Loading...

Rabu, 18 Juli 2007

STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA BERSUMBER DAYA UNGGUL



STRATEGI MENCIPTAKAN MANUSIA YANG
BERSUMBER DAYA UNGGUL

(Penyusun : Rengganis S2 Manajemen Pendidikan UNMUL Samarinda)

BAB I : PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarakat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Semakin besar kompleksitas masyarakat akibat pembangunan, semakin kuat hasrat memperoleh pengakuan terhadap kehadiran diri sebagai anggota masyarakat. Apabila masyarakat diberi kebebasan sepenuhnya untuk mengaktualisasikan dirinya dalam mewujudkan aspirasinya secara mandiri, maka timbullah kekuatan besar dalam masyarakat untuk membangun. Karena itu, kebebasan masyarakat untuk mengaktulisasikan diri dan mewujudkan aspirasinya merupakan prasarat pokok bagi perkembangan masyarakat maju. (Dephankam, 1999).
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan modal dasar untuk membina dan mengembangkan karakter serta perilaku manusia di dalam menata hidup dan kehidupannya. (Depdikbud, 1989).
Kecenderungan perkembangan lingkungan di masa mendatang perlu dianalisis secara mantap, tepat dan cepat, pengaruh lingkungan tersebut dapat menimbulkan tantangan dan kendala, akan tetapi sekaligus dapat dimanfaatkan juga sebagai peluang. Oleh karena globalisasi sarat dengan perubahan yang cepat dan radikal diberbagai aspek kehidupan manusia, maka untuk menjaga dan memelihara human survival globalisasi perlu dikendalikan dan dimanfaatkan, karena manusia sebagai pencipta globalisasi yang harus dikendalikannya.
Bertolak dari pemikiran di atas, upaya untuk menciptakan manusia yang bersumber daya unggul diperlukan prasarat utama yaitu terciptanya kualitas sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta taqwa kepada Allah SWT.


B. Permasalahan


Letak Geografis Indonesia pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudra, bahkan terbuka bagi perkembangan ASEAN dan kawasan pasifik, sangat memungkinkan menjadi ajang dalam kegiatan perekonomian, perkembangan sosial budaya, hankam, dan perkembangan teknologi, sehingga dituntut untuk dapat menampung dan berperan serta di dalam berbagai kegiatannya. Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebhinnekaan tersebut.
Pemberdayaan masyarakat akhir-akhir ini di Indonesia berkembang pandangan yang kuat untuk menempatkan rakyat atau masyarakat sebagai pelaku utama (aktor, subjek) pembangunan, tidak hanya sekedar sebagai objek pembangunan. Gagasan tersebut berkembang terutama sebagai reaksi terhadap munculnya ketidakmerataan hasil-hasil pembangunan yang terlampau menekankan pada pertumbuhan (growth centered).
Resultante terhadap teori pembangunan yang menekankan pada pertumbuhan growth centered melahirkan teori pembangunan yang menekankan pada rakyat atau masyarakat sebagai titik tumpu keberlangsungan pembangunan. Teori ini dikenal sebagai people centered development. Arah yang dituju adalah paradigma pemerataan dan keahlian sosial. Dari kedua pandangan tersebut, pada saat ini dikembangkan pemikiran yang mempertemukan keduanya ke dalam wujud konsep “redistribution with growth” sebagaimana tercermin dalam Trilogi Pembangunan yang memadukan pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas sebagai kunci keberhasilan pembangunan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan sebagai konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat “people centered, participatory, empowering and sustainable.” (Chambers, 1983).
Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic need), dan berkembang dari upaya banyak ahli dan praktisi untuk mencari apa yang antara lain oleh Friendmann (1992) disebut alternative development, yang menghendaki “inclusive democracy, appropriate economic growth, gender equality, and inter generational equity.” Konsep ini tidak mempertentangkan pertumbuhan dengan pemerataan karena harus diasumsikan sebagai incompetible or antithetical.”
Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat.
Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, dan bertanggung jawab adalah bagian pokok dari uapaya pemberdayaan ini (Djudju Sudjana, 1993). Kondisi inilah yang merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan kemasa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.

C. Tujuan


Tulisan ini dikembangkan dengan tujuan sebagai berikut.
(1) Mengungkapkan dasar pemikiran pentingnya pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.
(2) Mengidentifikasi kondisi dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.
(3) Mengajukan alternatif strategi menciptakan manusia yang bersumber daya unggul.


BAB II : PEMBAHASAN

Pengaruh lingkungan strategi, baik dalam tinjauan global, regional dan pengaruh nasional terhadap pertumbuhan dan perubahan pembangunan suatu bangsa, menunjukan bahwa pembinaan kualitas sumber daya manusia merupakan pangkal tolak untuk mencapai keberhasilan pembangunan, seperti diungkapkan oleh Santoso S. Hamijoyo (1967) bahwa pembangunan masyarakat merupakan usaha ke arah dinamisasi dan pencerdasan masyarakat dengan tujuan mempertinggi daya pikir dan daya kerja rakyat melalui bentuk dan prosedur kooperatif yang berswadaya.
Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul dapat disampaikan sebagai berikut.
(1) Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Dalam memberdayakan masyarakat terdapat tiga hal penting yang perlu dipahami bersama, yaitu:
(a) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat yang berkembang.
(b) Memperkuat potensi atau pemberdayaan (empowering) masyarakat.
(c) Memberdayakan mengandung pula pengertian melindungi. Artinya dalam
proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah.
Ketiga strategi pemberdayaan masyarakat di atas bermuara pada tiga langkah, yaitu:
(a) Secara konkret pemberdayaan masyarakat diupayakan melalui pembanguan ekonomi rakyat.
(b) Pemberdayaan masyarakat diarahkan pada terwujudnya transfomasi struktur sosial secara bertahap.
(c) Pengembangan kelembagaan, melalui pemberdayaan masyarakat, harus diupayakan adanya pengembangan kelembagaan (institusional development). Dalam konteks ini perlu dilakukan revitalisasi organiasis masyarakat bahkan perlu diupayakan reformasi dan transfomasi organisasi masyarakat tersebut, sehingga keberadaannya benar-benar dapat menjadi peluang yang terbuka bagi seluruh anggota masyarakat untuk ikut serta dalam proses pembangunan.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan masyarakat untuk maju dan mandiri:
(a) Prinsip keberpihakan (mengutamakan yang terabaikan); dalam proses pembangunan kerap kali sebagian besar masyarakat tetap berada di pinggir arus pembangunan yang berjalan cepat.
(b) Prinsip penguatan (empowering) masyarakat, dalam konteks ini terkandung pengertian bahwa masyarakat memiliki akses (peluang kesempatan) dan kontrol terhadap berbagai keadan yang terjadi dalam kehidupan sekitarnya.
(c) Prinsip masyarakat sebagai pelaku dan orang luar sebagai fasilitator dan bukan guru.
(d) Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan; diawali dari adanya pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisonal masyarakat.
(e) Prinsip informal, upaya pemberdayaan masyarakat bersifat luwes, terbuka dan tidak memaksa. Dengan prinsip ini akan timbul hubungan yang akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota komunitas, bukan sebagai tamu asing.
(f) Prinsip mengoptimalkan hasil informasi kepada masyarakat, artinya dalam mengumpulkan informasi tentang suatu komunitas, orang luar harus juga menyerap pendapat masyarakat tentang informasi yang menurut masyarakat itu lebih penting daripada yang dirumuskan orang luar.
(g) Prinsip oriental praktis, yaitu pengembangan kegiatan bersama yang diarahkan pada pemecahan masalah komunitas dan meningkatkan kehidupan bersama.
(h) Prinsip keberlanjutan dan selang waktu; kepentingan dan masalah masyarakat terus berkembang, bergeser menulis waktu sesuai dengan perubahan yang dialami oleh masyarakat itu sendiri.
(i) Prinsip belajar dari kesalahan; dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah sesuatu yang wajar.
(j) Prinsip terbuka (transparancy); setiap kegiatan harus terbuka, baik informasi, sumber dana, maupun pengelolaannya sehingga masyarakat ikut bertanggung jawab atas kegagalan dan ikut menikmati atas keberhasilan.
(2) Strategi Keterpaduan Penyelenggaraan Pendidikan
(a) Sistem Pendidikan Nasional secara terbuka memberi peluang pada setiap warga negara untuk mengikuti pendidikan tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Permasalahan yang masih dirasakan di dalam melaksakan empat kebijaksanaan Pendidikan Nasional adalah sebagai berkut.
(1) Pemerataan Kesempatan.
Dalam pemerataan kesempatan terkandung tiga arti yaitu (1) Persamaan kesempatan (equality of opprtunity), (2) Aksesibilitas, dan (3) Keadilan atau kewajaran (equity).
(2) Relevansi Pendidikan
Relevansi mengandung makna pendidikan harus menyentuh kebutuhan yang cakupannya sangat luas. Kebijaksanaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan konsep Link and Match (keterkaitan dan kesepadanan) merupakan salah satu kebijakan yang mengarah pada relevansi pendidikan.
(3) Kualitas (mutu) Pendidikan
Kualitas ini mengacu pada proses dan kualitas produk. Peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan diharapkan akan tercapai tahapan proses belajar yang terus meningkat berkelajutan seperti ditegaskan UNESCO (1972) yang menekankan pentingnya pendidikan yang ditopang empat pilar (learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together).
(4) Efisiensi Pendidikan
Upaya pendidikan menjadi efisien jika hasil yang dicapai maksimal dengan biaya yang wajar. Tidak ada pendidikan yang efisien tanpa ada effectiveness. Upaya semaksimal mungkin untuk menekan biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh masyarakat dengan penghematan.
(b) Keterpaduan penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu pembinaan peserta didik untuk menjadi manusia yang berkualitas.
Di dalam proses keterpaduan itu akan terjadi interaksi eksternal. Tingkat-tingkat interaksi itu sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gillette dan Mc Collom (1990) bahwa dalam tujuan organisasi terdapat lima tingkat interaksi, yaitu: intrapersonal level, interpersonal level, group level, intergoup level, dan interorganizational level.
Pada saat interaksi itu pula telah terjadi proses pemberdayaan pendidikan (empowering process) yang merupakan proses pematangan untuk lebih memahami fokus dirinya, memahami peluang yang dapat dimafaatkan di lingkungannya, sehingga mereka bisa hidup mandiri dan menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat dan bangsanya.
Strategi pendekatan dalam rangka menciptakan empowering mencakup:
(1) Need Oriented; artinya sasaran didik akan benar-benar sebagai subjek aktif bila didasari pada azas kebutuhan, baik berupa kebutuhan hidup manusia seperti yang dipilah-pilah Maslow (1970).
(2) Endogenous; artinya ada kesepakatan terhadap apa-apa yang ada di lingkungan atau masyarakat itu sendiri.
(3) Self-Reliant; artinya pendekatan yang menitikberatkan terciptanya rasa percaya diri dan sikap mandiri. Roger (1983) cenderung menekankan pada prinsip-prinsip penentuan arah sendiri.
(4) Ecological sound; yaitu pendekatan yang memperhatikan dan tidak meninggalkan aspek lingkungan.
(5) Based on structural transformation; yaitu pendekatan yang berorientasi pada perubahan struktur atau sistem yang terjadi di lingkungannya.
Ada beberapa ciri yang harus diperhatikan dalam memantapkan langkah-langkah pendekatan pemberdayaan ini, yaitu:
1) Community organization; yang dilakukan dengan cara mengorganisir kelompok di masyarakat.
2) Worker sef-management and collaboration; yang bertujuan untuk menyamaratakan atau membagi atau kewewenangan dalam gabungan kerja.
3) Participatory approach; yang dimaksudkan agar bisa dan mampu mengendalikan sifat dan arah perubahan hidupnya.
4) Education for justice; yang bertujuan membantu masyarakat untuk menjadi sadar akan ketidakadilan dan mampu menghadapi sesuatu ketidakadilan.
(3) Keterpaduan Pembinaan Iptek dan Imtaq
(a) Ilmu Pengetahuan dan teknologi
1) Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung pada kemampuannya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menerapkan industrialisasi dalam kehidupan ekonominya. Industrialisasi itu sendiri berintikan Iptek, sedangkan teknologi merupakan ilmu yang diterapkan dalam menunjang proses kehidupan sehari-hari. Penerapan teknologi tersebut hanya dapat dilakukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
2) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk meningkatkan tarap hidup bangsa dengan jalan peningkatan nilai tambah sumber daya manusia. Sebagai negara yang sedang berkembang, pembangunan Indonesia diarahkan menuju suatu negara industri. Dalam pencapaian tujuan tersebut oleh Menristek dikemukan empat tahapan transformasi teknologi, yaitu (i) Pemanfaatan teknologi yang sudah ada, (ii) Integrasi teknologi untuk memproduksi barang-barang baru dengan cara menciptakan desain baru, (iii) Inovasi dan pengembangan teknologi baru dengan menciptakan teknologi tahap sebelumnya, dan (iv) Penelitian ilmu-ilmu dasar.
3) Iptek akan menjadi unsur dinamis dan mempunyai peranan yang semakin intensif dan ekstensif dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Upaya untuk mengoptimalkan peranan Iptek menuntut perhatian yang sungguh-sungguh terhadap empat agenda strategi berikut ini:
(a) Kualitas sumber daya manusia perlu ditingkatkan, khususnya dalam menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.
(b) Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki memerlukan pemanfaatan dan pengelolaan secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa.
(c) Penyebaran pemerataan kegiatan pembangunan sampai ke kepulauan dan daerah terpencil, sehingga memberikan manfaat yang merata pada seluruh rakyat.
(d) Globalisasi di bidang ekonomi sebagai akibat dari perkembangan di bidang komunikasi, transpormasi dan teknologi produksi menuntut antisipasi melalui upaya meningkatkan daya saing produk industri dan jasa terhadap negara-negara lain. Upaya mewujudkan keempat agenda strategi tersebut memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai karakteristik yang melekat pada teknologi. Karakteristik itu meliputi: (1) irama perkembangan dan inovasi teknologi yang semakin cepat, (2) terciptanya mekanisme penemuan baru, (3) sinergi antara berbagai disiplin ilmu dan teknologi, dan (4) pendekatan multidisipliner dalam penerapan iptek.
(e) Di samping melalui jalur pendidikan sekolah, ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dibudayakan dalam masyarakat. Pembudayaan ini dimaksudkan agar mereka menjadi masyarakat yang melek Iptek, yaitu masyarakat yang menyadari bahwa Iptek merupakan uapaya rasional untuk memahami alam sekitar mampu berkomunikasi dengan bahasa Iptek, dan mampu mengapresiasikan kebijakan dan isu-isu di bidang Iptek. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa mereka yang buta Iptek adalah orang-orang asing di tengah kebudayaan sendiri.
(a) Fungsi Iman dan Taqwa
Tujuan Diknas adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan (Depdikbud, 1989). Dengan demikian, iman dan taqwa akan mejiwai sekaligus menjadi perekat dalam membina kualitas sumber daya manusia yang berwawasan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan agama.
Manusia agamis, sesuai dengan tuntutan ajaran agamanya, adalah sosok pribadi yang memiliki solidaritas sosial tinggi, pikiran dan perilakunya berjiwa demokratis, berbuat kebajikan dan kesalihan, santun berbudi pekerti luhur penuh kedamaian, disiplin waktu dan beribadah yang keseluruhannya itu dilandasi iman dan taqwa. Indikator sosok pribadi tersebut adalah selaras dengan kandungan isi tujuan Diknas. Oleh sebab itu, keterpaduan Iptek dan Imtaq dalam mewujudkan manusia seutuhnya dalam arti manusia yang bersumber daya unggul, telah terintegrasikan, baik konsepsi maupun operasionalisasinya. Yang penting diperhatikan dalam era reformasi ini adalah keterpaduan konsep dengan pelaksanaannya, keterpaduan sikap dan perilaku, keterpaduan niat dan ucapan dengan perbuatan, dan didalam menghadapi setiap perkembangan dinamika pembangunan selalu berkiprah mempertahankan dan memelihara kebiasaan lama yang baik dan mengambil pemikiran yang baru yang lebih baik.

BAB III : PENUTUP

A. Simpulan


Pertumbuhan masyarakat maju melahirkan kelompok-kelompok masyarkat yang mandiri. Hal ini didorong oleh sifat fitri manusia yang membutuhkan pengakuan (recognition) atas kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.
Pendidikan merupakan proses budaya, karena itu ia tumbuh dan berkembang dalam alur kebudayaan setiap masyarakat dan sering bersumber pada agama dan tradisi yang dianut oleh masyarakat sehingga kehadirannya mempunyai akar yang kuat pada budaya masyarakat.
Dalam kondisi ini, peningkatan SDM menjadi amat penting karena dengan bermacam-ragamnya adat istiadat dan budaya serta bahasa daerah, adakalanya merupakan kendala dalam upaya mempersatukan persepsi kebinekaan tersebut.
Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan bukan meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata-pranatanya. Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, terbuka, bertanggung jawab adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Kondisi ini merupakan potensi dalam strategi menciptakan manusia kreatif-produktif, daya nalar yang berwawasan ke masa depan atau melahirkan manusia yang berdaya unggul.
Beberapa alternatif strategi dan upaya menciptakan manusia yang bersumber daya unggul, maka tipe manusia yang ideal yang diharapkan: strategi pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan berdasarkan kepada beberapa pertimbangan, prinsip dasar dan langkah-langkah pemberdayaan masyarakat, strategi pemberdayaan masyarakat yang meliputi kebijaksanaan pendidikan nasional dan keterpaduan pelaksanaan/operasional dan strategi keterpaduan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan iman dan taqwa (Imtaq).


B. Saran


Kemandirian merupakan salah satu indikasi dan kriteria manusia unggul, namun demikian kemandirian tidak bisa dibentuk dalam waktu dan lingkungan tertentu yang bersifat parsial, untuk itu perlu ada penataan sistem pendidikan secara utuh dan integral, dalam bentuk program yang lebih realistik dalam membentuk kemandirian.
(1) Pengembangan sumber daya manusia senantiasa dihadapkan pada berbagai kendala atau permasalahan, namun demikian sering permasalahan tersebut hanya dapat diidentifikasi gejalanya saja, sehingga alternatif yang diajukan kurang menyentuh akar permasalahannya. Untuk itu, perlu dirumuskan suatu formula dan format yang tepat dalam mengidentifikasi permasalahan/kendala tersebut.
(2) Beberapa strategi dalam menciptakan manusia yang bersumber daya unggul ini merupakan konsep yang masih bersifat alternatif, penerapannya perlu modifikasi disesuaikan dengan karakteristik sasaran.


DAFTAR PUSTAKA


· Chambers. Robert. 1983. Rural Development: Putting The Last First. New York: Longman.
· Dephankam. 1999. Pembinaan Mahasiswa Dalam Rangka Kaderisasi Kepemimpinan Nasional,
Lemhanas.
· Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI. 1989. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989

Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depdikbud.
· Friendmann. 1992.Empowement: The Politic Of Alternative Development, Cambridge Mass:

Blackwell Publisher.
· Gillette, Jonathan & Mc Collom, Marion, Group In Context. 1990. A New Perspective On

Group Dynamics, New Haven : Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New Haven.
· Maslow, Abraham H.1970, Motivation And Personality, New York : Harper And Row

Publishers.
· Rogers, Everett M.1983. Diffusion of Inovation, London : MacMillan Pub.
· Sudjana D.1993. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif Dalam pendidikan Luar

Sekolah, Bandung : Nusantara Press
· Santoso S. Hamijoyo. 1967. Inovasi Pendidikan, IKIP Bandung.
· unesco. 1972. Learning To Be: The World Of Education Today And Tomorrow, Unesco And

Harrap.

0 komentar:

 

Rengganis Anak Desa Merapi Blogger Templates Designed by productive dreams | Free Wordpress Templates. presents HD TV Watch Futurama Online. Featured on Singapore Wedding Cakes. © 2011