuka yang dipancarkan melaui stasiun radio (RRI/RSPD atau radio swasta) di tingkat wilayah (propinsi). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;BAB III : PENUTUP&lt;br /&gt;A. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hasil Evaluasi Diklat SRP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pembinaan, pemantauan/monitoring, dan penelitian telah dilakukan dalam upaya penyempurnaan program. Abdul Gafur dalam penelitian evaluasi formatif bahan siaran radio pendidikan Diklat SRP tentang kualitas program ditinjau dari aspek pengajaran, daya tarik atau popularitas program ditinjau dari aspek media dan tingkat pemahaman pendengar terhadap materi siaran, menulis laporan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ditinjau dari aspek pengajaran, secara keseluruan 32 program SRP yang diujicobakan di tiga propinsi ( Jateng, Kalteng dan NTT) dnyatakan cukup baik oleh responden. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa aspek yang dipandang perlu mendapat pembenahan antara lain kejelasan tujuan, relevansi, konsistensi antara tujuan instruksional dengan cakupan serta sistematika penyajian materi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Ditinjau dari aspek media secara keseluruhan program SRP tersebut dinyatakan baik dan menarik untuk didengarkan. Beberapa aspek yang perlu mendapatkan pembenahan karena dirasa masih kurang antara lain masalah interaktifitas program, variasi penyajian, bahasa, cara membawakan naskah, kualitas rekaman dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Terdapat hubungan yang erat antara penilaian/pendapat responden terhadap kualitas program dengan tingkat pemahaman terhadap materi siaran. Artinya bilamana program dinilai menarik bisa diharapkan bahwa hasil pemahaman akan meningkat. Daya tarik suatu program SRP banyak ditentukan oleh variasi penyajian, musik, suara pengiring, cara membawakan/membaca naskah, nama-nama pelaku, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hasil study yang telah dilakukan menunjukan bahwa program Diklat SRP mendapat respon yang baik dari guru-guru khususnya yang berada di daerah terpencil. Mereka menyadari akan pentingnya peningkatan kualifikasi sebagai tuntutan profesionalisme guru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Badan Litbang Departemen Penerangan (1997) bahwa responden di pedesaan dan perkotaan memberikan penilaian positif terhadap acara pendidikan RRI yang biasa didengar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b style=""&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;em&gt;Cantrill , Hardley and Gordon W. Allport, (1971), The Psychology Of Radio (Rev. Ed), &lt;st1:state st="on"&gt;New York&lt;/st1:State&gt;: &lt;st1:place st="on"&gt;Arno&lt;/st1:place&gt; Press and The New York Times.&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gafur, Abdul Gafur, (1994), Laporan Hasil Penelitian Evaluasi Formatif Bahan Siaran Radio Pendidikan Program Penyetaraan Guru SD dan Diklat SRP, Jakarta, Pustekkom.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;————, (1997), Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan, &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;————, (1992), Himpunan peraturan dan Perundang-Undangan Bidang Pendidikan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Miarso, Yusufhadi dan R. Rahardjo (1997), Indonesia’s Radio In-Service Training For Primary School Teachers (Diklat SRP), New Delhi, 6-8 February 1997 : E-9 Meetings Improving The Quality of Learning : Innovative In-Service Teacher Training.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Summer, Robert E., Harrison B. Summer, (1980), Broadcasting and The Public, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;California&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; : Wodswort Publishing Company. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-8303103568417322371?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/8303103568417322371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=8303103568417322371' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8303103568417322371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8303103568417322371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/pendidikan-dan-pelatihan-guru-sd_21.html' title='PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GURU SD MELALUI SIARAN RADIO PENDIDIKAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-5618455253010788280</id><published>2007-07-21T10:19:00.002-07:00</published><updated>2007-07-21T10:29:24.967-07:00</updated><title type='text'>GURU DAN MEDIA PEMBELAJARAN</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:black;"  lang="ES" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:black;"  lang="ES" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  lang="ES" &gt;(Disusun Oleh: Renggani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Guru dan media&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dahulu ada anggapan bahwa guru adalah orang yang paling tahu. Paradigma itu kemudian berkembang menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, di mana siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari media masa seperti surat kabar, televisi, bahkan internet. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini? Ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, yaitu tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kelompok pertama yaitu mereka yang tidak peduli. Seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi guru tidak akan tergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran tetap diperlukan sentuhan manusiawi. Teknologi tidak bisa menggantikan manusia. Bagaimanapun teknologi berkembang, guru adalah guru, harus digugu dan ditiru. Benar bahwa media tidak dapat menggantikan guru, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan, bukanlah sikap yang tepat. Walau bagaimana, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas guru semakin meningkat. Kita tidak bisa tak peduli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kelompok kedua adalah yang menunggu petunjuk. Kelompok inilah yang paling banyak ditemukan. Mungkin ini akibat dari kebijakan selama ini, di mana guru dalam system pendidikan nasional hanya dianggap sebagai “tukang” melaksanakan kurikulum yang demikian rinci dan kaku. Kurikulum yang sangat lengkap dengan berbagai petunjuk pelaksanaannya, sehingga guru tinggal melaksanakan, tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sejalan dengan perubahan kurikulum dan otonomi pendidikan, bukan lagi masanya bagi guru untuk selalu menunggu petunjuk. Guru adalah tenaga profesional, bukan tukang. Oleh karena itu, sikap yang tepat untuk kita adalah cepat menyesuaikan diri. Guru perlu segera mereposisi perannya. Pada saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar. Ada banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai dari dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;B. PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"&gt;1. Mengapa Perlu Media?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pernahkah anda menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada murid anda? Misalnya, anda ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal. Atau anda ingin menjelaskan tentang kereta api kepada murid anda yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Atau anda ingin menjelaskan tentang apa itu pasar terapung. Ada beberapa cara yang mungkin anda lakukan.&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;- Cara pertama, anda akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar terapung. Anda bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid anda tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya anda menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau anda seorang yang ahli bercerita, tentu cerita anda akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Cara kedua, anda membawa murid studi wisata melihat objek itu. Cara ini merupakan yang paling efektif dibandingkan dengan cara lainnya. Namun berapa biaya yang harus ditanggung, dan berapa lama waktu diperlukan? Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Cara ketiga, anda membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu anda dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan andapun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang anda sampaikan menjadi konsisten. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketiga cara di atas dapat kita sebutkan cara pertama sebagai informasi verbal, cara kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan. Media kita perlukan agar pembelajaran lebih efektif dan efisien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2. Mengapa Guru tidak menggunakan Media ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masalahnya, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Berdasarkan pengalaman dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Pertama, menggunakan media itu repot.&lt;br /&gt;Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP atau video. Perlu listrik lagi. Guru sudah repot dengan menulis persiapan mengajar. Jadwal padat, urusan di rumah dan lain-lain. Boro-boro sempat memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan para guru. Padahal kalau sedikit saja mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan hilang. Pikirkanlah bahwa dengan sedikit repot, tapi mendapatkan hasil optimal. Media juga relatif awet, sekali menyiapkan dapat dipakai beberapa kali sajian. Selanjutnya tidak repot lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Kedua, media itu canggih dan mahal.&lt;br /&gt;Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun terletak pada efektivitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audio visual atau multimedia, itu cost-nya akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh lebih banyak siswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Ketiga, tidak bisa.&lt;br /&gt;Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kesetrum, takut salah pijit. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah dengan takut rusak, sehingga media audio visual sejak beli baru tetap tersimpan rapih di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media itu mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius.&lt;br /&gt;Alasan ini jarang ditemui, namun ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu sesuatu yang serius. Belajar harus mengerutkan dahi. Media itu identik dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang jaman dulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita. Kalau bisa dilakukan dengan mudah, mengapa harus menyusahkan diri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;- Kelima, tidak tersedia.&lt;br /&gt;Tidak tersedia media di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif. Seperti telah disebutkan di atas, media tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Namun demikian, dalam hal ini pimpinan sekolah juga hendaklah cepat tanggap. Jangan biarkan suasana kelas itu gersang, hanya ada papan tulis dan kapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Keenam, kebiasaan menikmati bicara.&lt;br /&gt;Berbicara itu memang nikmat. Ini kebiasaan yang sulit diubah. Seorang guru cenderung mengikuti cara gurunya dahulu. Mengajar dengan mengandalkan verbal lebih mudah, tidak memerlukan persiapan yang banyak, jadi lebih enak untuk guru. Namun yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran adalah kepentingan murid yang belajar, bukan kepuasan guru semata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;3. Apa Pertimbangan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam Memilih Media Pembelajaran?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat. Untuk lebih mudah memngingatnya, pertimbangan tersebut dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari; access, cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Access.&lt;br /&gt;Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus memperoleh akses&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Cost.&lt;br /&gt;Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek menfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;- Technology.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Interactivity.&lt;br /&gt;Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Organization.&lt;br /&gt;Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya. Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber belajar?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;- Novelty.&lt;br /&gt;Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="FI"&gt;C. PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi kita semua dapat sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada yang belum menggunakan media, itu hanya perlu sedikit perubahan sikap. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;De Porter, Bobbi &amp; Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, KAIFA Bandung, 1999.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Kemp, Jerrold E, Designing effective Instruction, MacMillan Publisher, New York, 1994.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Molenda, Heinich Russell, Instructional Media and The New Technology of Instruction, John Wiley &amp;amp; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Son&lt;/st1:city&gt;,  &lt;st1:country-region st="on"&gt;Canada&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1982.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sadiman Arief, Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan, Rajawali , Jakarta, 1990.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wen, Sayling, Future of The Media, Memahami Zaman Teknologi Informasi, Lucky Publisher, Batam Centre, 2003.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&amp;&amp;amp;amp;amp;&amp;&amp;amp;&amp;&amp;amp;&amp;&amp;amp;&amp;&amp;amp;&amp;&amp;amp;&amp;amp;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-5618455253010788280?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/5618455253010788280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=5618455253010788280' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/5618455253010788280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/5618455253010788280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/guru-dan-media-pembelajaran.html' title='GURU DAN MEDIA PEMBELAJARAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-8119145759478986891</id><published>2007-07-21T10:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T10:16:20.657-07:00</updated><title type='text'>PEPER PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER  DAN JARINGAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: black;" lang="SV"&gt;(Penyusun Renggani)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;I.PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di era inf&lt;/span&gt;ormasi saat ini teori belajar modern melihat pembelajaran sebagai pencarian seseorang akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi. Para siswa akan berinteraksi dengan work station dengan berbagai cara berdasarkan sifat dari tugas dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pembelajaran yang lebih disukai yang berbeda&lt;b&gt; &lt;/b&gt;untuk setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks pembelajaran seharusnya meliputi: (1) kerja mandiri dan berinteraksi dengan materi pembelajaran, (2) bekerja secara kolaborasi dengan teman pada tempat yang berlainan, baik secara serempak atau tidak, di mana kedua cara ini mungkin akan menjadi multi-media, (3) siswa magang kerja dan berinteraksi dengan para pekerja yang lebih berpengalaman, supervisor, atau instruktur, (4) sebagai instruktur, supervisor atau kolega yang lebih pengalaman untuk kolega-kolega lain yang kurang berpengalaman.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -54pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Seseorang mungkin akan mampu mamainkan peran-peran dalam satu hari kerja. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; siswa juga memerlukan belajar dari rumah, tempat kerja atau ketika berada di kendaraan umum, mereka akan membutuhkan: (1) akses ke internet (searching, downloading), (2) pemilihan, penyimpanan dan mengedit kembali informasi, (3) komunikasi langsung dengan instruktur, kolega-kolega dan pelajar-pelajar lain, (4) penyatuan bahan yang diakses ke dalam dokumen kerja, (5) membagi dan manipulasi informasi/dokumen atau proyek-proyek dengan orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Untuk menjawab semua permsalahan dan model-model pembelajaran di era informasi, makalah ini akan membahas mengenai: 1) pembelajaran orang dewasa di abad 21, 2) multi-media pendidikan dalam sebuah jaringan masyarakat, dan 3) prinsip-prinsip pedagogi dan pembelajaran on-line yang efektif antar budaya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;II. PEMBAHASAN &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 26.9pt; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-weight: normal;"&gt;Pembelajaran Orang Dewasa Abad 21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9.05pt; text-align: justify;"&gt;Dalam pembelajaran orang dewasa telah terjadi perubahan yang cepat khususnya dalam pengembangan metode-metode pengajaran dan pengantaraan termasuk di dalamnya pemanfaatan teknologi jaringan komputer kecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;i style=""&gt;David Putman&lt;/i&gt; (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify;"&gt;Dalam waktu 10 tahun ke depan kita akan menyaksikan perkembangan teknologi-teknologi penting seperti : (1) integrasi komputer, televisi, dan telekomunikasi melalui teknik-teknik dijitisasi/kompresi, (2) mengurangi biaya dan pemakaian yang lebih fleksibel akan telekomunikasi melalui perkembangan seperti: ISDN (Integrated Service Digital Network), Fiber Optics atau Radio Selular, (3) daya pemrosesan data yang makin cepat melalui perkembangan micro-chip baru dan teknik software yang sudah maju. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sehubungan dengan kemajuan tersebut, maka Teknologi Pendidikan terlebih dahulu harus di gerakkan pada visi tentang pendidikan dan pelatihan di abad 21. Visi tersebut harus memperhitungkan potensial teknologi, tetapi tidak digerakkan semata-mata oleh apa yang mungkin secara teknologi, lebih tepat apa yang dapat kita lakukan bukan apa yang kita ingin lakukan. Stenor (gabungan perusahaan telepon Canada) mengumumkan $8 milyard, inisiatif 10 tahun, disebut BEACON yang akan memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelayanan multi-media broadband hingga 80% - 90% dari semua rumah dan usaha di Canada pada tahun 2004. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dampak sosial dan pendidikan dari bertemunya media dan teknologi (convergence) dengan kecepatan tinggi akan menjadi revolusioner dan sangat menantang bagi institusi-institusi pendidikan yang sudah mapan. Tahun 1993, 70% dari semua pekerjaan di Amerika Serikat berada di industri-industri jasa dengan kecendrungan terus berlanjut. Pendapatan tahun perusahaan Microsoft lebih besar daripada pendapatan gabungan Sony dan Honda, tetapi mempekerjakan 100 kali lebih sedikit tenaga kerja.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Berkaitan dengan kecakapan yang harus dimiliki oleh tenaga kerja menurut Dewan Konferensi Kanada (1991) di abad 21 meliputi: (1) cakap berkomunikasi (reading, writing, speaking, listening), (2) mampu belajar mandiri, (3) cakap sosial: etika, sikap positif, dan tanggung jawab, (4) kerjasama tim, (5) mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berkembang, (6) cakap berpikir: pemecahan ,masalah, kritis, logis menurut urutan angka, dan (7) pengetahuan navigasi: dimana mendapatkan, cara memproses informasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka pembelajaran di abad 21 seharusnya menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 17.85pt; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Multimedia Pendidikan dalam Networked Society&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Institusi pendidikan “elektronik” dibangun untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pembelajaran abad 21 dengan peranan sebagai berikut: (1) memberi informasi tentang kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan pelatihan dan peluang-peluang, (2) memberi pengawasan kualitas, (3) memberi akreditasi melalui penilaian belajar yang independen, (4) mengembangkan kurikulum yang koheren dan tepat, (5) menjadi broker dan mensyahkan kursus-kursus dan bahan-bahan pendidikan dan pelatihan dari pemasok, (6) memberi pelayanan penggunaan dan komunikasi bahan-bahan pembelajaran multimedia yang user-friendly baik impor maupun eskpor, (7) membuat jaringan antar pelajar dan antar instruktur, (8) menciptakan bahan-bahan multi-media pendidikan berkualitas tinggi dalam bentuk yang diperoleh, (9) mengadakan penelitian untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan, dan (10) menggunakan teknologi-teknologi baru untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan serta mengevaluasi penggunaannya. &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Inti pokok pelayanan ini adalah infrastruktur jaringan multimedia internal yang membolehkan institusi mengakses, menciptakan, dan memberi pelayanan multimedia pendidikan dalam aneka macam format dan aneka macam cara.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Institusi pendidikan elektronik mempunyai fungsi produksi, broker, dan manajemen dengan input dapat berupa audio, program, maupun video, sedangkan outputnya dapat berupa audio, program, barang cetakan, komunikasi dengan radio selular, komunikasi melalui satelit, atau dengan server multimedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pembelajaran terbuka sedang mengembangkan pendekatan manajemen informasi terpadu yang mencakup sistem administrasi (administrative) dan sistem pembelajaran(instructional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori pembelajaran yang dijadikan dasar penelitian ini antara lain: (1) teori pemrosesan informasi, (2) hasil penelitian Tynneson dan kawan-kawan mulai tahun 1971 sampai tahun 1988 mengenai disain instruksional (ID). Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa terdapat 6 (enam) komponen utama pendidikan yang berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran khusus. Ke-enam komponen tersebut adalah: (1) proses pembelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) dasar pengetahuan, (4) variabel instruksional, (5) strategi-strategi instruksional, dan (6) peningkatan-peningkatan berbasis komputer.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Selanjutnya dilakukan pelacakan terhadap keenam komponen tersebut dengan menggunakan variable-variabel: (1) pengetahuan deklaratif, (2) pengetahuan prosedural, (3) pengetahuan kontekstual, dan (4) strategi-strategi pencarian.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sistem komputer berfungsi sebagai pengendali bagi manajemen informasi terpadu (administrasi dan pembelajaran), dimana terdapat dua bagian pokok, yaitu: (1) sistem pengembangan (development system) sebagai input berupa : audio, teks, video, software, grafik, dan kombinasi media, dan (2) sistem pendistribusian (distribution system) sebagai output berupa: media terintegrasi (optical/CD-ROM/ PCMCIA), barang cetakan (paper/reprographics), Sound (cassettes/CD-Audio), Video (videotape/laserdisc), software (diskettes/CD-ROM/CD). Semua output dapat diakses langsung maupun diperoleh dalam bentuk barang.&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Prinsip-prinsip Pedagogi dan Pembelajaran On-line Antar Budaya yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;efektif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pedagogi inklusif secara kultural dapat dipakai pada lingkungan-lingkungan on-line. Tujuan pembelajaran on-line adalah menjamin bahwa pedagogi dan kurikulum fleksibel, dapat menyesuaikan diri, dan relevan bagi siswa dari berbagai lartar belakang bahasa, dan pendekatan mengajar, sehingga semua aspek pedagogi bersifat mendukung akan kebutuhan-kebutuhan antar budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-sumber pembelajaran untuk siswa dapat dicapai dan relevan merupakan perhatian utama di seluruh dunia karena berada dalam arena pendidikan tanpa batas. World Wide Web mempunyai kapasitas mencapai pemirsa yang luas, persoalannya adalah: sampai berapa jauh pembelajaran on-line dapat memahami pengertian lintas budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai pola sumber-sumber pendidikan untuk penyerahan trans-nasional. Diantara kendala-kendala pembelajaran on-line yang efektif dalam komunikasi global, seperti dilaporkan Collis, Parisi, dan Ligorio (1996) adalah: (1) permasalahan budaya dan lingkungan, (2) perbedaan-perbedaan gaya mengajar, (3) permasalahan yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya yang berbeda, (4) permaslaahan bahasa dan semantic, (5) masalah-maslaah teknik yang berhubungan dengan platform, sistem-sistem pengoperasian dan tidak adanya interface standar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Berangkat dari literatur jelas bahwa siswa-siswa yang belajar di suatu lingkungan dimana perspektif ganda dan berlainan dipupuk dan dihargai menjadi pemikir-pemikir kritis yang lebih baik, komunikator-komunikator yang lebih baik, pemecah persoalan yang lebih baik dan pemain-pemain tim yang lebih baik (Sugar &amp; Bank, 1998). Seperti studi on-line global networking memperlihatkan pendekatan mengajar yang meningkatkan dugaan komunitas on-line sedang mempersiapkan dengan memadai semua siswa-siswanya untuk merubah dunia (Harasim, 1990, 1994, Riel, 1993).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;UNESCO (2000) melaporkan tentang kebutuhan memperluas pengalaman pendidikan tinggi dari mayoritas mahasiswa yang tidak mau megadakan perjalanan atau paling tidak mampu belajar di negara lain atau di institusi lain daripada institusi yang memberi gelarnya. Bagi para pendidik ini berarti menginternasionalisasikan kurikulum, memperluas dasar kecakapan dari gelar-gelar dan pemberian-pemberian dan memperkuat proses pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kurikulum inklusif bertujuan untuk meningkatkan reciprocity (hal timbal-balik), pengembangan arus ide dua arah dan nilai-nilai antara komunitas (Galleni &amp; Zhang,1997). Mengkonseptualisasikan kurikulum inklusif merupakan langkah pertama ke arah perancangan aktivitas-aktivitas pembelajaran on-line yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum inklusif mempunyai ciri-ciri: (1) menilai budaya, latar belakang dan pengalaman semua mahasiswa, (2) inklusif jender, budaya atas perbedaan-perbedaan yang berhubungan dengan etnik, bahasa dan latar belakang sosio-ekonomi, (3) mengakui bahwa setiap keputusan kurikulum adalah pemilihan daripada kebenaran lengkap, (4) menjadikan eksplisit pola mata pelajaran pendukung yang rasional, dan (5) responsif terhadap dasar pengetahuan siswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Komponen-komponen dasar kurikulum inklusif sebagai suatu hubungan timbal balik antara proses penilaian, pengajaran, dan dukungan, aktivitas pembelajaran, dan hasil-hasil pembelajaran. Ini berarti semua dimensi harus dipertimbangkan dan bersangkut-paut dalam mengajar dan merancang lingkungan-lingkungan Web.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;III.KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran berbasis web dan komputer harus mempertimbangkan faktor-faktor: 1) cara belajar orang dewasa yang menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi; 2) jaringan multimedia dalam masyarakat global yang dapat memberikan pelayanan pendidikan dalam aneka macam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;format dan cara; 3) memperhatikan prinsip-prinsip pedagogik antar budaya.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Educational Multi-Media in a Networked Sociaty. http://D/dari_e/UPH/ edmedia.html.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Future Of Learning. First Presented at The Minister’s Forum on Adult Learning.Edmonton,Alberta.(1995). http://bates.cstudies. ubc.ca/ papers/paper.html.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;McLoughlin,Catherine.,(2001). Inclusivity and alignment: Principles of pedagogy, task and assessment design for effective cross-cultural online learning.ODLAA Inc.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Prospek Pendidikan Secara Online di Dunia.http://www.kopertis4.or.id /Kopertis/orasi.html.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tynneson,Robert.(1999). Computer-Based Enhancements For The Improvement Of Learning.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none dotted; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 3pt; padding: 0cm 0cm 1pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0cm;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-8119145759478986891?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/8119145759478986891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=8119145759478986891' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8119145759478986891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8119145759478986891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/peper-pembelajaran-berbasis-komputer.html' title='PEPER PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER  DAN JARINGAN'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-8216533919603205043</id><published>2007-07-18T01:53:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T02:22:02.725-07:00</updated><title type='text'>MULTIPLE INTELEGENCE (KECERDASAN MAJEMUK)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3bd4GBlKI/AAAAAAAAACg/xSXqtAEaW5k/s1600-h/Photo-0179.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088464460318872738" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3bd4GBlKI/AAAAAAAAACg/xSXqtAEaW5k/s200/Photo-0179.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pengertian Kecerdasan (Inteligensi)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Kecerdasan (Inteligensi)secara umum dipahami pada dua tingkat yakni :&lt;br /&gt;Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.&lt;br /&gt;Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.&lt;br /&gt;Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Tingkat Kecerdasan&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan.&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan-Pengertian Kecerdasan-Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecersan seseorang). Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.&lt;br /&gt;2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.&lt;br /&gt;3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.&lt;br /&gt;Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkhaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauhmana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan.&lt;br /&gt;Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.&lt;br /&gt;Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi Intelligence Quotient (IQ). IQ dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Misalnya pada tes inteligensi WISC (Wecbsler Intelligence Scale for Children), penggolongan inteligensi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan-Pengertian Kecerdasan-Tingkat KecerdasanPada distribusi normal dan inteligensi, IQ rata-rata adalah 100 dengan penyimpangan baku menurut Wechsler. Dari tabel II.1 dapat dilihat bahwa hanya 2.2 % dari populasi akan mencapai IQ 130 ke atas yang termasuk ”sangat unggul ”. Anak-anak yang mempunyai IQ 130 ke atas inilah dapat digolongkan sebagai ”anak berbakat intelektual ”. Jadi di sini yang menjadi tolok ukur bakat intelektual sangat unggul ialah IQ 130. Keadaan dimilikinya bakat unggul disebut ” keberbakatan ”&lt;br /&gt;Tabel II.1. Klasifikasi Inteligensi menurut Wechsler.&lt;br /&gt;IQ Klasifikasi % dalam populasi&lt;br /&gt;130 ke atas&lt;br /&gt;120 - 129&lt;br /&gt;110 – 119&lt;br /&gt;90 – 109&lt;br /&gt;80 - 89&lt;br /&gt;70 – 79&lt;br /&gt;Di bawah 70&lt;br /&gt;Sangat unggul&lt;br /&gt;Unggul&lt;br /&gt;Cakap normal&lt;br /&gt;Rata-rata&lt;br /&gt;Lamban normal&lt;br /&gt;Batas dungu&lt;br /&gt;Cacat mental&lt;br /&gt;2.2&lt;br /&gt;6.7&lt;br /&gt;16.1&lt;br /&gt;50.0&lt;br /&gt;16.1&lt;br /&gt;6.7&lt;br /&gt;2.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Keberbakatan dan Anak Berbakat&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Apakah hanya kecerdasan (yang diukur dengan tes intelegensi dan menghasilkan IQ) yang menentukan keberbakatan seseorang ? barangkali untuk bakat intelegtual masih tepat jika IQ menjadi kriteria (patokan)utama, tetapi belum tentu untuk bakat seni, bakat kreatif-produktif, dan bakat kepemimpinan. Memang dulu para ahli cenderung untuk mengidentifikasi bakat intelektual berdasarkan tes intelegensi semata-mata, dalam penelitian jangka panjangnya mengenai keberbakatan menetapkan IQ 140 untuk membedakan antara yang berbakat dan tidak. Akan tetapi, akhir-akhir ini para ahli makin menyadari bahwa keberbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macam-macam ranah atau aspek, tidutak hanya kecerdasan.&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan-Keberbakatan dan Anak Berbakat Renzulli, dkk.(1981) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tangung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Masing-masing ciri mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Seseorang dapat dikatakan mempunyai bakat intelegtual, apabila ia mempunyai intelegensi tinggi atau kemampuan di atas rata-rata dalam bidang intelektual yang antara lain mempunyai daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah). Akan tetapi, kecerdasan yang cukup tinggi belum menjamin keberbakatan seseorang.&lt;br /&gt;Kreatifitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya.&lt;br /&gt;Demikian juga berlaku bagi pengikatan diri terhadap tugas yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatnya diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan-Pengertian Kecerdasan-Tingkat Kecerdasan Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan.&lt;br /&gt;Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemapuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang.&lt;br /&gt;Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh Ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam restasi yang unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Kecerdasan Majemuk : Mendidik Anak Cerdas dan Berbakat&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak. Apa itu kecerdasan majemuk ?&lt;br /&gt;Sebagai orang tua masa kini, kita sering kali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci utama untuk kesuksesan hidup di masa depan.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya. Kemudian di sinilah muncul pertanyaan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa ?&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depanya ?&lt;br /&gt;Kemudian jawabannya adalah :&lt;br /&gt;Prestasi dalam kecerdasan majemuk (multiple Intelligence)dan bukan hanya prestasi akademik.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan majemukKemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdannya yang majemuk itu.&lt;br /&gt;Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri. Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol.&lt;br /&gt;Albert Einstein, beliau sangat terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni arsitektur, matematika, dan fisika.&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup lagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.&lt;br /&gt;Jadi untuk menjamin anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Kedua orang tua harus berusaha sebaik mungkin untuk menentukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang memiliki oleh masing-masing anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Jenis Kecerdasan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Menurut Dr. Howard Gardner, beliau adalah seorang peneliti dari Harvard dan pencetus teori Multiple Intelligence mengajukan 8 jenis kecerdasan yang meliputi :&lt;br /&gt;Cerdas bahasa – cerdas dalam mengolah kata&lt;br /&gt;Cerdas gambar – memiliki imajinasi tinggi&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Jenis KecerdasanCerdas musik – peka terhadap suara dan irama&lt;br /&gt;Cerdas tubuh – terampil dalam mengolah tubuh dan gerak&lt;br /&gt;Cerdas matematika dan logika – cerdas dalam sain dan berhitung&lt;br /&gt;Cerdas sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain&lt;br /&gt;Cerdas alam – peka terhadap alam sekitar&lt;br /&gt;Cerdas Spiritual - menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta.&lt;br /&gt;Di samping ada delapan jenis kecerdasan, ada juga kecerdasan yang lainnya yaitu : Kecerdasan politik, Kecerdasan Buatan, Kecerdasan Majemuk, dan sebagainya. Di dalam Bab II ini tidak hanya sekedar membahas kecerdasan majemuk (multiple inteligensi) saja melainkan ada pembahasan mengenai kecerdasan yang lainnya . Tetapi di dalam bab ini, ditekankan lebih fokus ke pembahasan multiple intelligence meskipun ada jenis kecerdasan yang lainnya. Sedangkan pembahasan mengenai kecerdasan yang lainnya, hanya sekedar sebagai materi tambahan dalam bab ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Sukses dan Kecerdasan&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Kecerdasan memang bukan satu-satunya elemen sukses. John Wareham (1992), mengatakan ada 10 (sepuluh) unsur pokok untuk menjadi eksekutif yang sukses yaitu :&lt;br /&gt;Kemampuan menampilkan pesona diri yang tepat&lt;br /&gt;Kemampuan mengelola energi diri yang baik&lt;br /&gt;Kejelasan dan kesehatan sistem nilai pribadi dan kontrak-kontrak batin&lt;br /&gt;Kejelasan sasaran-sasaran hidup yang tersurat maupun yang tersirat&lt;br /&gt;Kecerdasan yang memadai (dalam arti penalaran)&lt;br /&gt;Adanya kebiasaan kerja yang baik&lt;br /&gt;Keterampilan antar manusia yang baik&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Sukses dan KecerdasanKemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional&lt;br /&gt;Pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan&lt;br /&gt;Kesesuaian tahap dan arah kehidupan dengan espektasi gaya hidup.&lt;br /&gt;Dale Carnegie (1889-1955), bahkan tidak menyebutkan kecerdasan secara eksplisit (dalam pengertian umum) sebagai elemen keberhasilan. Beliau mengatakan bahwa untuk berhasil dibutuhkan 10 (sepuluh Kualitas) yaitu :&lt;br /&gt;1. Rasa percaya diri yang berlandaskan konsep diri yang sehat,&lt;br /&gt;2. Keterampilan berkomunikasi yang baik,&lt;br /&gt;3. Keterampilan antar manusia yang baik,&lt;br /&gt;4. Kemampuan memimpin diri sendiri dan orang lain,&lt;br /&gt;5. Sikap positip terhadap orang, kerja dan diri sendiri,&lt;br /&gt;6. Keterampilan menjual ide dan gagasan,&lt;br /&gt;7. Kemampuan mengingat yang baik,&lt;br /&gt;8. kemampuan mengatasi masalah, stres dan kekuatiran,&lt;br /&gt;9. Antusiasme yang menyala-nyala, dan&lt;br /&gt;10. Wawasan hidup yang luas.&lt;br /&gt;Jadi jelaslah bahwa kecerdasan, yang biasanya diukur dengan skala IQ, memang bukan elemen tunggal atau tiket menuju sukses. John Wareham, menyimpulkan hal di atas sesudah ia mewawancarai puluhan ribu calon eksekutif dan mensuplai ribuan eksekutif ke banyak perusahaan, dalam peranannya sebagai ” head Hunter ”. Begitu juga Dale Carnegie tiba pada kesimpulannya sesudah ia mewawancarai banyak tokoh sukses kontemporer pada jamannya dan sesudah membaca ribuan biografi dan otobiografi orang-orang sukses dari segala macam lapangan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Kecerdasan Politik &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Politik Kecerdasan kekuatan dalam hal politik juga semakin penting di jaman modern, dimana persaingan semakin rumit dan majemuk. Lebih mudah bagi kita untuk menghadapi musuh yang muncul terang-terangan, sebaliknya jauh lebih sulit menghadapi musuh dalam selimut. Kecerdasan dalam hal politik berperan penting karena setiap orang menghadapi konflik politik setiap hari dalam kehidupannya. Politik dapat muncul dalam keributan kecil dalam rumah tangga, persaingan antara saudara kandung, kehidupan bertetangga, dan juga di kantor. Politik bukan hanya ada dalam kegiatan mengurus negara, melainkan hadir dalam setiap kegiatan antar manusia.&lt;br /&gt;Sebagian orang memandang politik sebagai kegiatan yang tercela, karena di dalamnya terdapat intrik manipulasi, penipuan, dsb. Padahal politik merupakan bawaan alamiah manusia karena merupakan konsekuensi dari terjadinya hubungan antar manusia, sama halnya dengan kegiatan ekonomi. Ada banyak sekali kegiatan politik yang etis. Berpolitik tidak berarti melakukan hal yang tercela. Politik yang dipahami da n dikuasai dengan baik akan membantu mencapai tujuan dengan cara yang lebih efisien. Menjadi pemimpin atau seorang yang adil juga memerlukan keahlian politik yang baik.&lt;br /&gt;Politik memainkan peranan penting dalam kegiatan bisnis di kantor. Kegiatan politik yang tercela akan mengakibatkan munculnya permainan kekuasaan, negosiasi yang sulit, terhambatnya kreatifitas, rusaknya wibawa, fitnah, kebohongan dan kecurangan. Sebaliknya, politik yang disinari matahari SEPIA menjadi politik yang etis mampu memperkuat komunikasi, mempermudah perjanjian bisnis, membantu menemukan solusi kreatif, menciptakan suasana saling menghargai, dan memperkuat keterampilan pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Politik Sebagai salah satu contoh dalam kecerdasan politik, misalnya : sebagai karyawan baru di jajaran manajer menengah. Adi didekati banyak orang. Tono mengajaknya makan siang dan dengan baik menjelaskan situasi di kantor. Jerry juga mengajak makan siang dengan informasi yang sedikit berbeda dengan Tono. Rudi, kenalan di kantin, memberikan banyak saran dan segudang gosip-gosip. Demikian pula dengan beberapa orang yang lain. Semua dengan baik hati memberi saran dengan gratis kepada Adi.&lt;br /&gt;Adi cukup cerdas. Setiap kali ada yang menanyakan apakah dia di ajak makan siang oleh Tono, dia menjawab diplomatis ”Ya, saya meminta Tono untuk meminta menjelaskan kegiatannya di departemennya. Saya kira saran-sarannya sangat membantu pekerjaan saya”. Demikian pula ketika ditanya tentang yang lain. Adi dengan hati-hati menjaga hubungan baik dengan semua rekan barunya. Sebagai karyawan baru, Adi memulai ”permainan politik” dengan awal yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Kecerdasan Spiritual untuk jadi Pemimpin yang Unggul&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Untuk menjadi pemimpin andal, seseorang tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hai dan budi sehingga ia mampu menjadi pemimpin yang berkarakter dan berwatak positip.&lt;br /&gt;Menurut Alwi Shihab (Mantan Menlu), kecerdasan spiritual penting sekali karena berpengaruh pada sikap pemimpin itu pada dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu melihat sesuatu di balik sebuah kenyataan empirik sehingga ia mampu mencapai makna dan hakekat tentang manusia. Dengan demikian, kemanusiaan manusia sungguh-sungguh dihargai.&lt;br /&gt;Plato, mengatakan bahwa kesengsaraan pada dasarnya disebabkan oleh kebodohan. Kebodohan tersebut berakar pada ketidakmampuan seseorang mengenali dirinya sendiri. Oleh karena itu, unsur spiritual sangat diperlukan seperti halnya unsur fisik agar seseorang mampu melihat lebih dalam.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Spiritual Untuk Jadi Pemimpin yang Unggul Alwi Shihab menambahkan bahwa spiritual itu mengarahkan manusia pada pencarian hakekat kemanusiaannya. Menurut dia, manusia itu dapt ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Allah. Mistisisme membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (seseuatu di luar sana yang tidak diketahui). Allah itu amat bernilai, tetapi tersembunyi, tetapi rahmat Allah mengatasi batas-batas buatan manusia sehingga manusia paham tentang Allah. Dikatakan cerdas karena manusia senantiasa ingat pada Allah ketika ia melakukan karyanya.&lt;br /&gt;Frans Magnis Suseno SJ, mengemukakan bahwa kecerdasan spiritual membantu meningkatkan kompetensi para pemimpin untuk mengambil keputusan. Ia mendasarkan kajian itu pada tradisi mistik ignasius dari Loyola yang biasa disebut dengan latihan rohani atau exertitia spiritualis. Latihan itu dilakukan dalam sebuah masa tertentu, misalnya satu bulan atau delapan hari. Dalam masa tersebut, secara khusus seseorang diajak untuk berkonfrontasi dengan hidupnya sendiri. Tujuannya adalah untuk menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa sehingga tidak ada keputusan yang diambil di bawah pengaruh sikap kelekatan pada apapun.&lt;br /&gt;Sebagai alat ukur Jalaluddin Rahmat melihat bahwa spiritual berbeda dari religiusitas atau keberagaman. Beliau mengatakan bahwa ukuran keduanya berbeda. Kecerdasan, paparnya bersifat eksistensial dan memiliki sense of mission. Hal itu senada dengan pendapat Komarudin Hidayat. Dikatakan bahwa yang terutama dalam kecerdasan spiritual adalah pengenalan akan kesejatian diri manusia. Menurut Komarudin, kemunculan spiritualitas di barat merupakan wujud protes masyarakat pada organisasi agama. Kecerdasan spiritual lanjutnya, bukan sebuah ajaran theologies. Kecerdasan ini tidak secara langsung berkaitan dengan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Kecerdasan Buatan&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan BuatanKecerdasan Buatan (&lt;a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris"&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt;: Artificial Intelligence atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas buatan. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (&lt;a title="Komputer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komputer"&gt;komputer&lt;/a&gt;) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan &lt;a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"&gt;manusia&lt;/a&gt;. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, &lt;a title="Permainan komputer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Permainan_komputer"&gt;permainan komputer&lt;/a&gt; (games), &lt;a title="Logika Fuzzy" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_Fuzzy"&gt;logika fuzzy&lt;/a&gt;, &lt;a title="Jaringan Syaraf Tiruan (Artificial Neural Networks)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_Syaraf_Tiruan_(Artificial_Neural_Networks)"&gt;jaringan syaraf tiruan&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Robot" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Robot"&gt;robotika&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Banyak hal yang kelihatannya sulit untuk kecerdasan manusia, tetapi untuk &lt;a title="Informatika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informatika"&gt;Informatika&lt;/a&gt; relatif tidak bermasalah. Seperti contoh: mentransformasikan persamaan, menyelesaikan persamaan integral, membuat permainan catur atau Backgammon. Di sisi lain, hal yang bagi manusia kelihatannya menuntut sedikit kecerdasan, sampai sekarang masih sulit untuk direalisasikan dalam &lt;a title="Informatika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informatika"&gt;Informatika&lt;/a&gt;. Seperti contoh: Pengenalan Obyek/Muka, bermain Sepakbola.&lt;br /&gt;Walaupun AI memiliki konotasi fiksi ilmiah yang kuat, AI membentuk cabang yang sangat penting pada ilmu komputer, berhubungan dengan perilaku, pembelajaran dan adaptasi yang cerdas dalam sebuah mesin. Penelitian dalam AI menyangkut pembuatan mesin untuk mengotomatisasikan tugas-tugas yang membutuhkan perilaku cerdas. Termasuk contohnya adalah pengendalian, perencanaan dan penjadwalan, kemampuan untuk menjawab diagnosa dan pertanyaan pelanggan, serta pengenalan tulisan tangan, suara dan wajah.&lt;br /&gt;Hal-hal seperti itu telah menjadi disiplin ilmu tersendiri, yang memusatkan perhatian pada penyediaan solusi masalah kehidupan yang nyata. Sistem AI sekarang ini sering digunakan dalam bidang ekonomi, obat-obatan, teknik dan militer, seperti yang telah dibangun dalam beberapa aplikasi perangkat lunak komputer rumah dan video game.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Buatan'Kecerdasan buatan' ini bukan hanya ingin mengerti apa itu sistem kecerdasan, tapi juga mengkonstruksinya.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sejarah Kecerdasan Buatan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Pada awal abad 17, &lt;a title="René Descartes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/RenÃ©_Descartes"&gt;René Descartes&lt;/a&gt; mengemukakan bahwa tubuh hewan bukanlah apa-apa melainkan hanya mesin-mesin yang rumit. &lt;a title="Blaise Pascal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Blaise_Pascal"&gt;Blaise Pascal&lt;/a&gt; menciptakan mesin penghitung digital mekanis pertama pada 1642. Pada 19, &lt;a title="Charles Babbage" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Babbage"&gt;Charles Babbage&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Ada Lovelace" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ada_Lovelace&amp;action=edit"&gt;Ada Lovelace&lt;/a&gt; bekerja pada mesin penghitung mekanis yang dapat diprogram.&lt;br /&gt;&lt;a title="Bertrand Russell" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bertrand_Russell"&gt;Bertrand Russell&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Alfred North Whitehead" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alfred_North_Whitehead&amp;amp;amp;action=edit"&gt;Alfred North Whitehead&lt;/a&gt; menerbitkan &lt;a title="Principia Mathematica" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Principia_Mathematica&amp;action=edit"&gt;Principia Mathematica&lt;/a&gt;, yang merombak logika formal. &lt;a title="Warren McCulloch" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Warren_McCulloch&amp;amp;action=edit"&gt;Warren McCulloch&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Walter Pitts" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Walter_Pitts&amp;action=edit"&gt;Walter Pitts&lt;/a&gt; menerbitkan "Kalkulus Logis Gagasan yang tetap ada dalam Aktivitas " pada 1943 yang meletakkan pondasi untuk jaringan syaraf.&lt;br /&gt;Tahun 1950-an adalah periode usaha aktif dalam AI. Program AI pertama yang bekerja ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin &lt;a title="Ferranti Mark I" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ferranti_Mark_I&amp;amp;action=edit"&gt;Ferranti Mark I&lt;/a&gt; di &lt;a title="University of Manchester" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=University_of_Manchester&amp;action=edit"&gt;University of Manchester&lt;/a&gt; (UK): sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh &lt;a title="Christopher Strachey" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Christopher_Strachey&amp;amp;action=edit"&gt;Christopher Strachey&lt;/a&gt; dan program permainan catur yang ditulis oleh &lt;a title="Dietrich Prinz" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dietrich_Prinz&amp;action=edit"&gt;Dietrich Prinz&lt;/a&gt;. John McCarthy membuat istilah "kecerdasan buatan " pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini, pada 1956. Dia juga menemukan bahasa pemrograman &lt;a title="Lisp" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lisp&amp;amp;action=edit"&gt;Lisp&lt;/a&gt;. &lt;a title="Alan Turing" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alan_Turing"&gt;Alan Turing&lt;/a&gt; memperkenalkan &lt;a title="'" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=%22Turing_test%22&amp;action=edit"&gt;"Turing test"&lt;/a&gt; sebagai sebuah cara untuk mengoperasionalkan test perilaku cerdas. &lt;a title="Joseph Weizenbaum" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Joseph_Weizenbaum&amp;amp;action=edit"&gt;Joseph Weizenbaum&lt;/a&gt; membangun &lt;a title="ELIZA" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=ELIZA&amp;action=edit"&gt;ELIZA&lt;/a&gt;, sebuah &lt;a title="Chatterbot" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Chatterbot&amp;amp;action=edit"&gt;chatterbot&lt;/a&gt; yang menerapkan psikoterapi &lt;a title="Rogerian" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rogerian&amp;action=edit"&gt;Rogerian&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Buatan-Sejarah Kecerdasan BuatanSelama tahun 1960-an dan 1970-an, &lt;a title="Joel Moses" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Joel_Moses&amp;amp;action=edit"&gt;Joel Moses&lt;/a&gt; mendemonstrasikan kekuatan pertimbangan simbolis untuk mengintegrasikan masalah di dalam program &lt;a title="Macsyma" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Macsyma&amp;action=edit"&gt;Macsyma&lt;/a&gt;, program berbasis pengetahuan yang sukses pertama kali dalam bidang matematika. &lt;a title="Marvin Minsky" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marvin_Minsky"&gt;Marvin Minsky&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Seymour Papert" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Seymour_Papert&amp;amp;action=edit"&gt;Seymour Papert&lt;/a&gt; menerbitkan &lt;a title="Perceptrons" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perceptrons&amp;action=edit"&gt;Perceptrons&lt;/a&gt;, yang mendemostrasikan batas jaringan syaraf sederhana dan &lt;a title="Alain Colmerauer" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alain_Colmerauer&amp;amp;action=edit"&gt;Alain Colmerauer&lt;/a&gt; mengembangkan bahasa komputer &lt;a title="Prolog" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prolog"&gt;Prolog&lt;/a&gt;. &lt;a title="Ted Shortliffe" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ted_Shortliffe&amp;action=edit"&gt;Ted Shortliffe&lt;/a&gt; mendemonstrasikan kekuatan &lt;a title="Sistem berbasis aturan" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sistem_berbasis_aturan&amp;amp;action=edit"&gt;sistem berbasis aturan&lt;/a&gt; untuk representasi pengetahuan dan &lt;a title="Inferensi" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Inferensi&amp;action=edit"&gt;inferensi&lt;/a&gt; dalam diagnosa dan terapi medis yang kadangkala disebut sebagai sistem pakar pertama. &lt;a title="Hans Moravec" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hans_Moravec&amp;amp;action=edit"&gt;Hans Moravec&lt;/a&gt; mengembangkan kendaraan terkendali komputer pertama untuk mengatasi jalan berintang yang kusut secara mandiri.&lt;br /&gt;Pada tahun 1980-an, jaringan syaraf digunakan secara meluas dengan algoritma perambatan balik, pertama kali diterangkan oleh &lt;a title="Paul John Werbos" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paul_John_Werbos&amp;action=edit"&gt;Paul John Werbos&lt;/a&gt; pada 1974. Tahun 1990-an ditandai perolehan besar dalam berbagai bidang AI dan demonstrasi berbagai macam aplikasi. Lebih khusus &lt;a title="Deep Blue" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Deep_Blue"&gt;Deep Blue&lt;/a&gt;, sebuah komputer permainan catur, mengalahkan &lt;a title="Garry Kasparov" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Garry_Kasparov"&gt;Garry Kasparov&lt;/a&gt; dalam sebuah pertandingan 6 game yang terkenal pada tahun 1997. &lt;a title="DARPA" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=DARPA&amp;amp;action=edit"&gt;DARPA&lt;/a&gt; menyatakan bahwa biaya yang disimpan melalui penerapan metode AI untuk unit penjadwalan dalam Perang Teluk pertama telah mengganti seluruh investasi dalam penelitian AI sejak tahun 1950 pada pemerintah AS.&lt;br /&gt;Tantangan Hebat DARPA, yang dimulai pada 2004 dan berlanjut hingga hari ini, adalah sebuah pacuan untuk hadiah $2 juta dimana kendaraan dikemudikan sendiri tanpa komunikasi dengan manusia, menggunakan &lt;a title="GPS" href="http://id.wikipedia.org/wiki/GPS"&gt;GPS&lt;/a&gt;, komputer dan susunan &lt;a title="Sensor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sensor"&gt;sensor&lt;/a&gt; yang canggih, melintasi beberapa ratus mil daerah gurun yang menantang.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Faham Pemikiran&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Buatan-Faham PemikiranSecara garis besar, AI terbagi ke dalam dua faham pemikiran yaitu AI Konvensional dan &lt;a title="Kecerdasan Komputasional" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kecerdasan_Komputasional&amp;action=edit"&gt;Kecerdasan Komputasional&lt;/a&gt; (CI, Computational Intelligence). AI konvensional kebanyakan melibatkan metoda-metoda yang sekarang diklasifiksikan sebagai &lt;a title="Pembelajaran mesin" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembelajaran_mesin&amp;amp;action=edit"&gt;pembelajaran mesin&lt;/a&gt;, yang ditandai dengan formalisme dan &lt;a title="Analisis statistik" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Analisis_statistik&amp;action=edit"&gt;analisis statistik&lt;/a&gt;. Dikenal juga sebagai AI &lt;a title="Simbolis" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Simbolis&amp;amp;action=edit"&gt;simbolis&lt;/a&gt;, AI &lt;a title="Logis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logis"&gt;logis&lt;/a&gt;, AI murni dan AI cara lama (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence). Metoda-metodanya meliputi:&lt;br /&gt;&lt;a title="Sistem pakar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pakar"&gt;Sistem pakar&lt;/a&gt;: menerapkan kapabilitas pertimbangan untuk mencapai kesimpulan. Sebuah sistem pakar dapat memproses sejumlah besar informasi yang diketahui dan menyediakan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan pada informasi-informasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a title="Petimbangan berdasar kasus" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Petimbangan_berdasar_kasus&amp;action=edit"&gt;Petimbangan berdasar kasus&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Jaringan Bayesian" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jaringan_Bayesian&amp;amp;action=edit"&gt;Jaringan Bayesian&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a title="AI berdasar tingkah laku" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=AI_berdasar_tingkah_laku&amp;action=edit"&gt;AI berdasar tingkah laku&lt;/a&gt;: metoda modular pada pembentukan sistem AI secara manual&lt;br /&gt;Kecerdasan komputasional melibatkan pengembangan atau pembelajaran iteratif (misalnya penalaan parameter seperti dalam sistem koneksionis. Pembelajaran ini berdasarkan pada data empiris dan diasosiasikan dengan AI non-simbolis, AI yang tak teratur dan perhitungan lunak. Metoda-metoda pokoknya meliputi:&lt;br /&gt;&lt;a title="Jaringan Syaraf Tiruan (Artificial Neural Networks)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jaringan_Syaraf_Tiruan_(Artificial_Neural_Networks)"&gt;Jaringan Syaraf&lt;/a&gt;: sistem dengan kemampuan pengenalan pola yang sangat kuat&lt;br /&gt;&lt;a title="Logika Fuzzy" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_Fuzzy"&gt;Sistem Fuzzy&lt;/a&gt;: teknik-teknik untuk pertimbangan di bawah ketidakpastian, telah digunakan secara meluas dalam industri modern dan sistem kendali produk konsumen.&lt;br /&gt;&lt;a title="Komputasi Evolusioner" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Komputasi_Evolusioner&amp;amp;action=edit"&gt;Komputasi Evolusioner&lt;/a&gt;: menerapkan konsep-konsep yang terinspirasi secara biologis seperti populasi, mutasi dan “&lt;a title="Survival of the fittest" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Survival_of_the_fittest&amp;action=edit"&gt;survival of the fittest&lt;/a&gt;” untuk menghasilkan pemecahan masalah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Buatan-Faham PemikiranMetoda-metoda ini terutama dibagi menjadi algoritma evolusioner (misalnya &lt;a title="Algoritma Genetik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Algoritma_Genetik"&gt;algoritma genetik&lt;/a&gt;) dan kecerdasan berkelompok (misalnya &lt;a title="Algoritma Semut (Ant Algorithm)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Algoritma_Semut_%28Ant_Algorithm%29&amp;amp;action=edit"&gt;algoritma semut&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Dengan sistem cerdas hibrid, percobaan-percobaan dibuat untuk menggabungkan kedua kelompok ini. Aturan inferensi pakar dapat dibangkitkan melalui jaringan syaraf atau aturan produksi dari pembelajaran statistik seperti dalam &lt;a title="ACT-R" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=ACT-R&amp;action=edit"&gt;ACT-R&lt;/a&gt;. Sebuah pendekatan baru yang menjanjikan disebutkan bahwa penguatan kecerdasan mencoba untuk mencapai kecerdasan buatan dalam proses pengembangan evolusioner sebagai efek samping dari penguatan kecerdasan manusia melalui teknologi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Filosofi Kecerdasan Buatan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan tentang AI yang kuat dengan AI yang lemah masih menjadi topik hangat diantara filosof AI. Hal ini melibatkan &lt;a title="Filsafat pemikiran" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Filsafat_pemikiran&amp;amp;action=edit"&gt;filsafat pemikiran&lt;/a&gt; dan masalah &lt;a title="Pikiran-tubuh" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pikiran-tubuh&amp;action=edit"&gt;pikiran-tubuh&lt;/a&gt;. &lt;a title="Roger Penrose" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Roger_Penrose&amp;amp;action=edit"&gt;Roger Penrose&lt;/a&gt; dalam bukunya &lt;a title="The Emperor's New Mind" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Emperor%27s_New_Mind&amp;action=edit"&gt;The Emperor's New Mind&lt;/a&gt; dan &lt;a title="John Searle" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=John_Searle&amp;amp;action=edit"&gt;John Searle&lt;/a&gt; dengan eksperimen pemikiran "ruang China" berargumen bahwa kesadaran sejati tidak dapat dicapai oleh sistem logis formal, sementara &lt;a title="Douglas Hofstadter" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Douglas_Hofstadter&amp;action=edit"&gt;Douglas Hofstadter&lt;/a&gt; dalam &lt;a title="Gödel, Escher, Bach" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=G%C3%B6del%2C_Escher%2C_Bach&amp;amp;action=edit"&gt;Gödel, Escher, Bach&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Daniel Dennett" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daniel_Dennett&amp;action=edit"&gt;Daniel Dennett&lt;/a&gt; dalam &lt;a title="Consciousness Explained" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Consciousness_Explained&amp;amp;action=edit"&gt;Consciousness Explained&lt;/a&gt; memperlihatkan duukungannya atas &lt;a title="Fungsionalisme" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fungsionalisme&amp;action=edit"&gt;fungsionalisme&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dalam pendapat banyak pendukung AI yang kuat, kesadaran buatan dianggap sebagai urat suci (&lt;a title="Holy grail" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Holy_grail&amp;amp;action=edit"&gt;holy grail&lt;/a&gt;) kecerdasan buatan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Fiksi sains&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bab II Multiple Intelligence-Kecerdasan Buatan-Filosofi Kecerdasan Buatan-Fiksi SainDalam fiksi sains, AI umumnya dilukiskan sebagai kekuatan masa depan yang akan mencoba menggulingkan otoritas manusia seperti dalam &lt;a title="HAL 9000" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=HAL_9000&amp;action=edit"&gt;HAL 9000&lt;/a&gt;, &lt;a title="Skynet" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Skynet&amp;amp;action=edit"&gt;Skynet&lt;/a&gt;, &lt;a title="Colossus" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Colossus&amp;action=edit"&gt;Colossus&lt;/a&gt; and &lt;a title="The Matrix" href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Matrix"&gt;The Matrix&lt;/a&gt; atau sebagai penyerupaan manusia untuk memberikan layanan seperti &lt;a title="C-3PO" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=C-3PO&amp;amp;action=edit"&gt;C-3PO&lt;/a&gt;, &lt;a title="Data" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Data"&gt;Data&lt;/a&gt;, the &lt;a title="Bicentennial Man" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bicentennial_Man&amp;action=edit"&gt;Bicentennial Man&lt;/a&gt;, the Mechas dalam &lt;a title="A.I." href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=A.I.&amp;amp;action=edit"&gt;A.I.&lt;/a&gt; atau Sonny dalam &lt;a title="I, Robot" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=I%2C_Robot&amp;action=edit"&gt;I, Robot&lt;/a&gt;. Sifat dominasi dunia AI yang tak dapat dielakkan, kadang-kadang disebut "&lt;a title="The Singularity" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Singularity&amp;amp;action=edit"&gt;the Singularity&lt;/a&gt;", juga dibantah oleh beberapa penulis sains seperti &lt;a title="Isaac Asimov" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Isaac_Asimov"&gt;Isaac Asimov&lt;/a&gt;, &lt;a title="Vernor Vinge" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Vernor_Vinge&amp;action=edit"&gt;Vernor Vinge&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Kevin Warwick" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kevin_Warwick&amp;amp;action=edit"&gt;Kevin Warwick&lt;/a&gt;. Dalam pekerjaan seperti &lt;a title="Manga Ghost in the Shell" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Manga_Ghost_in_the_Shell&amp;action=edit"&gt;manga Ghost in the Shell&lt;/a&gt;-nya orang Jepang, keberadaan mesin cerdas mempersoalkan definisi hidup sebagai organisme lebih dari sekedar kategori entitas mandiri yang lebih luas, membangun konsep kecerdasan sistemik yang bergagasan. Lihat &lt;a title="Daftar komputer fiksional" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daftar_komputer_fiksional&amp;amp;action=edit"&gt;daftar komputer fiksional&lt;/a&gt;(&lt;a title="List of fictional computers" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=List_of_fictional_computers&amp;action=edit"&gt;list of fictional computers&lt;/a&gt;) dan &lt;a title="Daftar robot dan android fiksional" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daftar_robot_dan_android_fiksional&amp;amp;action=edit"&gt;daftar robot dan android fiksional&lt;/a&gt; (&lt;a title="List of fictional robots and androids" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=List_of_fictional_robots_and_androids&amp;action=edit"&gt;list of fictional robots and androids&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;Seri televisi &lt;a title="BBC Blake's 7" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=BBC_Blake%27s_7&amp;amp;action=edit"&gt;BBC Blake's 7&lt;/a&gt; menonjolkan sejumlah komputer cerdas, termasuk Zen (Blake's 7), kompuer kontrol pesawat bintang Liberator (Blake's 7); Orac, superkomputer lanjut tingkat tinggi dalam kotak perspex portabel yang mempunyai kemampuan memikirkan dan bahkan memprediksikan masa depan; dan Slave, komputer pada pesawat bintang Scorpio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Kecerdasan merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.&lt;br /&gt;Tingkat kecerdasan (Intelegensi) ditentukan oleh bakat bawaan berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya.&lt;br /&gt;Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;· Kemampuan untuk berpikir abstrak.&lt;br /&gt;· Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.&lt;br /&gt;· Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.&lt;br /&gt;Ciri-ciri keberbakatan seseorang adalah : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri.&lt;br /&gt;Anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi.&lt;br /&gt;Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial.&lt;br /&gt;Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak.&lt;br /&gt;Peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.&lt;br /&gt;Delapan Jenis kecerdasan yang meliputi :&lt;br /&gt;· Cerdas bahasa – cerdas dalam mengolah kata&lt;br /&gt;· Cerdas gambar – memiliki imajinasi tinggi&lt;br /&gt;· Cerdas musik – peka terhadap suara dan irama&lt;br /&gt;· Cerdas tubuh – terampil dalam mengolah tubuh dan gerak&lt;br /&gt;· Cerdas matematika dan logika – cerdas dalam sain dan berhitung&lt;br /&gt;· Cerdas sosial – kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan&lt;br /&gt;perasaan orang lain&lt;br /&gt;· Cerdas alam – peka terhadap alam sekitar.&lt;br /&gt;· Cerdas Spiritual - menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta.&lt;br /&gt;Kecerdasan politik berperan penting karena setiap orang menghadapi konflik politik setiap hari dalam kehidupannya. Politik dapat muncul dalam keributan kecil dalam rumah tangga, persaingan antara saudara kandung, kehidupan bertetangga, dan juga di kantor.&lt;br /&gt;Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hai dan budi sehingga ia mampu menjadi pemimpin yang berkarakter dan berwatak positip.&lt;br /&gt;Kecerdasan Buatan didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukkan oleh suatu entitas buatan. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (&lt;a title="Komputer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komputer"&gt;komputer&lt;/a&gt;) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan &lt;a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"&gt;manusia&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Kecerdasan Buatan di dalam pembahasan tersebut di atas mencakup :&lt;br /&gt;· Sejaran kecerdasan buatan&lt;br /&gt;· Faham pemikiran&lt;br /&gt;· Filosofi Kecerdasan buatan&lt;br /&gt;· Fiksi sains&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Saran&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;1. Adakan seminar tentang kecerdasan oleh seorang pakar psikologi sehingga dapat memotivasi baik orangtua maupun guru dalam memberikan bimbingan kepada anaknya.&lt;br /&gt;2. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci utama untuk kesuksesan hidup di masa depan. Maka perlu adanya pembinaan para guru agar bisa agar bisa mencerdaskan putra putrinya terutama pendidikan yang ada di lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· S.C. Utami Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreatifitas Anak Sekolah, PT Gramedia &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Widiasarana, Jakarta, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Depdikbud, Psikologi Pendidikan, Buku IIIA, Materi Dasar Pendidikan, Program Akta &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mengajar V, 1982/1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Munandar, A.S., Kreativitas dan Metodologi, Laporan Penataran Guru Anak Berbakat, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cipanas, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Munandar, S.C.U. (ed.), Bunga Rampai Anak-anak Berbakat, Pembinaan dan Pendidikannya, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rajawali, Jakarta,1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Munandar, S.C.U., Pedemanduan Anak Berbakat, suatu studi penjajakan, Rajawali, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jakarta,1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Semiawan, C., Penembangan Kurikulum Berdeferensiasi, Laporan Penataran Guru Anak &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berbakat, Cipanas, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Munandar, S.C.U.,Psikologi Pendidikan Kapita Selekta, Badan Penerbit Fakultas Psikologi UI, &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jakarata, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· 2004, Balita Cerdas.Com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Webmaster: &lt;a href="mailto:andre.birowo@gmail.com"&gt;andre.birowo@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· http:sepia.blogsome.com/muthahari-career-day-januari-2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-8216533919603205043?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/8216533919603205043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=8216533919603205043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8216533919603205043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/8216533919603205043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/multiple-intelegence-kecerdasan-majemuk.html' title='MULTIPLE INTELEGENCE (KECERDASAN MAJEMUK)'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3bd4GBlKI/AAAAAAAAACg/xSXqtAEaW5k/s72-c/Photo-0179.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-3013275910829814484</id><published>2007-07-18T01:12:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T01:44:47.437-07:00</updated><title type='text'>STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA BERSUMBER DAYA UNGGUL</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3Sv4GBlJI/AAAAAAAAACY/dlgRk1da6Gs/s1600-h/Photo-0241.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088454873951868050" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3Sv4GBlJI/AAAAAAAAACY/dlgRk1da6Gs/s200/Photo-0241.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA YANG&lt;br /&gt;BERSUMBER DAYA UNGGUL&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;(Penyusun : Rengganis S2 Manajemen Pendidikan UNMUL Samarinda)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB I : PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;A. Latar Belakang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarakat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Semakin besar kompleksitas masyarakat akibat pembangunan, semakin kuat hasrat memperoleh pengakuan terhadap kehadiran diri sebagai anggota masyarakat. Apabila masyarakat diberi kebebasan sepenuhnya untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan aspirasinya secara mandiri, maka timbullah kekuatan besar dalam masyarakat untuk membangun. Karena itu, kebebasan masyarakat untuk mengaktulisasikan diri dan mewujudkan aspirasinya merupakan prasarat pokok bagi perkembangan masyarakat maju. (Dephankam, 1999).&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).&lt;br /&gt;Kecenderungan perkembangan lingkungan di masa mendatang perlu dianalisis secara mantap, tepat dan cepat, pengaruh lingkungan tersebut dapat menimbulkan tantangan dan kendala, akan tetapi sekaligus dapat dimanfaatkan juga sebagai peluang. Oleh karena globalisasi sarat dengan perubahan yang cepat dan radikal diberbagai aspek kehidupan manusia, maka untuk menjaga dan memelihara human survival globalisasi perlu dikendalikan dan dimanfaatkan, karena manusia sebagai pencipta globalisasi yang harus dikendalikannya.&lt;br /&gt;Bertolak dari pemikiran di atas, upaya untuk menciptakan manusia yang bersumber daya unggul diperlukan prasarat utama yaitu terciptanya kualitas sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta taqwa kepada Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Permasalahan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Letak Geografis Indonesia pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudra, bahkan terbuka bagi perkembangan ASEAN dan kawasan pasifik, sangat memungkinkan menjadi ajang dalam kegiatan perekonomian, perkembangan sosial budaya, hankam, dan perkembangan teknologi, sehingga dituntut untuk dapat menampung dan berperan serta di dalam berbagai kegiatannya. Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebhinnekaan tersebut.&lt;br /&gt;Pemberdayaan masyarakat akhir-akhir ini di Indonesia berkembang pandangan yang kuat untuk menempatkan rakyat atau masyarakat sebagai pelaku utama (aktor, subjek) pembangunan, tidak hanya sekedar sebagai objek pembangunan. Gagasan tersebut berkembang terutama sebagai reaksi terhadap munculnya ketidakmerataan hasil-hasil pembangunan yang terlampau menekankan pada pertumbuhan (growth centered).&lt;br /&gt;Resultante terhadap teori pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan growth centered melahirkan teori pembangunan yang menekankan pada rakyat atau masyarakat sebagai titik tumpu keberlangsungan pembangunan. Teori ini dikenal sebagai people centered development. Arah yang dituju adalah paradigma pemerataan dan keahlian sosial. Dari kedua pandangan tersebut, pada saat ini dikembangkan pemikiran yang mempertemukan keduanya ke dalam wujud konsep “redistribution with growth” sebagaimana tercermin dalam Trilogi Pembangunan yang memadukan pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas sebagai kunci keberhasilan pembangunan.&lt;br /&gt;Pemberdayaan masyarakat merupakan sebagai konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat “people centered, participatory, empowering and sustainable.” (Chambers, 1983).&lt;br /&gt;Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic need), dan berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa yang antara lain oleh Friendmann (1992) disebut alternative development, yang menghendaki “inclusive democracy, appropriate economic growth, gender equality, and inter generational equity.” Konsep ini tidak mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan karena harus diasumsikan sebagai incompetible or antithetical.”&lt;br /&gt;Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat.&lt;br /&gt;Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, dan bertanggung jawab adalah bagian pokok dari uapaya pemberdayaan ini (Djudju Sudjana, 1993). Kondisi inilah yang merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan kemasa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Tujuan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dikembangkan dengan tujuan sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1) Mengungkapkan dasar pemikiran pentingnya pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.&lt;br /&gt;(2) Mengidentifikasi kondisi dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.&lt;br /&gt;(3) Mengajukan alternatif strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB II : PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh lingkungan strategi, baik dalam tinjauan global, regional dan pengaruh nasional terhadap pertumbuhan dan perubahan pembangunan suatu bangsa, menunjukan bahwa pembinaan kualitas sumber daya manusia merupakan pangkal tolak untuk mencapai keberhasilan pembangunan, seperti diungkapkan oleh Santoso S. Hamijoyo (1967) bahwa pembangunan masyarakat merupakan usaha ke arah dinamisasi dan pencerdasan masyarakat dengan tujuan mempertinggi daya pikir dan daya kerja rakyat melalui bentuk dan prosedur kooperatif yang berswadaya.&lt;br /&gt;Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul dapat disampaikan sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1) Strategi Pemberdayaan Masyarakat&lt;br /&gt;Dalam memberdayakan masyarakat terdapat tiga hal penting yang perlu dipahami bersama, yaitu:&lt;br /&gt;(a) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat yang berkembang.&lt;br /&gt;(b) Memperkuat potensi atau pemberdayaan (empowering) masyarakat.&lt;br /&gt;(c) Memberdayakan mengandung pula pengertian melindungi. Artinya dalam&lt;br /&gt;proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah.&lt;br /&gt;Ketiga strategi pemberdayaan masyarakat di atas bermuara pada tiga langkah, yaitu:&lt;br /&gt;(a) Secara konkret pemberdayaan masyarakat diupayakan melalui pembanguan ekonomi rakyat.&lt;br /&gt;(b) Pemberdayaan masyarakat diarahkan pada terwujudnya transfomasi struktur sosial secara bertahap.&lt;br /&gt;(c) Pengembangan kelembagaan, melalui pemberdayaan masyarakat, harus diupayakan adanya pengembangan kelembagaan (institusional development). Dalam konteks ini perlu dilakukan revitalisasi organiasis masyarakat bahkan perlu diupayakan reformasi dan transfomasi organisasi masyarakat tersebut, sehingga keberadaannya benar-benar dapat menjadi peluang yang terbuka bagi seluruh anggota masyarakat untuk ikut serta dalam proses pembangunan.&lt;br /&gt;Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat untuk maju dan mandiri:&lt;br /&gt;(a) Prinsip keberpihakan (mengutamakan yang terabaikan); dalam proses pembangunan kerap kali sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat.&lt;br /&gt;(b) Prinsip penguatan (empowering) masyarakat, dalam konteks ini terkandung pengertian bahwa masyarakat memiliki akses (peluang kesempatan) dan kontrol terhadap berbagai keadan yang terjadi dalam kehidupan sekitarnya.&lt;br /&gt;(c) Prinsip masyarakat sebagai pelaku dan orang luar sebagai fasilitator dan bukan guru.&lt;br /&gt;(d) Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan; diawali dari adanya pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisonal masyarakat.&lt;br /&gt;(e) Prinsip informal, upaya pemberdayaan masyarakat bersifat luwes, terbuka dan tidak memaksa. Dengan prinsip ini akan timbul hubungan yang akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota komunitas, bukan sebagai tamu asing.&lt;br /&gt;(f) Prinsip mengoptimalkan hasil informasi kepada masyarakat, artinya dalam mengumpulkan informasi tentang suatu komunitas, orang luar harus juga menyerap pendapat masyarakat tentang informasi yang menurut masyarakat itu lebih penting daripada yang dirumuskan orang luar.&lt;br /&gt;(g) Prinsip oriental praktis, yaitu pengembangan kegiatan bersama yang diarahkan pada pemecahan masalah komunitas dan meningkatkan kehidupan bersama.&lt;br /&gt;(h) Prinsip keberlanjutan dan selang waktu; kepentingan dan masalah masyarakat terus berkembang, bergeser menulis waktu sesuai dengan perubahan yang dialami oleh masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;(i) Prinsip belajar dari kesalahan; dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah sesuatu yang wajar.&lt;br /&gt;(j) Prinsip terbuka (transparancy); setiap kegiatan harus terbuka, baik informasi, sumber dana, maupun pengelolaannya sehingga masyarakat ikut bertanggung jawab atas kegagalan dan ikut menikmati atas keberhasilan.&lt;br /&gt;(2) Strategi Keterpaduan Penyelenggaraan Pendidikan&lt;br /&gt;(a) Sistem Pendidikan Nasional secara terbuka memberi peluang pada setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Permasalahan yang masih dirasakan di dalam melaksakan empat kebijaksanaan Pendidikan Nasional adalah sebagai berkut.&lt;br /&gt;(1) Pemerataan Kesempatan.&lt;br /&gt;Dalam pemerataan kesempatan terkandung tiga arti yaitu (1) Persamaan kesempatan (equality of opprtunity), (2) Aksesibilitas, dan (3) Keadilan atau kewajaran (equity).&lt;br /&gt;(2) Relevansi Pendidikan&lt;br /&gt;Relevansi mengandung makna pendidikan harus menyentuh kebutuhan yang cakupannya sangat luas. Kebijaksanaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan salah satu kebijakan yang mengarah pada relevansi pendidikan.&lt;br /&gt;(3) Kualitas (mutu) Pendidikan&lt;br /&gt;Kualitas ini mengacu pada proses dan kualitas produk. Peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan diharapkan akan tercapai tahapan proses belajar yang terus meningkat berkelajutan seperti ditegaskan UNESCO (1972) yang menekankan pentingnya pendidikan yang ditopang empat pilar (learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together).&lt;br /&gt;(4) Efisiensi Pendidikan&lt;br /&gt;Upaya pendidikan menjadi efisien jika hasil yang dicapai maksimal dengan biaya yang wajar. Tidak ada pendidikan yang efisien tanpa ada effectiveness. Upaya semaksimal mungkin untuk menekan biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh masyarakat dengan penghematan.&lt;br /&gt;(b) Keterpaduan penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu pembinaan peserta didik untuk menjadi manusia yang berkualitas.&lt;br /&gt;Di dalam proses keterpaduan itu akan terjadi interaksi eksternal. Tingkat-tingkat interaksi itu sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gillette dan Mc Collom (1990) bahwa dalam tujuan organisasi terdapat lima tingkat interaksi, yaitu: intrapersonal level, interpersonal level, group level, intergoup level, dan interorganizational level.&lt;br /&gt;Pada saat interaksi itu pula telah terjadi proses pemberdayaan pendidikan (empowering process) yang merupakan proses pematangan untuk lebih memahami fokus dirinya, memahami peluang yang dapat dimafaatkan di lingkungannya, sehingga mereka bisa hidup mandiri dan menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat dan bangsanya.&lt;br /&gt;Strategi pendekatan dalam rangka menciptakan empowering mencakup:&lt;br /&gt;(1) Need Oriented; artinya sasaran didik akan benar-benar sebagai subjek aktif bila didasari pada azas kebutuhan, baik berupa kebutuhan hidup manusia seperti yang dipilah-pilah Maslow (1970).&lt;br /&gt;(2) Endogenous; artinya ada kesepakatan terhadap apa-apa yang ada di lingkungan atau masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;(3) Self-Reliant; artinya pendekatan yang menitikberatkan terciptanya rasa percaya diri dan sikap mandiri. Roger (1983) cenderung menekankan pada prinsip-prinsip penentuan arah sendiri.&lt;br /&gt;(4) Ecological sound; yaitu pendekatan yang memperhatikan dan tidak meninggalkan aspek lingkungan.&lt;br /&gt;(5) Based on structural transformation; yaitu pendekatan yang berorientasi pada perubahan struktur atau sistem yang terjadi di lingkungannya.&lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang harus diperhatikan dalam memantapkan langkah-langkah pendekatan pemberdayaan ini, yaitu:&lt;br /&gt;1) Community organization; yang dilakukan dengan cara mengorganisir kelompok di masyarakat.&lt;br /&gt;2) Worker sef-management and collaboration; yang bertujuan untuk menyamaratakan atau membagi atau kewewenangan dalam gabungan kerja.&lt;br /&gt;3) Participatory approach; yang dimaksudkan agar bisa dan mampu mengendalikan sifat dan arah perubahan hidupnya.&lt;br /&gt;4) Education for justice; yang bertujuan membantu masyarakat untuk menjadi sadar akan ketidakadilan dan mampu menghadapi sesuatu ketidakadilan.&lt;br /&gt;(3) Keterpaduan Pembinaan Iptek dan Imtaq&lt;br /&gt;(a) Ilmu Pengetahuan dan teknologi&lt;br /&gt;1) Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemampuannya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menerapkan industrialisasi dalam kehidupan ekonominya. Industrialisasi itu sendiri berintikan Iptek, sedangkan teknologi merupakan ilmu yang diterapkan dalam menunjang proses kehidupan sehari-hari. Penerapan teknologi tersebut hanya dapat dilakukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas.&lt;br /&gt;2) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk meningkatkan tarap hidup bangsa dengan jalan peningkatan nilai tambah sumber daya manusia. Sebagai negara yang sedang berkembang, pembangunan Indonesia diarahkan menuju suatu negara industri. Dalam pencapaian tujuan tersebut oleh Menristek dikemukan empat tahapan transformasi teknologi, yaitu (i) Pemanfaatan teknologi yang sudah ada, (ii) Integrasi teknologi untuk memproduksi barang-barang baru dengan cara menciptakan desain baru, (iii) Inovasi dan pengembangan teknologi baru dengan menciptakan teknologi tahap sebelumnya, dan (iv) Penelitian ilmu-ilmu dasar.&lt;br /&gt;3) Iptek akan menjadi unsur dinamis dan mempunyai peranan yang semakin intensif dan ekstensif dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Upaya untuk mengoptimalkan peranan Iptek menuntut perhatian yang sungguh-sungguh terhadap empat agenda strategi berikut ini:&lt;br /&gt;(a) Kualitas sumber daya manusia perlu ditingkatkan, khususnya dalam menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;(b) Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki memerlukan pemanfaatan dan pengelolaan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa.&lt;br /&gt;(c) Penyebaran pemerataan kegiatan pembangunan sampai ke kepulauan dan daerah terpencil, sehingga memberikan manfaat yang merata pada seluruh rakyat.&lt;br /&gt;(d) Globalisasi di bidang ekonomi sebagai akibat dari perkembangan di bidang komunikasi, transpormasi dan teknologi produksi menuntut antisipasi melalui upaya meningkatkan daya saing produk industri dan jasa terhadap negara-negara lain. Upaya mewujudkan keempat agenda strategi tersebut memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai karakteristik yang melekat pada teknologi. Karakteristik itu meliputi: (1) irama perkembangan dan inovasi teknologi yang semakin cepat, (2) terciptanya mekanisme penemuan baru, (3) sinergi antara berbagai disiplin ilmu dan teknologi, dan (4) pendekatan multidisipliner dalam penerapan iptek.&lt;br /&gt;(e) Di samping melalui jalur pendidikan sekolah, ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dibudayakan dalam masyarakat. Pembudayaan ini dimaksudkan agar mereka menjadi masyarakat yang melek Iptek, yaitu masyarakat yang menyadari bahwa Iptek merupakan uapaya rasional untuk memahami alam sekitar mampu berkomunikasi dengan bahasa Iptek, dan mampu mengapresiasikan kebijakan dan isu-isu di bidang Iptek. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa mereka yang buta Iptek adalah orang-orang asing di tengah kebudayaan sendiri.&lt;br /&gt;(a) Fungsi Iman dan Taqwa&lt;br /&gt;Tujuan Diknas adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan (Depdikbud, 1989). Dengan demikian, iman dan taqwa akan mejiwai sekaligus menjadi perekat dalam membina kualitas sumber daya manusia yang berwawasan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan agama.&lt;br /&gt;Manusia agamis, sesuai dengan tuntutan ajaran agamanya, adalah sosok pribadi yang memiliki solidaritas sosial tinggi, pikiran dan perilakunya berjiwa demokratis, berbuat kebajikan dan kesalihan, santun berbudi pekerti luhur penuh kedamaian, disiplin waktu dan beribadah yang keseluruhannya itu dilandasi iman dan taqwa. Indikator sosok pribadi tersebut adalah selaras dengan kandungan isi tujuan Diknas. Oleh sebab itu, keterpaduan Iptek dan Imtaq dalam mewujudkan manusia seutuhnya dalam arti manusia yang bersumber daya unggul, telah terintegrasikan, baik konsepsi maupun operasionalisasinya. Yang penting diperhatikan dalam era reformasi ini adalah keterpaduan konsep dengan pelaksanaannya, keterpaduan sikap dan perilaku, keterpaduan niat dan ucapan dengan perbuatan, dan didalam menghadapi setiap perkembangan dinamika pembangunan selalu berkiprah mempertahankan dan memelihara kebiasaan lama yang baik dan mengambil pemikiran yang baru yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAB III : PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Simpulan&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarkat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena dengan bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah, adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebinekaan tersebut.&lt;br /&gt;Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, bertanggung jawab adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Kondisi ini merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan ke masa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.&lt;br /&gt;Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul, maka tipe manusia yang ideal yang diharapkan: strategi pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, prinsip dasar dan langkah-langkah pemberdayaan masyarakat, strategi pemberdayaan masyarakat yang meliputi kebijaksanaan pendidikan nasional dan keterpaduan pelaksanaan/operasional dan strategi keterpaduan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan iman dan taqwa (Imtaq).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;B. Saran&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemandirian merupakan salah satu indikasi dan kriteria manusia unggul, namun demikian kemandirian tidak bisa dibentuk dalam waktu dan lingkungan tertentu yang bersifat parsial, untuk itu perlu ada penataan sistem pendidikan secara utuh dan integral, dalam bentuk program yang lebih realistik dalam membentuk kemandirian.&lt;br /&gt;(1) Pengembangan sumber daya manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai kendala atau permasalahan, namun demikian sering permasalahan tersebut hanya dapat diidentifikasi gejalanya saja, sehingga alternatif yang diajukan kurang menyentuh akar permasalahannya. Untuk itu, perlu dirumuskan suatu formula dan format yang tepat dalam mengidentifikasi permasalahan/kendala tersebut.&lt;br /&gt;(2) Beberapa strategi dalam menciptakan manusia yang bersumber daya unggul ini merupakan konsep yang masih bersifat alternatif, penerapannya perlu modifikasi disesuaikan dengan karakteristik sasaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;· Chambers. Robert. 1983. Rural Development: Putting The Last First. New York: Longman.&lt;br /&gt;· Dephankam. 1999. Pembinaan Mahasiswa Dalam Rangka Kaderisasi Kepemimpinan Nasional,&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lemhanas.&lt;br /&gt;· Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI. 1989. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depdikbud.&lt;br /&gt;· Friendmann. 1992.Empowement: The Politic Of Alternative Development, Cambridge Mass: &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Blackwell Publisher.&lt;br /&gt;· Gillette, Jonathan &amp;amp; Mc Collom, Marion, Group In Context. 1990. A New Perspective On &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Group Dynamics, New Haven : Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New Haven.&lt;br /&gt;· Maslow, Abraham H.1970, Motivation And Personality, New York : Harper And Row &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Publishers.&lt;br /&gt;· Rogers, Everett M.1983. Diffusion of Inovation, London : MacMillan Pub.&lt;br /&gt;· Sudjana D.1993. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif Dalam pendidikan Luar &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sekolah, Bandung : Nusantara Press&lt;br /&gt;· Santoso S. Hamijoyo. 1967. Inovasi Pendidikan, IKIP Bandung.&lt;br /&gt;· unesco. 1972. Learning To Be: The World Of Education Today And Tomorrow, Unesco And &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Harrap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8312871012598400369-3013275910829814484?l=renggani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://renggani.blogspot.com/feeds/3013275910829814484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8312871012598400369&amp;postID=3013275910829814484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/3013275910829814484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8312871012598400369/posts/default/3013275910829814484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://renggani.blogspot.com/2007/07/strategi-menciptakan-manusia-bersumber.html' title='STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA BERSUMBER DAYA UNGGUL'/><author><name>rengganis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13817217733462232902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-dKB2TIHbslY/TgrMIH3XkmI/AAAAAAAAAIE/96KOkU_igmY/s220/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/Rp3Sv4GBlJI/AAAAAAAAACY/dlgRk1da6Gs/s72-c/Photo-0241.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8312871012598400369.post-6010729625515657667</id><published>2007-07-16T05:25:00.001-07:00</published><updated>2007-07-16T06:21:53.378-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH : PERANAN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RptwaYGBlII/AAAAAAAAACQ/sc86JhlNpYU/s1600-h/Photo-0174.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5087783802491737218" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Uy3zqnQ2NJo/RptwaYGBlII/AAAAAAAAACQ/sc86JhlNpYU/s200/Photo-0174.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PERANAN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH UNTUK MEWUJUDKAN KNOWLEDGE BASED SOCIETY&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Pilar Utama Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;UNESCO (1996) menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu:&lt;br /&gt;Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know)&lt;br /&gt;Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do)&lt;br /&gt;Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together)&lt;br /&gt;Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).&lt;br /&gt;Guna merealisir learning to know, dosen seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu dosen dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan mahasiswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Learning to do akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi mahasiswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat mahasiswa dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (aptitude test). Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Dewasa ini, keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk itu pembinaan terhadap keterampilan anak perlu mendapat perhatian serius.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fungsi sekolah adalah tempat bersosialisasi, tatanan kehidupan, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif peran dosen sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri mahasiswa secara maksimal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Keempat pilar akan berjalan dengan baik jika diwarnai dengan pengembangan keberagamaan. Nilai-nilai keberagamaan sangat dibutuhkan bagi setiap warganegara Indonesia dalam menapaki kehidupan di dunia ini. Pengintegrasian nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkan/dipelajari mahasiswa akan lebih efektif dalam pembentukan pribadi anak yang ber-Ketuhahan Yang Maha Esa daripada diajarkan secara monolitik yang penuh dengan konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Masyarakat Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based Society)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Pada saat dunia memasuki milenium ketiga, semua bangsa maju sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan prasyarat untuk meraih kemakmuran (prosperity) dalam kancah pergaulan antarbangsa. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika para ilmuwan sejagat sekarang tengah berlomba-lomba melakukan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan untuk meningkatkan korpus pengetahuan (Zuhal, 2000). Hasil semua ini diharapkan dapat dijadikan modal untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Knowledge akan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa, yang akan ditentukan oleh cara bagaimana suatu masyarakat mampu mewujudkan knowledge sebagai landasan sistem perekonomian dan industrinya.&lt;br /&gt;Zuhal (2000) menjelaskan prasyarat apa yang perlu dipenuhi untuk membangun suatu masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Paling tidak diperlukan lima elemen dasar yaitu penataan masyarakat, kewiraswastaan, pembentukan knowledge, keterampilan (skill) dan pengelolaan sumber daya alam lingkungan. Dalam upaya pembentukan knowledge dan keterampilan itulah, partisipasi dunia pendidikan tinggi diharapkan memainkan peranan penting.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Pendidikan Jarak Jauh&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan jarak jauh (distance education) telah diperkenalkan oleh banyak peneliti, misalnya Keegan (1980); Perry dan Rumble (1987). Karakteristik utama pendidikan jarak jauh adalah sebagai berikut a) pemisahan dosen dan mahasiswa selama proses belajar mengajar; b) penggunaan media pendidikan (cetak, audio, vidio, dan komputer) untuk menyatukan dosen dan mahasiswa; c) peranan penting organisasi pendidikan dalam perencanaan, persiapan bahan belajar dan penyediaan pelayanan mahasiswa; d) tersedianya komunikasi dua arah sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan berkomunikasi; e) tidak adanya proses belajar kelompok secara klasik; f) adanya bentuk industrialisasi pendidikan, dan g) individualisasi proses belajar (belajar mandiri).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Kualitas PTJJ &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak berkembang sinyalemen di masyarakat bahwa PTJJ dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mukhopadhjay (1988) memperlihatkan penyebabnya adalah kurang tajam perumusan visi dan misi PTJJ dan masih dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang tidak tertampung di perguruan tinggi tatap muka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lain yang terasa mengusik pelaku PTJJ adalah tuduhan rendahnya mutu lulusan institusi pendidikan jarak jauh jika dibandingkan dengan pendidikan tatap muka. Keraguan akan kualitas lulusan PTJJ masih tetap muncul karena penambahan jumlah mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan penurunan mutu (Suparman, 1989). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di Australia, hasil studi Selim (1989) dalam Suparman (1989) menyatakan bahwa prestasi mahasiswa pendidikan jarak jauh justru lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa perguruan tinggi konvensional. Sunarwan (1982) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan prestasi belajar siswa yang terlibat pendidikan menggunakan modul dan pengajaran tatap muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;II. PEMBAHASAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;A. Pengalaman UT Sebagai Penyelenggara Pendidikan Tinggi Jarak Jauh di &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Indonesia &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan Pendirian &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Upaya pemerintah dalam mengembangkan PTJJ diawali dengan didirikannya Universitas Terbuka (UT) sebagai PTN ke-45 di Indonesia dan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun 1984. Pendirian UT pada mulanya ditujukan untuk: (1) Memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara Indonesia di mana pun tempat tinggalnya untuk memperoleh pendidikan tinggi; 2) Menampung lulusan SMU yang tidak tertampung di PTN (daya tampung kecil) dan PTS (biaya tinggi); (3) Mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi bagi mereka yang karena pekerjaan atau alasan lain tidak dapat melanjutkan belajar di perguruan tinggi tatap muka, serta (4) mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata pembangunan, yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran UT ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Pada registrasi pertama tahun 1984 telah mendaftar sebanyak 270.000 pelamar. Dari jumlah tersebut 60.000 akhirnya diterima sebagai mahasiswa UT, suatu jumlah yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan sebuah PTN tatap muka unggul di Indonesia. Pada awal Maret 2001 tidak kurang 350.000 orang tercatat sebagai mahasiswa UT dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan, sosial ekonomi, usia, pekerjaan dan tersebar luas di seluruh pelosok negeri (dari dalam negeri sampai luar negeri). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Daya tampung UT yang sangat besar dimungkinkan karena daya jangkau media yang digunakan sangat luas dan mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Televisi dan radio dapat disiarkan secara nasional dan bahan ajar cetak (modul) dapat dikirimkan kepada mahasiswa melalui pos ke seluruh pelosok negeri dan mahasiswa dapat mempelajarinya kapan saja sesuai waktu mereka yang tersedia dan di mana saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan, UT telah berjasa dalam memecahkan problem SDM. Sebagai contoh, di akhir Pelita IV jumlah lulusan SMU mencapai 1,1 juta sedangkan yang tertampung oleh perguruan tinggi yang ada hanya 600.000 orang. Hal-hal tersebut menyebabkan pemerintah mempertimbangkan berdirinya UT, karena mempunyai keunggulan dalam daya tampung besar, tenaga dosen sedikit dan biaya yang relatif murah baik bagi pemerintah maupun mahasiswa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan latar belakang pendirian UT, maka program studi yang ditawarkan terdiri dari program studi kependidikan yang bernaung di bawah FKIP dan program studi non kependidikan yang bernaung di bawah tiga fakultas : FMIPA, FEKON dan FISIP. Strata pendidikan yang dikelola UT sampai saat ini adalah: Diploma II, Diploma III, Strata I dan sertifikat nongelar (Katalog UT, 2000).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Sistem Belajar Mengajar &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;UT menerapkan sistem belajar "jarak jauh" dan "terbuka." Istilah "jarak jauh" berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun noncetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna "terbuka" adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, berapa kali mahasiswa mengikuti ujian dan sebagainya. Batasan yang ada hanyalah setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah (SMU atau yang sederajat).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Cara Belajar&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri, yaitu cara belajar yang menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa sendiri dalam memahami bahan ajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan keterampilan dan menerapkan pengalaman di lapangan. Selain belajar mandiri (dengan inisiatif dan motivasi yang berasal dari diri sendiri), belajar mandiri juga dapat dilakukan dalam kelompok, mengikuti tutorial, baik tatap muka maupun melalui media, memanfaatkan perpustakaan, mengikuti siaran radio dan televisi serta menggunakan sumber belajar lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Penyelenggaran Pendidikan &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Dalam penyelenggaraan pendidikan, UT bekerjasama dengan semua perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia. Pada setiap kota PTN tersedia unit layanan UT yang disebut Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ). PTN tersebut berperan sebagai pembina UPBJJ serta membantu dalam penulisan bahan ajar, tutorial, praktikum dan ujian.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;UT memiliki dua kategori program pendidikan yakni program reguler dan program nonreguler. Program reguler dapat diikuti oleh masyarakat umum, sedangkan program nonreguler merupakan program yang
