Senin, 16 Juli 2007

MAKALAH : PERANAN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH



PERANAN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH UNTUK MEWUJUDKAN KNOWLEDGE BASED SOCIETY


I. PENDAHULUAN


A. Pilar Utama Pendidikan


UNESCO (1996) menetapkan 4 (empat) pilar pendidikan yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh pengelola dunia pendidikan, yaitu:
Belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan (learning to know)
Belajar untuk menguasai keterampilan (learning to do)
Belajar untuk hidup bermasyarakat (learning to live together)
Belajar untuk mengembangkan diri secara maksimal (learning to be).
Guna merealisir learning to know, dosen seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu dosen dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan mahasiswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.


Learning to do akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi mahasiswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Pendeteksian bakat dan minat mahasiswa dapat dilakukan melalui tes bakat dan minat (aptitude test). Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan (heredity) namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Dewasa ini, keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang. Untuk itu pembinaan terhadap keterampilan anak perlu mendapat perhatian serius.


Salah satu fungsi sekolah adalah tempat bersosialisasi, tatanan kehidupan, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together".


Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif peran dosen sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri mahasiswa secara maksimal.


Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi.
Keempat pilar akan berjalan dengan baik jika diwarnai dengan pengembangan keberagamaan. Nilai-nilai keberagamaan sangat dibutuhkan bagi setiap warganegara Indonesia dalam menapaki kehidupan di dunia ini. Pengintegrasian nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkan/dipelajari mahasiswa akan lebih efektif dalam pembentukan pribadi anak yang ber-Ketuhahan Yang Maha Esa daripada diajarkan secara monolitik yang penuh dengan konsep.

B. Masyarakat Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based Society)


Pada saat dunia memasuki milenium ketiga, semua bangsa maju sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan prasyarat untuk meraih kemakmuran (prosperity) dalam kancah pergaulan antarbangsa. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika para ilmuwan sejagat sekarang tengah berlomba-lomba melakukan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan untuk meningkatkan korpus pengetahuan (Zuhal, 2000). Hasil semua ini diharapkan dapat dijadikan modal untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).

Knowledge akan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa, yang akan ditentukan oleh cara bagaimana suatu masyarakat mampu mewujudkan knowledge sebagai landasan sistem perekonomian dan industrinya.
Zuhal (2000) menjelaskan prasyarat apa yang perlu dipenuhi untuk membangun suatu masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Paling tidak diperlukan lima elemen dasar yaitu penataan masyarakat, kewiraswastaan, pembentukan knowledge, keterampilan (skill) dan pengelolaan sumber daya alam lingkungan. Dalam upaya pembentukan knowledge dan keterampilan itulah, partisipasi dunia pendidikan tinggi diharapkan memainkan peranan penting.


C. Pendidikan Jarak Jauh


Pendidikan jarak jauh (distance education) telah diperkenalkan oleh banyak peneliti, misalnya Keegan (1980); Perry dan Rumble (1987). Karakteristik utama pendidikan jarak jauh adalah sebagai berikut a) pemisahan dosen dan mahasiswa selama proses belajar mengajar; b) penggunaan media pendidikan (cetak, audio, vidio, dan komputer) untuk menyatukan dosen dan mahasiswa; c) peranan penting organisasi pendidikan dalam perencanaan, persiapan bahan belajar dan penyediaan pelayanan mahasiswa; d) tersedianya komunikasi dua arah sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan berkomunikasi; e) tidak adanya proses belajar kelompok secara klasik; f) adanya bentuk industrialisasi pendidikan, dan g) individualisasi proses belajar (belajar mandiri).


D. Kualitas PTJJ


Masih banyak berkembang sinyalemen di masyarakat bahwa PTJJ dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Mukhopadhjay (1988) memperlihatkan penyebabnya adalah kurang tajam perumusan visi dan misi PTJJ dan masih dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang tidak tertampung di perguruan tinggi tatap muka.


Pertanyaan lain yang terasa mengusik pelaku PTJJ adalah tuduhan rendahnya mutu lulusan institusi pendidikan jarak jauh jika dibandingkan dengan pendidikan tatap muka. Keraguan akan kualitas lulusan PTJJ masih tetap muncul karena penambahan jumlah mahasiswa seringkali diasosiasikan dengan penurunan mutu (Suparman, 1989).


Di Australia, hasil studi Selim (1989) dalam Suparman (1989) menyatakan bahwa prestasi mahasiswa pendidikan jarak jauh justru lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa perguruan tinggi konvensional. Sunarwan (1982) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan prestasi belajar siswa yang terlibat pendidikan menggunakan modul dan pengajaran tatap muka.

II. PEMBAHASAN


A. Pengalaman UT Sebagai Penyelenggara Pendidikan Tinggi Jarak Jauh di

Indonesia


1. Tujuan Pendirian


Upaya pemerintah dalam mengembangkan PTJJ diawali dengan didirikannya Universitas Terbuka (UT) sebagai PTN ke-45 di Indonesia dan mulai menerima mahasiswa baru pada tahun 1984. Pendirian UT pada mulanya ditujukan untuk: (1) Memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara Indonesia di mana pun tempat tinggalnya untuk memperoleh pendidikan tinggi; 2) Menampung lulusan SMU yang tidak tertampung di PTN (daya tampung kecil) dan PTS (biaya tinggi); (3) Mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi bagi mereka yang karena pekerjaan atau alasan lain tidak dapat melanjutkan belajar di perguruan tinggi tatap muka, serta (4) mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata pembangunan, yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.

Kehadiran UT ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Pada registrasi pertama tahun 1984 telah mendaftar sebanyak 270.000 pelamar. Dari jumlah tersebut 60.000 akhirnya diterima sebagai mahasiswa UT, suatu jumlah yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan sebuah PTN tatap muka unggul di Indonesia. Pada awal Maret 2001 tidak kurang 350.000 orang tercatat sebagai mahasiswa UT dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan, sosial ekonomi, usia, pekerjaan dan tersebar luas di seluruh pelosok negeri (dari dalam negeri sampai luar negeri).


Daya tampung UT yang sangat besar dimungkinkan karena daya jangkau media yang digunakan sangat luas dan mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Televisi dan radio dapat disiarkan secara nasional dan bahan ajar cetak (modul) dapat dikirimkan kepada mahasiswa melalui pos ke seluruh pelosok negeri dan mahasiswa dapat mempelajarinya kapan saja sesuai waktu mereka yang tersedia dan di mana saja.


Sebagai lembaga pendidikan, UT telah berjasa dalam memecahkan problem SDM. Sebagai contoh, di akhir Pelita IV jumlah lulusan SMU mencapai 1,1 juta sedangkan yang tertampung oleh perguruan tinggi yang ada hanya 600.000 orang. Hal-hal tersebut menyebabkan pemerintah mempertimbangkan berdirinya UT, karena mempunyai keunggulan dalam daya tampung besar, tenaga dosen sedikit dan biaya yang relatif murah baik bagi pemerintah maupun mahasiswa.


Sesuai dengan latar belakang pendirian UT, maka program studi yang ditawarkan terdiri dari program studi kependidikan yang bernaung di bawah FKIP dan program studi non kependidikan yang bernaung di bawah tiga fakultas : FMIPA, FEKON dan FISIP. Strata pendidikan yang dikelola UT sampai saat ini adalah: Diploma II, Diploma III, Strata I dan sertifikat nongelar (Katalog UT, 2000).


2. Sistem Belajar Mengajar


UT menerapkan sistem belajar "jarak jauh" dan "terbuka." Istilah "jarak jauh" berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun noncetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna "terbuka" adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, berapa kali mahasiswa mengikuti ujian dan sebagainya. Batasan yang ada hanyalah setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah (SMU atau yang sederajat).


3. Cara Belajar


Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri, yaitu cara belajar yang menghendaki mahasiswa untuk belajar atas prakarsa sendiri dalam memahami bahan ajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan keterampilan dan menerapkan pengalaman di lapangan. Selain belajar mandiri (dengan inisiatif dan motivasi yang berasal dari diri sendiri), belajar mandiri juga dapat dilakukan dalam kelompok, mengikuti tutorial, baik tatap muka maupun melalui media, memanfaatkan perpustakaan, mengikuti siaran radio dan televisi serta menggunakan sumber belajar lain.


4. Penyelenggaran Pendidikan


Dalam penyelenggaraan pendidikan, UT bekerjasama dengan semua perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia. Pada setiap kota PTN tersedia unit layanan UT yang disebut Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ). PTN tersebut berperan sebagai pembina UPBJJ serta membantu dalam penulisan bahan ajar, tutorial, praktikum dan ujian.

UT memiliki dua kategori program pendidikan yakni program reguler dan program nonreguler. Program reguler dapat diikuti oleh masyarakat umum, sedangkan program nonreguler merupakan program yang dapat diselenggarakan berdasarkan perjanjian kerjasama dengan pengguna (user). Pada saat ini program studi yang termasuk program non reguler adalah DII PGSD, DIII PGSMP dan DIII Penyuluhan Pertanian, sedangkan program studi lain termasuk program reguler.


5. Tutorial


Tutorial merupakan kegiatan belajar di mana mahasiswa belajar mandiri di bawah bimbingan tutor sebagai fasilitator. Mahasiswa dapat memilih jenis tutorial yang sesuai dengan minat maupun kemampuannya. Jenis tutorial yang sudah dilaksanakan UT adalah:
(1) Tutorial Tatap Muka. Tutorial tatap muka dilaksanakan oleh UPBJJ-UT dan KBM (Kelompok Belajar Mahasiswa).
(2) Tutorial Tertulis melalui Surat. Mahasiswa dapat mengirimkan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi perkuliahan kepada: Ketua Program Studi, dengan alamat : nama fakultas, Universitas Terbuka PO Box 6666, Jakarta 10001
(3) Tutorial melalui Radio, Televisi dan Media Massa. Mahasiswa dapat mengikuti tutorial lewat radio RRI Programa Nasional FM 93.2 Pukul 08.10 WIB. Tutorial ini dilakukan 5 kali seminggu, sedangkan tutorial melalui televisi dapat disimak mahasiswa pada hari-hari tertentu. Di samping itu, beberapa radio dan koran daerah juga menyajikan tutorial untuk mahasiswa UT.
(4) Tutorial lewat Internet. Fasilitas tutorial melalui internet ditampilkan dalam beberapa bentuk. Pertama, Tutorial Elektronik Berkelompok.


Mahasiswa dapat mengikuti tutorial internet lewat fasilitas elektronik dengan cara mengirim e-mail (surat elektronik) ke alamat: mdaemon@ut.ac.id. Kedua, Tutorial Elektronik Individual. Apabila mahasiswa mempunyai masalah dalam suatu pelajaran maka dapat mengirim e-mail ke alamat: info@p2m.ut.ac.id dengan subjek : "Permintaan bantuan belajar ". Ketiga, Pelajaran di Web Page: Mahasiswa UT dapat memperkaya wawasan keilmuannya melalui suplemen bahan ajar, artikel ilmiah karya para tutor/penulis modul, saduran buku maupun prosiding seminar keilmuan yang disajikan dalam halaman web UT dengan alamat web UT (http://www.ut.ac.id/) dengan memilih menu tutorial. Keempat, Bahan Ajar Berbantuan Komputer atau CAI (Computer Aided Instruction).


Belakangan, penggunaan internet sebagai media belajar sudah mulai digagas oleh UT. Keterbatasan mahasiswa dengan akses internet secara individual dapat diminamilisir dengan memanfaatkan warnet sebagai sentra akses ke internet (Hardhono, 2001; Rusdiah, 2001).


6. Praktikum Mahasiswa


Beberapa matakuliah yang ditawarkan UT mewajibkan praktikum di bawah bimbingan instruktur, yang dilakukan secara individu atau kelompok, menggunakan science kit atau laboratorium yang ada di daerah. Selain itu, UT juga memiliki mata kuliah pemantapan profesional yang dapat dilakukan siswa di bawah bimbingan penyelia. Contoh mata kuliah pemantapan kemampuan profesional adalah: 1) Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) untuk Program Studi Kependidikan; 2) Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk Program Studi Penyuluhan Pertanian; dan 3) Praktik Kerja Perpustakaan (PKP) untuk Program Studi Perpustakaan.

7. Evaluasi Hasil Belajar


Evaluasi hasil belajar mahasiswa UT dilakukan dalam bentuk Tugas Mandiri (TM), Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Praktikum (UP) dan Ujian Komprehensif Tertulis (UKT). Untuk program studi tertentu terdapat mata kuliah yang evaluasi hasil belajarnya dilakukan dengan ujian pemantapan kemampuan profesional.


B. Peranan Pendidikan Terbuka dalam Mempersiapkan SDM Berkualitas


Globalisasi bukan lagi basa-basi. Dampaknya sudah sangat terasa dewasa ini, terutama yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Kondisi yang ditandai oleh mengaburnya batas-batas antarnegara tersebut juga mempengaruhi dunia pendidikan. Globalisasi yang diikuti lompatan teknologi informasi dan komunikasi telah menimbulkan pergeseran dalam paradigma dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ruang kuliah kini bukan lagi satu-satunya tempat berlangsungnya proses pembelajaran.

Kehadiran internet membuat siapa saja, termasuk mahasiswa dapat mengakses informasi dari berbagai sumber. Informasi tersebut dapat berupa jurnal ilmiah terkini, kumpulan kuliah dari guru besar perguruan tinggi luar negeri dan lain-lain. Sementara itu pemanfaatan surat elektronik (e-mail) juga memungkinkan mahasiswa berkorespondensi dengan para pakar dari seluruh penjuru dunia.


Perkembangan dunia informasi dan teknologi yang begitu cepat telah mengubah paradigma pendidikan dari lecturer/teacher centered education menjadi student centered education. Saat ini dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi pengetahuan bisa bersumber dari mana saja (multi knowledge provider).


Sistem pendidikan jarak jauh (SPJJ), dalam hal tertentu justru dianggap sebagai salah satu solusi mengatasi rendahnya daya tampung pendidikan tatap muka. Daya tampung SPJJ cukup fantastis bila dibandingkan dengan sistem pendidikan tatap muka. Selain itu, biaya pendidikan jarak jauh pada umumnya relatif lebih murah dibandingkan dengan pendidikan tatap muka, baik dipandang dari sudut penyelenggara pendidikan maupun peserta didik.


III PENUTUP


A. Kesimpulan


Berdasarkan paparan tersebut di atas dapat disimpulkan sebaga berikut. Ada dua model

penyampaian materi ajar yang terjadi dalam proses belajar mengajar, yaitu pendidikan tinggi tatap muka dan pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ). Sumber daya manusia merupakan merupakan aset penting untuk ditingkatkan kualitasnya yang pada akhirnya diharapkan sebagai faktor determinan peningkatan kualitas taraf hidup.

Usaha peningkatan kualitas SDM dalam arti sempit dapat diartikan sebagai peningkatan kualitas pendidikan.Masyarakat berbasis pengetahuan membutuhkan lima elemen dasar, yaitu penataan masyarakat, kewiraswastaan, pembentukan knowledge, keterampilan (skill) dan pengelolaan sumber daya alam lingkungan.


B. Saran


Untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas yaitu masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge based society) dan meyediakan kesempatan belajar di pendidikan tinggi untuk semua warga negara, model pendidikan tinggi jarak jauh sebagaimana yang dilakukan Universitas Terbuka perlu terus dikembangkan.


DAFTAR PUSTAKA


- Suparman, A. 1989. Pendidikan jarak jauh: konsep dan peranannya dalam memecahkan
masalah pendidikan. Pidato ilmiah pada rapat senat UT. Jakarta.
- Rusdiah, R. 2001. "Potensi warnet dalam mendukung pengembangan pendidikan terbuka dan jarak jauh". Makalah disampaikan pada Seminar Potensi Warnet dalam Mendukung Pengembangan Pendidikan Terbuka dan Jarak Kauh. Kampus UT Pondok Cabe. 7 Maret 2001. Jakarta.
- Hardhono, A. P. 2001. "Pemanfaatan internet di lingkungan Universitas Terbuka". Makalah disampaikan pada Seminar Potensi Warnet dalam Mendukung Pengembangan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. 7 Maret 2001. Kampus UT Pondok Cabe. Jakarta.
-UNDP. 2000. Human Development Report 2000. Human Development Index. http://www.undp.org/hdro/hdi1.html
- Universitas Terbuka. 2000. Katalog Universitas Terbuka 2000. Jakarta.
- Makhopadhjay, M. 1988. "Distances Education : SWOT Analysis". Journal of Educational Planning and Aministration.

Minggu, 15 Juli 2007

MAKALAH : MODEL INOVASI E-LEARNING




MODEL INOVASI E-LEARNING
DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

A.PENDAHULUAN


Seiring perkembangan teknologi internet, model e-learning mulai dikembangkan, sehingga kajian dan penelitian sangat diperlukan. Hakekat e-learning adalah bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Sistem ini dapat digunakan dalam pendidikan jarak jauh atau pendidikan konvensional.
Oleh karena itu mengembangkan model ini tidak sekedar menyajikan materi pelajaran ke dalam internet tetapi perlu dipertimbangkan secara logis dan memegang prinsip pembelajaran. Begitu pula desain pengembangan yang sederhana, personal, dan cepat, serta unsur hiburan akan menjadikan peserta didik betah belajar di depan internet seolah-seolah mereka belajar di dalam kelas. Ilmu dan teknologi terutama teknologi informasi berkembang sangat pesat. Pesatnya perkembangan teknologi ini berdampak pada pelbagai perubahan sosial budaya. Misalnya e-commerce merupakan perubahan radikal dalam aspek ekonomi masyarakat modern saat ini. Di sektor pemerintahan ada e-government.
Demikian pula di sektor pendidikan sudah berkembang apa yang disebut e-learning.Pemanfaatan teknologi internet untuk pendidikan dipelopori oleh sekolah militer di Amerika Serikat (1983). Sejak itu tren teknologi internet untuk pendidikan berkembang pesat dan lebih dari 100 perguruan tinggi di Amerika Serikat telah memanfaatkannya. Begitu pula teknologi ini berkembang pesat di negara-negara lain. Hasil survai yang dilakukan James W. Michaels dan Dirk Smilie (dalam Andito M. Kodijat, 2002) saat ini provider di dunia ada sekitar 25% pendidikan tinggi yang menawarkan programnya melalui internet. Visi dari sekolah (universitas) ini adalah untuk mencapai dan memberikan layanan pada pasar tanpa dibatasi atau perlu memperluas fasilitas fisiknya.
Di Indonesia pemanfaatan teknologi internet dimulai sekitar tahun 1995 ketika IndoInternet membuka jasa layanan internet. Kemudian tahun 1997-an mulai berkembang pesat. Namun harus diakui bahwa kini pemanfaatan teknologi ini masih didominasi oleh lembaga seperti perbankan, perdagangan, media massa, atau kalangan industri. Jika melihat potensinya, dalam waktu mendatang mungkin saja lembaga pendidikan akan mendominasinya.
Pemanfatan teknologi internet untuk pendidikan di Indonesia secara resmi dimulai sejak dibentuknya telematika tahun 19961). Masih ditahun yang sama dibentuk Asian Internet Interconnections Initiatives (www.ai3.itb.ac.id/indonesia). Jaringan yang dikoordinir oleh ITB ini bertujuan untuk pengenalan dan pengembangan teknologi internet untuk pendidikan dan riset, pengembangan backbone internet pendidikan dan riset di kawasan Asia Pasific bersama-sama perguruan tinggi di kawasan ASEAN dan Jepang, serta pengembangan informasi internet yang meliputi aspek ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sosial, dan ekonomi. Hingga kini sudah ada 21 lembaga pendidikan tinggi (negeri dan swasta), lembaga riset nasional, serta intnasi terkait yang telah bergabung.
Seiring perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk pendidikan di Indonesia khususnya di perguruan tinggi terus berkembang. Misalnya tahun 2001 didirikan universitas maya Indonesia Bangkit University Teledukasi (IBUTeledukasi) bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak Malaysia, beberapa PT juga menawarkan program on-line course misalnya (www.petra.ac.id). Universitas Terbuka mengembangkan on-line tutorial (www.ut.ac.id/indonesia/tutorial.htm), Indonesia Digital Library Network mengembangkan perpustakaan elektronik (www.idln.itb.ac.id), dan lain-lain.
Pemanafaatan internet untuk pendidikan ini tidak hanya untuk pendidikan jarak jauh, akan tetapi juga dikembangkan dalam sistem pendidikan konvensional. Kini sudah banyak lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi yang sudah mulai merintis dan mengembangkan model pembelajaran berbasis internet dalam mendukung sistem pendidikan konvensional. Namun suatu inovasi selalu saja menimbulkan pro dan kontra. Yang pro dengan berbagai dalih meyakinkan akan manfaat kecanggihan teknologi ini seperti;, memudahkan komunikasi, sumber informasi dunia, memudahkan kerjasama, hiburan, berbelanja, dan kemudahan aktivitas lainnya. Sebaliknya yang kontra menunjukan sisi negatifnya, antara lain: biaya relatif besar dan mudahnya pengaruh budaya asing. Internet sebagai media baru ini juga belum begitu familier dengan masyarakat, termasuk personil lembaga pendidikan. Oleh karena itu sangat perlu terus dilakukan kajian, penelitian, dan pengembangan model e-learning. Tulisan ini akan mencoba menjelaskan e-learning dan kemungkinan pengembangan modelnya dalam meningkatkan mutu pendidikan.


B. INTERNET SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN


Internet sering disebut sebagai jaringan komputer. Padahal tidak semua jaringan komputer termasuk internet. Jaringan sekelompok komputer yang sifatnya terbatas disebut sebagai jaringan lokal (Local Area Network). “Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia (Kamarga, 2002)”. Jaringan ini bukan merupakan suatu organisasi atau institusi, sifatnya bebas, karena itu tidak ada pihak yang mengatur dan memilikinya.
Internet lahir pada masa perang dingin sekitar tahun 1969 dan digunakan pertama kali untuk keperluan militer (Ahmad Bustami, 1999). Pada tahun ini ARPA (Avanced Research Project Agency) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat membangun sistem jaringan komputer yang disebut Arpanet. Jaringan ini menghubungkan antar komputer di daerah-daerah vital dalam rangka mengatasi masalah jika terjadi serangan nuklir. Arpanet berkembang sangat pesat dan dipecah menjadi dua bagian Milnet dan Arpanet. Milnet digunakan khusus untuk keperluan militer, sedangkan Arpanet digunakan untuk keperluan non militer terutama perguruan tinggi. Gabungan kedua jaringan ini pada akhirnya dikenal dengan nama Darpa Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi internet.
Penemuan internet dianggap sebagai penemuan yang cukup besar, yang mengubah dunia dari bersifat lokal atau regional menjadi global. Karena internet terdapat sumber-sumber informasi dunia yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun melalui jaringan internet. Melalui internet faktor jarak dan waktu sudah tidak menjadi masalah. Dunia seolah-olah menjadi kecil, dan komunikasi menjadi mudah. Dalam hal ini Onno W. Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual.
Internet memiliki banyak fasilitas yang telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti militer, media massa, bisnis, dan juga untuk pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Di antara banyak fasilitas tersebut menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.
Electronic mail (e-mail), mulai diperkenalkan tahun 1971 (http://www.livinginternet.com). Fasilitas ini sering disebut sebagai surat elektronik, merupakan fasilitas yang paling sederhana dan mudah digunakan. Dalam survei yang dilakukan sebuah lembaga riset Amerika Serikat (Graphics, Visualization and Usability Center) diketahui bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi terpenting internet, lebih penting ketimbang web (http://www.gvu.gatech..edu/user_surveis/).
Mailing List mulai diperkenalkan setelah e-mail yaitu sejak tahun 1972 (http://www.livinginternet.com). Ini merupakan salah satu fasilitas yang dapat digunakan untuk membuat kelompok diskusi atau penyebaran informasi. Cara kerja mailing list adalah pemilik email dapat bergabung dalam sebuah kelompok diskusi, atau bertukar informasi yang tidak dapat diintervensi oleh orang di luar kelompoknya. Komunikasi melalui fasilitas ini sama seperti e-mail bersifat tidak langsung (asynchronous).
News group adalah fasilitas internet yang dapat dilakukan untuk komunikasi antar dua orang atau lebih secara serentak (waktu bersamaan) atau bersifat langsung (synchronous). Bentuk pertemuan ini sering disebut sebagai konferensi, dengan fasilitas video conferencing, atau text saja, atau bisa audio dengan menggunakan fasilitas chat (IRC).
Melalui fasilitas File Transfer Protocol (FTC) ini orang dapat menstransfer data/file dari satu komputer ke internet (up-load) sehingga bisa diakses oleh pengguna internet di seluruh pelosok dunia. Di samping itu fasilitas ini dapat mengambil arsif/file dari situs internet ke dalam komputer pengguna (down-koad).
World Wide Web atau sering disebut Web mulai diperkenalkan tahun 1990-an (http://www.livinginternet.com). Fasilitas ini merupakan kumpulan dokumentasi terbesar yang tersimpan dalam berbagai server yang terhubung menjadi suatu jaringan (internet). Dokumen ini dikembangkan dalam format hypertext 2). dengan menggunakan Hypertext Markup Language (HTML). Melalui format ini dimungkinkan terjadinya link dari satu dokumen ke dokumen/bagian lain. Selain itu fasilitas ini bersifat multimedia, yang terdiri dari kombinasi unsur teks, foto, grafika, audio, animasi, dan juga video.Teknologi internet pada hakekatnya merupakan perkembangan dari teknologi komunikasi generasi sebelumnya. Media seperti radio, televisi, video, multi media, dan media lainnya telah digunakan dan dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Apalagi media internet yang memiliki sifat interaktif, bisa sebagai media massa dan interpersonal, dan gudangnya sumber informasi dari berbagai penjuru dunia, sangat dimungkinkan menjadi media pendidikan lebih unggul dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.
Dengan fasilitas yang dimilikinya, internet menurut Onno W. Purbo (1998) paling tidak ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam pendidikan yaitu: (a). Peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah dimanapun di seluruh dunia tanpa batas institusi atau batas negara. (b). Peserta didik dapat dengan mudah berguru pada para ahli di bidang yang diminatinya. (c). Kuliah/belajar dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar. Di samping itu kini hadir perpustakan internet yang lebih dinamis dan bisa digunakan di seluruh jagat raya.
Pendapat ini hampir senada dengan Budi Rahardjo (2002). Menurutnya, manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada sumber informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerjasama. Akses kepada sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan on-line, sumber literatur, akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi kuliah. Akses kepada nara sumber bisa dilakukan komunikasi tanpa harus bertemu secara fisik. Sedangkan sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian bersama atau membuat semacam makalah bersama.
Penelitian di Amerika Serikat tentang pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk keperluan pendidikan diketahui memberikan dampak positif (Pavlik, 19963)). Studi lainya dilakukan oleh Center for Applied Special Technology (CAST), “bahwa pemanfaatan internet sebagai media pendidikan menunjukan positif terhadap hasil belajar peserta didik4)”.
Internet sebagai media pendidikan memiliki banyak keunggulan,. Namun tentu saja memiliki kelemahan; seperti yang disampaikan oleh Budi Rahardjo (2002) adalah infrastruktur internet masih terbatas dan mahal, keterbatasan dana, dan budaya baca kita masih lemah. Di sinilah tantangan bagaimana mengembangkan model pembelajaran melalui internet.


C. E- LEARNINING


Banyak para ahli yang mendefinisikan e-learning sesuai sudut pandangnya. Karena e-learning kepanjangan dari elektronik learning ada yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi elektronik (radio, televisi, film, komputer, internet, dll). Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
Secara lebih rinci Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning, yaitu: (a). e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan absolut. (b). e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa dikolongkan sebagai e-learning.(c). e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan. Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional. Dalam hal ini Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut: (a). e-learning merupakan penyampian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihansecaraon-line.(b). e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.(c). e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. (d). Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik


D.PERTIMBANGANE-LEARNING


Pertimbangan memutuskan sistem pendidikan konvensional menjadi sistem e-learning tentu saja bukan didasarkan pada trend, ikut-ikutan teknologi internet, tetapi perlu ikaji secara matang. Oleh karena itu para penyusun dan pengambil kebijakan perlu melakukan observasi dan studi kelayakan. Beberapa pertanyaan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan antara lain: (1). Anggaran biaya Yang diperlukan. Bandingkan biaya untuk pendidikan konvensional dengan e-learning. Melalui e-learning, biaya mendirikan bangunan sekolah, buku - buku, tenaga pengajar, dan biaya operasional peserta didik dapat ditekan. Oleh karena itu pendidikan jarak jauh atau sistem konvensional yang massal akan lebih efisien dengan e-learning. (2). Materi apa saja yang menjadi prioritas dimasukan pada model e-learning sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan, atau semua materi pelajaran perlu dimasukan. (3). Pengalihan dari konvensinal ke e-learning apakah bisa dilakukan sendiri atau perlu kerjasama dengan instansi lain. Instansi seperti perguruan tinggi (yang memiliki SDM relevan) dan kalangan industri (terutama industri perangkat lunak) sangat potensial dijadikan mitra kerjasama. (4). Apakah perubahan ini bisa diterima (diadopsi) dengan baik oleh sasaran. Sebagai hasil inovasi, proses difusi sangat diperlukan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Oos M. Anwas (2003) menunjukan bahwa adopsi inovasi e-learning dalam tahapan pembentukan sikap di kalangan akademisi masih bervariasi. Banyak faktor yang menentukan, diantaranya exposure informasi internet, kedekatan dengan teknologi komunikasi dan informasi, dan derajat kebutuhan terhadap internet. Namun yang menarik dari penelitian ini adalah faktor kondusivitas organisasi dapat mempengaruhinya. Dalam organisasi yang kondusif, akademisi cenderung lebih baik dalam mengadopsi e-learning dibandingkan dengan organisasi yang kurang kondusif. Faktor organisasi yang relatif homogen seperti perguruan tinggi ini lebih penting dibandingkan dengan mempermasalahkan faktor demografi seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, klas ekonomi, dan faktor personality (type kepribadian). Padahal dalam penelitian adopsi inovasi sebelumnya, faktor demografi dan personality tersebut sering dijadikan penjelas dan mempengaruhi individu dalam mengadopsi suatu inovasi. (5). Bagaimana menerapkan perubahan tersebut sehingga bisa tercapai secara efektif dan efisien, serta bagaimana kelanjutan operasional termasuk evaluasi dan tindaklanjutnya.

E.PENGEMBANGANMODEL


Pengembangan model e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan yang

diinginkan. Jika kita setuju bahwa e-learning di dalamnya juga termasuk pembelajaran

berbasis internet, maka pendapat Haughey (1998) perlu dipertimbangkan dalam pengembangan e-learning. Menurutnya ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course”.
Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.Model web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran pengajar dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Pengembangan e-learning tidak semata-mata hanya menyajikan meteri pelajaran secara on-line saja, namun harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah peserta didik belajar dihadapan pengajar melalui layar komputer yang dihubungkan melalui jaringan internet. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu “sederhana, personal, dan cepat”. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada , dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya.
Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan murid di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputernya.
Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.
Untuk meningkatkan daya tarik belajar, Onno W. Purbo menambahkan perlunya menggunakan teori games. Teori ini dikemukakan setelah diadakan sebuah pengamatan terhadap perilaku para penggemar games komputer yang berkembang sangat pesat. Bermain games komputer sangatlah mengasyikan. Para pemain akan dibuat hanyut dengan karakter yang dimainkannya lewat komputer tersebut. Bahkan mampu duduk berjam-jam dan memainkan permainan tersebut dengan senang hati.
Fenomena ini sangat menarik dalam mendesain e-learning. Dengan membuat sistem e-learning yang mampu menghanyutkan peserta didik untuk mengikuti setiap langkah belajar di dalamnya seperti layaknya ketika bermain sebuah games. Penerapan teori games dalam merancang materi e-learning perlu dipertimbangkan karena pada dasarnya setiap manusia menyukai permainan.
Secara ringkas, e-learning perlu diciptakan seolah-olah peserta didik belajar secara konvensional, hanya saja dipindahkan ke dalam sistem digital melalui internet. Oleh karena itu e-leraning perlu mengadaptasi unsur-unsur yang biasa dilakukan dalam sistem pembelajaran konvensional. Misalnya dimulai dari perumusan tujuan yang operasional dan dapat diukur, ada apersepsi atau pre test, membangkitkan motivasi, menggunakan bahasa yang komunikatif, uraian materi yang jelas, contoh-contoh kongkrit, problem solving, tanya jawab, diskusi, post test, sampai penugasan dan kegiatan tindak lanjutnya. Oleh karena itu merancang e-laarning perlu melibatkan pihak terkait, antara lain: pengajar, ahli materi, ahli komunikasi, programmer, seniman,dll.

F.KESIMPULAN


Kebijakan institusi pendidikan dalam memanfaatkan teknologi internet menuju e-learning perlu kajian dan rancangan mendalam. E-learning bukan semata-mata hanya memindahkan semua pembelajaran pada internet. Hakekat e-learning adalah proses pembelajaran yang dituangkan melalui teknologi internet. Disamping itu prinsip sederhana, personal,

dan cepat perlu dipertimbangkan. Untuk menambah daya tarik dapat pula menggunakan teori games. Oleh karena itu prinsip dan komunikasi pembelajaran perlu didesain seperti layaknya pembelajaran konvensional. Di sini perlunya pengembangan model e-learning yang tepat sesuai kebutuhan.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa media pembelajaran secanggih apapun tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya peran guru/dosen. Penanaman nila-nilai dan sentuhan kepribadian sulit dilakukan. Di sini tantangan bagi para pengambil kebijakan dan perancang e-learning. Oleh karena itu saya sependapat bahwa dalam sistem pendidikan konvensional, fungsi e-learning adalah untuk memperkaya wawasan dan pemahaman peserta didik, serta proses pembiasaan untuk melek sumber belajar khususnya teknologi internet.


DAFTAR PUSTAKA
Anwas, Oos M. (2000), Internet: Peluang dan Tantangan Pendidikan Nasional. Jakarta: Jurnal Teknodik Depdiknas.
________, (2003), Faktor yang Mempengaruhi Sikap terhadap Internet; Studi Survei Kesiapan Dosen dalam Mengadopsi Inovasi e-learning, Jakarta: Program Pascasarjana FISIP Universitas Indonesia.
Awang, Hizamnuddin. (2000) Teknografi Pengguna Internet.
http://www.magazin.jaringan.my/2000/november
http://www.ascusc.org/jemc/vol16/issue1/abersole.html,
Kamarga, Hanny. (2002). Belajar Sejarah melalui e-learning; Alternatif Mengakses Sumber Informasi Kesejarahan. Jakarta: Inti Media.
Kodijat, Ardito M.. (2001). On-line Services pada Industri Pendidikan.
http://www.ristek.go.id/berita/ardito.htm.
Koran, Jaya Kumar C. (2002), Aplikasi E-Learning dalam Pengajaran dan pembelajaran di Sekolah Malasyia. (8 November 2002).
www.moe.edu.my/smartshool/neweb/Seminar/kkerja8.htm.
Lawanto, Oemardi. (2000). Pembelajaran
Berbasis Web sebagai Metoda

MAKALAH TENTANG : PEMANFAATAN TEKNOLOGI


PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM EVALUASI
HASIL BELAJAR PENDIDIKAN TERBUKA JARAK JAUH (PTJJ)



A.PENDAHULUAN

Sistem Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ) sebenarnya mempunyai aktivitas utama yang tidak berbeda dengan sistem pendidikan tatap muka, yaitu terdiri dari aktivitas mengajar dan aktivitas belajar (Belawati, 2000). Namun, karena adanya keterpisahan pelaksanaan kegiatan mengajar dan kegiatan belajar pada sistem PTJJ; pengelolaan kedua aktivitas tersebut berbeda dengan pengelolaan kegiatan belajar mengajar pada sistem pendidikan konvensional.

Evaluasi Hasil Belajar (EHB) merupakan komponen penting dalam kegiatan mengajar dan belajar. Tanpa EHB sulit untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan belajar mahasiswa. Peran EHB semakin menonjol dalam sistem PTJJ, di mana interaksi fisik antara pengajar dan mahasiswa sangat kurang dibandingkan dengan interaksi antar mahasiswa dan pengajar dalam sistem pendidikan konvensional. Dalam sistem pendidikan konvensional, EHB umumnya didasarkan pada dua elemen penting, yaitu kehadiran/keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar di kelas dan ujian.

Di dalam sistem PTJJ (Gambar 2) di Universitas Terbuka (UT) khususnya, EHB merupakan muara dari proses pernbelajaran yang terjadi. Oleh karena itu hasil ujian sering kali merupakan tolok ukur terpenting dalam menilai keberhasilan mahasiswa. Kualitas ujian yang diselenggarakan sangat menentukan penilaian tentang keherhasilan belajar dan kualitas bahan ajar.

Kuatnya tuntutan dari kebutuhan masyarakat akan pendidikan lanjutan yang berkualitas tercermin dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang penyelenggaraan PTJJ, yang membuka peluang bagi institusi selain UT untuk ikut berpartisipasi dalam PTJJ. Kompetensi yang terjadi antar penyelenggara PTJJ ini akan menjadi pemicu bagi setiap institusi untuk selalu meningkatkan layanan yang diberikan. Penyelenggaraan PTJJ harus dilakukan secara lebih efektif dan efisien disesuaikan dengan permintaan pasar.

Hal ini akan dapat dilakukan jika penyelenggara PTJJ seperti UT memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Makalah ini akan membahas tentang evaluasi hasil belajar (EHB) sebagai salah satu komponen dalam sistem PTJJ dan pemanfaatan teknologi dalam EHB dengan menggunakan kasus UT sebagai contoh.

B.PEMBAHASAN

1.Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi hasil belajar mahasiswa mempunyai beberapa tujuan. Sebagai institusi penyelenggara PTJJ, UT melaksanakan EHB untuk memotivasi mahasiswa agar mereka belajar lewat Tugas Mandiri (TM), untuk mengukur ketercapaian tujuan matakuliah lewat ujian akhir semester (UAS), dan untuk mengetahui ketercapaian tujuan program melalui ujian kemprehensif tertulis (UKT). Agar tujuan EHB tersebut dapat tercapai dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk memperbaiki cara belajar mereka dan oleh UT untuk memperbaiki penyelenggaraan PTJJ-nya, maka semua kegiatan yang terkait dengan komponen EHB harus dilakukan dengam baik.

Sebelum membahas mengenai pemanfaatan teknologi dalam komponen evaluasi ini, akan dibahas secara lebih rinci setiap kegiatan yang ada dalam komponen evaluasi ini.• Pengembangan Soal Ujian Pengembangan soal ujian ini meliputi tiga kegiatan yaitu, analisis kompetensi, pengembangan kisi-kisi , dan pengembangan soal.1. Analisis Kompetensi Analisis kompetensi merupakan kegiatan menentukan kemampuan dan keterampilan (kompetensi) yang akan dibelajarkan kepada mahasiswa dalam sebuah program atau mata kuliah. Hal ini dilakukan pada saat sebuah program/matakuliah dirancang.

Berdasarkan kompetensi tersebut kemudian diturunkan tujuan-tujuan instruksional yang harus dicapai dalam sebuah mata kuliah. Dengan dilakukannya analisis kompetensi ini,dimungkinkan penggunaan penilaian acuan patokan dalam evaluasi hasil belajar dengan menggunakan kompetensi sebagai kriteria yang harus dicapai oleh mahasiswa.

2. Pengembangan Kisi-kisi

Setelah menentukan tujuan instruksional yang akan dicapai maka tahapan selanjutnya dalam EHB adalah pengembangan kisi-kisi yang mencakup penulisan dan penelaahan kisi-kisi. Penulisan kisi-kisi ini merupakan upaya untuk merencanakan ujian dengan baik dengan memperhatikan tujuan ujian, kompetensi yang hendak diukur, dan sumber daya yang tersedia. Kisi-kisi atau test blueprint ini mencakup informasi yang diperlukan untuk menulis soal ujian.

Untuk mengembangkan kisi-kisi yang mampu menghasilkan ujian yang mempunyai validitas isi diperlukan kerjasama yang baik antara pakar bidang ilmu dan ahli evaluasi. Sebagian besar dari kisi-kisi ujian UT dikembangkan dengan melakukan outsourcing ke perguruan tinggi (PT) lain untuk penulisan sedangkan penelaahan dilakukan oleh staf akademik UT yang sudah terlatih dalam EHB. Namun karena para penulis dan penelaah berada di lokasi yang berbeda maka kegiatan pengembangan kisi-kisi ini memerlukan proses yang agak lama. Oleh karena itu tidak terlalu mudah untuk mengakomodasi secara cepat perubahan yang terjadi dalam bahan ajar ke dalam kisi-kisi ujian.

3. Pengembangan Soal Pengembangan soal ujian

seperti kisi-kisi, terdiri atas dua kegiatan yaitu, penulisan soal dan penelaahan soal. Soal yang berkualitas adalah soal yang mengikuti rambu-rambu penulisan soal yang baik sehingga dapat membedakan mahasiswa yang telah mencapai tujuan dan yang belum (Jacobs & Chase, 1992; Osterlind 1989; Zainul & Nasoetion, 2001). Untuk menghasilkan soal seperti ini diperlukan keterlibatan pakar bidang ilmu yang telah dibekali dengan keterampilan menulis soal.

Sebagai institusi yang banyak memanfaatkan jaringan kerjasama, UT dalam menyediakan soal ujiannya juga mengikutsertakan dosen dari PT lainnya. Sebelum para pakar ini menulis soal biasanya mereka dibekali terlebih dahulu dengan pengetahuan dan keterampi}an untuk mengernbangkan soal jenis ujian tertentu. Oleh karena adanya jarak antara UT dan PT lainnya ini, pembekalan para penulis soal ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Soal ujian yang telah ditulis tidak bisa langsung digunakan, tapi harus melewati proses penelaahan yang juga memerlukan waktu dan sumber daya.
• Penyiapan Bahan UjianPenyiapan bahan ujian ini terdiri dari tiga kegiatan, pengetikan soal, penggandaan bahan ujian, dan pengiriman hahan ujian ke lokasi ujian.

1. Pengetikan Soal Penyiapan bahan ujian diawali dengan pengetikan soal untuk dijadikan
naskah ujian.

Dengan jumlah matakuliah yang terus bertambah seiring dengan pembukaan program baru, maka jumlah naskah ujian yang harus disiapkan oleh UT juga bertambah untuk setiap masa ujian. institusi PTJJ seperti UT memerlukan sebuah unit tersendiri untuk menangani penyiapan bahan ujian ini. Penyiapan bahan ujian UT merupakan tugas yang diemban oleh Pusat Pengujian (Pusjian). Pengetikan soal melibatkan kerjasama antara para staf akademik sebagai perakit dan pemfinal naskah ujian dan para tenaga administratif sebagai pengetik soal.

Soal ujian yang telah ditulis dan telaah kemudian dirakit menjadi set soal. Soal yang sudah berupa set ini kemudian diserahkan kepada pengetik untuk diketik, dilengkapi dengan petunjuk, serta di layout menjadi naskah ujian. Sebelum menjadi master naskah ujian yang siap digandakan diperlukan proses editing yang cukup menyita waktu. Dengan pertimbangan keamanan penyiapan bahan ujian ini dilakukan di sebuah gedung yang agak jauh terpisah dari gedung lainnya. Namun hal ini membuat proses pengetikan soal dan editing naskah ujian menjadi agak terhambat karena memerlukan penyediaan waktu khusus staf akademik untuk berkunjung ke gedung tersebut.

2. Penggandaan Bahan UjianSetelah master naskah ujian disiapkan maka selanjutnya bahan ini
harus digandakan.

Penggandaan ini dilakukan di kantor pusat UT untuk kemudian dikirim ke unit pembelajaran jarak jauh (UPBJJ) yang ada di daerah. Oleh karena jumlah mahasiswa peserta ujian bisa mencapai ratusan ribu per matakuliah sedangkan mesin cetak yang digunakan jumlahnya terbatas dan dengan kondisi yang sudah tidak prima lagi, maka proses penggandaan inipun cukup menyita waktu dan sumber daya.

3. Pengiriman Bahan UjianBahan ujian yang sudah digandakan tadi kemudian ditata menurut
matakuliah, jam, hari, dan lokasi ujiannya.

Dengan jumlah naskah yang banyak dan tenaga yang terbatas, maka dalam penataan bahan ujian ini masih terjadi human error. Walaupun jumlah dan jenis kesalahan penataan ini selalu diupayakan untuk menurun, namun karena adanya jarak antara lokasi Ujian dan kantor UT setiap kesalahan akan berakibat terhadap kualitas penyelenggaraan ujian. Setelah penataan, bahan ujian tersebut siap untuk dikirim. Pengiriman dilakukan dengan ekspedisi darat untuk wilayah Sumatera (kecuali Bengkulu), Jawa, Bali, dan NTB. Sedangkan wilayah yang lain dikirim lewat udara sehingga beban pengiriman ini cukup menyita sumber daya UT.
• Penyelenggaraan UjianPenyelenggaraan ujian terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu penyiapan bahan, ruang dan pengawas ujian; pelaksanaan ujian; dan pengiriman hasil ujian.

1. Penyiapan bahan, ruang dan pengawas ujianKegiatan penyelenggaraan ujian dimulai dengan
penyiapan bahan ujian, ruang dan pengawas ujian.

Bahan ujian terdiri dari naskah ujian dan bahan pendukung ujian. Bahan pendukung ujian meliputi Lembar Jawaban Ujian (LJU) atau buku jawaban ujian (BJU), daftar hadir, daftar peserta ujian, dan berita acara pelaksanaan ujian. Sebelum pelaksanaan ujian, bahan ujian harus dicek terlebih dahulu, apakah naskah ujian yang diterima sesuai dengan yang akan diujikan, apakah jumlah naskah dan jumlah lembar jawaban sesuai dengan jumlah peserta ujian, dan apakah sudah tersedia format daftar hadir peserta ujian. Bahan Ujian lain yang harus disiapkan adalah pensil cadangan, penghapus, rautan, cassette player atau stop watch bila diperlukan.

Dalam memeriksa kelengkapan bahan ujian panitia ujian perlu berpedoman pada check list bahan ujian agar tidak ada bahan ujian yang terlupa belum disiapkan. Untuk Ujian listening, kelayakan cassette player dan sound system harus diuji terlebih dahulu. Sebelum pelaksanaan ujian, bahan ujian harus disiapkan di tempat yang aman untuk mencegah terjadinya kebocoran ujian.

Ruang ujian perlu dipersiapkan sedemikian rupa sehingga terdapat cukup jarak di antara tempat duduk peserta ujian untuk menghindari kerjasama antar peserta ujian dalam mengerjakan ujian. Penomoran tempat duduk diperlukan agar peserta ujian tidak dapat memilih tempat duduk yang berdekatan dengan temannya. Dengan demikian, diharapkan ujian dapat terlaksana dengan aman dan tertib.

Pemilihan ruang ujian didasarkan pada beberapa syarat, yaitu cukup terang, sirkulasi udara cukup dan kondisi ruang bersih sehingga peserta ujian merasa nyaman. Sedapat mungkin suasana di luar ruang ujian cukup tenang agar tidak rnengganggu konsentrasi peserta ujian. Kurangnya jarak antara peserta Ujian dan tidak nyamannya ruang ujian dapat mempengaruhi hasil ujian. Biasanya ruang ujian yang cukup ideal adalah ruang kelas, yang memang dirancang untuk kegiatan belajar.

Bila memungkinkan, sebaiknya dosenlah yang mengawasi ujian para siswanya. Hal ini akan menimbulkan rasa aman bagi siswa bila ada pertanyaan mengenai materi tes yang tidak jelas. Dosen juga dapat rnengamati secara langsung perilaku siswa pada saat menempuh ujian Pengawasan Ujian yang dilakukan oleh para dosen yang bersangkutan juga lebih menjamin keamanan ujian. Pada pendidikan jarak jauh (PJJ), umumnya tidak selalu memungkinkan bagi dosen untuk melakukan pengawasan ujian. Untuk itu, pengawasan ujian dilakukan oleh pengawas pengganti, yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan ujian.

Di UT, umumnya pengawas ujian adalah para guru, yang memang sudah terbiasa melakukan pengawasan ujian. Agar pengawas merasa ikut bertanggungjawab untuk menjamin ketertiban dan keamanan ujian, yang notabene bukan anak didiknya sendiri, ada baiknya dilaksanakan pengarahan pengawasan Ujian oleh sebelum pelaksanaan ujian.

2. Pelaksanaan ujianAgar tidak terjadi keributan di luar ruang

Untuk menjaga ketertiban dan keamanan ujian, ada beberapa hal yang wajib dilakukan oleh pengawas ujian, yaitu antara lain: a) membacakan tata tertib ujian, b) menginformasikan waktu ujian, dan memberi tanda untuk memulai dan mengakhiri ujian.

Waktu ujian harus ditepati agar hasil ujian dapat dipertanggungjawabkan. Khusus untuk UT, hal ini juga dimaksudkan untuk menghindari kebocoran soal mengingat ujian dilaksanakan secara serentak di seluruh tempat ujian di Indonesia. Materi tes yang diujikan kepada seluruh siswa dibuat sama dengan tujuan untuk menyamakan standar pengukuran hasil belajar siswa di seluruh Indonesia. Untuk memastikan ketepatan waktu ujian, waktu ujian dimulai dan waktu ujian harus berakhir dicatat di papan tulis. Peserta ujian secara periodik perlu diberi informasi tentang sisa waktu ujian.

Selama ujian berlangsung; peserta Ujian harus diawasi dengan ketat. Pengawas berhak merrieeiksa identitas peserta ujian. Identitas yang meragukan maupun perbuatan peserta ujian atau kejadian yang dapat mempengaruhi hasil ujian perlu dilaporkan dalam Berita Acara Pelaksanaan Ujian. Misalnya, ada peserta ujian yang bekerja sama saat ujian, atau yang sibuk menerima telpon melalui handphonenya, atau yang membuka contekan. Pelanggaran ketertiban dan keamanan ujian akan menyebabkan hasil ujian kurang mencerminkan kemampuan belajar siswa yang sebenarnya. Uatuk itu sebaiknya dilakukan ujian ulang.

3. Pengiriman hasil ujian Setelah pelaksanaan ujian selesai, hasil ujian dan daftar hadir dipak dan segera diberikan kepada dosen pemeriksa untuk menjaga keamanan hasil ujian.
Di UT, setelah pelaksanaan ujian, LJU dan BJU, serta daftar hadir langsung dikirim ke UT pusat dari tempat-tempat ujian.

• Pemrosesan Hasil UjianPemrosesan hasil ujian terdiri atas proses scoring dan grading. Scoring merupakan proses pemberian skor (nilai mentah) terhadap jawaban siswa. Umumnya skor diberikan oleh dosen yang bersangkutan. Kelebihan cara ini adalah dosen segera mengetahui materi-materi yang tidak dapat dijawab oleh siswa dengan benar, sehingga dapat segera memberikan umpan balik. Bila scoring dilakukan oleh orang lain, diperlukan pedoman penskoran yang valid (terutama untuk soal uraian), dan scoring harus dilakukan oleh orang yang menguasai materi ujian serta sudah terlatih melakukan penskoran.

Scoring dapat dilakukan oleh orang yang tidak menguasai materi ujian, meskipun tetap harus dilakukan oleh orang yang terlatih dan mengacu kepada penskoran yang ada. Ketelitian tetap diperlukan, terutama dalam menggunakan pedoman penskoran dan menghitung jawaban benar. Sedangkan scoring untuk ujian objektif juga dapat dilakukan secara dengan bantuan komputer. Grading merupakan proses konversi dari nilai mentah (skor) menjadi nilai huruf (grade). Nilai huruf yang umum digunakan adalah A, B; C, D, E atau F. Proses grading dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berdasarkan penilaian acuan norma (PAN) atau berdasarkan penilaian acuan patokan (PAP). Ada juga instansi pendidikan yang memilih menggunakan istilah Lulus (L) dan tidak Lulus (TI).

• Pelaporan NilaiSetiap institusi pendidikan wajib memberikan laporan nilai kepada siswanya. laporan nilai wa jib diberikan agar siswa mempunyai catatan kemajuan belajarnya sendiri, sehinga dapat digunakan untuk melakukan rencana studi selanjutnya. Pada tingkat perguruan tinggi, laporan nilai umumnya diberikan dalam bentuk kartu hasil studi, daftar nilai ujian atau transkrip. Laporan nilai dapat juga diberikan kepada orang tua atau instansi pemberi beasiswa yang memberikan biaya belajar kepada siswa.

Kegiatan pelaporan nilai terdiri dari dua kegiatan, yaitu pencetakan dan pengumuman hasil ujian. Pencetakan hasil ujian atau pencetakan nilai merupakan akhir dari proses penilaian. Pengumuman hasil ujian dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti dipasang di papan pengumuman, diberikan langsung kepada siswa, atau dikirimkan melalui jasa pos.

2. Pemanfaatan Teknologi Dalam EHBBerbicara mengenai masa depan evaluasi hasil belajar
PTJJ tidak bisa terlepas dari pembahasan mengenai teknologi.

Agar dapat menyelenggarakan EHB yang efektif dan efisien maka UT sebagai institusi PTJJ harus memanfaatkan teknologi yang tepat guna. Teknologi yang digunakan sekarang ini untuk menunjang pelaksanaan EHB di UT masih terbatas pada penggunaan scanner dan LAN, Berikut akan dibahas teknologi yang tersedia dan yang mungkin dimanfaatkan untuk setiap kegiatan EHB di UT.• Pengembangan Soal UjianPengembangan soal ujian di UT masih dilakukan secara konvensional dimana dilakukan pelatihan pembekalan keterampilan penulisan kisi-kisi dan soal bagi para penulis secara tatap muka. Kegiatan pembekalan ini memerlukan waktu dan sumber dana yang tidak sedikit terutama jika dilakukan di tempat yang tersebar dan lokasinya jauh dari kantor UT pusat.

Setelah kisi-kisi dan soal selesai ditulis maka perlu dilakukan penjemputan bahan ujian tadi ke tempat para penulis. Sistem pengembangan soal seperti ini menyebabkan institusi PTJJ seperti UT tidak mudah untuk memperbaharui bahan ajarnya karena akan berdampak kepada ujian yang memerlukan waktu pengembangan yang cukup lama. Agar kegiatan pengembangan ini menjadi lebih singkat dan tidak menyita sumber daya yang terlalu banyak, bisa dimanfaatkan teknologi yang sederhana seperti penggunaan video untuk pembekalan para penulis soal.

Teknologi jaringan juga dapat dimanfaatkara dimana para penulis dapat mengakses website seperti PAU-Online yang salah satu materi pelatihan adalah membuat soal ujian. Para penulis dan penelaah pun dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan fasilitas chatting di internet. Jika suatu saat nanti infrastuktur jaringan yang ada di UT memadai, maka dapat dibuat sistem pengembangan soal secara remote, di mana para penulis soal dapat mengakses fasilitas jaringan yang memungkinkan mereka menulis soal secara on-line. Tentu harus dipikirkan bagaimana menjaga keamanan sehingga tidak bisa ditembus oleh pihak yang tidak berkepentingan.

• Penyiapan Bahan UjianPenyiapan bahan ujian di UT memanfaatan teknologi LAN yang tersedia di Pusjian. Dengan satu server dan lebih kurang sepuluh terminal serta tiga printer laser, UT mempersiapkan bahan ujian untuk ribuan mahasiswa setiap semester. Oleh karena sistem pendidikan yang terbuka, rnaka UT harus rnenyiapkan naskah ujian untuk semua matakuliah yang ada. Dengan teknologi yang ada sekarang maka proses pengetikan, editing, dan penggadaan bahan ujian ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Kegiatan ini cukup menyita waktu staf UT sehingga upaya peningkatan kualitas komponen yang lain seperti bahan ajar dan layanan bantuan belajar menjadi agak lambat.

Untuk mengatasi hal ini maka perlu dimanfaatkan teknologi komputer dalam membuat dan mengelola bahan ujian (Boekkooi-Timingga, 1989) yang dikenal sebagai Bank Soal Terkomputersasi. Pengelolaan soal ujian melalui Bank Soal ini menuntut tersedianya kumpulan soal yang sudah teruji kualitasnya. Sejak tahun 2000, UT telah mengembangkan sistem Bank Soal yang mencakup prosedur penyimpanan soal, pengkalibrasian soal, dan perakitan naskah ujian (lihat lampiran 1 dan 2). Di beberapa institusi lain seperti CITO di Belanda, sistem Bank Soalnya mencakup sampai proses pengadministsasian; penilaian; bahkan pelaporan nilai ujian (Van Theil & Zwarts, 1985).

Bank Soal UT menggunakan teknologi LAN dengan satu server dan 20 terminal, didukung oleh empat printer dan dua scanner (pada saat operasional 2005). Dengan adanya Bank Soal ini penyiapan bahan ujian setiap semester dapat dilakukan dalam waktu yang relatif cepat. Keamanan soal juga lebih baik karena akses kepada Bank Soal dibatasi dan beberapa naskah ujian paralel dapat dihasilkan sehingga akan dimungkinkan untuk memberikan soal ujian yang berbeda namun setara dalarn satu lokasi ujian.


Penggandaan bahan ujian masih mengandalkan teknologi mesin cetak yang masih sederhana. Sekarang UT sedang mempertimbangkan kemungkinan pengiriman master naskah ujian lewat teknologi jaringan sehingga penggandaan naskah menjadi tanggung jawab UPBJJ di di daerah. Dengan demikian dapat dikurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk penggandaan naskah ujian ini di UT Pusat.

• Pelaksanaan UjianPelaksanaan ujian UT masih dilakukan dengan paper and pencil di lokasi yang telah ditentukan secara tatap muka, sama seperti yang dilakukan oleh institusi pendidikan konvensional. Dengan sistem yang seperti ini prinsip keterbukaan dari PTJJ agak dibatasi karena mahasiswa harus mengikuti jadwal ujian. Semua peserta ujian juga diberikan soal yang sama tanpa memperhatikan tingkat kemampuan mereka, di suatu lokasi tertentu, dan waktu yang sama. Berbagai bentuk pelanggaran ujian terjadi sebagai akibat dari kurangnya pengawasan dan soal yang seragam ini.

Untuk itu perlu dipikirkan pemanfaatan teknologi yang dapat mengurangi peluang terjadinya distorsi nilai, dan meningkatkan kualitas ujian. Dengan perkembangan dalam teori pengukuran dan evaluasi serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maka dimungkinkan untuk menyelenggarakan ujian dengan komputer yang dikenal dengan istilah computer-based testing (CBT). Ada dua macam CBT, yaitu linear test dan adaptive test. Linear CBT terdiri atas seperangkat soal, dari yang termudah sampai yang tersukar. tanpa memperhatikan kemampuan peserta tes. Sedangkan adaptive adalah tes di mana komputer mampu memberikan soal-soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta tes.

Soal-soal dipilih dari sejumlah besar soal (item pool) yang dikategorisasikan sesuai materi dan tingkat kesukarannya. Oleh karena itu, jumlah soal dalam CBT biasanya lebih sedikit dari pada tes linear, tetapi cukup dapat memberikan informasi kepada institusi dan peserta tes. Soal yang diperlukan pada adaptive CBT lebih sedikit karena komputer dapat memilihkan soal-soal yang tingkat kesukarannya sesuai tingkat kemampuan peserta tes, berdasarkan jawaban-jawaban terhadap soal sebelumnya. Artinya peserta tes mendapatkan lebih sedikit soal yang tidak terlalu mudah ataupun terlalu sukar. Dengan demikian, tes diharapkan cukup menantang untuk setiap individu.

Adaptive CBT atau computerized aduptive testing (CAT) dirancang untuk setiap individu peserta tes (Wiener, 1990). Peserta tes akan diberi satu set soal yang memenuhi spesifikasi rancangan tes (kisi-kisi) dan biasanya sesuai dengan tingkat kemampuan setiap individu. Tes dimulai dengan soal-soal yang tidak terlalu sukar. Setiap peserta tes menjawab soal,-komputer akao memberikan skor. Jawaban terhadap soal tersebut akan menentukan soal yang akan ditampilkan oleh komputer selanjutnya.

Setiap menjawab soal dengan benar, peserta tes akan diberi soal yang lebih sukar. Sebaliknya, bila menjawab salah, komputer akan memilihkan soal yang febih mudah. Urutan soal disajikan tergantung pada jawaban terhadap soal-soal sebetutnnya dan pada kisi-kisi tes. Dengan kata lain, komputer diprogram untuk memberikan soal yang sesuai dengan kisi-kisi tes, sekaligus secara terus menerus mencari soal-soal yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat kemampuan peserta ujian. Dalam hal ini peserta ujian harus menjawab semua soal.

Keuntungannya, pada setiap layar hanya ditampilkan satu butir soal, sehingga peserta tes dapat berkonsentrasi untuk menjawab soal tersebut. Setelah menjawab soal, peserta ujian tidak akan dapat mengulang soal-soal sebelumnya dan mengganti jawabannya.Salah satu contoh institusi penyelenggara ujian yang telah memanfaatkan teknologi komputer adalah ETS (ETS, 2002) yang telah menyediakan ujian seperti ini untuk TOEFL, GRE dan GMAT. Peserta ujian yang tersebar di seluruh dunia dapat mengikuti ujian ini lewat teknologi jaringan.

UT dengan adanya sistem bank soal terkomputerisasi sedang menjajaki penerapan tes online yang bersifat adaptive test (tes adaptif). Untuk mendukung aplikasi tes online diperlukan infrastruktur yang mapan di tempat-tempat ujian, termasuk penyusunan rambu-rambu pengawasan ujian. Tes adaptif mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:• Tes dapat diadministrasikan pada saat siswa merasa siap menempuh ujian;• Tes dapat dilaksanakan sepanjang tahun di banyak lokasi sekaligus;• Tes dilaksanakan di tempat ujian yang nyaman, yang privasinya lebih terjaga, dan diletagkapi komputer;• Peserta tes lebih sedikit dalam satu kesempatan;• Skor sementara (Unofficial scores) langsung ditampilkan setelah tes berakhir, kecuali untuk tes uraian;• Nilai resmi (official scores) dapat diumumkan secara lebih cepat;• Tes dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa;• Soal yang dibutuhkan lebih sedikit; dan• Keamanan tes dapat ditingkatkan.

• Pemrosesan Hasil UjianProses penilaian (scoring) dengan menggunakan teknologi elektronik sudah banyak digunakan di dunia pendidikan. Untuk itu diperlukan mesin scanner dan lembar jawaban ujian (LJU), yang khusus didesain untuk scanner tersebut. Peserta ujian menjawab ujian dengan cara menghitamkan huruf-huruf atau kode-kode yang tersedia dalam LJU, dengan menggunakan pensil khusus. Setelah mesin scanner membaca LJU, kumputer secara otomatis akan melakukan scoring dan grading. Untuk tes adaptif, proses scoring merupakan bagian dari rancangan tes (ETS, 2002).

Peserta tes secara otomatis akan mengetahui skor yang telah diperolehnya. Skor yang diberikan tergantung pada jumlah soal yang dijawab dan jawaban terhadap soal yang diberikan. Soal yang diberikan oleh kumputer akan mencerminkan keberhasilan dalam menjawab soal sebelumnya dari kisi-kisi tes. Kisi-kisi tes meliputi:• tingkat kesulitan soal yang diberikan;• tipe soal yang diberikan; dan• cakupan materi tes yang sesuai.Soal yang pertama diberikan merupakan soal yang tidak terlalu sulit.

Benar tidaknya jawaban terhadap soal tersebut dan soal-soal berikutnya menentukan apakah selanjutnya peserta tes akan diberi soal-soal yang lebih mudah atau lebih sukar. Dengan demikian, peserta tes akan rnendapatkan skor-skor yang mencerminkan kebenaran jawaban terhadap setiap soal dan tingkat kesulitan setiap soal.

Bila ada dua peserta tes yang mempunyai jumlah jawaban benar yang sama, peserta tes yang merrjawab soal-soal yang lebih sulit akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Demikian juga, bila ada dua peserta tes mendapatkan dua set soal yang tingkat kesulitannya sama, peserta tes yang lebih cepat menjawab dan mempunyai jumlah jawaban soal benar lebih banyak akan mendapatkan skor yang lebih tinggi.

Pemrosesan hasil ujian di UT sebagian besar dilakukan dengan menggunakan komputer. Penggunaan komputer dalam proses penilaian diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat secepat dan seekonomis mungkin, mengingat jumlah siswa UT yang mencapai puluhan ribu.

Setelah sampai di Pusat Pengujian, amplop hasil ujian diberi nomor batch (proses batching). Nomor batch tercatat dalam komputer. Penomoran hasil ujian ini berrnanfaat untuk mencari LJU secara mudah dan cepat bila dibutuhkan. LJU di-.scan dengan menggunakan optical .scanner. Setelah semua LJU di-scan, hasil scanning diload di komputer. Karena masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menghitamkan identitas pada LJU (nama, NIM, kode mata kuliah, tanggal lahir, kode naskah) maka Pusat Pengujian melakukan editing, Kegiatan ini bertujuan untuk memisahkan data siswa yang salah ke suatu file pada komputer, yang disebut file jawaban salah.

Selanjutnya dilakukan proses updating, yaitu memperbaiki data identitas yang salah, sesuai data pribadi dan data registrasi siswa yang tersimpan pada komputer. Kemudian dilakukan proses scoring untuk menghitung jumlah jawaban benar dari setiap siswa. untuk ujian uraian, pemberian skor dilakukan oleh staf akadernik di fakultas. Setelah skor setiap siswa diterima dari fakultas Pusat Pengujian melakukan key-in skor ke dalam komputer laporan hasil key-in skor akan diperiksa lagi oleh fakultas untuk keperluan verifikasi nilai.


Setelah proses scoring (baik untuk ujian objektif maupun ujian uraian), sebaran nilai huruf (grade) dicetak dalam beberapa kategori kelulusan, yang disebut laporan pragmade. Fakultas akan menentukan kategori kelulusan. Penentuan kategori kelulusan dilakukan untuk seluruh siswa, tanpa membedakan status demograti siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses penilaian siswa UT sangat terstandar. Proses selanjutnya adalah melakukan grading atau proses penilaian (dengan bantuan komputer) berdasarkan kategori kelulusan yang ditentukan oleh fakultas.

Proses grading diikuti oleh proses verifikasi nilai, untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan penilaian. Kemudian dilakukan pencetakan daftar nilai ujian (DNU), yang merupakan akhir dari proses pengolahan hasil ujian.
Perlu juga dijajaki penggunaan komputer dalam pemeriksaan ujian uraian karena sudah tersedia berbagai software yang dapat membaca tulisan tangan. Jika hal ini dawat dilakukan maka proses penilaian akan semakin cepat lagi karena yang sering menyebabkan nilai tertunda adalah pemeriksaan uraian yang terlambat.

• Pelaporan NilaiDi UT, laporan nilai per semester diberikan dalam bentuk daftar nilai ujian (DNU). Sedangkan laporan nilai keseluruhan selama siswa belum lulus disebut laporan Kemjuan Akademik Siswa (LKAM). DNU dicetak dengan menggunakan komputer, yang dapat dilakukan di Kantor UT Pusat maupun di setiap UPBJJ- Pencetakan DNU dapat diprograrn untuk setiap UPBJJ, setiap Program Studi, maupun setiap siswa. Bila diprograrn untuk satu UPBJJ, maka DNU untuk seluruh siswa di UPBJJ tersebut yang mengikuti ujian pada semester yang bersangkutan akan tercetak. DNU dikirimkan ke setiap siswa melalui jasa pos.

Selain melalui DNU, siswa juga dapat melihat nilai per semester melalui peragaan nilai ujian di website UT (http://www.ut.ac.id). Peragaan nilai ujian di komputer juga tersedia melalui jaringan Student Record System di UT Pusat dan di UPBJJ untuk keperluan konsultasi siswa.
LKAM juga dicetak menggunakan komputer- Pencetakan LKAM dilakukan dengan menuliskan nomor induk siswa (NIM) pada komputer, dan secara otomatis semua data nilai yang pernah diperoleh di UT akan tercetak. Pencetakan dan peragaan LKAM baru tersedia di UT Pusat.

C. PENUTUPPerubahan teknologi merupakan proses yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari sebuah teknologi baru bukan saja harus dipikirkan ketepatan teknologi yang dipilih juga kesiapan orang yang akan mengelola teknologi tersebut. Dengan menyadari bahwa sistem PTJJ tidak mudah diubah karena dampaknya luas, maka perubahan terhadap sistem yang ada hendaknya memang dipersiapkan dengan matang dan terencana.

Transisi antara kedua sistem yang akan berubah ini juga harus dipikirkan dengan baik. Sistem yang dimaksud disini bukan saja mencakup perangkat keras maupun lunak tapi termasuk juga struktur organisasi yang menunjang pelaksanaan evaluasi PTJJ di UT.
Makalah ini telah membahas pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar mahasiswa PTJJ dengan mengambil contoh yang dilakukan di Universitas Terbuka. EHB itu walaupun merupakan salah satu ujung tombak dari PTJJ, namun tidak bisa berdiri sendiri.

Kualitas EHB juga dipengaruhi oleh kualitas dua komponen PTJJ yang lain, bahan ajar dan layanan bantuan belajar. Semoga makalah ini dapat menjadi pemicu pemikiran kearah penyelenggaraan EHB yang lebih baik melui pemanfaatan teknologi bagi orang-orang yang terlibat atau yang akan terlibat dalam penyelenggaraan PTJJ.

DAFTAR PUSTAKA

Belawati, T. (200Q). Prinsip-prinsip pengelolaan sistem PTJJ. Makalah dibawakan dalarn Seminar Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh, Universitas Terbuka, 25 Januari 2000.
Boekkooi-Timinga, E. (1989). Models,for Computerized Test Construction. Academisch Boeken Centrum: De Lier.
Educational Testing Services. (2002). Computer-bused testing: Arrswer’s, for- candidats testing in the US; US territories, Puerto Rico, and Canada. {URL:http/www.ets.org/ebt/dstan l fq,html].
Jacobs., L.C. dan Chase, C. 1. (1992). Developing and Using Tests Effectively. Jossey-Bass Publishers: San Fransisco.Osterlind, S.J. (1989). Constructing Test Items. Kluwer Akademik Publishers: Boston, MA.
Van Theil, C.C. dan Zwarts, M.A. (1986). Development of a Testing Service System. Applied Psychological Measurement. 10, 391-403.
Wainer, H. (1990). Computerized Adaptive Testing.- A Primer. Lawrence Erlbaum Asociates, Inc. Publishers: New Jersey.Zainul, A. dan Nasoetion. N. (2001) Penilaian Hasil Belajar, PAU-PPAI Universitas Terbuka: Jakarta.

Kamis, 12 Juli 2007

PROFIL RENGGANIS



PENGALAMAN HIDUP

Nama saya Renggani, S.Pd. SH. Saya dilahirkan di Magelang, pada tgl.4 Mei 1968. Asal tempat tinggal saya di Dusun Paten I, Kel.Paten I, Kec. Dukun, Kab.Magelang, Prop.Jawa Tengah (tepatnya dekat Lereng Gunung Merapi Muntilan Jateng). Saya mempunyai dua latar belakang pendidikan Sarjana yaitu Sarjana Pendidikan PPKn dan Sarjana Hukum. Saya alumni dari Perguruan Tinggi Fakultas Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta dan Alumni Perguruan Tinggi Fakultas Hukum Universitas Proklamasi Yogyakarta.Kemudian pada tahun 2007, saya masih punya tekat untuk melanjutkan studi S2 Manajemen Pendidikan pada Perguruan Tinggi Negeri Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda Kaltim.

Tahun 1993, saya menikah dan tinggal di Santan, Adisucipto Yogyakarta dari tahun 1993-1999. Tahun 1995 saya dikarunia anak. Sekarang saya sudah punya tiga (3) anak, yaitu anak pertama bernama Masrianes Febriani Kinam (umur 12 tahun), anak kedua bernama Danum Mahesa Kinam(umur 7 tahun), dan anak ketiga bernama Julian Kuncoro Kinam (umur 5 tahun). Nama suami saya Masrijalie Kinam, SH. Berasal dari keluarga (Pasir-Dayak) Tanah Grogot Kalimantan. Suami saya mempunyai dua latar belakang pendidikan Sarjana yaitu Pertanian Perkebunan Perguruan Tinggi STIPER Yogyakarta dan Hukum Universitas JANABADRA Yogyakarta. Tahun 1999, saya meninggalkan tanah kelahiran saya di Magelang dan rumah saya di Yogyakarta untuk pindah ke Bontang Kaltim.

Sekarang saya hidup di Bontang (jauh dari orangtua) mulai tahun 1999. Status saya sekarang bekerja sebagai Guru, Dosen, dan Jurnalis (Wartawan). Dan nyambi kuliah S2 Manajemen Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda Kaltim.

Orangtua saya bernama Bapak Ismoyorejo dan Ibu saya bernama Suwarni. Kedua orangtua saya tinggal di kampung atau dusun paten I, kel.Paten I, Kec. Dukun, Kab.Magelang, Prop.Jawa Tenggah (Dekat Pos Lereng Gunung Merapi). Latar belakang orangtua saya adalah seorang petani dan pedagang. Saya dilahirkan anak kelima dari 5 (lima) saudara. Lima saudara tersebut diantaranya : 1. Maryono (Swasta-Jakarta), 2. Suwaryati (Petani-Dsn.Paten), 3. Marno (Seniman-Drono Sleman), 4. Sri Pujiati (Swasta-Jetis Sewon Bantul), dan Trimakno/Seniman-Pelukis Yogyakarta). Di antara kelima saudara, saya termasuk paling sukses dalam menempuh pendidikan Sarjana dalam dua Perguruan Tinggi yaitu Univ.PGRI Yogyakarta, dan Univ.Proklamasi Yogyakarta.

Orangtua suami saya bernama Drs.A.K. Sublie (Asal :Dayak-Pasir-Mantan Manajer Logistik PT Badak Bontang dan mantan Karyawan Pertamina Balikpapan dan Pertamina Jakarta) Beliau sekarang tinggal di Bintaro Jakarta Selatan bersama istri muda. dan Ibunya bernama H.Majadiah (asal :Banjarmasin-Pengusaha/Kontrakktor). Ibunya tinggal di Bontang bersama suami mudanya.

RIWAYAT PENDIDIKAN :
- Tahun 1982, lulus SD N Paten, dukun, magelang, Jateng
- Tahun 1985, lulus SMP kanisius Sumber, Dukun, Magelang, Jateng
- Tahun 1988, lulus SPG ST. Agustinus Warak, Sumberadi,Sleman, Yogyakarta
- Tahun 1995, Masuk Perguruan Tinggi Universitas PGRI Yogyakarta (Lulus
tahun 1999)
- Tahun 1997, Masuk Perguruan Tinggi Fak.Hukum Universitas Proklamasi
Yogyakarta (belum lulus tinggal Skripsi dan Wisuda)
- Tahun 2000, Numpang Mengikuti Skripsi dan Wisuda Fak.Hukum Universitas
Trunajaya Bontang).

PENGALAMAN PEKERJAAN :
- Tahun 1988-1990, pernah kerja di Yys. Dharma bakti Sleman, sebagai guru TK.
- Tahun 1990-1991, pernah kerja di PT Arga Surya Alam Yogyakarta, sebagai
administrasi logistik, dan pernah kerja di PT Asuransi Jiwa Buana Yogyakarta.
- Tahun 1991-1999, Pernah bekerja di SMP Pangudi Luhur 1 Timoho
Yogyakarta.
- Tahun 1999-2001, Pernah kerja di SMP N.2 Bontang sebagai guru Sejarah.
Dan pernah kerja di SMP N.1 Bontang sebagai guru PPKn, serta
mengajar di SMP Monamas sebagai guru PPKn.
- Tahun 2001-2007, Pernah bekerja di STM Rigomasi Bontang sebagai guru
B.Indonesia, pernah bekerja di SMK Pelayaran Maritim Bontang, pernah kerja
di SD 2 Yayasan Pupuk Kaltim, Pernah kerja di SD 1 yayasan Pupuk Kaltim,
dan pernah kerja di SMU yayasan Pupuk Kaltim.
- Tahun 2007-sekarang, masih bekerja di SMU Yayasan Pupuk Kaltim Bontang,
bekerja di Universitas Trunajaya Bontang sebagai Dosen mata Kuliah HAM
dan Sosiologi Hukum, dan bekerja sebagai Ka Biro Krista media Kaltim
merangkap sebagai Jurnalis/Wartawan (Aktivis Perempuan Kaltim),

PENGALAMAN ORGANISASI :
- Tahun, 2003/2004, saya aktif dalam organisasi politik. Dan pernah menjadi
CALEG Partai Pelopor Ti ngkat DPD Prop.Kaltim yang membawai daerah
pemilihan Bontang, Kutim, dan Berau.
- Tahun 2006/2007 saya mulai masuk dalam organisasi profesi kewartawanan
sebagai Sekretaris DPC Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)sebagai
Pengurus DPP Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) di gedung
Dewan Pers Jakarta Pusat yang bidang Organisasi tingkat Nasional. Tahun
2007 saya diberi kepercayaan/amanah sebagai Ka Biro Krista Media Kaltim,
dan merangkap sebagai Wartawan Krista Media.

Demikian Riwayat dan pengalaman hidup saya dalam blog ini. Semoga hal ini dapat bermanfaat terutama bagi diri saya dan orang lain yang memerlukan. Biodata/profil saya.
 

Rengganis Anak Desa Merapi Blogger Templates Designed by productive dreams | Free Wordpress Templates. presents HD TV Watch Futurama Online. Featured on Singapore Wedding Cakes. © 2011