Sabtu, 21 Juli 2007

GURU DAN MEDIA PEMBELAJARAN


(Disusun Oleh: Renggani)


A. PENDAHULUAN
Guru dan media

Dahulu ada anggapan bahwa guru adalah orang yang paling tahu. Paradigma itu kemudian berkembang menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar kita. Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, di mana siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari media masa seperti surat kabar, televisi, bahkan internet. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini? Ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, yaitu tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri.

Kelompok pertama yaitu mereka yang tidak peduli. Seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi guru tidak akan tergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran tetap diperlukan sentuhan manusiawi. Teknologi tidak bisa menggantikan manusia. Bagaimanapun teknologi berkembang, guru adalah guru, harus digugu dan ditiru. Benar bahwa media tidak dapat menggantikan guru, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan, bukanlah sikap yang tepat. Walau bagaimana, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas guru semakin meningkat. Kita tidak bisa tak peduli.

Kelompok kedua adalah yang menunggu petunjuk. Kelompok inilah yang paling banyak ditemukan. Mungkin ini akibat dari kebijakan selama ini, di mana guru dalam system pendidikan nasional hanya dianggap sebagai “tukang” melaksanakan kurikulum yang demikian rinci dan kaku. Kurikulum yang sangat lengkap dengan berbagai petunjuk pelaksanaannya, sehingga guru tinggal melaksanakan, tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku.

Sejalan dengan perubahan kurikulum dan otonomi pendidikan, bukan lagi masanya bagi guru untuk selalu menunggu petunjuk. Guru adalah tenaga profesional, bukan tukang. Oleh karena itu, sikap yang tepat untuk kita adalah cepat menyesuaikan diri. Guru perlu segera mereposisi perannya. Pada saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar. Ada banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai dari dirinya.

B. PEMBAHASAN
1. Mengapa Perlu Media?
Pernahkah anda menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada murid anda? Misalnya, anda ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal. Atau anda ingin menjelaskan tentang kereta api kepada murid anda yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Atau anda ingin menjelaskan tentang apa itu pasar terapung. Ada beberapa cara yang mungkin anda lakukan.

- Cara pertama, anda akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar terapung. Anda bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid anda tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya anda menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau anda seorang yang ahli bercerita, tentu cerita anda akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi.

- Cara kedua, anda membawa murid studi wisata melihat objek itu. Cara ini merupakan yang paling efektif dibandingkan dengan cara lainnya. Namun berapa biaya yang harus ditanggung, dan berapa lama waktu diperlukan? Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu.

- Cara ketiga, anda membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu anda dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan andapun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang anda sampaikan menjadi konsisten.

Ketiga cara di atas dapat kita sebutkan cara pertama sebagai informasi verbal, cara kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan. Media kita perlukan agar pembelajaran lebih efektif dan efisien.

2. Mengapa Guru tidak menggunakan Media ?
Masalahnya, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Berdasarkan pengalaman dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu;

- Pertama, menggunakan media itu repot.
Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP atau video. Perlu listrik lagi. Guru sudah repot dengan menulis persiapan mengajar. Jadwal padat, urusan di rumah dan lain-lain. Boro-boro sempat memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan para guru. Padahal kalau sedikit saja mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan hilang. Pikirkanlah bahwa dengan sedikit repot, tapi mendapatkan hasil optimal. Media juga relatif awet, sekali menyiapkan dapat dipakai beberapa kali sajian. Selanjutnya tidak repot lagi.

- Kedua, media itu canggih dan mahal.
Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun terletak pada efektivitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audio visual atau multimedia, itu cost-nya akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh lebih banyak siswa.

- Ketiga, tidak bisa.
Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kesetrum, takut salah pijit. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah dengan takut rusak, sehingga media audio visual sejak beli baru tetap tersimpan rapih di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media itu mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.

- Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius.
Alasan ini jarang ditemui, namun ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu sesuatu yang serius. Belajar harus mengerutkan dahi. Media itu identik dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang jaman dulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita. Kalau bisa dilakukan dengan mudah, mengapa harus menyusahkan diri?


- Kelima, tidak tersedia.
Tidak tersedia media di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif. Seperti telah disebutkan di atas, media tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Namun demikian, dalam hal ini pimpinan sekolah juga hendaklah cepat tanggap. Jangan biarkan suasana kelas itu gersang, hanya ada papan tulis dan kapur.

- Keenam, kebiasaan menikmati bicara.
Berbicara itu memang nikmat. Ini kebiasaan yang sulit diubah. Seorang guru cenderung mengikuti cara gurunya dahulu. Mengajar dengan mengandalkan verbal lebih mudah, tidak memerlukan persiapan yang banyak, jadi lebih enak untuk guru. Namun yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran adalah kepentingan murid yang belajar, bukan kepuasan guru semata.


3. Apa Pertimbangan Dalam Memilih Media Pembelajaran?
Ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat. Untuk lebih mudah memngingatnya, pertimbangan tersebut dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari; access, cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.

- Access.
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus memperoleh akses

- Cost.
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek menfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.

- Technology.
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?

- Interactivity.
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.

- Organization.
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya. Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber belajar?

- Novelty.
Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.


C. PENUTUP
Tidak diragukan lagi kita semua dapat sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada yang belum menggunakan media, itu hanya perlu sedikit perubahan sikap.
Dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing.


DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi & Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, KAIFA Bandung, 1999.
Kemp, Jerrold E, Designing effective Instruction, MacMillan Publisher, New York, 1994.
Molenda, Heinich Russell, Instructional Media and The New Technology of Instruction, John Wiley & Son, Canada, 1982.
Sadiman Arief, Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan, Rajawali , Jakarta, 1990.
Wen, Sayling, Future of The Media, Memahami Zaman Teknologi Informasi, Lucky Publisher, Batam Centre, 2003.

&&&&&&&&&&&&&

PEPER PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DAN JARINGAN


(Penyusun Renggani)

I.PENDAHULUAN


Di era informasi saat ini teori belajar modern melihat pembelajaran sebagai pencarian seseorang akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi. Para siswa akan berinteraksi dengan work station dengan berbagai cara berdasarkan sifat dari tugas dan gaya pembelajaran yang lebih disukai yang berbeda untuk setiap individu.

Konteks pembelajaran seharusnya meliputi: (1) kerja mandiri dan berinteraksi dengan materi pembelajaran, (2) bekerja secara kolaborasi dengan teman pada tempat yang berlainan, baik secara serempak atau tidak, di mana kedua cara ini mungkin akan menjadi multi-media, (3) siswa magang kerja dan berinteraksi dengan para pekerja yang lebih berpengalaman, supervisor, atau instruktur, (4) sebagai instruktur, supervisor atau kolega yang lebih pengalaman untuk kolega-kolega lain yang kurang berpengalaman.

Seseorang mungkin akan mampu mamainkan peran-peran dalam satu hari kerja. Para siswa juga memerlukan belajar dari rumah, tempat kerja atau ketika berada di kendaraan umum, mereka akan membutuhkan: (1) akses ke internet (searching, downloading), (2) pemilihan, penyimpanan dan mengedit kembali informasi, (3) komunikasi langsung dengan instruktur, kolega-kolega dan pelajar-pelajar lain, (4) penyatuan bahan yang diakses ke dalam dokumen kerja, (5) membagi dan manipulasi informasi/dokumen atau proyek-proyek dengan orang lain.

Untuk menjawab semua permsalahan dan model-model pembelajaran di era informasi, makalah ini akan membahas mengenai: 1) pembelajaran orang dewasa di abad 21, 2) multi-media pendidikan dalam sebuah jaringan masyarakat, dan 3) prinsip-prinsip pedagogi dan pembelajaran on-line yang efektif antar budaya.

II. PEMBAHASAN

1. Pembelajaran Orang Dewasa Abad 21

Dalam pembelajaran orang dewasa telah terjadi perubahan yang cepat khususnya dalam pengembangan metode-metode pengajaran dan pengantaraan termasuk di dalamnya pemanfaatan teknologi jaringan komputer kecepatan tinggi.

Menurut David Putman (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.

Dalam waktu 10 tahun ke depan kita akan menyaksikan perkembangan teknologi-teknologi penting seperti : (1) integrasi komputer, televisi, dan telekomunikasi melalui teknik-teknik dijitisasi/kompresi, (2) mengurangi biaya dan pemakaian yang lebih fleksibel akan telekomunikasi melalui perkembangan seperti: ISDN (Integrated Service Digital Network), Fiber Optics atau Radio Selular, (3) daya pemrosesan data yang makin cepat melalui perkembangan micro-chip baru dan teknik software yang sudah maju.

Sehubungan dengan kemajuan tersebut, maka Teknologi Pendidikan terlebih dahulu harus di gerakkan pada visi tentang pendidikan dan pelatihan di abad 21. Visi tersebut harus memperhitungkan potensial teknologi, tetapi tidak digerakkan semata-mata oleh apa yang mungkin secara teknologi, lebih tepat apa yang dapat kita lakukan bukan apa yang kita ingin lakukan. Stenor (gabungan perusahaan telepon Canada) mengumumkan $8 milyard, inisiatif 10 tahun, disebut BEACON yang akan memberikan pelayanan multi-media broadband hingga 80% - 90% dari semua rumah dan usaha di Canada pada tahun 2004.

Dampak sosial dan pendidikan dari bertemunya media dan teknologi (convergence) dengan kecepatan tinggi akan menjadi revolusioner dan sangat menantang bagi institusi-institusi pendidikan yang sudah mapan. Tahun 1993, 70% dari semua pekerjaan di Amerika Serikat berada di industri-industri jasa dengan kecendrungan terus berlanjut. Pendapatan tahun perusahaan Microsoft lebih besar daripada pendapatan gabungan Sony dan Honda, tetapi mempekerjakan 100 kali lebih sedikit tenaga kerja.

Berkaitan dengan kecakapan yang harus dimiliki oleh tenaga kerja menurut Dewan Konferensi Kanada (1991) di abad 21 meliputi: (1) cakap berkomunikasi (reading, writing, speaking, listening), (2) mampu belajar mandiri, (3) cakap sosial: etika, sikap positif, dan tanggung jawab, (4) kerjasama tim, (5) mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berkembang, (6) cakap berpikir: pemecahan ,masalah, kritis, logis menurut urutan angka, dan (7) pengetahuan navigasi: dimana mendapatkan, cara memproses informasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka pembelajaran di abad 21 seharusnya menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi.

2. Multimedia Pendidikan dalam Networked Society

Institusi pendidikan “elektronik” dibangun untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pembelajaran abad 21 dengan peranan sebagai berikut: (1) memberi informasi tentang kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan pelatihan dan peluang-peluang, (2) memberi pengawasan kualitas, (3) memberi akreditasi melalui penilaian belajar yang independen, (4) mengembangkan kurikulum yang koheren dan tepat, (5) menjadi broker dan mensyahkan kursus-kursus dan bahan-bahan pendidikan dan pelatihan dari pemasok, (6) memberi pelayanan penggunaan dan komunikasi bahan-bahan pembelajaran multimedia yang user-friendly baik impor maupun eskpor, (7) membuat jaringan antar pelajar dan antar instruktur, (8) menciptakan bahan-bahan multi-media pendidikan berkualitas tinggi dalam bentuk yang diperoleh, (9) mengadakan penelitian untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan, dan (10) menggunakan teknologi-teknologi baru untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan serta mengevaluasi penggunaannya.

Inti pokok pelayanan ini adalah infrastruktur jaringan multimedia internal yang membolehkan institusi mengakses, menciptakan, dan memberi pelayanan multimedia pendidikan dalam aneka macam format dan aneka macam cara.

Institusi pendidikan elektronik mempunyai fungsi produksi, broker, dan manajemen dengan input dapat berupa audio, program, maupun video, sedangkan outputnya dapat berupa audio, program, barang cetakan, komunikasi dengan radio selular, komunikasi melalui satelit, atau dengan server multimedia.

Lembaga pembelajaran terbuka sedang mengembangkan pendekatan manajemen informasi terpadu yang mencakup sistem administrasi (administrative) dan sistem pembelajaran(instructional).

Teori pembelajaran yang dijadikan dasar penelitian ini antara lain: (1) teori pemrosesan informasi, (2) hasil penelitian Tynneson dan kawan-kawan mulai tahun 1971 sampai tahun 1988 mengenai disain instruksional (ID). Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa terdapat 6 (enam) komponen utama pendidikan yang berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran khusus. Ke-enam komponen tersebut adalah: (1) proses pembelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) dasar pengetahuan, (4) variabel instruksional, (5) strategi-strategi instruksional, dan (6) peningkatan-peningkatan berbasis komputer.

Selanjutnya dilakukan pelacakan terhadap keenam komponen tersebut dengan menggunakan variable-variabel: (1) pengetahuan deklaratif, (2) pengetahuan prosedural, (3) pengetahuan kontekstual, dan (4) strategi-strategi pencarian.

Sistem komputer berfungsi sebagai pengendali bagi manajemen informasi terpadu (administrasi dan pembelajaran), dimana terdapat dua bagian pokok, yaitu: (1) sistem pengembangan (development system) sebagai input berupa : audio, teks, video, software, grafik, dan kombinasi media, dan (2) sistem pendistribusian (distribution system) sebagai output berupa: media terintegrasi (optical/CD-ROM/ PCMCIA), barang cetakan (paper/reprographics), Sound (cassettes/CD-Audio), Video (videotape/laserdisc), software (diskettes/CD-ROM/CD). Semua output dapat diakses langsung maupun diperoleh dalam bentuk barang.

3. Prinsip-prinsip Pedagogi dan Pembelajaran On-line Antar Budaya yang efektif

Pedagogi inklusif secara kultural dapat dipakai pada lingkungan-lingkungan on-line. Tujuan pembelajaran on-line adalah menjamin bahwa pedagogi dan kurikulum fleksibel, dapat menyesuaikan diri, dan relevan bagi siswa dari berbagai lartar belakang bahasa, dan pendekatan mengajar, sehingga semua aspek pedagogi bersifat mendukung akan kebutuhan-kebutuhan antar budaya.

Sumber-sumber pembelajaran untuk siswa dapat dicapai dan relevan merupakan perhatian utama di seluruh dunia karena berada dalam arena pendidikan tanpa batas. World Wide Web mempunyai kapasitas mencapai pemirsa yang luas, persoalannya adalah: sampai berapa jauh pembelajaran on-line dapat memahami pengertian lintas budaya.

Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai pola sumber-sumber pendidikan untuk penyerahan trans-nasional. Diantara kendala-kendala pembelajaran on-line yang efektif dalam komunikasi global, seperti dilaporkan Collis, Parisi, dan Ligorio (1996) adalah: (1) permasalahan budaya dan lingkungan, (2) perbedaan-perbedaan gaya mengajar, (3) permasalahan yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya yang berbeda, (4) permaslaahan bahasa dan semantic, (5) masalah-maslaah teknik yang berhubungan dengan platform, sistem-sistem pengoperasian dan tidak adanya interface standar.

Berangkat dari literatur jelas bahwa siswa-siswa yang belajar di suatu lingkungan dimana perspektif ganda dan berlainan dipupuk dan dihargai menjadi pemikir-pemikir kritis yang lebih baik, komunikator-komunikator yang lebih baik, pemecah persoalan yang lebih baik dan pemain-pemain tim yang lebih baik (Sugar & Bank, 1998). Seperti studi on-line global networking memperlihatkan pendekatan mengajar yang meningkatkan dugaan komunitas on-line sedang mempersiapkan dengan memadai semua siswa-siswanya untuk merubah dunia (Harasim, 1990, 1994, Riel, 1993).

UNESCO (2000) melaporkan tentang kebutuhan memperluas pengalaman pendidikan tinggi dari mayoritas mahasiswa yang tidak mau megadakan perjalanan atau paling tidak mampu belajar di negara lain atau di institusi lain daripada institusi yang memberi gelarnya. Bagi para pendidik ini berarti menginternasionalisasikan kurikulum, memperluas dasar kecakapan dari gelar-gelar dan pemberian-pemberian dan memperkuat proses pendidikan.

Kurikulum inklusif bertujuan untuk meningkatkan reciprocity (hal timbal-balik), pengembangan arus ide dua arah dan nilai-nilai antara komunitas (Galleni & Zhang,1997). Mengkonseptualisasikan kurikulum inklusif merupakan langkah pertama ke arah perancangan aktivitas-aktivitas pembelajaran on-line yang tepat.

Kurikulum inklusif mempunyai ciri-ciri: (1) menilai budaya, latar belakang dan pengalaman semua mahasiswa, (2) inklusif jender, budaya atas perbedaan-perbedaan yang berhubungan dengan etnik, bahasa dan latar belakang sosio-ekonomi, (3) mengakui bahwa setiap keputusan kurikulum adalah pemilihan daripada kebenaran lengkap, (4) menjadikan eksplisit pola mata pelajaran pendukung yang rasional, dan (5) responsif terhadap dasar pengetahuan siswa.

Komponen-komponen dasar kurikulum inklusif sebagai suatu hubungan timbal balik antara proses penilaian, pengajaran, dan dukungan, aktivitas pembelajaran, dan hasil-hasil pembelajaran. Ini berarti semua dimensi harus dipertimbangkan dan bersangkut-paut dalam mengajar dan merancang lingkungan-lingkungan Web.

III.KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran berbasis web dan komputer harus mempertimbangkan faktor-faktor: 1) cara belajar orang dewasa yang menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi; 2) jaringan multimedia dalam masyarakat global yang dapat memberikan pelayanan pendidikan dalam aneka macam
format dan cara; 3) memperhatikan prinsip-prinsip pedagogik antar budaya.


DAFTAR PUSTAKA

Educational Multi-Media in a Networked Sociaty. http://D/dari_e/UPH/ edmedia.html.
Future Of Learning. First Presented at The Minister’s Forum on Adult Learning.Edmonton,Alberta.(1995). http://bates.cstudies. ubc.ca/ papers/paper.html.
McLoughlin,Catherine.,(2001). Inclusivity and alignment: Principles of pedagogy, task and assessment design for effective cross-cultural online learning.ODLAA Inc.
Prospek Pendidikan Secara Online di Dunia.http://www.kopertis4.or.id /Kopertis/orasi.html.
Tynneson,Robert.(1999). Computer-Based Enhancements For The Improvement Of Learning.

Rabu, 18 Juli 2007

MULTIPLE INTELEGENCE (KECERDASAN MAJEMUK)


Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA BERSUMBER DAYA UNGGUL



STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA YANG
BERSUMBER DAYA UNGGUL

(Penyusun : Rengganis S2 Manajemen Pendidikan UNMUL Samarinda)

BAB I : PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarakat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Semakin besar kompleksitas masyarakat akibat pembangunan, semakin kuat hasrat memperoleh pengakuan terhadap kehadiran diri sebagai anggota masyarakat. Apabila masyarakat diberi kebebasan sepenuhnya untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan aspirasinya secara mandiri, maka timbullah kekuatan besar dalam masyarakat untuk membangun. Karena itu, kebebasan masyarakat untuk mengaktulisasikan diri dan mewujudkan aspirasinya merupakan prasarat pokok bagi perkembangan masyarakat maju. (Dephankam, 1999).
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).
Kecenderungan perkembangan lingkungan di masa mendatang perlu dianalisis secara mantap, tepat dan cepat, pengaruh lingkungan tersebut dapat menimbulkan tantangan dan kendala, akan tetapi sekaligus dapat dimanfaatkan juga sebagai peluang. Oleh karena globalisasi sarat dengan perubahan yang cepat dan radikal diberbagai aspek kehidupan manusia, maka untuk menjaga dan memelihara human survival globalisasi perlu dikendalikan dan dimanfaatkan, karena manusia sebagai pencipta globalisasi yang harus dikendalikannya.
Bertolak dari pemikiran di atas, upaya untuk menciptakan manusia yang bersumber daya unggul diperlukan prasarat utama yaitu terciptanya kualitas sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta taqwa kepada Allah SWT.


B. Permasalahan


Letak Geografis Indonesia pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudra, bahkan terbuka bagi perkembangan ASEAN dan kawasan pasifik, sangat memungkinkan menjadi ajang dalam kegiatan perekonomian, perkembangan sosial budaya, hankam, dan perkembangan teknologi, sehingga dituntut untuk dapat menampung dan berperan serta di dalam berbagai kegiatannya. Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebhinnekaan tersebut.
Pemberdayaan masyarakat akhir-akhir ini di Indonesia berkembang pandangan yang kuat untuk menempatkan rakyat atau masyarakat sebagai pelaku utama (aktor, subjek) pembangunan, tidak hanya sekedar sebagai objek pembangunan. Gagasan tersebut berkembang terutama sebagai reaksi terhadap munculnya ketidakmerataan hasil-hasil pembangunan yang terlampau menekankan pada pertumbuhan (growth centered).
Resultante terhadap teori pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan growth centered melahirkan teori pembangunan yang menekankan pada rakyat atau masyarakat sebagai titik tumpu keberlangsungan pembangunan. Teori ini dikenal sebagai people centered development. Arah yang dituju adalah paradigma pemerataan dan keahlian sosial. Dari kedua pandangan tersebut, pada saat ini dikembangkan pemikiran yang mempertemukan keduanya ke dalam wujud konsep “redistribution with growth” sebagaimana tercermin dalam Trilogi Pembangunan yang memadukan pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas sebagai kunci keberhasilan pembangunan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan sebagai konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat “people centered, participatory, empowering and sustainable.” (Chambers, 1983).
Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic need), dan berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa yang antara lain oleh Friendmann (1992) disebut alternative development, yang menghendaki “inclusive democracy, appropriate economic growth, gender equality, and inter generational equity.” Konsep ini tidak mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan karena harus diasumsikan sebagai incompetible or antithetical.”
Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat.
Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, dan bertanggung jawab adalah bagian pokok dari uapaya pemberdayaan ini (Djudju Sudjana, 1993). Kondisi inilah yang merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan kemasa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.

C. Tujuan


Tulisan ini dikembangkan dengan tujuan sebagai berikut.
(1) Mengungkapkan dasar pemikiran pentingnya pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.
(2) Mengidentifikasi kondisi dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.
(3) Mengajukan alternatif strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.


BAB II : PEMBAHASAN

Pengaruh lingkungan strategi, baik dalam tinjauan global, regional dan pengaruh nasional terhadap pertumbuhan dan perubahan pembangunan suatu bangsa, menunjukan bahwa pembinaan kualitas sumber daya manusia merupakan pangkal tolak untuk mencapai keberhasilan pembangunan, seperti diungkapkan oleh Santoso S. Hamijoyo (1967) bahwa pembangunan masyarakat merupakan usaha ke arah dinamisasi dan pencerdasan masyarakat dengan tujuan mempertinggi daya pikir dan daya kerja rakyat melalui bentuk dan prosedur kooperatif yang berswadaya.
Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul dapat disampaikan sebagai berikut.
(1) Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Dalam memberdayakan masyarakat terdapat tiga hal penting yang perlu dipahami bersama, yaitu:
(a) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat yang berkembang.
(b) Memperkuat potensi atau pemberdayaan (empowering) masyarakat.
(c) Memberdayakan mengandung pula pengertian melindungi. Artinya dalam
proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah.
Ketiga strategi pemberdayaan masyarakat di atas bermuara pada tiga langkah, yaitu:
(a) Secara konkret pemberdayaan masyarakat diupayakan melalui pembanguan ekonomi rakyat.
(b) Pemberdayaan masyarakat diarahkan pada terwujudnya transfomasi struktur sosial secara bertahap.
(c) Pengembangan kelembagaan, melalui pemberdayaan masyarakat, harus diupayakan adanya pengembangan kelembagaan (institusional development). Dalam konteks ini perlu dilakukan revitalisasi organiasis masyarakat bahkan perlu diupayakan reformasi dan transfomasi organisasi masyarakat tersebut, sehingga keberadaannya benar-benar dapat menjadi peluang yang terbuka bagi seluruh anggota masyarakat untuk ikut serta dalam proses pembangunan.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat untuk maju dan mandiri:
(a) Prinsip keberpihakan (mengutamakan yang terabaikan); dalam proses pembangunan kerap kali sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat.
(b) Prinsip penguatan (empowering) masyarakat, dalam konteks ini terkandung pengertian bahwa masyarakat memiliki akses (peluang kesempatan) dan kontrol terhadap berbagai keadan yang terjadi dalam kehidupan sekitarnya.
(c) Prinsip masyarakat sebagai pelaku dan orang luar sebagai fasilitator dan bukan guru.
(d) Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan; diawali dari adanya pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisonal masyarakat.
(e) Prinsip informal, upaya pemberdayaan masyarakat bersifat luwes, terbuka dan tidak memaksa. Dengan prinsip ini akan timbul hubungan yang akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota komunitas, bukan sebagai tamu asing.
(f) Prinsip mengoptimalkan hasil informasi kepada masyarakat, artinya dalam mengumpulkan informasi tentang suatu komunitas, orang luar harus juga menyerap pendapat masyarakat tentang informasi yang menurut masyarakat itu lebih penting daripada yang dirumuskan orang luar.
(g) Prinsip oriental praktis, yaitu pengembangan kegiatan bersama yang diarahkan pada pemecahan masalah komunitas dan meningkatkan kehidupan bersama.
(h) Prinsip keberlanjutan dan selang waktu; kepentingan dan masalah masyarakat terus berkembang, bergeser menulis waktu sesuai dengan perubahan yang dialami oleh masyarakat itu sendiri.
(i) Prinsip belajar dari kesalahan; dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah sesuatu yang wajar.
(j) Prinsip terbuka (transparancy); setiap kegiatan harus terbuka, baik informasi, sumber dana, maupun pengelolaannya sehingga masyarakat ikut bertanggung jawab atas kegagalan dan ikut menikmati atas keberhasilan.
(2) Strategi Keterpaduan Penyelenggaraan Pendidikan
(a) Sistem Pendidikan Nasional secara terbuka memberi peluang pada setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Permasalahan yang masih dirasakan di dalam melaksakan empat kebijaksanaan Pendidikan Nasional adalah sebagai berkut.
(1) Pemerataan Kesempatan.
Dalam pemerataan kesempatan terkandung tiga arti yaitu (1) Persamaan kesempatan (equality of opprtunity), (2) Aksesibilitas, dan (3) Keadilan atau kewajaran (equity).
(2) Relevansi Pendidikan
Relevansi mengandung makna pendidikan harus menyentuh kebutuhan yang cakupannya sangat luas. Kebijaksanaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan salah satu kebijakan yang mengarah pada relevansi pendidikan.
(3) Kualitas (mutu) Pendidikan
Kualitas ini mengacu pada proses dan kualitas produk. Peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan diharapkan akan tercapai tahapan proses belajar yang terus meningkat berkelajutan seperti ditegaskan UNESCO (1972) yang menekankan pentingnya pendidikan yang ditopang empat pilar (learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together).
(4) Efisiensi Pendidikan
Upaya pendidikan menjadi efisien jika hasil yang dicapai maksimal dengan biaya yang wajar. Tidak ada pendidikan yang efisien tanpa ada effectiveness. Upaya semaksimal mungkin untuk menekan biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh masyarakat dengan penghematan.
(b) Keterpaduan penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu pembinaan peserta didik untuk menjadi manusia yang berkualitas.
Di dalam proses keterpaduan itu akan terjadi interaksi eksternal. Tingkat-tingkat interaksi itu sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gillette dan Mc Collom (1990) bahwa dalam tujuan organisasi terdapat lima tingkat interaksi, yaitu: intrapersonal level, interpersonal level, group level, intergoup level, dan interorganizational level.
Pada saat interaksi itu pula telah terjadi proses pemberdayaan pendidikan (empowering process) yang merupakan proses pematangan untuk lebih memahami fokus dirinya, memahami peluang yang dapat dimafaatkan di lingkungannya, sehingga mereka bisa hidup mandiri dan menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat dan bangsanya.
Strategi pendekatan dalam rangka menciptakan empowering mencakup:
(1) Need Oriented; artinya sasaran didik akan benar-benar sebagai subjek aktif bila didasari pada azas kebutuhan, baik berupa kebutuhan hidup manusia seperti yang dipilah-pilah Maslow (1970).
(2) Endogenous; artinya ada kesepakatan terhadap apa-apa yang ada di lingkungan atau masyarakat itu sendiri.
(3) Self-Reliant; artinya pendekatan yang menitikberatkan terciptanya rasa percaya diri dan sikap mandiri. Roger (1983) cenderung menekankan pada prinsip-prinsip penentuan arah sendiri.
(4) Ecological sound; yaitu pendekatan yang memperhatikan dan tidak meninggalkan aspek lingkungan.
(5) Based on structural transformation; yaitu pendekatan yang berorientasi pada perubahan struktur atau sistem yang terjadi di lingkungannya.
Ada beberapa ciri yang harus diperhatikan dalam memantapkan langkah-langkah pendekatan pemberdayaan ini, yaitu:
1) Community organization; yang dilakukan dengan cara mengorganisir kelompok di masyarakat.
2) Worker sef-management and collaboration; yang bertujuan untuk menyamaratakan atau membagi atau kewewenangan dalam gabungan kerja.
3) Participatory approach; yang dimaksudkan agar bisa dan mampu mengendalikan sifat dan arah perubahan hidupnya.
4) Education for justice; yang bertujuan membantu masyarakat untuk menjadi sadar akan ketidakadilan dan mampu menghadapi sesuatu ketidakadilan.
(3) Keterpaduan Pembinaan Iptek dan Imtaq
(a) Ilmu Pengetahuan dan teknologi
1) Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemampuannya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menerapkan industrialisasi dalam kehidupan ekonominya. Industrialisasi itu sendiri berintikan Iptek, sedangkan teknologi merupakan ilmu yang diterapkan dalam menunjang proses kehidupan sehari-hari. Penerapan teknologi tersebut hanya dapat dilakukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
2) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk meningkatkan tarap hidup bangsa dengan jalan peningkatan nilai tambah sumber daya manusia. Sebagai negara yang sedang berkembang, pembangunan Indonesia diarahkan menuju suatu negara industri. Dalam pencapaian tujuan tersebut oleh Menristek dikemukan empat tahapan transformasi teknologi, yaitu (i) Pemanfaatan teknologi yang sudah ada, (ii) Integrasi teknologi untuk memproduksi barang-barang baru dengan cara menciptakan desain baru, (iii) Inovasi dan pengembangan teknologi baru dengan menciptakan teknologi tahap sebelumnya, dan (iv) Penelitian ilmu-ilmu dasar.
3) Iptek akan menjadi unsur dinamis dan mempunyai peranan yang semakin intensif dan ekstensif dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Upaya untuk mengoptimalkan peranan Iptek menuntut perhatian yang sungguh-sungguh terhadap empat agenda strategi berikut ini:
(a) Kualitas sumber daya manusia perlu ditingkatkan, khususnya dalam menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.
(b) Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki memerlukan pemanfaatan dan pengelolaan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa.
(c) Penyebaran pemerataan kegiatan pembangunan sampai ke kepulauan dan daerah terpencil, sehingga memberikan manfaat yang merata pada seluruh rakyat.
(d) Globalisasi di bidang ekonomi sebagai akibat dari perkembangan di bidang komunikasi, transpormasi dan teknologi produksi menuntut antisipasi melalui upaya meningkatkan daya saing produk industri dan jasa terhadap negara-negara lain. Upaya mewujudkan keempat agenda strategi tersebut memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai karakteristik yang melekat pada teknologi. Karakteristik itu meliputi: (1) irama perkembangan dan inovasi teknologi yang semakin cepat, (2) terciptanya mekanisme penemuan baru, (3) sinergi antara berbagai disiplin ilmu dan teknologi, dan (4) pendekatan multidisipliner dalam penerapan iptek.
(e) Di samping melalui jalur pendidikan sekolah, ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dibudayakan dalam masyarakat. Pembudayaan ini dimaksudkan agar mereka menjadi masyarakat yang melek Iptek, yaitu masyarakat yang menyadari bahwa Iptek merupakan uapaya rasional untuk memahami alam sekitar mampu berkomunikasi dengan bahasa Iptek, dan mampu mengapresiasikan kebijakan dan isu-isu di bidang Iptek. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa mereka yang buta Iptek adalah orang-orang asing di tengah kebudayaan sendiri.
(a) Fungsi Iman dan Taqwa
Tujuan Diknas adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan (Depdikbud, 1989). Dengan demikian, iman dan taqwa akan mejiwai sekaligus menjadi perekat dalam membina kualitas sumber daya manusia yang berwawasan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan agama.
Manusia agamis, sesuai dengan tuntutan ajaran agamanya, adalah sosok pribadi yang memiliki solidaritas sosial tinggi, pikiran dan perilakunya berjiwa demokratis, berbuat kebajikan dan kesalihan, santun berbudi pekerti luhur penuh kedamaian, disiplin waktu dan beribadah yang keseluruhannya itu dilandasi iman dan taqwa. Indikator sosok pribadi tersebut adalah selaras dengan kandungan isi tujuan Diknas. Oleh sebab itu, keterpaduan Iptek dan Imtaq dalam mewujudkan manusia seutuhnya dalam arti manusia yang bersumber daya unggul, telah terintegrasikan, baik konsepsi maupun operasionalisasinya. Yang penting diperhatikan dalam era reformasi ini adalah keterpaduan konsep dengan pelaksanaannya, keterpaduan sikap dan perilaku, keterpaduan niat dan ucapan dengan perbuatan, dan didalam menghadapi setiap perkembangan dinamika pembangunan selalu berkiprah mempertahankan dan memelihara kebiasaan lama yang baik dan mengambil pemikiran yang baru yang lebih baik.

BAB III : PENUTUP

A. Simpulan


Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarkat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat.
Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena dengan bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah, adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebinekaan tersebut.
Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, bertanggung jawab adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Kondisi ini merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan ke masa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.
Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul, maka tipe manusia yang ideal yang diharapkan: strategi pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, prinsip dasar dan langkah-langkah pemberdayaan masyarakat, strategi pemberdayaan masyarakat yang meliputi kebijaksanaan pendidikan nasional dan keterpaduan pelaksanaan/operasional dan strategi keterpaduan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan iman dan taqwa (Imtaq).


B. Saran


Kemandirian merupakan salah satu indikasi dan kriteria manusia unggul, namun demikian kemandirian tidak bisa dibentuk dalam waktu dan lingkungan tertentu yang bersifat parsial, untuk itu perlu ada penataan sistem pendidikan secara utuh dan integral, dalam bentuk program yang lebih realistik dalam membentuk kemandirian.
(1) Pengembangan sumber daya manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai kendala atau permasalahan, namun demikian sering permasalahan tersebut hanya dapat diidentifikasi gejalanya saja, sehingga alternatif yang diajukan kurang menyentuh akar permasalahannya. Untuk itu, perlu dirumuskan suatu formula dan format yang tepat dalam mengidentifikasi permasalahan/kendala tersebut.
(2) Beberapa strategi dalam menciptakan manusia yang bersumber daya unggul ini merupakan konsep yang masih bersifat alternatif, penerapannya perlu modifikasi disesuaikan dengan karakteristik sasaran.


DAFTAR PUSTAKA


· Chambers. Robert. 1983. Rural Development: Putting The Last First. New York: Longman.
· Dephankam. 1999. Pembinaan Mahasiswa Dalam Rangka Kaderisasi Kepemimpinan Nasional,
Lemhanas.
· Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI. 1989. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989

Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depdikbud.
· Friendmann. 1992.Empowement: The Politic Of Alternative Development, Cambridge Mass:

Blackwell Publisher.
· Gillette, Jonathan & Mc Collom, Marion, Group In Context. 1990. A New Perspective On

Group Dynamics, New Haven : Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New Haven.
· Maslow, Abraham H.1970, Motivation And Personality, New York : Harper And Row

Publishers.
· Rogers, Everett M.1983. Diffusion of Inovation, London : MacMillan Pub.
· Sudjana D.1993. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif Dalam pendidikan Luar

Sekolah, Bandung : Nusantara Press
· Santoso S. Hamijoyo. 1967. Inovasi Pendidikan, IKIP Bandung.
· unesco. 1972. Learning To Be: The World Of Education Today And Tomorrow, Unesco And

Harrap.
 

Rengganis Anak Desa Merapi Blogger Templates Designed by productive dreams | Free Wordpress Templates. presents HD TV Watch Futurama Online. Featured on Singapore Wedding Cakes. © 2011