

Penyusun : Renggani, Spd. SH.
BAB I : PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Membentuk manusia seutuhnya merupakan cita-cita pembangunan bangsa
Dalam melaksanakan tujuan tersebut ditemui berbagai masalah dan hambatan seperti masalah geografis. Tanah air kita yang terdiri dari beribu pulau besar dan kecil serta memiliki wilayah yang sangat luas. Kondisi geografis yang demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak karena penyebaran guru-guru terutama guru-guru sekolah dasar sehingga mutu pendidikanpun kurang merata. Di kota-kota besar guru berlebih sedangkan di desa-desa terutama di daerah terpencil dan pedalaman sangat kekurangan guru.
B. TUJUAN
Tujuan terpenting dalam Diklat SRP adalah meningkatkan kemampuan guru SD dalam cara mengajar dan penguasaan materi pengajaran, terutama bagi mereka yang tinggal di desa dan tempat terpencil dan juga memberi kesempatan untuk mencapai standar mengajar. Tujuan tersebut dirumuskan dalam Surat keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 239/C/Kep/I/1992 tanggal 18 Juli 1992 tentang Pedoman Pendidikan dan Pelatiahan Guru SD melalui siaran radio pendidikan, yaitu
a. Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan profesional guru sekolah dasar.
b. Memperluas kesempatan meningkatkan mutu profesional guru sekolah dasar yang belum mengikuti program penyetaraan D-II Guru SD.
C. SASARAN
Sasaran program ini adalah guru-guru SD, MI, SLB di 21 propinsi yang belum berkualifikasi setara D-II terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil yaitu propinsi Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Irian Jaya, dan Timor Timur. Selanjutnya program ini direncanakan bisa menjangkau guru SD di seluruh tanah air dengan penekanann pada profesionalisme guru sesuai tuntutan perkembangan zaman.
Dalam pelaksanaan program ini banyak masalah yang timbul disebabkan oleh latar belakang para peserta yang berbeda-beda. Sebagian besar penduduk tinggal di pulau Jawa (pulau yang terpadat penduduknya), demikian juga guru banyak terdapat di pulau ini, trasportasi dan komunikasi lebih mudah dibanding pulau-pulau lain di luar pulau Jawa.
BAB II : PEMBAHASAN
A. STRATEGI PENYAMPAIAN BAHAN BELAJAR
Untuk menarik perhatian para guru agar ikut berpartisipasi dalam program tersebut, Pustekkom membuat brosur dan radio spot. Brosur dengan dilampiri formulir pendaftaran dikirim ke sekolah melalaui kantor Depdikbud setempat.
Mendengarkan secara berkelompok sangat dianjurkan agar setelah siaran dapat mengadakan diskusi tentang materi pelajaran yang disiarkan. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah-sekolah pada pagi hari sewaktu jam istirahat karena waktu siaran radio pendidikan setiap daerah diusahakan pada waktu jam istirahat sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.
1. Pengembangan Bahan Belajar
Proses pembuatan program dimulai dengan menyusun GBIPM (Garis-garis Besar Isi Program Media) sebagai penjabaran dari kurikulum yang berlaku menjadi kurikulum media yang disusun oleh tim seperti yang disebutkan di atas. Berdasarkan GBIPM tersebut disusunlah bahan penyerta siaran (modul) dan naskah siaran oleh penulis yang sudah dilatih. Naskah yang sudah di review akan diproduksi oleh Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom Dikbud) dengan pelaksana produksi Balai Produksi Media Radio (BPMR) di Semarang dan Yogyakarta. (kedua lembaga tersebut merupakan unit produksi Pustekkom) Hasil produksi dalam bentuk kaset rekaman kemudian digandakan dan selanjutnya dikirimkan ke Sanggar Tekkom di ibukota propinsi untuk disiarkan melalui Radio Repoblik Indonesia (RRI) daerah, Radio Pemerintah Daerah (RPD), dan Radio Siaran Swasta Nasional (RSSN) di 21 propinsi. Sedangkan bahan penyerta (BP) siaran (media cetak) yang berisi tujuan program, petunjuk pembelajaran, ringkasan isi, istilah-istilah yang sulit, latihan dan tugas serta kunci jawaban.
2. Ujian atau Penilaian
Pada setiap akhir paket para peserta mengikuti ujian atau penilaian yang dilaksanakan secara nasional dan dikoordinir oleh kantor Wilayah Departemen Pendidikan setempat. Pengawasan terhadap pelaksanaan penilaian ini dilakukan oleh aparat kantor wilayah setempat, sedang pengawasan kinerja dan mutu dilakukan oleh Pustekkom dan Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. Untuk menjaga validasi soal-soal ujian, Pustekkom bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengujian menyusun soal bersama ahli materi, dan soal-soal tersebut diujicobakan lebih dahulu sebelum disebarkan.
B. KAITANNYA DENGAN SISTEM PEMBELAJARAN SECARA KONVENSIONAL
Program wajib belajar 9 tahun tidak hanya menekankan pada perluasan kesempatan belajar, tetapi juga meningkatkan mutu pendidikan di jenjang pendidikan dasar. Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar khususnya di SD adalah peningkatan profesional guru.
Saat ini materi program Diklat SRP dikembangkan berdasarkani kurikulum D-II Pendidikan Guru SD Universitas Terbuka. Oleh karena itu materi siaran Diklat SRP telah sesuai dengan kebutuhan guru SD dalam melaksanakan tugas mengajarnya di sekolah. Program ini juga merupakan upaya peningkatan kualitas pembelajaran di SD dalam rangka mensukseskan wajib belajar 9 tahun.
Bahan belajar siaran radio bersifat terbuka yang dipancarkan melaui stasiun radio (RRI/RSPD atau radio swasta) di tingkat wilayah (propinsi).
BAB III : PENUTUP
A. Hasil Evaluasi Diklat SRP
Kegiatan pembinaan, pemantauan/monitoring, dan penelitian telah dilakukan dalam upaya penyempurnaan program. Abdul Gafur dalam penelitian evaluasi formatif bahan siaran radio pendidikan Diklat SRP tentang kualitas program ditinjau dari aspek pengajaran, daya tarik atau popularitas program ditinjau dari aspek media dan tingkat pemahaman pendengar terhadap materi siaran, menulis laporan sebagai berikut:
1. Ditinjau dari aspek pengajaran, secara keseluruan 32 program SRP yang diujicobakan di tiga propinsi ( Jateng, Kalteng dan NTT) dnyatakan cukup baik oleh responden. Beberapa aspek yang dipandang perlu mendapat pembenahan antara lain kejelasan tujuan, relevansi, konsistensi antara tujuan instruksional dengan cakupan serta sistematika penyajian materi.
2. Ditinjau dari aspek media secara keseluruhan program SRP tersebut dinyatakan baik dan menarik untuk didengarkan. Beberapa aspek yang perlu mendapatkan pembenahan karena dirasa masih kurang antara lain masalah interaktifitas program, variasi penyajian, bahasa, cara membawakan naskah, kualitas rekaman dan sebagainya.
3. Terdapat hubungan yang erat antara penilaian/pendapat responden terhadap kualitas program dengan tingkat pemahaman terhadap materi siaran. Artinya bilamana program dinilai menarik bisa diharapkan bahwa hasil pemahaman akan meningkat. Daya tarik suatu program SRP banyak ditentukan oleh variasi penyajian, musik, suara pengiring, cara membawakan/membaca naskah, nama-nama pelaku, dsb.
Beberapa hasil study yang telah dilakukan menunjukan bahwa program Diklat SRP mendapat respon yang baik dari guru-guru khususnya yang berada di daerah terpencil. Mereka menyadari akan pentingnya peningkatan kualifikasi sebagai tuntutan profesionalisme guru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Badan Litbang Departemen Penerangan (1997) bahwa responden di pedesaan dan perkotaan memberikan penilaian positif terhadap acara pendidikan RRI yang biasa didengar.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Cantrill , Hardley and Gordon W. Allport, (1971), The Psychology Of Radio (Rev. Ed),
Gafur, Abdul Gafur, (1994), Laporan Hasil Penelitian Evaluasi Formatif Bahan Siaran Radio Pendidikan Program Penyetaraan Guru SD dan Diklat SRP, Jakarta, Pustekkom.
————, (1997), Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan,
————, (1992), Himpunan peraturan dan Perundang-Undangan Bidang Pendidikan,
Miarso, Yusufhadi dan R. Rahardjo (1997), Indonesia’s Radio In-Service Training For Primary School Teachers (Diklat SRP), New Delhi, 6-8 February 1997 : E-9 Meetings Improving The Quality of Learning : Innovative In-Service Teacher Training.
Summer, Robert E., Harrison B. Summer, (1980), Broadcasting and The Public,
(Disusun Oleh: Renggani)
A. PENDAHULUAN
Guru dan media
Dahulu ada anggapan bahwa guru adalah orang yang paling tahu. Paradigma itu kemudian berkembang menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang bukan saja pengetahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar kita. Pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, di mana siswa dapat lebih dahulu mengakses informasi dari media masa seperti surat kabar, televisi, bahkan internet. Bagaimana guru menyikapi perkembangan ini? Ada tiga kelompok guru dalam menyikapi hal ini, yaitu tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri.
Kelompok pertama yaitu mereka yang tidak peduli. Seorang guru yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi guru tidak akan tergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran tetap diperlukan sentuhan manusiawi. Teknologi tidak bisa menggantikan manusia. Bagaimanapun teknologi berkembang, guru adalah guru, harus digugu dan ditiru. Benar bahwa media tidak dapat menggantikan guru, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan, bukanlah sikap yang tepat. Walau bagaimana, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas guru semakin meningkat. Kita tidak bisa tak peduli.
Kelompok kedua adalah yang menunggu petunjuk. Kelompok inilah yang paling banyak ditemukan. Mungkin ini akibat dari kebijakan selama ini, di mana guru dalam system pendidikan nasional hanya dianggap sebagai “tukang” melaksanakan kurikulum yang demikian rinci dan kaku. Kurikulum yang sangat lengkap dengan berbagai petunjuk pelaksanaannya, sehingga guru tinggal melaksanakan, tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku.
Sejalan dengan perubahan kurikulum dan otonomi pendidikan, bukan lagi masanya bagi guru untuk selalu menunggu petunjuk. Guru adalah tenaga profesional, bukan tukang. Oleh karena itu, sikap yang tepat untuk kita adalah cepat menyesuaikan diri. Guru perlu segera mereposisi perannya. Pada saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar. Ada banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Guru yang baik akan merasa senang kalau muridnya lebih pandai dari dirinya.
B. PEMBAHASAN
1. Mengapa Perlu Media?
Pernahkah anda menghadapi kesulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada murid anda? Misalnya, anda ingin menjelaskan tentang seekor binatang yang disebut gajah kepada siswa SD kelas awal. Atau anda ingin menjelaskan tentang kereta api kepada murid anda yang berada di Kalimantan, Irian, atau di tempat lain yang tidak ada kereta api. Atau anda ingin menjelaskan tentang apa itu pasar terapung. Ada beberapa cara yang mungkin anda lakukan.
- Cara pertama, anda akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar terapung. Anda bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid anda tersebut sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku misalnya, maka betapa sulitnya anda menjelas hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut. Kalau anda seorang yang ahli bercerita, tentu cerita anda akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi.
- Cara kedua, anda membawa murid studi wisata melihat objek itu. Cara ini merupakan yang paling efektif dibandingkan dengan cara lainnya. Namun berapa biaya yang harus ditanggung, dan berapa lama waktu diperlukan? Cara ini walaupun efektif tapi tidak efisien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu.
- Cara ketiga, anda membawa gambar, foto, film, video tentang objek tersebut. Cara ini akan sangat membantu anda dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan andapun akan lebih mudah dimengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan kesalahan pemahaman, serta informasi yang anda sampaikan menjadi konsisten.
Ketiga cara di atas dapat kita sebutkan cara pertama sebagai informasi verbal, cara kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut, cara ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan. Media kita perlukan agar pembelajaran lebih efektif dan efisien.
2. Mengapa Guru tidak menggunakan Media ?
Masalahnya, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Berdasarkan pengalaman dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, sekurang-kurangnya ada enam penyebab guru tidak menggunakan media, yaitu;
- Pertama, menggunakan media itu repot.
Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP atau video. Perlu listrik lagi. Guru sudah repot dengan menulis persiapan mengajar. Jadwal padat, urusan di rumah dan lain-lain. Boro-boro sempat memikirkan media. Demikian kurang lebih alasan yang sering dikemukakan para guru. Padahal kalau sedikit saja mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka alasan repot itu akan hilang. Pikirkanlah bahwa dengan sedikit repot, tapi mendapatkan hasil optimal. Media juga relatif awet, sekali menyiapkan dapat dipakai beberapa kali sajian. Selanjutnya tidak repot lagi.
- Kedua, media itu canggih dan mahal.
Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun terletak pada efektivitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audio visual atau multimedia, itu cost-nya akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh lebih banyak siswa.
- Ketiga, tidak bisa.
Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kesetrum, takut salah pijit. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah dengan takut rusak, sehingga media audio visual sejak beli baru tetap tersimpan rapih di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media itu mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.
- Keempat, media itu hiburan sedangkan belajar itu serius.
Alasan ini jarang ditemui, namun ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu sesuatu yang serius. Belajar harus mengerutkan dahi. Media itu identik dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang jaman dulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa dilakukan dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita. Kalau bisa dilakukan dengan mudah, mengapa harus menyusahkan diri?
- Kelima, tidak tersedia.
Tidak tersedia media di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus penuh inisiatif. Seperti telah disebutkan di atas, media tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Namun demikian, dalam hal ini pimpinan sekolah juga hendaklah cepat tanggap. Jangan biarkan suasana kelas itu gersang, hanya ada papan tulis dan kapur.
- Keenam, kebiasaan menikmati bicara.
Berbicara itu memang nikmat. Ini kebiasaan yang sulit diubah. Seorang guru cenderung mengikuti cara gurunya dahulu. Mengajar dengan mengandalkan verbal lebih mudah, tidak memerlukan persiapan yang banyak, jadi lebih enak untuk guru. Namun yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran adalah kepentingan murid yang belajar, bukan kepuasan guru semata.
3. Apa Pertimbangan Dalam Memilih Media Pembelajaran?
Ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat. Untuk lebih mudah memngingatnya, pertimbangan tersebut dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari; access, cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.
- Access.
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk murid. Murid harus memperoleh akses
- Cost.
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu harus kita hitung dengan aspek menfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
- Technology.
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tapi kita perlu perhatikan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan, apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?
- Interactivity.
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
- Organization.
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya, apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya. Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber belajar?
- Novelty.
Kebaruan dari media yang anda pilih juga harus menjadi pertimbangan. Media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.
C. PENUTUP
Tidak diragukan lagi kita semua dapat sepakat bahwa media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada yang belum menggunakan media, itu hanya perlu sedikit perubahan sikap. Dalam memilih media, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi & Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, KAIFA Bandung, 1999.
Kemp, Jerrold E, Designing effective Instruction, MacMillan Publisher, New York, 1994.
Molenda, Heinich Russell, Instructional Media and The New Technology of Instruction, John Wiley &
Sadiman Arief, Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan, Rajawali , Jakarta, 1990.
Wen, Sayling, Future of The Media, Memahami Zaman Teknologi Informasi, Lucky Publisher, Batam Centre, 2003.
&&&&&&&&&&&&&
(Penyusun Renggani)
Di era informasi saat ini teori belajar modern melihat pembelajaran sebagai pencarian seseorang akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi. Para siswa akan berinteraksi dengan work station dengan berbagai cara berdasarkan sifat dari tugas dan
Konteks pembelajaran seharusnya meliputi: (1) kerja mandiri dan berinteraksi dengan materi pembelajaran, (2) bekerja secara kolaborasi dengan teman pada tempat yang berlainan, baik secara serempak atau tidak, di mana kedua cara ini mungkin akan menjadi multi-media, (3) siswa magang kerja dan berinteraksi dengan para pekerja yang lebih berpengalaman, supervisor, atau instruktur, (4) sebagai instruktur, supervisor atau kolega yang lebih pengalaman untuk kolega-kolega lain yang kurang berpengalaman.
Seseorang mungkin akan mampu mamainkan peran-peran dalam satu hari kerja.
Untuk menjawab semua permsalahan dan model-model pembelajaran di era informasi, makalah ini akan membahas mengenai: 1) pembelajaran orang dewasa di abad 21, 2) multi-media pendidikan dalam sebuah jaringan masyarakat, dan 3) prinsip-prinsip pedagogi dan pembelajaran on-line yang efektif antar budaya.
II. PEMBAHASAN
1. Pembelajaran Orang Dewasa Abad 21
Dalam pembelajaran orang dewasa telah terjadi perubahan yang cepat khususnya dalam pengembangan metode-metode pengajaran dan pengantaraan termasuk di dalamnya pemanfaatan teknologi jaringan komputer kecepatan tinggi.
Menurut David Putman (1994) perusahaan-perusahaan media nasional di London sedang menciptakan program-program pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah yang ada saat ini. Oleh karenanya seorang eksekutif senior telah memprediksi bahwa akhir abad 20 para pendidik akan dibayar lebih besar dari bintang-bintang film. Oleh karenanya masyarakat yang akan ikut dalam kegiatan ini harus terlebih dahulu melakukan perubahan-perubahan termasuk visi yang jelas bagi pembelajaran dimasa depan.
Dalam waktu 10 tahun ke depan kita akan menyaksikan perkembangan teknologi-teknologi penting seperti : (1) integrasi komputer, televisi, dan telekomunikasi melalui teknik-teknik dijitisasi/kompresi, (2) mengurangi biaya dan pemakaian yang lebih fleksibel akan telekomunikasi melalui perkembangan seperti: ISDN (Integrated Service Digital Network), Fiber Optics atau Radio Selular, (3) daya pemrosesan data yang makin cepat melalui perkembangan micro-chip baru dan teknik software yang sudah maju.
Sehubungan dengan kemajuan tersebut, maka Teknologi Pendidikan terlebih dahulu harus di gerakkan pada visi tentang pendidikan dan pelatihan di abad 21. Visi tersebut harus memperhitungkan potensial teknologi, tetapi tidak digerakkan semata-mata oleh apa yang mungkin secara teknologi, lebih tepat apa yang dapat kita lakukan bukan apa yang kita ingin lakukan. Stenor (gabungan perusahaan telepon Canada) mengumumkan $8 milyard, inisiatif 10 tahun, disebut BEACON yang akan memberikan pelayanan multi-media broadband hingga 80% - 90% dari semua rumah dan usaha di Canada pada tahun 2004.
Dampak sosial dan pendidikan dari bertemunya media dan teknologi (convergence) dengan kecepatan tinggi akan menjadi revolusioner dan sangat menantang bagi institusi-institusi pendidikan yang sudah mapan. Tahun 1993, 70% dari semua pekerjaan di Amerika Serikat berada di industri-industri jasa dengan kecendrungan terus berlanjut. Pendapatan tahun perusahaan Microsoft lebih besar daripada pendapatan gabungan Sony dan Honda, tetapi mempekerjakan 100 kali lebih sedikit tenaga kerja.
Berkaitan dengan kecakapan yang harus dimiliki oleh tenaga kerja menurut Dewan Konferensi Kanada (1991) di abad 21 meliputi: (1) cakap berkomunikasi (reading, writing, speaking, listening), (2) mampu belajar mandiri, (3) cakap sosial: etika, sikap positif, dan tanggung jawab, (4) kerjasama tim, (5) mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berkembang, (6) cakap berpikir: pemecahan ,masalah, kritis, logis menurut urutan angka, dan (7) pengetahuan navigasi: dimana mendapatkan, cara memproses informasi. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka pembelajaran di abad 21 seharusnya menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi. Jika pembelajaran berjalan di luar ingatan dan fakta-fakta, prinsip-prinsip atau prosedur-prosedur yang betul dan masuk ke dalam bidang kreativitas, pemecahan masalah, analisa atau evaluasi, maka siswa memerlukan komunikasi antar individu, kesempatan untuk bertanya, tantangan, dan diskusi.
2. Multimedia Pendidikan dalam Networked Society
Institusi pendidikan “elektronik” dibangun untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pembelajaran abad 21 dengan peranan sebagai berikut: (1) memberi informasi tentang kebutuhan-kebutuhan pendidikan dan pelatihan dan peluang-peluang, (2) memberi pengawasan kualitas, (3) memberi akreditasi melalui penilaian belajar yang independen, (4) mengembangkan kurikulum yang koheren dan tepat, (5) menjadi broker dan mensyahkan kursus-kursus dan bahan-bahan pendidikan dan pelatihan dari pemasok, (6) memberi pelayanan penggunaan dan komunikasi bahan-bahan pembelajaran multimedia yang user-friendly baik impor maupun eskpor, (7) membuat jaringan antar pelajar dan antar instruktur, (8) menciptakan bahan-bahan multi-media pendidikan berkualitas tinggi dalam bentuk yang diperoleh, (9) mengadakan penelitian untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan, dan (10) menggunakan teknologi-teknologi baru untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan serta mengevaluasi penggunaannya.
Inti pokok pelayanan ini adalah infrastruktur jaringan multimedia internal yang membolehkan institusi mengakses, menciptakan, dan memberi pelayanan multimedia pendidikan dalam aneka macam format dan aneka macam cara.
Institusi pendidikan elektronik mempunyai fungsi produksi, broker, dan manajemen dengan input dapat berupa audio, program, maupun video, sedangkan outputnya dapat berupa audio, program, barang cetakan, komunikasi dengan radio selular, komunikasi melalui satelit, atau dengan server multimedia.
Lembaga pembelajaran terbuka sedang mengembangkan pendekatan manajemen informasi terpadu yang mencakup sistem administrasi (administrative) dan sistem pembelajaran(instructional).
Teori pembelajaran yang dijadikan dasar penelitian ini antara lain: (1) teori pemrosesan informasi, (2) hasil penelitian Tynneson dan kawan-kawan mulai tahun 1971 sampai tahun 1988 mengenai disain instruksional (ID). Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa terdapat 6 (enam) komponen utama pendidikan yang berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran khusus. Ke-enam komponen tersebut adalah: (1) proses pembelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) dasar pengetahuan, (4) variabel instruksional, (5) strategi-strategi instruksional, dan (6) peningkatan-peningkatan berbasis komputer.
Selanjutnya dilakukan pelacakan terhadap keenam komponen tersebut dengan menggunakan variable-variabel: (1) pengetahuan deklaratif, (2) pengetahuan prosedural, (3) pengetahuan kontekstual, dan (4) strategi-strategi pencarian.
Sistem komputer berfungsi sebagai pengendali bagi manajemen informasi terpadu (administrasi dan pembelajaran), dimana terdapat dua bagian pokok, yaitu: (1) sistem pengembangan (development system) sebagai input berupa : audio, teks, video, software, grafik, dan kombinasi media, dan (2) sistem pendistribusian (distribution system) sebagai output berupa: media terintegrasi (optical/CD-ROM/ PCMCIA), barang cetakan (paper/reprographics), Sound (cassettes/CD-Audio), Video (videotape/laserdisc), software (diskettes/CD-ROM/CD). Semua output dapat diakses langsung maupun diperoleh dalam bentuk barang.
3. Prinsip-prinsip Pedagogi dan Pembelajaran On-line Antar Budaya yang efektif
Pedagogi inklusif secara kultural dapat dipakai pada lingkungan-lingkungan on-line. Tujuan pembelajaran on-line adalah menjamin bahwa pedagogi dan kurikulum fleksibel, dapat menyesuaikan diri, dan relevan bagi siswa dari berbagai lartar belakang bahasa, dan pendekatan mengajar, sehingga semua aspek pedagogi bersifat mendukung akan kebutuhan-kebutuhan antar budaya.
Sumber-sumber pembelajaran untuk siswa dapat dicapai dan relevan merupakan perhatian utama di seluruh dunia karena berada dalam arena pendidikan tanpa batas. World Wide Web mempunyai kapasitas mencapai pemirsa yang luas, persoalannya adalah: sampai berapa jauh pembelajaran on-line dapat memahami pengertian lintas budaya.
Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai pola sumber-sumber pendidikan untuk penyerahan trans-nasional. Diantara kendala-kendala pembelajaran on-line yang efektif dalam komunikasi global, seperti dilaporkan Collis, Parisi, dan Ligorio (1996) adalah: (1) permasalahan budaya dan lingkungan, (2) perbedaan-perbedaan gaya mengajar, (3) permasalahan yang berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya yang berbeda, (4) permaslaahan bahasa dan semantic, (5) masalah-maslaah teknik yang berhubungan dengan platform, sistem-sistem pengoperasian dan tidak adanya interface standar.
Berangkat dari literatur jelas bahwa siswa-siswa yang belajar di suatu lingkungan dimana perspektif ganda dan berlainan dipupuk dan dihargai menjadi pemikir-pemikir kritis yang lebih baik, komunikator-komunikator yang lebih baik, pemecah persoalan yang lebih baik dan pemain-pemain tim yang lebih baik (Sugar & Bank, 1998). Seperti studi on-line global networking memperlihatkan pendekatan mengajar yang meningkatkan dugaan komunitas on-line sedang mempersiapkan dengan memadai semua siswa-siswanya untuk merubah dunia (Harasim, 1990, 1994, Riel, 1993).
UNESCO (2000) melaporkan tentang kebutuhan memperluas pengalaman pendidikan tinggi dari mayoritas mahasiswa yang tidak mau megadakan perjalanan atau paling tidak mampu belajar di negara lain atau di institusi lain daripada institusi yang memberi gelarnya. Bagi para pendidik ini berarti menginternasionalisasikan kurikulum, memperluas dasar kecakapan dari gelar-gelar dan pemberian-pemberian dan memperkuat proses pendidikan.
Kurikulum inklusif bertujuan untuk meningkatkan reciprocity (hal timbal-balik), pengembangan arus ide dua arah dan nilai-nilai antara komunitas (Galleni & Zhang,1997). Mengkonseptualisasikan kurikulum inklusif merupakan langkah pertama ke arah perancangan aktivitas-aktivitas pembelajaran on-line yang tepat.
Kurikulum inklusif mempunyai ciri-ciri: (1) menilai budaya, latar belakang dan pengalaman semua mahasiswa, (2) inklusif jender, budaya atas perbedaan-perbedaan yang berhubungan dengan etnik, bahasa dan latar belakang sosio-ekonomi, (3) mengakui bahwa setiap keputusan kurikulum adalah pemilihan daripada kebenaran lengkap, (4) menjadikan eksplisit pola mata pelajaran pendukung yang rasional, dan (5) responsif terhadap dasar pengetahuan siswa.
Komponen-komponen dasar kurikulum inklusif sebagai suatu hubungan timbal balik antara proses penilaian, pengajaran, dan dukungan, aktivitas pembelajaran, dan hasil-hasil pembelajaran. Ini berarti semua dimensi harus dipertimbangkan dan bersangkut-paut dalam mengajar dan merancang lingkungan-lingkungan Web.
III.KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan pembelajaran berbasis web dan komputer harus mempertimbangkan faktor-faktor: 1) cara belajar orang dewasa yang menganut teori belajar modern yang melihat pembelajaran sebagai pencarian individu akan makna dan relevansi; 2) jaringan multimedia dalam masyarakat global yang dapat memberikan pelayanan pendidikan dalam aneka macam format dan cara; 3) memperhatikan prinsip-prinsip pedagogik antar budaya.
Educational Multi-Media in a Networked Sociaty. http://D/dari_e/UPH/ edmedia.html.
Future Of Learning. First Presented at The Minister’s Forum on Adult Learning.Edmonton,Alberta.(1995). http://bates.cstudies. ubc.ca/ papers/paper.html.
McLoughlin,Catherine.,(2001). Inclusivity and alignment: Principles of pedagogy, task and assessment design for effective cross-cultural online learning.ODLAA Inc.
Prospek Pendidikan Secara Online di Dunia.http://www.kopertis4.or.id /Kopertis/orasi.html.
Tynneson,Robert.(1999). Computer-Based Enhancements For The Improvement Of Learning.
Rengganis Anak Desa Merapi Blogger Templates Designed by productive dreams | Free Wordpress Templates. presents HD TV Watch Futurama Online. Featured on Singapore Wedding Cakes. © 2011